Senin, 10 April 2017

Gili Sudak hingga Kuta, Lombok

Aku menulis ini di bandara Praya Lombok sambil menunggu boarding. Dan melanjutkan tulisan ini hingga rampung saat di kamar menunggu sarapan dan siap ngantor, serta di sekolah ketika bocah-bocahku sudah pulang semua.

Akhirnya ngelombok juga aing! Hihihi. Senang. Bersyukur. Haru. Sentimentil banget emang si aing ini kalo jalan-jalan jauh pasti ada rasa haru. Iyalah. Gimana enggak. Ketika yang lain pada bangga ke Singapore, Thailand, Jepang, aing hepi banget bisa ke Lombok dengan modal nabung selama 2 bulan cuma abis tiket 1.4jt PP dan uang saku 1.5jt kurang 350rb udah makan enak, gak irit-irit!!! Terharu gak kamu??? Apalagi keberangkatanku ke Lombok dengan membawa segenap rindu di dada pada nasi padang. Sungguh mati, aku udah lama banget gak makan nasi padang dengan menu andalan gulai ayam/cumi. Wadaw!!!

Kali ini aku pergi bareng Kak Nano my love, Ines my girl dan Citeng my baby. Empat hari di Lombok adalah perbuatan yang kentang. Nanggung coy. Belum kenyang. Belum puas. Sebab ada Kak Nano my love, aku gak pake paket-paketan doooong~ bekpeking till I die lah. Tujuan kami sejak Kamis, 6 April 2017 hanya ke Gili Sudak dan kawasan yahud Kuta, Lombok. See, gak kenyang kan?

Kenapa ke Sudak? Sebab ia sangat tenang lagi menenangkan. Awalnya itinku adalah Kuta; Seger, Merese, Tanjung Aan, Mawun lalu ke Pink Beach, Tiu Kelep dan berakhir di tiga gili menstrim; Trawangan, Air, dan Meno. Beruntunglah kami anak-anak berkah titipan Tuhan, berdiskusilah dengan Kak Nano my love lalu ia menyarankan banyak hal. Ia bukan asli Lombok tapi telah banyak menelan asam-garam traveling ke Lombok. Ia bagai Bapak Lombok bagi kami. Mungkin lebih tepatnya Bapak Trepeling-Tanpa-Paket-Tour-Alias-Bekpeking. Hehehe.

Dan tibalah hari itu. Kami terbang pagi sekali dari CGK. Sesampainya di Praya, kami sudah dijemput Mas Pendi, penyewa motor yang sudah kami kontak beberapa hari sebelumnya. (Nah, ini cukup haru. Beberapa minggu sebelumnya, Kak Nano my love bilang, penyewaan motor itu jarang banget, bahkan gak ada yang mau antar motor ke Praya, kami harus ke Mataram dulu yang mana itu makin menjauhkan kami dari tempat-tempat yang kami tuju. Saking berkahnya aing, aing carilah di instagram. Eh ada!!! Kau ketik saja #sewamotorlombok. Ketemu deh pasti.) Lalu kami menuju Sekotong untuk menyebrang ke Sudak. Kami tidak mengambil jalur Pelabuhan Lembar sebab itu cukup jauh dan lebih ramai. Di Sekotong ini, kami lebih privat pertemuannya dengan Pak Gede (beliau lah yang mengurus penginapan kami di Gili Sudak). Nah, perjalanan dari Praya-Sekotong tidaklah pendek. Kalian harus pintar-pintar bersabar dan jaga emosi. Soalnya lelaaaaaahhhh sekali. Perjalanan nan panjang kian tak berujung itu dapat membuatmu kesemutan di daerah pantat, pegal linu di pundak, bulu-bulu jari tangan berdiri dan kantuk di mata. Hadeh. Kurang lebih memakan waktu 1 jam dengan perjalanan yang bisa ditempuh dengan kecepatan 80km/hr tanpa henti. Kewren gak tuh. Mana ada macet di sana mah!

Ketika sampai di suatu warung, atau sebut saja parkiran khusus motor atau mobil atau transportasi apa saja lah yang kau bawa itu, kami menyebrang ke Sudak. Sebentar kok. Hanya 15 menit. Aku gak tahu berapa ongkosnya karena harga antar jemput perahu sudah termasuk ke dalam harga penginapanku di Sudak.


Sudak adalah tempat bermalam yang sungguh dapat membawa pikiranmu melanglang buana kemana pun. Kau bisa memikirkan masa depan di sana. Mencari inspirasi, mengenang mantan, bersedu-sedan meratapi nasib, bermuhasabah atas dosa-dosamu selama ini (hahay!). Tapi sungguh, tempat ini begitu sunyi. Dan hanya satu pengelola penginapan saja. Nirvana Gili Sudak. Sila kau google stau selancar di Traveloka, Agoda dan situs booking lain lah itu penginapan ya. Aku rekomendeath sekali. Tapi sayang, makanannya lumayan mahal. Bayangkan, nasi goreng aja 40rebu!!! Ayam fretciken-fretcikenan 60rebuuuuuuu!!! Gilak kali. Namun, sodara. Mohon dimaklumi ya, itu kan di tengah laut. Susah bahan makanan. Mana gak ada nasi padang~ nasi padang~~~ Tapi tak apa. Kami berempat habis kurang lebih 3jt untuk menginap 2 kamar selama 2 malam dan makan kenyang tanpa kelaparan di sana sekaligus hopping island ke Gili Nanggu.

Di Sudak, kalian bisa kayaking (gratis) nyebrang ke Pulau Kedis. Atau mau sewa boat seperti kami, 350rb sepuasnya tapi karena cuacanya kurang ketje, jadi kurang 'da bomb' lah snorkeling kami tuh. Jadilah hari pertama kami habiskan untuk leha-leha, main kartu, curhat, meratapi nasib sebagai karyawan dengan Kak Nano my love sang pengusaha sepatu beromzet ratusan jeti. Masya Allah sekali. Lalu hari kedua kami lanjut snorkeling menggunakan jasa perahu tadi dan kayaking. Lalu esoknya kembali lah kami ke Sekotong. Selama 3 hari 2 malam itu, aku berkenalan dengan bocah cantik bule lagi blonde asal Amrik, Brooky dan kakaknya Audrey. Kami bernyanyi-nyanyi, bermain hitung-hitungan, membaca buku cerita, sampai kuajari ia main kartu remi "tepok nyamuk" dalam bahasa Indonesia hahaha.

"You have to use Bahasa to play with us ya. So starting with 'as' then 'dua', 'tiga' until King and back to 'as'. What is 'as' in English yaaa." Kujelaskan kepada Audrey.
Lalu Ines menyahut, "English for 'as' is 'ass'!"
Buahahahahahaha kami semua ngakak gak karuan. Pantat, maksut ente?! Selalu lahir jutaan tawa kalau pergi bareng kawan-kawanmu. Apalagi bersama Ines dan Citeng. Aih, bukannya lelah jalan, tapi lelah ketawanya! Ada aja istilah baru untuk kami. Yang paling masyhur adalah 'epleng'. Arti dari 'epleng' adalah... Gak tau aku juga!

Pada Sabtu, 8 April 2017, kami berbondong-bondong check-out. Bersama keluarga Amriki pun kami turut menyebrang ke Sekotong. Kami bayar 20rb untuk jasa titipan motor dengan si abang lalu kami lanjutkan perjalanan ke Praya untuk mengantar Kak Nano my love yang mau minggat ke Jakarta lebih awal. Mau kondangan dia. Gak asyique beud kan. Itu perjalanan pulang, subhanallah lamanyaaaa... Rasanya gak sampe-sampe loh. Padahal udah lihat plang Bandara Internasional Lombok belok kiri, tapi itu keknya puwanjang biyanget!!! Waktu tempuh ya sama aja sih dari atau ke Praya-Sekotong sama dengan 1,5 jam.

