Langsung ke konten utama

Pos

Dare or Not Dare

Seorang kawan mengajarku di sekolah berkisah tempo hari. Obrolan kami siang itu lumayan serius. Tentang masa depan. Tentang tujuan hidup yang teramat mainstream untuk wanita-wanita masa kini: PERNIKAHAN.

Sebelumnya ia bertanya, "Biya sayang, lo mau nikah karena apa sih?"
"Karena Allah lah miss~ karena kalo gak nikah, bukan kaumnya Nabi Muhammad." Kujawab dengan solehahnya.

"Oh, jadi hidup lo harus ada di jalan Allah lah ya... Setuju, setuju." Katanya.

"Terus yang paling penting dari calon laki lo apa?" Ia melanjutkan.

"Hmm... Apa ya. Simple sih, aku butuh laki-laki yang gak terlalu keduniawi-duniawian dan juga gak naif terlalu keakhirat-akhiratan hehehe. Yang jelas miss, aku butuh laki-laki yang secara mental sudah sangat matang untuk menjadi imamku dunia-akhirat. Naif gak?"

"Pokoknya yang soleh. Iya? Nih gue ceritain ya, kisah temen gue. Intinya dia nikah sama laki yang tergolong soleh. Ibadahnya rajin. Datang dari keluarga yang …
Pos terbaru

Gili Sudak hingga Kuta, Lombok

Aku menulis ini di bandara Praya Lombok sambil menunggu boarding. Dan melanjutkan tulisan ini hingga rampung saat di kamar menunggu sarapan dan siap ngantor, serta di sekolah ketika bocah-bocahku sudah pulang semua.

Akhirnya ngelombok juga aing! Hihihi. Senang. Bersyukur. Haru. Sentimentil banget emang si aing ini kalo jalan-jalan jauh pasti ada rasa haru. Iyalah. Gimana enggak. Ketika yang lain pada bangga ke Singapore, Thailand, Jepang, aing hepi banget bisa ke Lombok dengan modal nabung selama 2 bulan cuma abis tiket 1.4jt PP dan uang saku 1.5jt kurang 350rb udah makan enak, gak irit-irit!!! Terharu gak kamu??? Apalagi keberangkatanku ke Lombok dengan membawa segenap rindu di dada pada nasi padang. Sungguh mati, aku udah lama banget gak makan nasi padang dengan menu andalan gulai ayam/cumi. Wadaw!!!

Kali ini aku pergi bareng Kak Nano my love, Ines my girl dan Citeng my baby. Empat hari di Lombok adalah perbuatan yang kentang. Nanggung coy. Belum kenyang. Belum puas. Sebab ada Kak N…

Nusa Penida, I'm in Love

Indonesia memiliki banyak sekali hari libur perayaan. Perayaan ini, perayaan itu, perayaan ini-itu. Waktu masih pakai putih abu-abu, aku belum terlalu mengerti konsep 'perayaan'. Paling banter, perayaan ulang tahun, perayaan kelulusan. Setelah jadi mahasiswa, makin mengikislah urgensi perayaan dalam hidupku ini. "Halaaakh, ngapain sih majang tanggal lahir di fesbuk? Biar semua dunia ngucapin dan ikut merayakan apa?" Begitu gumamku.

Namun, nyatanya semakin menua, merayakan kesuksesan (sekalipun itu suksesnya mikro), bagiku sangatlah penting. Bahkan seperti sekarang ini, aku rasanya wajib merayakan pengunduran diriku dari kerjaan lama ke tempat baru sekaligus merayakan "Biya Reborn in a Sacred Heart (hati tak bertuan alias jomvlo, boooo~)" hehehe itu yang terakhir lebay.

Nanti, di tempat ngajarku yang baru ini, aku takkan lagi mendapatkan libur 2 minggu tiap caturwulan. Maka, dengan begitu, rasanya aku wajib merayakannya dengan berlibur ke Bali selama sembila…

Untuk Iqy Ajiy Daryini

Halo Mz...

