Langsung ke konten utama

Tersambut Ramadan

Aku atau bahkan kebanyakan orang mungkin merindukan Ramadan datang. Ya, aku selalu merindunya. Rindu akan suasana yang tiba-tiba orang terlihat sabar, lebih sabar atau makin sabar. Rindu Ramadan karena setiap memperhatikan infotainment, artis-artis jumpalitan pamer amal, sedekah, umroh dan ibadah-ibadah lainnya. Ketika maghrib tiba, berkah yang datang untuk para pemasar makanan pun juga sering aku rindukan. Rindu ketika aku kehabisan kue lopis di depan gang dan memutar jauh hingga ke pasar Benhil demi mendapatkan sekantong surabi durian. Ah, kapan lagi kita berbondong-bondong ke masjid demi mendapatkan shaf ternyaman untuk bertarawih. Sungguh, Ramadan penuh berkah.


Tahun lalu, aku mengisi Ramadan dengan kerja iseng-isengan sebagai HR admin di perusahaan retail milik Bob Sadino-Kemchicks. Itu adalah kali pertama aku mendapat upah selain dari bunda. Lumayan, upah yang kuterima bisa mendapatkan smart phone bekas sebanyak dua kali akibat 'kebekasannya'. Bisa ongkosin bunda ke Tanah Abang pula, nanggok keponakan dan sepupu. Nikmat rasanya.

Namun Ramadan kali ini, kurasakan berbeda. Aku tak lagi menjadi buruh orang lain, melainkan menjadi buruh diri sendiri demi pertanggungjawabanku terhadap nilai di beberapa semester lalu yang (dengan tidak sengaja) jelek, pula menjadi buruh penguasa emosi diri sendiri. Ya, aku terdaftar sebagai mahasiswa Semester Pendek (SP) dengan hati yang gundah gulana menyambut Ramadan tiba. Bahkan aku merasa aku tersambut-akibat ketidaksiapanku menyambut- Ramadan.

Bukan status yang tak lagi sebagai pekerja, spirit menyambut Ramadan tahun ini kurasakan menurun. Entahlah, rasanya aku tak siap menyongsong bulan penuh rahmat ini. Hingga satu hari sebelum Ramadan datang, aku masih saja merengek berteriak di depan bunda.

"Besok puasa ya? Aaaaaaaaakkk!!!" Kejutku. Bahkan malam sebelum tarawih pertama, saat sujud maghrib kusembah, hati ini rasanya bergetar, teriris, sesak dada yang tak kutahu mengapa.

Mungkin aku dihantui rasa bersalah. Dosa-dosaku yang lampau, apakah sudah diampuni? Kelakuan-kelakuanku yang lalu, apakah masih menyisakan pedih di hati orang lain? Aku tak kuat menahan tangis ketika sujud rakaat pertama saat maghrib. Bait demi bait doa kuhayati hingga salam menutup. Ketika berdoa, aku hanya berharap Allah sudi mengampuni dosa-dosaku yang lalu dan memantapkan hatiku demi meraih kemenangan di tahun ini.

Usahaku demi mendapatkan chemistry di Ramadan tahun ini tak sesingkat tulisan yang kubuat. Aku berusaha meyetel lagu-lagu rohani, menonton ceramah-ceramah para ustadz metropolitan di tv dan bahkan aku sering mem-flashback kenangan Ramadan tahun-tahun sebelumnya.

Aku rasanya seperti kehilangan. Aku pun tak mengerti apa yang telah meninggalkanku. Hanya saja aku sering merasa sendiri. Aku tak tahu harus ke mana lari kalau bukan mengingat Allah.

Aku tak terlalu berharap banyak akan keberadaan teman sekalipun pacar. Aku pun tidak terlalu hobi mencari teman bicara ketika kesepian menyerang. Lebih baik aku diam. Toh, mereka juga lebih memilih berbicara dengan Tuhannya dibandingakan mendengarkan curhatku, bukan?

Kalau manusia bisa malas atau bosan memasang telinga untuk keluhan-keluhan kita, tapi tidak bagi Allah. Ia bahkan senang jika kita selalu mengadu, mengeluh dan meminta kepada-Nya.

Hari pertama puasa, lelah hati yang teramat kurasakan menguras air mata di setiap sujudku. Katanya, hari pertama dan terakhir puasa adalah hari terberat. Kurasakan betul sulitnya mengatur emosi di perdana puasa. Ada saja yang menguji. Sedangkan aku tergopoh-gopoh untuk tidak marah, mencela, menyumpah dan menahan segalanya. Aku tak boleh dikuasai amarah ketika itu. Tidak lain, pelarianku adalah tidur.