"Lo keluar bandara belok kiri, terus luruuuuuuuuuussss aja sampe ada pertigaan, Kuta belok kanan. Nanti lurus terus aja udah, kanan lagi sampe ada bunderan. Pokoknya lo lewatin pasar, Desa Sade, baru Kuta." Berikut pesan-pesan Kak Nano my love pada 3 dara ini.

Dan yeay! Kami telah berada di Jl. Raya Kuta. Sudah kami book satu penginapan, Fass Inn namanya. Lokasinya agak masuk ke gang sebelah kiri setelah Masjid Kuta. Kami sempat menepi karena lapar. Ada tukang gorengan murah meriah di sini. Rata-rata 1000 rupiah saja dengan rasa yang aduhai maknyos. Yang paling kusuka adalah tahu isi dan nanas gorengnya. Subhanallove sekali. Nah, di Kuta banyak sekali pilihan penginapan. Rate 350++ sudah bagus loh. Ada kolam renangnya. Keren deh. Kalau yang punyaku ini hanya 150 ribu kurang goceng. Hahaha. Tapi asoy. Kamarnya luas. Bahkan kamar mandinya pun keknya sih bisa muat 10 orang sekaligus! Extra bed cuma tambah 50 ribu aja.

Ketika sampai Fass Inn, adzan zhuhur baru berkumandang. Yes, NTB 95%-nya adalah muslim, fanatik pula. Kata Mas Imam bermata tajam, mantan anak Bintaro, selagi kami cakap-cakap menunggu kamar dibuka. Ia orang Praya, tapi kampung almarhum bapaknya di Kuta. Dalam rangka menjenguk kakek, katanya, ia berlibur menghabiskan wiken ini. Ia pernah tinggal 3 bulan di Rawamangun, ikut les dan tes di STAN tapi gak lolos. Kucelotehkan, "wah, Ahok gak bisa dong ya ke Lombok, fanatiknya melebihi orang Jakarta keknya." Dan Mas Imam pun senyum sungging. Wadaw, beneran fanatik nih. Hihihi.

Sejenak rehat dan solat. Kami sebenarnya masih terlalu lelah untuk melanjutkan perjalanan. Mau dikatakan apalagi, kita tak akan pernah satu. Eh, salah. Mau dikatakan apalagi, waktunya meped. Sebelum cus ke beberapa tempat tujuan, cacing-cacing di perut kami mulai meronta, terlebih rinduku pada nasi padang makin tinggi. Ines ngidam ayam taliwang. Ketika kami berbelok ke arah Pantai Kuta, Citeng berseru, "Eh, warung padang tuh!" Aku langsung mengerem medadak. Parkir. Turun dari motor. Hahaha. "Nasi padang dulu ya, Nes? Gak apa ya?" Ines pun megangguk. Tak sabar menahan rindu, aku lebih dahulu masuk ke warung padang. Lalu Citeng, selanjutnya Ines. Sebelum menempati tempat, kuarahkan pandanganku ke meja sebelah dan aku sepertinya mengenal sosok abang-abang yang sedang bahagia haha-hihi bersama kawannya. Aku berbisik ke Ines, "itu keknya si Edot deh, Nes."
"Mana?"
"Itu yang duduk situuuuuuuu~" Aku menunjuk-nunjuk dengan bibir monyong.
"Lah iya." Ines menyetujui.
Tak lama aku duduk, Ines merengek, "Edoooooott... Lo ngapaiiiiinnnn?????" Seolah ingin berkata "yaelah elu lagiiiiii... Ngapain sih luuuuuuuuuu ada di marih!!!"

Okay. Simak penjelasanku ya. Edot alias Hendy alias Haikal adalah kakak tergantengnya Ines. Dia pula lah yang mengantarkan kami, 3 dara ini, ke bandara subuh-subuh gelap gulita. Edot pun yang menraktir kami di warung nasi padang tersebut. Sial, aku cuma pesan nasi+ayam gulai. Kurang udang, kerupuk dan jus! Heheheh. Betewe, makasih ya Edot. Kau bagaikan penyejuk dahaga penawar rindu. Buahahaha. Setelah kenyang, langsung lah kami cuz ke Seger, Merese dan Tanjung Aan. Aku sih cuma bisa bilang "braaaaaahhhhh!!!!!!!!!". Gile. Aguuusssh aneeeetttt... Sayangnya langit bermuram durja. Gelap. Mendung. Kami sempat terguyur hujan. Jadi gak sempet deh kecipak-kecipung di Tanjung Aan. Padahal itu pantai, ya ampun deh, amazingly amazing!!! Kalau Merese itu bebukitan. Di Bali, khususnya Ubud, ya kayak Campuhan, tapi pemandangannya lebih indah Merese. Lebih luaaaaas~ keren deh. Niat hati mau lihat sunset, apa daya, the sun is hiding behind the cloud. Turunlah kami untuk pulang. Nah di Merese ini, kami bertemu lagi dengan Edot. Minta bantuannya pula untuk ambil gambar ala-ala anak jaman, boomerang. Ia tak paham apa itu boomerang. Tiba-tiba saja Citeng menyeletuk, "kok dia bawel ya. Rame ya. Waktu nganter ke bandara, dia diem aja deh Nes. Kok beda?"
"Emang gitu! Lagi ngantuk kemaren pas nganter kita tuh. Makanya diem aja dia... Mana kalo pagi dibangunin susah, mau kerja padahal dia kan...blablablabla..." Ines curhat.


Lapar perut. Kami mampir di Cafe In. Katanya sih sedia masakan khas Thai. Aku berasumsi akan ada mango sticky rice. Eh ternyata gak ada. Tapi gapapa. Suka sekali aku sama konsep cafe ini. Letaknya di pinggir jalan Kuta. Kecil, tapi asri. Bangunan cafe nya pakai bambu kuning gitu. Sajiannya variatif. Dari Western, Asian, sampe Indonesian ada. Harganya? Wadaw! Affordable abizs! Aku pesan semacam Tom Yam, Ayam Taliwang dua potong, pizza buah dan tiga macam minuman hanya perlu bayar 260 ribuan. Mana abang-abangnya ganteeeeenggg... Duuuhh! Kenapa sih laki-laki Lombok tuh matanya indah, tajam, alisnya rapih, bagus, hitam, lebat, hidung mancung, kulit sawo matang. Masha Allah. Tapi sayang, tingginya gak tinggi gitu. Kurang suka cowok pendek aku ni. Hehe. Seteah bayar pesanan, Citeng my baby yang kek bab* itu bilang ke pelayan ganteng lainnya, "Mas ini temen saya mau kenalan sama mas yang satu lagi. Gateng katanya." Ia menunjuk-nunjuk aing yang dimaksud dengan 'temen saya'.
"Jangan didengerin mas!" Aing sontak ngotot. Grogi. Brengsek benar si Citeng. Tapi gantengnya beneran sih hahaha!

Dan Minggu adalah hari terakhir kami. Kami memutuskan untuk ke Pantai Mawun ketika bule-bule masih lelap karena mabuk semalaman. Sesampainya di Mawun, waktu masih menunjukkan pukul 9 pagi. Di Mawun ini kalian bisa berfoto ala-ala selebgram. Mawun adalah pantai yang diapit dua bukit tebing. Jadi kalau kau punya kamera semacam gopro, b-pro atau kamera action lain, bahkan hp biasa pun, itu pasti jelas sekali sang bukit setengah melingkari pantai. Pasirnya putih. Ombaknya lumayan besar. Mirip-mirip pantai di Gunung Kidul lah. Aku mandi di sana. Hampir terseret ombak lalu lebih baik kami berfoto-foto saja wqwq. Hanya sebentar kami di Mawun sebab pesawat kami akan terbang pukul 14.00. Sebelum kembali ke Praya, kami makan siang di Sushi K. Resto sushi yang paling terkenal gitu di Kuta. Harganya ya sama aja kalau kamu makan di Jakarta. Tapi rasanya sih enakan yang di Jakarta. At least, bisa menawarkan kerinduan pada kota lah.

