Langsung ke konten utama

Wayan Part IV (Ah, Wayan. Kau Buatku Merindu)


Di suatu malam tanpa bintang. Setelah seharian kami menghabiskan waktu bersama, dengan mas Arl aku menutup hari yang indah dengan penuh kesederhanaan. Di sebuah angkringan pinggir jalan dengan  bekas genangan aspal yang basah kehujanan, aku menatap sepasang sepatu berkulit hitam dengan motif satu bintang yang sering dikenal dengan ‘converse’. Sekelebat kenangan itu terbayang. Tentu tentang Wayan.


Semestinya malam itu menjadi malam yang romantis bagiku, entah mengapa menjadi malam yang sendu dan haru akibat kehadiran sepatu dan raut wajahnya yang menghiasi langit gelap malam itu. Sepatu itu, ya sepatu itu. Sepatu yang dipakai Wayan, dulu. Sepatu yang menjadi andalannya saat langkah larinya dinilai oleh seorang guru olahragaku, saat langkah kaki tegap perdananya di ekskul paskibra sekolahku, saat kaki gagahnya berlari menghampiriku. Sepatu yang sampai kulitnya terkelupas atas terfavoritnya.


Sejenak candaku dan mas Arl berubah menjadi cerita masa laluku dengan almarhumah.


“Belum bisa move on dari Wayan deh.” Gerutuku sambil menahan haru.

“Nanti ada saatnya kok Bi, dimana lo tetap mengenang almarhum tanpa harus menitikan air mata”, ungkap mas Arl.

Aku terdiam dan kenangan itu masih melekat sangat pekat. Andai Wayan masih ada. Andai dia masih hidup. Andai waktu liburan lalu kita bisa menghabiskan waktu bersama. Andai hari itu Wayan mengurung diri di rumah saja. Andai kecelakaan itu bisa dihindari. Andai Wayan bisa bertahan selama perjalanan menuju rumah sakit. Andai dia tahu, bahwa aku selalu mengingat dan merindunya.

“Coba kalo Wayan masih ada Ban, kita bisa ke Jogja bareng tuh. Gue gak perlu repot-repot nyari orang buat gantiin waktu ke Tidung pula.” Lanjutku.

“Kalo misalnya Wayan masih ada, gue gak perlu ngerepotin Ines buat dateng gantiin elo yang gue tungguin tapi gak kunjung tiba.”

“Gue gak perlu sering ngerengek kangen sama sahabat-sahabat lama gue yang sedang menata hidupnya di Nangor, bahkan di Semarang. Karena takut ngusik mereka. Atau mungkin gue gak perlu ribut gak betah di Ciputat kalo misalnya tiap pulang kuliah bisa ketemu Wayan, nonton, jalan-jalan bareng.”


Seketika bibirku bergetar dan kaca mataku tergenang air mata. Mas Arl hanya terpaku dan mengelus bahuku dengan penuh keprihatinan.

“Andai gue kenal Wayan yah. Pasti seru banget.” Celoteh mas Arl.

                                                                ***

Belum sempat aku melihatnya berbalut dress yang kuhadiahkan untuknya saat ulang tahun sebelum kepergiannya.  Dress sepanjang lutut dengan kombinasi warna kesayangannya-kuning- dan hitam. Motif bunga serta layer pada bagian lengan, kuberikan atas nama SNAKE pada saat itu.

“Ah gilak, ini ketat banget deeeehhh…”, keluhnya ketika mengepaskan dress itu di rumahnya.

“Gakpapa Way, motivasi biar lo kurus. Diet gituh. Badan gede banget sih.” Canda salah seorang teman kami.

“Iya tuh bener. Nanti pas kita prom night dipake yah Way.” Tambah Peni.

                                                                ***

Tak pernah kusangka, dibalik keceriaannya, Wayan memiliki problema hidup yang luar biasa. Sang papa, seperti kebanyakan papa di luar sana, memiliki pribadi yang sangat ramah terhadap setiap ‘wanita’, seperti ayahku juga, mereka memliki ‘selir’ di luar rumah. Aku tak percaya hal ini pernah dialaminya juga. Bahkan dia tak pernah bercerita tentang ini sepatah katapun.

Wayan seharusnya memiliki seorang adik, namun sayang, sang janin gugur di dalam rahim mamanya. Dari sanalah sang mama seperti trauma-mungkin juga alasan sang papa menjadi ‘buaya’. Informasi ini kudapat setelah kepergian Wayan tentunya. Setelah tujuh bulan dari tanggal 27 Juli 2010, ternyata papa tercinta menghilang dan pergi dari rumah. Entah apa motivasinya.

“Ke rumah perempuan itu mungkin. Udah tiga bulan gak pulang, Ra.” Ungkap sang mama.

Aku terenyuh, tentu. Hatiku rasanya ingin berteriak. Kenapa hidup ini sangat tak adil bagi seorang wanita yang ditinggal mati anak semata wayangnya. Kini ia harus rela ditinggal sang suami pula.