Namun aku lebih nyaman untuk diam, menonaktifkan ponsel agar tidak ada lagi gangguan yang mencoba menyapa hati yang sudah mulai tenang. Aku takut terguncang. Biarkan aku sendiri, menikmati Ramadan ini dengan penuh chemistry. Biarkan aku khusyuk bercengkrama dengan Tuhanku yang satu. Biarkan aku mendapatkan kesungguhan ibadah demi meraih kemenangan. Jangan ganggu aku dulu.

Hari kedua datang. Statis, tak ada perubahan. Aku tetap terjebak dalam bara emosi. Aku kacau.

Beberapa hari menuju satu minggu berpuasa, ketika semangatku mulai menggebu mengejar ibadah, aku malah kedatangan tamu yang tiap bulan mengetuk dinding rahimku.

Hari demi hari berlalu. Kuharap ketenangan jiwa yang makin lekat, sebaliknya, aku merasa makin gusar dan gelisah. Masalah-masalah makin ramai datang dan tak enggan menusuk hati (lagi). Mereka yang membawa masalah seolah hanya dirinya yang paling benar dan aku pihak yang direndahkan. Mereka yang mencari gara-gara terlihat gagah dengan tameng 'ngeles'-nya yang berbelit-belit dan berputar-putar. Mereka yang bersikeras menunjuk-nunjuk kesalahan yang selalu berpihak padaku tak juga bisa diam berkicau di socmed.

Sampai tulisan ini ku-posting, masih saja ada rasa yang mengganjal. Entahlah, mungkin hanya perasaanku saja. Aku masih belum bisa tenang. Masih saja sibuk dengan pikiran-pikiran duniawi.

Aku hampir lelah, namun aku takkan bisa menyerah. Ini belum seberapa. Aku yakin, akan ada hikmah di balik ini semua. Aku takkan mati kalau baru seujung kuku yang Allah uji.

Jika aku harus berlari, akan sekuat tenaga kuberlari. Jika hanya berjalan yang diperlukan, tentu aku akan berjalan. Namun ketika aku harus merangkak, aku takkan ragu untuk merangkak.

Semoga aku makin dikuatkan. Ramadan kareem.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

UNIVERSALISME VS PARTIKULARISME

Menurut survei yang dilakukan oleh Political & Economic Risk Consultancy yang berbasis di Hongkong, Indonesia adalah negara paling korup dari 16 negara di kawasan Asia Pasifik. (Kompas, 2012) Fakta yang mengkhawatirkan. Dengan indeks persepsi korupsi sebesar 1.9 dari angka terbesar 10, Indonesia dianggap sejajar dengan negara-negara baru yang sampai hari ini masih dililit masalah peperangan di mata internasional. kerugian akibat korupsi sama dengan dampak perang, bahkan bisa jadi lebih. Tentu Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN)  bukan istilah yang asing lagi di negeri ini. Menjelang jatuhnya Soeharto, KKN ramai disinggung dan dibicarakan. Pada masa reformasi, KKN semakin sering dibicarakan untuk diperangi demi pemerintahan yang bersih (good governance).

Operasi Geraham Bungsu (Impaksi)

Tulisan ini kubuat atas dasar pemikiran kawanku, Pandu Ashari, yang mengusulkan untuk dikenang dalam blog. Sungguh, ia sangat mencerahkan. Lumayan, menambah warna tulisan di blog ini, tak selalu kelabu (read: galau).
*********
Aku terlahir sebagai anak yang malas menggosok gigi. Biya kecil, dulu, kalau makan selalu diemut dan lama. Konon, nasi-nasi atau makanan yang ada di dalam mulutku bisa sampai kubawa tidur saking lamanya mengunyah. Belum lagi ketergantunganku dengan minum susu di botol sambil tidur belum hilang sampai kelas 2 SD. Parah. Jangan tiru adegan itu ya. (Kalau punya sepupu, keponakan atau anak, cegahlah mereka.)

Ngurus STNK di SAMS(SUCK)AT

Jadi gini, pada hari Selasa, 5 Februari 2013, gue pergi bersama abang sepupu ke kantor SAMSAT di deket SCBD, Semanggi, buat ngurus STNK abang kandung yang hilang beserta dompet dan isinya. Dari latar belakang itulah lahir pengetahuan dan pengalaman gue ngurus keribetan birokrasi negeri ini dan sogok-menyogok depan mata.

Pertama-tama, pastikan dulu motor lo itu wilayah mana. Bisa dilihat dari tiga huruf di belakang plat nomer. Kalau huruf depannya T, berarti segala administrasi, berkas, data dan lain-lainnya ada di SAMSAT Jakarta Timur (T). Kalau B ya barat, S ya Selatan dan seterusnya. Contohnya motor gue B XXXX TPS, nah, udah pasti di timur lah ya.