Pada akhirnya aku harus menutup ceritaku ini. Gimana rasa bahasaku? Jujur, aku masih merasa digantungin liburannya. Jadi tulisan ini kuanggap tulisan tentang liburan yang gantung lagi nanggung. Hhhh... Pokoknya, tips bagi kalian yang mau ikutin bekpeking ala aku ini ya siapin uang aja sama waktu sih. Kalo udah ada uang dan waktu mah semua gampang. Bisa diatur. Jangan lupa ajak kawan. Selain bisa sharing kebahagiaan, kau juga bisa sharing pengeluaran. Wqwq. Kecuali kamu kayak Kak Nano my love. Nano has no friends, begitu jargonnya.
Oh ya, kalo mau ke Sudak, siapin uang cash banyak-banyak. Di sana gak ada ATM. Sekotong pun jarang ada mesin ATM. Dan kalo mau ke Sudak, hari setelahnya nginep deh di tempat lain yang ada air tawarnya, biar kalian bisa bersih-bersih lebih segar. Secara kan Sudak air mandinya air asin. Aku aja sampai terasa di mulut asinnya ketika membasuh rambut dengan air tawar!!!
So, sampai jumpa!

Senin, 17 Oktober 2016

Nusa Penida, I'm in Love

Indonesia memiliki banyak sekali hari libur perayaan. Perayaan ini, perayaan itu, perayaan ini-itu. Waktu masih pakai putih abu-abu, aku belum terlalu mengerti konsep 'perayaan'. Paling banter, perayaan ulang tahun, perayaan kelulusan. Setelah jadi mahasiswa, makin mengikislah urgensi perayaan dalam hidupku ini. "Halaaakh, ngapain sih majang tanggal lahir di fesbuk? Biar semua dunia ngucapin dan ikut merayakan apa?" Begitu gumamku.

Namun, nyatanya semakin menua, merayakan kesuksesan (sekalipun itu suksesnya mikro), bagiku sangatlah penting. Bahkan seperti sekarang ini, aku rasanya wajib merayakan pengunduran diriku dari kerjaan lama ke tempat baru sekaligus merayakan "Biya Reborn in a Sacred Heart (hati tak bertuan alias jomvlo, boooo~)" hehehe itu yang terakhir lebay.

Nanti, di tempat ngajarku yang baru ini, aku takkan lagi mendapatkan libur 2 minggu tiap caturwulan. Maka, dengan begitu, rasanya aku wajib merayakannya dengan berlibur ke Bali selama sembilan hari! Waw wiw waw! (Tanpa travel agent!!!) Wehehehe~

It was my first time visiting Bali (to be honest). Becauuuussseeeee... Maaf, jujur loh ya, aku sebenarnya anti-Bali. Sudah terlalu mainstream Bali tu. Ngapain sih, di Bali? Sunset Kuta? Tanah Lot? Seminyak? Duh, mainstream!!! Nah, setelah separuh minggu kudapat keliling Bali, dugaanku salah. Biar nanti kuceritakan ya!

Sebagai Aquarian, sudah panggilan jiwa untukku menjadi makhluk well-organized. Mohon untuk percaya. Sudah teruji klinis! Satu bulan sebelum keberangkatan, aku sudah sibuk berselancar di google demi mendapatkan tiket murah. Maka dapatlah aku Air Asia 800rb tektok JKT-DPS-JKT untuk tiga orang.

Yes, aku pergi bersama Tika dan Miss Sophia. Rekan kerjaku di sekolah yang kutinggalkan itu. Entah mereka kurang berpengalaman, atau bukan Aquarian, semua itinerary dan segala macam tetek-bengeknya, aku lah yang merancang. See? I am a very-pretty well-organized woman! Mereka dengan selownya hanya menjawab "aku mah ikut ajaaaaa..." setiap kali kutawarkan proposal tempat wisata yang ingin kukunjungi. Asyik namun menggemaskan!

Day 1
Kami terbang hari Senin, 19 September 2016 jam 21 : 55 WIB. Sesampainya di Bali sudah larut malam tanggal 20. Puji Tuhan aku punya sepupu yang tampan pula baik hati serta soleh yang indekos di Denpasar. Dengan ketulusan hatinya, ia dan kawan tampannya menjemput kami di bandara dan langsung menuju ke indekos Leo, my handsome cousin. Di sana kami cuma numpang selonjoran. Sebab jam 6 pagi, kami sudah harus berangkat lagi menuju Sanur. Nah, di sinilah perjalanan dimulai!

Day 2
(20/9) Pagi-pagi sekali aku sudah bangun. Kubangunkan Leo paling dulu (dia makhluk paling penting, karena dia yang akan mengantar kami hehe). Kami ke Sanur pagi itu. Tidak sempat nonton sunrise, but that's okay. Yang penting gak ketinggalan boat!

Yes. Boat. Fast boat. Kita akan nyebraaaaaaaanggg!!! Ke Nusa Penidaaaaaa~~~ Wohooo! Nah, untuk ke Penida, you can sail by boat or ferry or kapal nelayan, yes. Pilihan tempat nyebrangnya juga various. Aku start dari Sanur. Berdasarkan info dari Mbah Huhel, aku berasumsi pada saat itu untuk naik kapal Dwi Manunggal. Kenapa? Begini...

Berminggu-minggu sebelumnya, aku sudah book penginapan di Penida. Krisna Guest House namanya. Ini lokasinya di Toyapakeh. Di Penida itu, ada dua dermaga; Toyapakeh dan Buyuk (Kalo nda salah). After you booked hotel, make sure dermaga mana yang closer to your hotel. Pokoknya, ini cermat-cermat kalian ya... Mulai dari lihat di map, sampai nanya ke si empunya hotel, baca-baca blog orang, intinya survey deh. (Tips pertama dari the most well-organized woman on earth).

Pak Nyoman yang baik hati dan tidak sombong itu menganjurkan kami untuk naik Maruti Express, sebab jaraknya gak terlalu jauh dari Krisna Guest House. Namun, setelah aku gugling tiketnya, kok mahaaaalll!!! Tiga ratus rebuuuuu! Wah tidak bisa~ Sebagai anak hemat pangkal kaya, harga segitu over budget dong. Maka jatuhlah pilihanku pada Dwi Manunggal yang harganya 100k. (Sebenarnya itu masih mahal loh hehe). Begitu ceritanya. Nah lanjut yaaa...

Setelah 45-50 menit di atas boat, sampailah kami di Nusa Penida. (Kamu silahkan gugling, ada apa aja di Penida.) Oh ya, Nusa Penida ini layaknya Kep. Seribu di Jakarta. Tapi lebih asri dan indah dan lebih desa dan lebih segalanya! Kalian juga bisa ke Lembongan dari Sanur. Tapi aku gak tertarik ke sana soalnya udah mainstream. Lagi-lagi soal mainstream dan gak mainstream. Hehehe. Aquarius itu selalu ingin beda. Begitu!šŸ˜

Di sini aku sedikit keliru. Aku gak bilang sebelumnya ke Pak Nyoman kalau aku sudah on board. Di dermaga kami turun, barulah aku telfon si Bapak. NOTE!!! Di Penida gak ada angkot ya. Adanya motor. You have to rent it! Kalau langsung sewa pas turun dari boat, rata-rata harganya 40-60k. Sebab aku melalui si Pak Nyoman, harganya lebih mahal šŸ˜­
75k untuk satu hari! Ergh. (Tips kedua dari the most well-organized woman on earth).

