Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2012

Selamat Tahun Baru 2013

Happy new year's eve!!! Okay, gak pernah ada perayaan apapun tiap ganti tahun masehi. Gak boleh sama Bunda. Ya gak apa... Gak pernah terlintas atau bahkan bikin rencana untuk menghabiskan waktu di akhir tahun ini. Kemudian, aku merefleksi diri.

#RESOLUSI2013

Resolusi punya banyak arti. Berdasarkan KBBI, resolusi adalah putusan pendapat berupa permintaan yang ditetapkan dalam rapat. Tadi saya buka  Oxford Advanced Learner’s Dictionary, artinya pun juga banyak, ada lima, namun yang saya ambil arti dari kata resolution:  a firm decision to do or not to do. Nah, di bawah ini adalah putusan saya untuk hidup saya di tahun depan; yang saya lakukan dan tidak lakukan.

Gara-Gara Pengamen!!!

Kok nyalahin pengamen? Emang kenapa? Pengamen emang bikin Jakarta makin berwarna, berwarna butek bagi mereka yang suaranya nggak banget!!! Hmm... Sebenarnya bukan itu yang mau aku sharing di sini. Lebih kepada personal experience aja heuheu.

Rindu Jutaan Kali

Kursi belakang bus ini menyiksaku; tak ada pemandangan yang bisa kusentuh dengan mata, bahkan kaca mataku. Hanya bokong orang-orang dan tas-tas mereka yang sering menghantam wajah. Belum lagi kaki-kaki lincah penumpang lain yang seenaknya menyeruduk kakiku.


Maaf ya, Nes...

Woohoo!!! Long weekend, soooob! Kamis- Minggu, 15-18 November 2012. Pasti banyak orang yang menghabiskan liburan ini untuk menyambangi tempat wisata-wisata keren di sekitar rumahnya, dan kampung halamannya di negeri pertiwi ini.

Saya mengagendakan liburan ini ke Pok Tunggal, Gunung Kidul, Yogyakarta. Exciting sih, cuma pusing, susah cari tiket. Singkat cerita, pagi hari sebelum sorenya berangkat, saya sempatkan untuk online twitter di PC, iseng-iseng sekalian buka web-nya PTKAI untuk booking tiket kereta pulang, alhasil tiket full-booked semua.

Mereka Cuma Figuran

"Hai cowok, bilang apa sama aku, hayooooo???"
Tanpa diminta pun lelaki itu pasti berucap. Apapun. 'Terima kasih" misalnya. "Maaf" juga sering. Bahkan, kata-katanya diekspresikan dengan mata berkaca-kaca sambil memeluk saya pun sudah ribuan kali dilakukan.
Banak. Entahlah, sudah berapa kali blog ini dipenuhi tentang Banak. Suka bosan, sih, kayak gak ada topik lain aja ya? Hehe Ya, gimana dong, kalau tentang Banak, saya bisa lancar menulis dan dalam waktu kurang lebih sepuluh menit, tulisannya pun selesai.

AKU RINDU PANTAI!!!

Meski belum terlalu banyak pantai yang kujamahi di negeri pertiwi ini, namun rasanya mencintai pantai sudah kugemari sejak kecil. Ya, mungkin karena di Jakarta nihil untuk kehadiran wisata alam gunung, hanya ada pantai Ancol, jadilah aku mati-matian cinta pantai. Selain alasan di atas untuk mencintai pantai, mungkin juga karena aku tak terlalu hobi dengan ketinggian. Ngilu, brooooo!

Ketika marah, apa yang biasanya dilakukan orang?

Ketika marah, apa yang biasanya dilakukan orang? Bentak-bentak? Ngomel-ngomel? Banting handphone, gelasm piring? Personally, gue, akan bungkam. Sulit loh nahan emosi, sangat sulit. Gue gak terbiasa ngomel-ngomel di saat emosi di atas puncak. Pun gue gak bisa dipaksa untuk bicara sepatah-dua-patah kata ketika gumpalan amarah di tengah kerongkongan. Jadi, apa yang biasa gue lakuin ketika marah? Nangis. Yes, it is the only best way to express my anger. Kayaknya gak ada cara lain yang terbaik buat gue kalau lagi kesal.

Tugas Essay Writing III

UNPROVOKED SHARK ATTACKS

A phrase ‘shark attacks’ might make people assume that sharks can intentionally kill and eat us –human. However the majority of shark bites are almost certainly mistakes. Now, I want to give you two unprovoked shark attacks based on The International Shark Attack File.

Omswastiastu

Dua tahun yang lalu, ketika aku beringkar malah aku yang ditinggal. Ditinggal oleh sahabat terkasih. Ditinggal pergi dan takkan kembali. Ditinggal mati diusia dini. Ditinggal pulang ke pangkuan sang Illahi.
Setelah beberapa tulisan lain tentang Wayan, diselipkan diakhir paragraf pada judul terujung; semoga tak ada lagi air mata ketika aku mengenangnya. Aku berusaha, namun kutak bisa. Masih saja setetes dua tetes kujatuhkan dari mata ke pelipis hingga turun dengan lembut di pipi.

