Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2012

Khayalan belaka

Wayaaaaaaaaaannnn!!! Apa kabaaaarr?? Senang di sana?” teriakku dari kejauhan sambil melangkah cepat menghampirinya.

“Wah gilak, lo bakal iri deh sama gue, Ra… Enak loh di sini gue mau apa aja dikasih. Sini yuk masuk.” Ajaknya.
“Ah, becanda lu mah.. belum pantes gue nginjek surga hehehe. Sini aja yuk duduk di pinggiran. Mau ngobrol, mau cerita, kangeeeennnn.”

Wayan Part IV (Ah, Wayan. Kau Buatku Merindu)

Di suatu malam tanpa bintang. Setelah seharian kami menghabiskan waktu bersama, dengan mas Arl aku menutup hari yang indah dengan penuh kesederhanaan. Di sebuah angkringan pinggir jalan dengan  bekas genangan aspal yang basah kehujanan, aku menatap sepasang sepatu berkulit hitam dengan motif satu bintang yang sering dikenal dengan ‘converse’. Sekelebat kenangan itu terbayang. Tentu tentang Wayan.

Semestinya malam itu menjadi malam yang romantis bagiku, entah mengapa menjadi malam yang sendu dan haru akibat kehadiran sepatu dan raut wajahnya yang menghiasi langit gelap malam itu. Sepatu itu, ya sepatu itu. Sepatu yang dipakai Wayan, dulu. Sepatu yang menjadi andalannya saat langkah larinya dinilai oleh seorang guru olahragaku, saat langkah kaki tegap perdananya di ekskul paskibra sekolahku, saat kaki gagahnya berlari menghampiriku. Sepatu yang sampai kulitnya terkelupas atas terfavoritnya.

Sejenak candaku dan mas Arl berubah menjadi cerita masa laluku dengan almarhumah.

Sebelumnya Laras, Sekarang Wayan Part III

Sesungguhnya, Wayan meninggal pada usia 16 tahun. Dia adalah Capricorn girl, 16 Desember kelahirannya. Lima bulan setelah kepergiannya, gue dan teman-teman udah rencana akan nyantronin rumah Wayan di hari lahirnya itu. Dengan langkah yang teramat berat, kita dateng dengan selusin J. Co dan tampang yang sok-sok diceriain. Seperti biasa lah, mamanya menyambut dengan hangat, selalu hangat.

Sebelumnya, gue udah pernah kenalan sama temen rumahnya Wayan. Mbak Mel dan adiknya Agung. Jadi kalo mau tanya-tanya kabar sang mama, langsung kontak mereka aja. Oh ya, Wayan tuh di lingkungan rumahnya jadi para kakak bagi kaum balita, sahabat untuk para remaja dan idaman mertua untuk para orang tua. Dia ramah, tentu. Rajin, pasti. Wayan pun bagian team voli di asramanya.

Sebelumnya Laras, Sekarang Wayan Part II

Gue yakin semua setuju (yang kenal Wayan) kalo Wayan dinobatkan sebagai anak murid terbaik di 35. Sumpah, selama gue kenal dari kelas Krakatau waktu MOS, sampe kelas XII IPA, prom night, perpisahan kelas, diwisudain, atau sampe saat ini, dia gak pernah berulah. Catatan baiknya pasti gak cukup kalo ditulis di buku.

Gue dan Wayan tuh uda kayak tai-kentut. Kalo ada Wayan, pasti ada gue. Kalo gue di kantin, pasti Wayan digandengan gue dan sebaliknya. Inget banget dulu waktu masih MOS, gue sama sekali menganggap aneh Wayan di kelas. Tingkahnya lucu. Suka gak jelas. Niatnya mau ngelawak eh malah gak kocak, garing, tapi dia tetep ketawaaaaa... hahaha aneeehhh... Nah pas pembagian kelas X, entah kenapa gue ditakdirin sekelas lagi sama dia dan kali ini jadi chair-mate sampe kita lulus!!! Dia itu pemalu dan gampang ngambek. Perasa banget jadi orang, tapi hebatnya dia selalu positif thinking. Ketika gue memutuskan untuk milih ekstrakulikuler Paskibra, dia gue paksa ikutan dan akhirnya kita berdu…

Sebelumnya Laras, sekarang Wayan Part I

Jadi mau cerita tentang  salah satu "soulmate" waktu jaman SMA. Coba gue ingetin lagi nih tentang WayanNamanya ni Wayan Desi Larasani
Awal kenal, gue manggilnya Laras. Entah kenapa jadi ikutan manggil Wayan yang notabene Wayan itu adalah nama ibu kandungnya Laras hehehehe.
Siapa yang gak kenal Wayan di lingkup sekolah putih abu-abu gue? Cewek supel nan ramah serta kecerdasan yang lumayan tinggi dan selera humor yang gak kalah dari komedian-komedian di TV. Namun sayang, Allah cuma ngizinin gue hidup bareng di dunia sama dia cuma empat tahun.

Ya, dia udah pergi. Pergi dari dunia yang fana ini. Pergi ke alam yang (mudah-mudahan) lebih indah, surga. Kontraknya cuma sampe umur 17 tahun aja di dunia. Cuma bisa nikmatin hebohnya masa SMA, gak sempet kenal banyak tentang gemerlapnya dunia perkuliahan atau politik sekalipun. Tapi gue yakin, dia udah matang.