Kami dijemput utusan Pak Nyoman dengan dua motor matic. Setelah itu kami langsung menuju Krisna. For your info ya, Penida itu subhanallah indahnya. Aduh, aku nulis ini setelah berminggu-minggu pulang dari sana dan aku masih bisa dengan jelas nge-picture atmosphere di sana. Anginnya, bau tanahnya, jalanannya yang berliku-liku, panasnya... Sampai wangi handuk penginapanku, aku masih bisa membaunya!!! Duuuhhhh, love banget!šŸ˜

Sampai di Krisna, kami disambut Pak Nyoman dan isteri. Mereka baik-baik sekali. You know what, itu penginapan cam rumah dheweq dengan tiga kamar, ada dapur, ruang tamu, teras, dan pemiliknya gak tinggal di sana! Jadi kami bener-bener bertiga di rumah!!! Aduh, mak, enak deh... Di dapur segala perabotan ada. Kalau kamu mau bawa beras, bisa masak di rice cooker nya. Ada kulkas pun. Kamar ada yang AC dan fan. Disiapin teh dan kopi. Ada toaster. Beuh! Selain well-organized, Aquarian itu emang jarang salah pilih. (Kecuali jodoh. Belom).

Tanpa ba-bi-bu, setelah rehat barang 10 menit, kami langsung jalan-jalan. Pagi itu masih sekitar jam 9an. Masih panjang waktu untuk menanti esok. Tujuan pertama kita adalah bagian Barat Penida sebab tempat kami singgah lebih dekat ke sana. Maka list nya adalah Pasih Uug, Pasih Andus, Kelingking, Angle's Billabong, dan Crystal Bay. Banyak ya. Dengan pengetahuan yang minim, aku langsung sok akrab dengan Bapake. Bapake kasih tau arah, aku anaknya cepat lupa. Yauda cara menanganinya yaitu dengan mengingat sekedarnya, patokan-patokan aja yang dihapal, kalo nyasar ya tanya orang! Hehehe.

Kami akhirnya melaju. Mengikuti arah yang Pak Nyoman sarankan. Di tengah jalan, aku meragu. Kutanya bapak-bapak yang sedang berkebun. Tiba-tiba ada suara klakson dari belakang.
"Tiiiinnn.. tiiiinn! Mba, mau ke mana mba?" Logatnya Bali banget. (Kamu harus bacanya ke-Bali-balian loh.)

"Mau ke Pasih Uug, bli. Dija ya?" Kataku dengan sok gadis Bali. (Dija:di mana?)

"Oh, ikut saya saja. Ikuti sepeda saya. Saya juga mau ke arah sana." Namanya Wayan bermotor trail sangat macho. FYI: Mereka (orang Bali) bilang motor dengan sebutan 'sepeda' tanpa 'motor'. Aku awalnya rolling eyes, like, what? Can't you see I ride a motor bike? Bli Wayan asli Kelingking dan sedang mengarah pulang. Maka kami membuntutinya.

Rejeki anak solehah dasar. Ketemu aja orang baik. Bli Wayan itu yang nganterin kami ke tempat-tempat yang tadi kusebut. Baik niaaaann~ Ada rasa cinta sedikit demi sedikit untuk tanah dewata ini. (Bukan in love ke Bli Wayan nya!)

Must be noticed ya, jalanan di daerah Barat ini uweleeek tenaaan! Berbatu, berliku, dan sempit. Kalian musti hati-hati deh. Panasnya pun menyengat. Aku dapat oleh-oleh sunburn di pundak, tangan, kaki. Duh, Gusti Pangeran. Jangan lupa pakai sun block terus ya. (Tips ketiga dari the most well-organized woman on earth).

Tempat pertama yang Bli Wayan antar yaitu Pantai Kelingking. Perlu kalian ingat, kebanyakan di Penida itu pantai, laut, samudera, apalah itu, yang pemandangannya selalu dari atas tebing. Siap-siap nanjak, lelah, sweaty, yes. Make sure that you don't wear slippers. (Tips keempat dari the most well-organized woman on earth).

The first impression I had when I saw the view was like "oooohh ma gaaaaaahh!!! Subhanallah, Allahu akbar!!!" Indah banget deh. Meski agak ngeri-ngeri asoy kalau liat ke bawah. Kalian harus rajin-rajin jalan dan kembangkan curiosity ya. Karena ternyata satu spot itu gak cukup. Ada beberapa spot lain dengan point of view yang beda. Jadi, jalan aja terus kalau kalian lihat jalan setapak. But still, you need to be careful. Setuju ya! (Tips kelima dari the most well-organized woman on earth).

Setelah puas narsis, kami diantar ke Pasih Uug yang maha dahsyat terkenalnya itu. Oh, ya, kami gak ke Pasih Andus. Harusnya ke sana, sebab ombaknya yang menggelegarlah yang jadi daya pikat tempat tersebut. Tapi kenapa aku gak ke sana yaaa...

Nah menuju Pasih Uug ini, your riding skill was tested!!! Medannnya boook, curam. Berbatu. Licin. Belokannya tajam. Kayakanya Gojek atau Grabike musti ngadain seleksi di sini deh buat para calon drivernya. Sampai-sampai, Bli Wayan bantuin kami untuk melewati itu becek dan batu. Ntap! Long live Bli Wayan!

Di Pasih Uug, kalian bisa lihat tebing yang ada bolongan di tengahnya. Sedangkan kita tetap bisa jalan keliling di atas tebing itu. Lokasinya pun sangat dekat dengan Angel's Billabong. Cuma 5 menit jalan kaki ke arah kanan, tadaaaa!!!

Alhamdulillah ketika kami datang, laut sedang surut, jadi kami bisa main air deh di sana. Kalau ombak sedang tinggi, untuk bisa mengapung di sana sangatlah mustahil. Bisa-bisa kebawa arus pergaulan bebas, eh, arus ombak maksutku. Hehe.

Aku yang memang niat basah-basahan sudah siap. Pakai pakaian siap nyemplung hanya dengan melucuti kaos luaran. I kept my sandals on while I was swimming loh. Sebab, untuk ke bawah Billabong sana, karangnya tajam. (Tips keenam dari the most well-organized woman on earth).

Nah, setelah puas numpang mandi, di tempat inilah we said bye bye to Bli Wayan. Awalnya kami sepakat mau kasih tips seharga satu bungkus rokok (soalnya dia sempat minta rokok Ms. Sophia meski sebatang). Namun, karena kebaikan hati para wanita-wanita solehah ini, kami beri ia uang seharga satu bungkus rokok juga sebatang rokok. Hehehehe enggak!

Dari Pasih Uug dan Angle's Billabong, kamu menuruni jalan menuju Crystal Bay. Pantai ini sebenarnya dekat sekali loh dengan Krisna. Makanya sekalian arah pulang deh.

Tak lama setelah kami memarkir motor, ada seorang Bli-bli yang langsung menawarkan jasa.
"Snorkeling, Mbak, Snorkeling!"
"Wah bisa, Pak? Berapa?" Aku sangat antusias.
"Hm.. Mbak, berapa orang?"
"Tiga aja, Pak."
"Oh, kalau begitu..." Si Bapak jeda sejenak, hendak menghitung bajet, batinku.
"Bertiga ya? Ya sudah, satu orangnya 400k aja deh." Akhirnya ia membuka harga.
"Haduh, udah sore gini, Pak. Masa jalan juga? Emang berapa spot? Berapa jam?"
"Hmm, kalau Mbaknya mau, besok pagi saja. Dua spot Mbak. Pokoknya sampe Mbaknya lemes deh."
"Wahahahaha iya gitu? All in sudah?"
"Sudah Mbak. Nanti kita ke Manta Point. Mau?"