Tersambut Ramadan

Aku atau bahkan kebanyakan orang mungkin merindukan Ramadan datang. Ya, aku selalu merindunya. Rindu akan suasana yang tiba-tiba orang terlihat sabar, lebih sabar atau makin sabar. Rindu Ramadan karena setiap memperhatikan infotainment, artis-artis jumpalitan pamer amal, sedekah, umroh dan ibadah-ibadah lainnya. Ketika maghrib tiba, berkah yang datang untuk para pemasar makanan pun juga sering aku rindukan. Rindu ketika aku kehabisan kue lopis di depan gang dan memutar jauh hingga ke pasar Benhil demi mendapatkan sekantong surabi durian. Ah, kapan lagi kita berbondong-bondong ke masjid demi mendapatkan shaf ternyaman untuk bertarawih. Sungguh, Ramadan penuh berkah.

MAN IN COMMON

Saya sadar tentang terciptanya saya di dunia sebagai manusia biasa; nihil akan keistimewaan, gemar mengeluh, sombong, takabur, dan penyakit hati lainnya. Saya juga diciptakan untuk mengukir mimpi-mimpi demi masa depan dan memanfaatkan dunia yang (subhanallah) luar biasa ini. Tak luput akan kekhilafan sehingga akhirat tak saya hiraukan.

Katanya sih, PMS...

Mungkin sudah jadi rahasia umum ya, Pra Menstruasi Syndrom (PMS) dihidup perempuan tuh, hal yang paling menyebalkan. Kaum wanita di seluruh dunia pun mengakaui bahwa PMS adalah masa dimana wanita menjadi monster dan terkadang menjadi kucing yang haus akan belaian. Aku wanita, tak banyak berbeda tentang hal itu.

Khayalan belaka

Wayaaaaaaaaaannnn!!! Apa kabaaaarr?? Senang di sana?” teriakku dari kejauhan sambil melangkah cepat menghampirinya.

“Wah gilak, lo bakal iri deh sama gue, Ra… Enak loh di sini gue mau apa aja dikasih. Sini yuk masuk.” Ajaknya.
“Ah, becanda lu mah.. belum pantes gue nginjek surga hehehe. Sini aja yuk duduk di pinggiran. Mau ngobrol, mau cerita, kangeeeennnn.”

Wayan Part IV (Ah, Wayan. Kau Buatku Merindu)

Di suatu malam tanpa bintang. Setelah seharian kami menghabiskan waktu bersama, dengan mas Arl aku menutup hari yang indah dengan penuh kesederhanaan. Di sebuah angkringan pinggir jalan dengan  bekas genangan aspal yang basah kehujanan, aku menatap sepasang sepatu berkulit hitam dengan motif satu bintang yang sering dikenal dengan ‘converse’. Sekelebat kenangan itu terbayang. Tentu tentang Wayan.

Semestinya malam itu menjadi malam yang romantis bagiku, entah mengapa menjadi malam yang sendu dan haru akibat kehadiran sepatu dan raut wajahnya yang menghiasi langit gelap malam itu. Sepatu itu, ya sepatu itu. Sepatu yang dipakai Wayan, dulu. Sepatu yang menjadi andalannya saat langkah larinya dinilai oleh seorang guru olahragaku, saat langkah kaki tegap perdananya di ekskul paskibra sekolahku, saat kaki gagahnya berlari menghampiriku. Sepatu yang sampai kulitnya terkelupas atas terfavoritnya.

Sejenak candaku dan mas Arl berubah menjadi cerita masa laluku dengan almarhumah.

Sebelumnya Laras, Sekarang Wayan Part III

Sesungguhnya, Wayan meninggal pada usia 16 tahun. Dia adalah Capricorn girl, 16 Desember kelahirannya. Lima bulan setelah kepergiannya, gue dan teman-teman udah rencana akan nyantronin rumah Wayan di hari lahirnya itu. Dengan langkah yang teramat berat, kita dateng dengan selusin J. Co dan tampang yang sok-sok diceriain. Seperti biasa lah, mamanya menyambut dengan hangat, selalu hangat.

Sebelumnya, gue udah pernah kenalan sama temen rumahnya Wayan. Mbak Mel dan adiknya Agung. Jadi kalo mau tanya-tanya kabar sang mama, langsung kontak mereka aja. Oh ya, Wayan tuh di lingkungan rumahnya jadi para kakak bagi kaum balita, sahabat untuk para remaja dan idaman mertua untuk para orang tua. Dia ramah, tentu. Rajin, pasti. Wayan pun bagian team voli di asramanya.