“Tante gak masalah papanya mau pergi ke mana. Toh ada atau gak ada dia pun tante bisa nyari duit sendiri dari warung. Lagi pula, kalopun ada papanya Laras, emang bisa ngehidupin Laras lagi?”

Hatiku makin hancur. Apa-apaan hidup macam ini? Apa lagi yang akan ditunjukkan oleh sang Khalik atas ujian-Nya yang menimpa keluarga ini? Rasanya ingin kucabik-cabik pria brengsek itu. Rasanya ingin kutunjukkan bahwa dia bukanlah pria idaman yang sebenarnya si mama dambakan. Dia bukanlah imam yang patut ditauladani. Dia bukanlah manusia! Dasar biadab!

                                                ***

Di angkringan itu, kuusahakan air mata ini tertahan, namun sulit. Aku terus bercerita kepada pujaan hatiku, Bana, tentang segala rindu yang terpendam untuk Wayan. Selama kepergiannya, hanya sekali dia mampir dimimpiku.

“Ra, gue mau liat buku tahunan kita dong.” Bisik Wayan yang duduk di pinggir kasurku (dimimpiku) disaat aku memejamkan mata.

“Eh Way! Ngapain? Lo kan uda meninggal?” kejutku.

“Iya. Udah lo diem-diem aja. Jangan sampe ketauan orang lain kalo gue ke rumah lo.” Tiba-tiba aku terjaga. 

Menyadari bahwa kedatangan Wayan hanya sekedar mimpi, akupun menyesali dengan tumpahan air mata.
Sejak saat itu Wayan tak pernah hadir dimimpiku lagi. Entah mengapa, tapi aku tak peduli. Yang terpenting selalu ada tempat di hatiku untuk mengenang dan mengingat Wayan.

                                                ***

“Setelah lo nulis tentang Wayan, lo harus nyiapain sikap ya, Bi. Lo harus kuat tanpa tangisan, pastinya.” Masukkan mas Arl yang mengisyaratkan bahwa cerita hari ini harus disudahi. Sambil menggenggam tangan dan merangkulku, mas Arl berkata, “Wayan pasti udah senang di sana.”
Baca juga:
Wayan Part I
Wayan Part II
Wayan Part III
Khayalan Belaka

Komentar

Pos populer dari blog ini

UNIVERSALISME VS PARTIKULARISME

Menurut survei yang dilakukan oleh Political & Economic Risk Consultancy yang berbasis di Hongkong, Indonesia adalah negara paling korup dari 16 negara di kawasan Asia Pasifik. (Kompas, 2012) Fakta yang mengkhawatirkan. Dengan indeks persepsi korupsi sebesar 1.9 dari angka terbesar 10, Indonesia dianggap sejajar dengan negara-negara baru yang sampai hari ini masih dililit masalah peperangan di mata internasional. kerugian akibat korupsi sama dengan dampak perang, bahkan bisa jadi lebih. Tentu Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN)  bukan istilah yang asing lagi di negeri ini. Menjelang jatuhnya Soeharto, KKN ramai disinggung dan dibicarakan. Pada masa reformasi, KKN semakin sering dibicarakan untuk diperangi demi pemerintahan yang bersih (good governance).

Operasi Geraham Bungsu (Impaksi)

Tulisan ini kubuat atas dasar pemikiran kawanku, Pandu Ashari, yang mengusulkan untuk dikenang dalam blog. Sungguh, ia sangat mencerahkan. Lumayan, menambah warna tulisan di blog ini, tak selalu kelabu (read: galau).
*********
Aku terlahir sebagai anak yang malas menggosok gigi. Biya kecil, dulu, kalau makan selalu diemut dan lama. Konon, nasi-nasi atau makanan yang ada di dalam mulutku bisa sampai kubawa tidur saking lamanya mengunyah. Belum lagi ketergantunganku dengan minum susu di botol sambil tidur belum hilang sampai kelas 2 SD. Parah. Jangan tiru adegan itu ya. (Kalau punya sepupu, keponakan atau anak, cegahlah mereka.)

Ngurus STNK di SAMS(SUCK)AT

Jadi gini, pada hari Selasa, 5 Februari 2013, gue pergi bersama abang sepupu ke kantor SAMSAT di deket SCBD, Semanggi, buat ngurus STNK abang kandung yang hilang beserta dompet dan isinya. Dari latar belakang itulah lahir pengetahuan dan pengalaman gue ngurus keribetan birokrasi negeri ini dan sogok-menyogok depan mata.

Pertama-tama, pastikan dulu motor lo itu wilayah mana. Bisa dilihat dari tiga huruf di belakang plat nomer. Kalau huruf depannya T, berarti segala administrasi, berkas, data dan lain-lainnya ada di SAMSAT Jakarta Timur (T). Kalau B ya barat, S ya Selatan dan seterusnya. Contohnya motor gue B XXXX TPS, nah, udah pasti di timur lah ya.