Aku tutup percakapan itu dengan geleng-geleng dan langsung kabur. Nah itu sebenarnya tawaran yang sangat menggiurkan. Aku sih, mikirnya kami hanya bertiga. Itu snorkeling doang mahal banget. Mendingan buat belanja oleh-oleh kan? Hehehe. Lain lagi kalaaaauuuuu aku beramai-ramai. Pasti lebih murah. Oh! Lebih asyik kalau kalian bertemu dengan tourist lain yang juga independent kayak aku, terus ngajak barengan deh! Ntap ya. (Tips ketujuh dari the most well-organized woman on earth).

Di Crystal Bay, kalian bisa berenang-berenang main air. Pasirnya putih. Lembut. Ombaknya kencang tapi gak tinggi. Aku sudah enggan berenang. Takut masuk angin. Dan mager juga. Duh. Di sana kami hanya menonton anjing-anjing liar Bali dari atas batang pohon rusak. Mengapa? Karena kami takut anjing!!! Di sini juga kalian bisa menikmati pemandangan bule berbikini untuk perkembangan imaji liarmu, mungkin~ wqwq.

Day 3
(21/9) "Zelamat page, semwanyah!" Itu morning greetings ku yang aku rekam di story Instagram hehe. Pagi di Nusa Penida adalah kenikmatan yang tak ada dua. Ini tuh desa. Tenang sekali desanya. Selalu ada gamelan khas Bali yang berbisik masuk ke dalam rumah penginapan kami. Belum lagi orang-orang di pinggir jalan dengan cerianya saling sapa dengan hangat. Sunguh nikmat, bukan?

Di hari ketiga ini, perjalananku berlanjut ke arah Timur dimana Pantai Atuh bernaung. Dari Krisna ke Pantai Atuh, aku tak bisa jelaskan berapa kilometer jaraknya. Yang jelas, setiap orang tanya hendak ke mana kami dan kami jawab ke Atuh, pasti rang-orang tadi bilang, "Wah, jauh sekali ituuuuu!!!! Hati-hati lho, Mbak..."
Ddyyyaaaaarrrr!!!!! Sejauh itu kah?
"Bodoamat!" Gumamku. Hehehe.

Sebelum meluncur ke sana, kami terlebih dahulu mem-booking tiket pulang ke Sanur dengan jasa Maruti Express. Ini adalah boat yang Pak Nyoman sarankan sebelum kami tiba. Ketika kutanya mengenai harga, ternyata harganya hanya 75 ribu!!!!!! Lah, yang 300 ribu itu harga apa dong????? Jangan cemas. Jawabannya adalah harga turis asing. Wakwaaaawww!!!

Tau gitu sejak berangkat ya pakai Maruti saja lah. Namun, konon, di blog seseorang, kubaca memang harganya beda-beda. Jadi penggolongan harga tiket itu ada tiga; lokal (penduduk ber-KTP Bali), semi lokal (orang Indonesia ber-KTP selain Bali) dan asing. Gitu. Yaudahlah yaaaa~~ (Tuh! Sudah kuberi tips kedelepan dari the most well-organized woman on earth, neeehh~).

Setelah bayar parkir di dermaga dan melengos ke Bli-bli yang sejak tadi sial-siul, kami berdoa sambil lalu dengan motor yang kami sewa menuju Timur.

Hokay. Jalannya lebih halus. Aspal. Mantap. Tapi lika-likunya itu yang gak ada beda dengan si Barat. Ya Tuhan, sungguh, jangan kalian mengaku Valentina Rossiwati deh kalo belum pernah nyetir di Penida! Namun, sepanjang jalan Timur itu, kau akan disuguhkan dengan pemandangan yang tiba-tiba bisa memperlambat laju motor dan matamu basah, berkaca-kaca. Subhanallah. Allah tuh emang tiada dua deh!

Kalian akan menemukan rindangnya pepohonan di sisi kanan jalan dan cerahnya langit berlantai laut beserta pasir putih di sebelah kirinya. Belum lagi pemandangan belahan sisi Pulau Penida yang lain. Ya Allah. Aku cinta Penida, Ya Allah. Sepanjang jalan itu, kami gak berhenti berseru kegirangan.

Sejenak kami sempat mengambil gambar di pinggir jalan. Saking we don't wanna miss a moment. Lalu di belakang ada suara pemuda-pemudi dengan motornya beramai-ramai bersorak, "Atuh, yang Atuh!!!" Itu maksudnya mengajak atau menawarkan diri untuk konvoi bersama. Mendengar itu, aku langsung melesat, "Kuy lah. Barengan sama anak kampung sini!"

Jalan semakin lama semakin tinggi. Kelokan semakin tajam. Pemandangan dari atas makin mengagumkan. Aku hanya sendiri di kuda besiku. Lain si Tika. Ia dibonceng Ms. Sophia yang kecepatan motornya seperti siput lendir. Suweper luwamak, rek! Capek aku nungguin mereka terus. Akhirnya Tika turun tangan. Ia yang menyetir. Tetap, aku harus menunuggunya tiap lewat kelokan. Asu. Aku gak bisa diginiin, kaaakk... Aku gak suka nungguuuuu~

Pemandangan tepi pantai kini berubah dengan gundukan-gundukan bukit pegunungan. Wah, kami sudah di Tanglad, kataku dalam hati. Sekarang, coba kau gugling apa itu Tanglad ya. Apa yang terkenal di sana hehe. Gitu dong biar ada effort nya kalo mau backpacking! Wq~

Di sini kami sempat berhenti. Biasolah, narsis ria dulu kitooooo~~~
Sekaligus memindahkan Ms. Sophia yang sejak tadi bersama Tika ke kursi belakangku. Ini biar kami cepat sampai di Atuh. Perjalanan dari Krisna ke Pantai Atuh mungkin kurang lebih dua jam. Dua jam tanpa macet dan lampu merah adalah jarak yang lumayan bikin masuk angin. Apalagi sejak aku menyewa motor dari hari pertama, tak ada helm bahkan jaket pun kukenakan. Pecah pala rasanya~

Kami semakin dekat dengan Atuh. Sebab plang arah jalan sudah sering menandakan. Pula jalanan yang semakin sempit dan sepi. Semak di kanan-kiri. Tak ada ngeri sama sekali, karena masih pagi. Di sana sini agak berbatu namun tak separah jalanan di Barat. Sampai akhirnya kami melihat tanda Pantai atuh ke kiri dan Tree House ke Kanan, maka di sanalah ia.

Motor harus di parkir di sebelah warung nenek-nenek. Bayarnya 5k saja. Kata sang nenek, motor tak bisa melalui jalan ke Atuh. Katanya pula, ikuti jalan tebing sekitar 200 meter, maka kau temui Atuh. Setelah membayar ongkos parkir, kami segera menuruni jalan setapak.

Sekali lagi aku tekankan, WEARING SLIPPERS ARE NOT ALLOWED!!! Ini tuh benar-benar melelahkan. Percaya deh. Jalur pertama adalah menurun. Lumayan bahagia meski harus sering mengontrol diri agar tak terpeleset. Benar apa kata Si Nenek. 200 meter kami jalan kaki dengan medan yang, hmm... Ya gitu deh. Jangan lupa bawa minum ya!

