Langsung ke konten utama

MAN IN COMMON


Saya sadar tentang terciptanya saya di dunia sebagai manusia biasa; nihil akan keistimewaan, gemar mengeluh, sombong, takabur, dan penyakit hati lainnya. Saya juga diciptakan untuk mengukir mimpi-mimpi demi masa depan dan memanfaatkan dunia yang (subhanallah) luar biasa ini. Tak luput akan kekhilafan sehingga akhirat tak saya hiraukan.


Kalau sudah begini, mau apa? Apakah cukup kesadaran-kesadaran yang saya terjemahkan dapat menghapus dosa? Menggapai mimpi dan meraih asa? Saya manusia, tentu ada kalanya hati yang selalu pinta lebih. Tak ada syukurnya. Belum lagi hati yang selalu ingin meninggi.

Kadang penat menyerang batin dan sepi menusuk raga. Meski ada dia di sisi, tetap saja penat dan sepi menghantui. Ini bukan masalah siapa dan bagaimana Ia menjaga hati saya, namun bagaimana saya menghadapi rizki yang Tuhan beri dan mensyukuri.

Saya kira hidup tak jauh dari ikhlas dan syukur. Berusaha agar tak ada dengki dan kufur, maka saya menjalani ini dengan sangat penuh nikmat dan hikmat. Inilah hidup; tak bisa kita remehkan, tak bisa pula apa yang kita inginkan selalu terwujud.

Kembali lagi, saya manusia biasa; menuntut manusia lain bertingkah (harus) pantas di hadap saya, tak sabar jika diturunkan ujian dan masalah. Bagai nestapa yang tak ada habisnya! Kepala besar apabila pujian melayang-layang menghampiri saya. Rasanya tak pantas jika saya hidup susah. Ingin selalu senang dan lurus-lurus saja. Begitulah sang ego menyapa. Padahal saya tahu makna dari hidup apa.

Saya takkan pernah bisa merasakan senang sebelum ada sedih. Saya mungkin tak tahu nikmatnya bahagia sebelum melanda keterpurukan. Saya juga akan sulit meraih kemenangan jika kekalahan tak pernah dikecap. Saya pula tak akan pernah tahu bagaimana rasanya di posisi puncak, jika mendaki dari bawah pun saya cepat menyerah. Begitu seterusnya.

Sebagai manusia biasa, mungkin saya terlalu sibuk mengejar medali emas hingga saya lupa ada banyak medali perak yang terlewatkan dan terbuang sia-sia. Begitulah yang disebut kufur, angkuh dan egois.

Akhiran, manusia memiliki keterbatasan dalam segala hal. Saya contohnya, saat ini sangat letih dan lelah. Otak pun memaksa saya untuk memasok oksigen lebih banyak, hingga bukaan-bukaan mulut akibat mengantuk tak terbendung lagi. Ya, saya mengantuk. Selamat malam, selamat begadang, selamat bekera :')

Ingat! Kita hanyalah manusia biasa!
*digoreskan ketika malam hari tanpa ada teman yang menemani, serta dinginnya malam menyerang tulang*

Komentar

Postingan populer dari blog ini

UNIVERSALISME VS PARTIKULARISME

Menurut survei yang dilakukan oleh Political & Economic Risk Consultancy yang berbasis di Hongkong, Indonesia adalah negara paling korup dari 16 negara di kawasan Asia Pasifik. (Kompas, 2012) Fakta yang mengkhawatirkan. Dengan indeks persepsi korupsi sebesar 1.9 dari angka terbesar 10, Indonesia dianggap sejajar dengan negara-negara baru yang sampai hari ini masih dililit masalah peperangan di mata internasional. kerugian akibat korupsi sama dengan dampak perang, bahkan bisa jadi lebih. Tentu Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN)  bukan istilah yang asing lagi di negeri ini. Menjelang jatuhnya Soeharto, KKN ramai disinggung dan dibicarakan. Pada masa reformasi, KKN semakin sering dibicarakan untuk diperangi demi pemerintahan yang bersih (good governance).

Operasi Geraham Bungsu (Impaksi)

Tulisan ini kubuat atas dasar pemikiran kawanku, Pandu Ashari, yang mengusulkan untuk dikenang dalam blog. Sungguh, ia sangat mencerahkan. Lumayan, menambah warna tulisan di blog ini, tak selalu kelabu (read: galau).
*********
Aku terlahir sebagai anak yang malas menggosok gigi. Biya kecil, dulu, kalau makan selalu diemut dan lama. Konon, nasi-nasi atau makanan yang ada di dalam mulutku bisa sampai kubawa tidur saking lamanya mengunyah. Belum lagi ketergantunganku dengan minum susu di botol sambil tidur belum hilang sampai kelas 2 SD. Parah. Jangan tiru adegan itu ya. (Kalau punya sepupu, keponakan atau anak, cegahlah mereka.)

Ngurus STNK di SAMS(SUCK)AT

Jadi gini, pada hari Selasa, 5 Februari 2013, gue pergi bersama abang sepupu ke kantor SAMSAT di deket SCBD, Semanggi, buat ngurus STNK abang kandung yang hilang beserta dompet dan isinya. Dari latar belakang itulah lahir pengetahuan dan pengalaman gue ngurus keribetan birokrasi negeri ini dan sogok-menyogok depan mata.

Pertama-tama, pastikan dulu motor lo itu wilayah mana. Bisa dilihat dari tiga huruf di belakang plat nomer. Kalau huruf depannya T, berarti segala administrasi, berkas, data dan lain-lainnya ada di SAMSAT Jakarta Timur (T). Kalau B ya barat, S ya Selatan dan seterusnya. Contohnya motor gue B XXXX TPS, nah, udah pasti di timur lah ya.