Sebelumnya Laras, Sekarang Wayan Part II

Gue yakin semua setuju (yang kenal Wayan) kalo Wayan dinobatkan sebagai anak murid terbaik di 35. Sumpah, selama gue kenal dari kelas Krakatau waktu MOS, sampe kelas XII IPA, prom night, perpisahan kelas, diwisudain, atau sampe saat ini, dia gak pernah berulah. Catatan baiknya pasti gak cukup kalo ditulis di buku.

Gue dan Wayan tuh uda kayak tai-kentut. Kalo ada Wayan, pasti ada gue. Kalo gue di kantin, pasti Wayan digandengan gue dan sebaliknya. Inget banget dulu waktu masih MOS, gue sama sekali menganggap aneh Wayan di kelas. Tingkahnya lucu. Suka gak jelas. Niatnya mau ngelawak eh malah gak kocak, garing, tapi dia tetep ketawaaaaa... hahaha aneeehhh... Nah pas pembagian kelas X, entah kenapa gue ditakdirin sekelas lagi sama dia dan kali ini jadi chair-mate sampe kita lulus!!! Dia itu pemalu dan gampang ngambek. Perasa banget jadi orang, tapi hebatnya dia selalu positif thinking. Ketika gue memutuskan untuk milih ekstrakulikuler Paskibra, dia gue paksa ikutan dan akhirnya kita berdu…

Sebelumnya Laras, sekarang Wayan Part I

Jadi mau cerita tentang  salah satu "soulmate" waktu jaman SMA. Coba gue ingetin lagi nih tentang WayanNamanya ni Wayan Desi Larasani
Awal kenal, gue manggilnya Laras. Entah kenapa jadi ikutan manggil Wayan yang notabene Wayan itu adalah nama ibu kandungnya Laras hehehehe.
Siapa yang gak kenal Wayan di lingkup sekolah putih abu-abu gue? Cewek supel nan ramah serta kecerdasan yang lumayan tinggi dan selera humor yang gak kalah dari komedian-komedian di TV. Namun sayang, Allah cuma ngizinin gue hidup bareng di dunia sama dia cuma empat tahun.

Ya, dia udah pergi. Pergi dari dunia yang fana ini. Pergi ke alam yang (mudah-mudahan) lebih indah, surga. Kontraknya cuma sampe umur 17 tahun aja di dunia. Cuma bisa nikmatin hebohnya masa SMA, gak sempet kenal banyak tentang gemerlapnya dunia perkuliahan atau politik sekalipun. Tapi gue yakin, dia udah matang.

Namanya Ni Wayan Desi Larasani

Ya, Ni Wayan Desi Larasani
Paras Bali nan cantik lekat di wajahnya
Kebaikan hati menyatu padanya,

Pilihan dan Keputusan

Ketika lo dihadapkan dengan banyak pilihan, apakah pasti salah satu diantara pilihan itu akan lo jatuhkan? Pasti lo punya kriteria khusus supaya jadi pilihan lo kan? Atau mungkin lo bakal nyusun strategi jitu buat mutusin apa pilihan lo.

Sama kaya lo milih sekolah, lo liat dulu kualitas sekolahnya, akreditasi, fasilitas dan lain sebagainya. Gitu juga mau beli laptop, mesti rinci banget spec-nya apa aja... Abis itu, baru deh lo nge-arrange cara supaya dapet itu yang elo mau. Nabunglah, puasalah, hemat lah, belajar (case sekolah) everything deh! 

Tamu Tak Diharapkan di Hari Terakhir :P

Harusnya, dari awal ada lelaki 'sterek' yg memandu dan mengamankan kita selama di Jogja. Tapi apa daya, dia tidak bisa bergabung dikarenakan ke-'kebo'-an hidupnya ;p Itu bukan kali pertama dia gagal memenuhi janjinya karena ketiduran. Udah sering!!! Gue udah gak mau dengerin janji dia lagi B-)
Tapi pas hari terakhir di Jogja, dia nongol. HARI TERAKHIR! Hari dimana kita seolah gak mau ninggalin Jogja, tapi hari itu harus dilalui.

Cerita Seru dari Jogja!!!

Jadi gini ceritanya, Saya ke Jogja bersama @marrines@meilya@praptiw. Cuma ngerencanain dalam waktu 7 hari, cusss! Gujes, gujes~ Tadinya, mau naek Progo yang murahan. Karena dadakan, Gajahwong dah rejekinya. Kereta ekonomi AC, tiket Rp 125.000 untuk weekdays dan Rp. 135.000 buat  weekend. Padahal, niatnya mau backpacker-an, etapi malah bawa koper --"
Sebelum perjalanan, gue sama Cah Ibu -begitu panggilan @marrines- googling tentang wisata Jogja yang kece-kece. Ribeeetttt banget! dari nyari hotel murah, tempat wisata, rent car dan segala tetek bengeknya. Dan akhirnya usaha kami gak sia-sia.
Jogja, here we go!