Nah, suara ombak sudah mulai terdengar. Di depanku ada lapangan rerumputan, bak jembatan, lalu aku berlari mendekat ke arah jalan yang memecah dua pantai.
"Man, kita di atas karang tebing, man! Buru jalannya! Lihat ini!!!" Aku berteriak ke arah Tika dan Ms. Sophia yang sejak tadi di belakangku.

Ya Allah, Ya Rabb. Sungguh indah. Luar biasa indah. Jadi tuh aku ada di atas tanah yang tinggi sekali, lalu ada sedikit jalan bagai tembok yang membelah dua pantai berpasir putih dengan warna air laut yang membuat dahaga hilang!!!

Aduh, lemes deh. Antara lelah dan puas bahagia. Kami adalah turis seorang pagi itu. Tak ada yang lain. Beberapa menit kemudian ada bule asal Chile datang bersama tour guide lokal. Aku bertanya, "Ini pantai Atuh, Pak?"
"Iya, Mbak..."
"Yang mana? Kanan atau kiri?"
"Keduanya."
"What?! Kita bisa turun gak pak ke bawah?"
"Yang sebelah sana bisa. Kalo ini gak. Kita harus pake boat kalau mau main ke pantai yang ini. Belum ada yang bisa bikin jalur dari atas sini, Mbak, untuk ke bawah sini."
"Oh, gitu... Iya ya, terlalu curam. Tapi bagus sekali, Paaaakkk!!!" Aku histeris.
"Hehe, iya, Mbak. Naik lagi coba, Mbak ke atas. Nanti kelihatan Tree House, tuh. Baru nanti bareng saya aja kalau mau turun ke pantai sana." Si Bapak sedari tadi sibuk tunjuk sana-sini. Tuh kan. Dasar anak sholehah. Ada aja kenalan yang bisa nge-guide hehe. Makanya kamu banyak-banyak makan menyan!

Bule yang dari Chile itu bahkan sudah 25 hari di Bali ketika kutanya. Amazing! Mereka adalah ibu dan anak yang sudah tak lagi muda. Tapi semangat berjuang mengarungi cliff ini sungguh patut diacungi jempol.

Yang dimaksud Si Bapak tadi, "pantai sana", pantai yang bisa kami singgahi adalah Heels Beach. Kalo di Instagram sih begitu katanya. Soalnya nanti kita bisa lihat karang yang berbentuk bagai sepatu hak tinggi atau 'heels'. Tapi jangan berbangga dulu. Untuk mencapai pantai itu, kami harus menuruni tebing yang beratus meter tingginya dan kemiringan yang cukup membuat hatiku ciut. Meski sudah disemen anak-anak tangganya, tetap, rasa ngeri selalu ada.

Di awal, Tika kehilangan semangat. Katanya takut. Memang, tangga untuk menuruni tebing itu benar-benar mengerikan. Jarak satu anak tangga ke tangga lain sangat tinggi dan lebar. Itu demi keselamatan pengunjung bukan? Menuruni saja Tika sudah enggan, lah gimana nanti pulangnya?!

Aku dan Ms. Sophia terus meng-encourage Tika untuk tetap turun.
"Liat tuh, pantainya! Omagah banget kan!" Kataku.
"Ayok, Tika pasti bisa! Masa di atas? Sayang loh udah jauh-jauh ke sini. Hayok, Kaaa!!!" Giliran Ms. Sophia.
"Ayok, Ca pelan-pelan, Ca. Don't look down. Kalo capek, turunnya kayak crawling aja, nungging." Seruku kepada Tica (baca:Tika).

Sungguh, pada saat turun itu, aku sama sekali gak memikirkan akan jadi apa nanti pulangnya. Matahari menceret terang. Selain lelah, terik pun jadi musuh kami. Tapi kami harus turun! Harus! (Hahahah 'menceret' tau gak? Itu bahasa Betawi).

Sesampainya di bawah, kami mengaso di sebuah pos jaga. Asli, gersang! Serasa kulitku langsung belang! Keringat bercucuran, dahaga tak bisa ditahan, maka sebelum kami berpindah ke kursi yang dipayungi dedaunan di depan warung, tak lama bapak-bapak penjual tiket karcis datang meminta kami dengan sopan untuk memberi kontribusi seharga 5k rupiah.

Jam menunjukkan waktu makan siang bersama bagi wilayah Bali dan sekitarnya. Kami memesan makanan. Setelah itu aku menggelar handuk dari penginapan yang maha wangi untuk selonjoran di atas pasir. Hasrat untuk bermain air luntur sudah. Selain terik, kepalaku juga pusing sekali. Duh, aku panik. Gak boleh sakit! Ditambah kulit kepalaku perih sekali. Mengelupas!!! Makjang! Aku gak memakai penutup kepala sejak di Penida. Matahari sedang kejam-kejamnya pula. Ya Rabb. Sepertinya aku ketulah karena tak mematuhi pesan Bunda, "awas ya, pake lepas jilbab! Dipake jilbabnya!!!"
Dyaaaaarrrrr!!!!!!!! Iya aku lepas jilbab sepanjang malam di Penida. Ketika kembali ke Denpasar, aku pakai lagi hehehe.

Ada dua gadis bule kecibak-kecibung main air. Gile. Gak bakal item lah mereka. Paling cuma merah-merah. Satu jam berlalu, ibu-anak berdarah Chile akhirnya pulang. Aku yang sejak tadi leha-leha di atas handuk menonton mereka nanjak tebing. Ya ampun, kasian itu ibunya ketinggalan. Paling akhir. Duh, gak mau pulaaaaaang... Males nanjaaaaaaakkkkšŸ˜­

Oh ya, di Heels Beach ini sungguh private. Selama dua jam aku di sini hanya segelintiran manusia berkunjung. Pantai ini benar-benar tertutup. Aksesnya hanya dua; melalui laut dengan boat atau mendaki. Keindahannya? Wah gak perlu ditanya. Damai sekali. Kalian masih bisa berenang di sini meski ombaknya cukup tinggi. Waktu paling tepat untuk mengunjungi Pantai Atuh, kurasa ketika sejuknya pagi masih terasa. Jangan siang, atau sore sebab khawatir pulang terlalu gelap. Siang aja jalanannya mengerikan, gimana malam?! (Tips kesembilan dari the most well-organized woman on earth.)

Benar saja. Ketika kami naik tebing untuk kembali ke parkiran, rasanya sudah mau pingsan. Lelahnya tiada banding! Belum lagi ketinggian dan kemiringan tebing itu. Ya Allah... Mengeluh pun juga percuma! Satu-satunya jalan ya dihadapi lah anak-anak tangga itu. Kasihan Tika, kakinya lecet, mukanya pucat. Anak itu mesti diambang sekarat. AKU PUN!!!

Hurray!!! Finally. Sampai juga di parkiran motor sang nenek. Tika langsung mengendurkan ikatan jilbabnya. Kami terhuyung untuk duduk. Di ujung kanan ada bapak bule Ostrali yang berpapasan dengan kami waktu masih nanjak tebing. Sial, kenapa ia baik-baik saja ya? Sedang merokok pula! Asu. Aku yang lemah apa beliau yang terlalu setrong?!

Setelah cukup rehat, kami melanjutkan perjalanan. Sekarang ada Tree House. Rumah pohon yang tadi kami lihat di tebing Atuh, dan Thousand Island sekarang hendak kami sambangi. Tidak jauh dari Atuh, kalian bisa trekking atau seperti kami, memboyong sepeda motor sekalian.

Ingat, selalu ada uang kontribusi untuk main ke sana-sini. Dan selalu lima ribuan. Siapkanlah receh yang banyak ya! Well, ternyata, untuk menuju Tree House tidaklah semulus yang aku kira. TURUN TEBING LAGI!!! ALLAHU AKBAR!!! Tika dari awal sudah nyerah. Tidak, katanya. Ia gak shanggup. Maka, aku dan Micopi lah yang turun. Ditemani oleh bapak-bapak pemilik rumah tersebut.