Terakhir kali aku diminta buat resensi buku itu sejak jaman kuliah semester lima dengan mata kuliah Extensive Reading yang banyak requirement-nya untuk dipenuhi agar lulus mata kuliah ini.

Kurang lebih 20 novel berbahasa Inggris, 15 artikel berbahasa Inggris dan 10 text book berbahasa Inggris wajib kubaca, kuanalisa, kuresensikan dan kupresentasikan. Woyoooo~ boleh lah sombong, perolehan nilaiku waktu itu A. Hehehehe.

Nah karena aku sudah (dianggap) jago meresensi, maka tulisan ini aku niatkan untuk TIDAK MERESENSI bukunya Mz Iqy yang berjudul Out of the Truck Box itu. Melainkan, aku akan mengata-ngatai sahajaaaa~ sesuai permintaanmu! hahahahaha~

Loh, ngapain diresensi? Aku udah jago. Bukunya lumayan laku juga tuh. Aku juga sudah banyak jasa dalam menularkan virus-virus kekoplakan beliau sebagai penulis kepada seluruh khalayak kawan-kawanku untuk membeli dan membaca OOTTB. Bilang apa hayo, mz?

Mari kita mulai. Perkenalanku dan Mz Iqy bermula pada makhluk ciptaannya Aa Zucke…

Kapan Nikah?

Akhirnya sampai juga pada fase hidup dimana pertanyaan "kapan nikah?" dilontarkan bertubi-tubi kepadaku. Rasanya Baru kemarin aku meniup lilin di atas kue yang berukir 17. Rasanya belum lama ketika terakhir ayah membuatkanku gelang berukir nama serta tanggal lahirku layaknya bocah-bocah ingusan. Rasanya aku masih bocah. Dan rasanya pertanyaan itu sangat tidak logis jika diberikan kepadaku.

Ah... Ternyata aku sudah cukup dewasa. Ternyata pertanyaan itu sudah cukup mapan jika ditembakkan ke diriku. Ternyata aku sudah kepala dua. Di rumah orang betawi, seorang anak gadis yang sudah menstruasi, lulus kuliah dan punya pekerjaan, sudah saatnya dinikahkan. Masalahnya, adakah sang pria yang sungguh-sungguh berkehendak menikahi si gadis?

Kembali ke pertanyaan paling horor sedunia bagi para lajang. Rata-rata makhluk bumi ciptaan Tuhan ingin menikah. Sebagian juga tidak. Aku ingin menikah. Tapi entah kapan. Dengan siapa pun, itu masih rahasia Illahi. Hal yang pasti, aku ingin menikahi …

Pulang ke Kampung (Orang) Bagian II

"Mbaaa... Ifa melu nyebur maring curug yoo..." Ifa memohon kepada Mbak Dita saat kami bersiap-siap berkemas pergi.
"Ajaaaa... Urusah mbok keli!" Larang Dita.

Bu Upi sibuk menyiapkan bekal. Aku mencium bau bumbu pecel. "Wah... Wangi pecel ya." Kataku saat mundar-mandir kamar dan dapur. "Iya, mbak... Ini buat bekel di sana. Pecele Mbok Karsem! Nanti dicoba yaaa..." Bu Upi menjelaskan. Wah, akan menjadi hari yang keren! Bu Upi tau aja kalo aku pecinta pecel.

Kami menumpang mobil Espas tahun 90-an. Di belakang ada aku, Dita, Tiwul dan Cetot. Di tengah diisi oleh Ifa, Lik Fitri dan Bu Upi. Pak Wakhid menemani supir yang ia minta tolong membawa kami ke atas bukit. Sepanjang jalan kami bersenda gurau dengan Ifa. Aku fans berat Ifa. Anaknya borjuis meski masih 8 tahun. Di lehernya ia kalungkan perhiasan rantai emas. Di telinga, ia menggunakan anting berukir Hello Kitty yang emas pula. Pergelangan tangannya pun dilingkari emas lagi. Harta paling berharga…