Di sini pemandangannya sama, cuma beda point of ciew aja. Aku malah lebih ngerasa mencekam. Soalnya ini diapit dua tebing tinggi sekali. Sesekali aku menengok ke atas, Ada elang!!!! Woaaaaaaahhhh... Sebgai pecinta gajah dan big fans od eagle, aku heboh sendiri. Eh, pas lihat ke bawah, lututku lemas. Astagah. Ngeriiiiiii~

Nah rumah pohon ini ternyata penginapan loh. Harganya 300ribu/malam. Kamar mandinya di luar. Mojok. Pinggir tebing. Ih aku sih ogaaaahh! Udah aksesnya susah. Kalau mau makan nanjak lagi. Yah, turun-turun udah laper lagi itu mah. Tapi kalau kamu mau honeymoon, mungkin leh ugha yhaaa~

Sebenarnya ingin sekali aku ceritakan sembilan hariku di Bali. Tapi kayaknya aku gak sanggup tulis panjang-panjang dan kalian mesti sudah lelah membaca ini ya? hehehe. Aku kasih shortlist ya. Atau kamu mau ketemuan sama aku aja? Kita kopdar? Siapa tahu bisa bahas masa depan. hehehe.

Oke, jadi aku di Penida cuma 3 hari 2 malam. Sepulang dari Penida, aku kembali ke Denpasar, lalu bermalam di daerah Unud (Universitas Udhayana). Ini aku list ya:
Day 4: Bedugul, Danau Baratan
Day 5: Pantai Pandawa, Pantai Padang-Padang, Pura Uluwatu
Day 6: Istirahat full di kosan Leo dan nyuci baju (wqwqwq)
Day 7: Danau Batur, Toya Devasya Hot Spring, Pura Besakih
Day 9: UBUD!!! Campuhan Hills, Ubud Market, Goa Gajah (Oh, ya, aku stay di Ubud selama dua malam. Pertamanya ke Campuhan Hills dan makan di Warung 9 yang masyhur itu, kamu perlu coba! Dan hari terakhirnya ke Goa Gajah lalu makan nasi ayam Kedewatan yang fenomenal nan lezat itu.)

Soal biaya, aku kira-kira menghabiskan 3juta rupiah all in. Mahal gak sih? Soalnya aku kebanyakan jajan dan belanja oleh-oleh. Meski sudah habis sembilan hari jadi turis di Bali, aku belum puas di Penida dan masih ingin kembali ke Ubud. Dan Penida adalah cinta pertamaku untuk Bali. I'll come back soon, baby!

Senin, 14 Desember 2015

Untuk Iqy Ajiy Daryini


Halo Mz...

Terakhir kali aku diminta buat resensi buku itu sejak jaman kuliah semester lima dengan mata kuliah Extensive Reading yang banyak requirement-nya untuk dipenuhi agar lulus mata kuliah ini.

Kurang lebih 20 novel berbahasa Inggris, 15 artikel berbahasa Inggris dan 10 text book berbahasa Inggris wajib kubaca, kuanalisa, kuresensikan dan kupresentasikan. Woyoooo~ boleh lah sombong, perolehan nilaiku waktu itu A. Hehehehe.

Nah karena aku sudah (dianggap) jago meresensi, maka tulisan ini aku niatkan untuk TIDAK MERESENSI bukunya Mz Iqy yang berjudul Out of the Truck Box itu. Melainkan, aku akan mengata-ngatai sahajaaaa~ sesuai permintaanmu! hahahahaha~

Loh, ngapain diresensi? Aku udah jago. Bukunya lumayan laku juga tuh. Aku juga sudah banyak jasa dalam menularkan virus-virus kekoplakan beliau sebagai penulis kepada seluruh khalayak kawan-kawanku untuk membeli dan membaca OOTTB. Bilang apa hayo, mz?

Mari kita mulai. Perkenalanku dan Mz Iqy bermula pada makhluk ciptaannya Aa Zuckerberg, fesbuk. Oh no, beberapa momen sebelum pertemanan di fesbuk, aku diminta mas-mas gagah tersayangku untuk baca draft tulisan blio yang akan dimuat di mojok.co pertama kali saat itu (tulisan itu bagian dari buku yang aku serta kamu, saudara setanah air baca lho. Buka halaman 75 deh).

Selama baca itu, aku ngikik tak tertahankan. Lalu otak ini mengeluarkan neuron-neuron rasa senang dan gembira. Hatiku langsung dag dig dug. Siapakah penulisnya? Mengapakah ia begitu lucu? Bagaimanakah rupa sang penulis? Di manakah ia mengemban ilmu menulis sehingga menjadi jenaka begitu? Dan hatiku berkata, "idolakan dia, Biya. Idolakan!"

***

"Oh yaudah, aku aja deh yang add kamu kalo malu..." beliau berkata dalam suatu kotak kolom komentar di fesbuk.

Dan benar saja. Iqbal Aji Daryono meminta pertemanan. Woooooghhh~~
Langsung aku klik yes lah. (Meskipun ternyata belakangan ini, setelah blio tenar, aku di-unfriend... hiks hiks hiks... Ciyeee, yang katanya kalau abis unfriend orang sama aja kita melepas banyak kesempatan untuk belajar memahami dan memperkaya perspektif dari orang lain, ciyeeeeee~~ Rahasia kebijaksanaanmu itu, mz, mana? Manaaaaah? Aku akhirnya cuma follow sampeyan. Huuuuuu). (Eh ternyata setelah tulisan ini terbit, aku di add lagi loooohhh~ Mz Iqy memang sangat bijak. Mz Iqy panutanku!!!)

Selama berteman di fesbuk, aku sangat senang membaca update-an status blio tentang Hayun. Aku sukaaaaaaak banget sama Hayun. Apalagi sang bapak mulai memamerkan skill-skill bijaknya dalam menghadapi pertanyaan-pertanyaan bocah wedhok satu itu. (Hhhh~ caper deh mz.)

Di buku ini, aku betul-betul merasakan apa yang Mz Iqy dan keluarga rasakan. Salah satunya, blio memuat judul Pede Education. Aku guru, Mz. Di sekolah yang isinya sama seperti sekolah Hayun. Pede education oriented BE GE TE!!! Murid-muridku secara kognisi sangatlah jauh bila disejajarkan dengan murid-murid SD Impres produk presiden kita tercinta yang terdahulu. Namun, jika mereka diadu uji kepedean dan kreativitas, aku yakin, murid Indonesia palingan cuma bisa urek-urek kertas gak jelas dengan crayon atau merawis-rawis karton dengan gunting yang urakan. (Maaf, bukan mendeskreditkan anak bangsa sendiri, tapi aku juga pernah ngajar di sekolah lokal-yang text book oriented. Kebanyakan dari mereka kalau diminta sesuatu yang kreatif, orisinil, art and craft gitu, ya pasti copy, paste, and print. Dats it! Wats da special???)

Kemudian aku makin haru ketika membaca Menjadi Bapak di halaman 231. Gak perlu berpanjang-panjang aku ulas. Kalian bisa baca lagi dengan khidmat. Bahwa kerinduan anak tentang sosok bapak yang hangat adalah kesunyian masing-masing :)

Oke. Salah berikutnya ada di halaman 152, Minder Irlander. Aku juga merasakan ini di lingkungan sekolahku. Kita, orang Indonesia, sering sekali mengekspresikan kehebohan jika ketemu turis-turis bule blonde di jalan lah, restoran lah, emol lah, tempat wisata lah dan lain lain lah. Trus tiba-tiba minta foto bareng lah. Wat the faaaaakk!!! Mereka itu bule miskin, ngapain poto-poto sama bule miskiiiinnn?! (Eh maap, bule, pakle...)

Yang lucu, ada salah satu rekan kerjaku, setiap sekolahku ada acara gathering, farewell atau apa pun itu yang melibatkan bule-bule di sekolah kumpul, dia ribut banget minta difoto di tengah-tengah kumpulan bule. Yawlo... minder irlander syndrome is detected.

Belum lagi murid-murid blonde ku yang merasa bahwa aku itu lokal, jadi mereka bisa bentak dan membangkang sebebasnya.
"Hey! Your parents come to Indonesia to earn their lives, you go to this school to be smart, to study, not to yell and get angry at me all the time you want! You know, it's my country, i can easily get you off from here if you still behave impolite to the local people!!" Hahahahaha mampus lo. Jadi, janganlah minder ya. Bule-bule itu cuma menang bahasa Inggris doang kok... gimana Mz Iqy? Setuju?


Menurutku, buku ini seru sebab bapakke Hayun sangatlah selo menulis tiap momen yang terjadi dalam pengembaraannya di Ostrali. Satu hal yang buat aku hampir mati penasaran, sampai aku cari fesbuknya, media sosial lainnya, sampai ketemu dan kepo instagram sang wonder woman di balik gagahnya seorang Iqbal Daryono, Mbak Nurul (bininya)!!! Kok jarang disebut, sih Maaazzzz? :(

Saudaraku sebangsa dan setanah air, asal kalian tahu, Mbak Nurul ini wonder woman. Sumpah. Menurutku sih yaaaa. Mbak Wonder Woman itu sedang melanjutkan studinya yang aku percaya sangat membuatnya ucing ala balbi, apalagi ditambah dengan mengurus anak, rumah, ngempanin dan mbekeli sang suami, mana jago masak, bikin kue, gak narsis kayak aku pula! Menyuport suaminya bangeeeettt... Ta, ta, tap, tapi, tapiiiii di buku itu sama sekali gak ada kisah menarik dari sosok sang wonder woman!!! Waaaaa~ parah parah parah... mau beri kesan bahwa ente super dad, gitu, mz? peace, men... tempat pipis di mana, meeen? Hehehe

Semenjak berkawan via Instagram dengan Ibunda Nurul, otakku berbalik arah. Rasa kagum dan pengidolaanku jatuh kepada sang Ibunda Nurul Wonder Woman. Gak tau kenapa, aku malah ngefens banget nget nget nget sama blio. Ibunda Nurul Wonder Woman lah inspiratorku supaya bisa sekolah lagi, ke luar negri juga, dibayarin orang pula, punya suami yang (gak) kaya Mz Iqy... Punya keluarga yang aduhai~

Mbak Nurul, kalau Mbak baca ini, sungguh inilah ungkapan jujur dari dalam hatiku. Suamimu itu, sang idola mahmud (mamah-mamah muda), yang baru add friend aku (lagi) ituuuu, gak akan heboh dielu-elukan makhluk bumi lain tanpa dirimu, Mbak wekekekek...

Untuk Hayun, aku pingin banget ketemu kamu. Pingin dikatain, "use your imagination", kamu kiyut banget sih... Don't grow up ya Hayun, it's just a trap! heuheuheu

Baiklah, cukup sekian yang bisa aku kata-katain ya, mz. Gak ada maksut apa-apa kok. Aku sudah cukup senang sekali bisa kenal Mz Iqy, Ibunda Nurul Wonder Woman dan Hayun Kiyut via internet, meski belum pernah bertatap muka. Bukankah itu tujuan dari internet, menjauhkan yang dekat?

Nanti, kalau ada kawan lagi yang tanya-tanya, mencari ilham dan minta rekomendasi buku apa yang musti dibaca, aku pasti gak ragu untuk bilang, "Out of the Truck Box!!!!!" dan idolakan istri sang penulisnya! wakakakakak...
Salam gawl,

Biya

Sabtu, 05 September 2015

Kapan Nikah?


Akhirnya sampai juga pada fase hidup dimana pertanyaan "kapan nikah?" dilontarkan bertubi-tubi kepadaku. Rasanya Baru kemarin aku meniup lilin di atas kue yang berukir 17. Rasanya belum lama ketika terakhir ayah membuatkanku gelang berukir nama serta tanggal lahirku layaknya bocah-bocah ingusan. Rasanya aku masih bocah. Dan rasanya pertanyaan itu sangat tidak logis jika diberikan kepadaku.

Ah... Ternyata aku sudah cukup dewasa. Ternyata pertanyaan itu sudah cukup mapan jika ditembakkan ke diriku. Ternyata aku sudah kepala dua. Di rumah orang betawi, seorang anak gadis yang sudah menstruasi, lulus kuliah dan punya pekerjaan, sudah saatnya dinikahkan. Masalahnya, adakah sang pria yang sungguh-sungguh berkehendak menikahi si gadis?

Kembali ke pertanyaan paling horor sedunia bagi para lajang. Rata-rata makhluk bumi ciptaan Tuhan ingin menikah. Sebagian juga tidak. Aku ingin menikah. Tapi entah kapan. Dengan siapa pun, itu masih rahasia Illahi. Hal yang pasti, aku ingin menikahi lelaki yang kupilih, yang aku cinta. Setelah itu, aku ingin dia yang tak pernah lalai solat wajib 5 waktu dan pintar mengaji. Serta kemapanan ekonomi lah satu-satunya bentuk tanggung jawab yang ia harus empu kelak. Ya, sulit sekali memang mencari lelaki yang bertaqwa dan bertanggung jawab di masa kini. Sangat sulit.

Petuah yang sering bunda sampaikan padaku ialah; jodoh kita nanti itu, cerminan dari kita. Jadi kalau mau dapat jodoh baik, kamu harus jadi lebih baik dahulu; pertama-tama cari yang Islam taat, yang paham dan mengamalkan Islam; lalu serba jelas. Keluarganya jelas, pekerjaannya jelas, hidupnya jelas, segalanya harus jelas.

Mengingat petuah-petuah itu, aku bertekad untuk menikah muda. Maka dari itu, fokus dan tujuanku saat ini hanya satu; menata diri sedini mungkin. Hampir setahun belakang ini aku sibuk menata diriku. Aku sibuk memantaskan diri untuk jodohku kelak. Kebaikan apapun yang bisa kulakukan, pasti kulakukan. Demi mendapat jodoh yang baik hanyalah alasan sampingan. Lebih dari itu, aku hanya ingin hidup berkah dan dipayungi ridho Allah. Setitik kebaikan yang kau tanam, mungkin sejuta kebaikan balasan yang kau dapat.

Tak sedikit, beberapa kisah rumah tangga orang kujadikan inspirasi. Namun tak jarang kisah mereka justru menakutiku, membuatku paranoid. Aku nanti gak mau jadi istri kayak gitu ah, batinku setiap melihat contoh yang buruk. "Ya Allah, jangan biarkan aku hidup susah. Nanti susah sedekah, susah beramal. Malah jadi nyusahin orang..." Begitulah salah satu doaku. Yang jelas, selalu ada desah "insya Allah aku bisa punya rumah tangga yang lebih baik dari itu nanti" setelah berkaca-kaca menyaksikan betapa bahagianya rumah tangga tetangga sebelah.

Sekarang, cukup Allah lah harapanku. Kau kan tak tahu untaian-untaian doa apa yang kupanjatkan? Tentang hati, hanya aku dan Dialah yang tahu soal kepada siapa yang sudah benar-benar kujatuhkan cinta. Semoga rezeki dan jodohku, kamu dan mereka segera dimudahkan dan dilancarkan yaa. Aamiin.