Langsung ke konten utama

Pari Island in the Beginning of 2013


Aku tahu, ini kali pertamanya @naddnay @sarifebria @vieafifah @tiwultiwi @VJtantytata @Salamh_muu @fachmibaladewa  dan teman-teman lain untuk melaut pergi ke pulau, meninggalkan orang tua, rumah, bahkan patjar untuk bersenang-senang. Aku pun begitu, pertama kalinya aku ke Pulau Pari, salah satu gugusan pulau dari Kepulauan Seribu, DKI Jakarta.


Liburan ini sebenarnya sudah diniatkan sejak pembelajaran semester lima awal, namun, bagai mobil rongsok yang onderdilnya tua, dikit-dikit mogok, kemudian gancang tiba-tiba, lalu mogok lagi, hingga sampai ada gertakan, baru melaksanakan. Ya, begitu lah kelasku. Dari awal rencana ke Bali dengan tabungan per-orang 20 ribu tiap minggu, tetap saja, hanya segelintir yang giat.


Singkat kata, setelah selesai UAS, kami mencari-cari info untuk menghabiskan liburan bersama. Pilihannya kalau tidak Sawarna, Bayah-Banten dan Pulau Pari-Kepulauan Seribu. Niat dari awal pergi untuk sekelas, namun sesuai keadaan, 11 orang pun jadi. Mustinya ada 12 plus @dhitaadut, naas, H-1 keberangkatan, ia tiba-tiba demam tinggi dan harus istirahat. Padahal dia lah orang yang paling excited untuk liburan ini. Sabar kawan, takkan lari Pulau Pari kau kejar.

Aku, sebagai orang yang dianggap paling berpengalaman dalam jalan-jalan, mencoba mencari paket tour murah untuk ke Pari. Berhubung saat pertama kali nyebrang pulau bareng mas Dido, admin @info_rizqtour, aku gunakan jasa travel-nya. Kalau dulu ke Tidung, kali ini kuminta ke Pari dengan 10 orang kawan. Mas Dido mengiyakan dan rencana perjalanan pun disusun dengan matang.

Sepuluh teman-temanku menyewa angkot dari Ciputat ke Muara Angke. Dasar anak-anak yang pertama kali berlayar, mereka berangkat jam 4 pagi! Belum sembahyang Subuh pula! Astagah. Memang, perjanjiannya, sampai Muara Angke jam 6 pagi, tapi ya gak gitu-gitu juga, kapalnya aja berangkat jam setengah delapan hehe.

Kapal kali ini cukup sepi. Mungkin karena maraknya wartawan menggembar-gemborkan cuaca buruk, maka wisatawan lain enggan bepergian jauh. Kapal ini dibagi dua bagian; atas dan bawah. Kupilih bagian bawah agar goyangannya tak terlalu terasa dan hawanya tak terlalu panas. Ternyata teman-teman yang lain sudah ada di atas. Aku menolak naik, lagipula tempat yang tertutup atap sudah penuh.

Berkali-kali aku minta teman-temanku untuk turun, karena jika sudah siang, matahari akan memancarkan teriknya dan pengungsi di atas pasti akan terkena langsung cahanya. Namun, hanya Sari, Vivi, Nadia dan Hendra saja yang setuju. Selebihnya tetap memilih di atas kapal. Ya, aku sih, memaklumi saja. Namanya juga baru pertama, masih penasaran dan... ah sudahlah.

Setelah kurang lebih satu jam setengah, akhirnya tiba juga di Pulau Pari. Kami disambut dengan birunya laut dan pasir putih dekat dermaga. Pohon-pohon tidak begitu rindang, tetapi yang membuat sejuk saat itu adalah awan yang sedikit mendung, tak ada sama sekali setitik oranye matahari, padahal waktu itu jam menunjukkan pukul 10.45.

Namanya Bang Erik, lelaki berkulit keling, berkacamata hitam disangkutkan di kepala dan ber-body bak Agung Hercules yang menggantikan Mas Dido. Ia koordinator travel kami selama di Pari. Lalu kami dioper kepada Pak Pendi, guide, dan langsung diajak mengikuti dirinya yang kurus, tinggi hingga ke homestay.

*********

Tadaaa!!! Hanya perlu kurang dari 2 menit untuk sampai di homestay. Namanya Sintia Homestay. Berwarna cat kuning dan hijau, berhalaman lumayan besar dan bersebelahan langsung dengan warung yang notabene adalah si empunya rumah dengan pagar yang sudah dijejerkan sepeda untuk kami di luarnya.

Rumah yang cukup besar ini konon mampu menampung hingga 25 orang. Setelah di-cek n' ricek, memang benar. Kamarnya ada tiga. Ketiga kamar tersebut mampu menampung empat orang. Bahkan, kamar yang aku tempati berkamar mandi dalam dan kira-kira dapat menampung 6 orang. Selain itu, terdapat satu mesin pendingin ruangan di ruang tv dan di satu kamar. Ada pula tiga tumpuk kasur di ruang tersebut.

Oh, ya. Ada satu kamar lagi, namun terkunci-atau memang dikunci. Lalu ada kamar mandi di dekat ruang tv. Satu hal lagi, kami disediakan jemuran, tak tanggung-tanggung, 3 jemuran! Satu jemuran berukuran kecil dan sisanya besar.

*********

Di sini, kami hanya punya waktu 2 hari 1 malam saja. Hari pertama, karena masih pagi, kami diajak ke kantor LIPI. Gak ada apa-apa sih. Cuma formalitas aja. Ada tambak isinya penyu, tapi kita gak dikasih lihat. Sayang, Nadia yang sejak awal sampai mengaku tak enak badan dan tak bisa ikut untuk jalan-jalan. Ditemani Ida yang kelelahan, mereka berdua diam di penginapan.

Selama perjalanan, Pak Pendi bercerita tentang Pulau Pari. Aku selalu dibuat ter-"ooooohhhh... Ya ampuuuunn..." olehnya.


*********

Begini ceritanya. Pulau Pari itu bukan milik pemerintah DKI Jakarta meski pemerintahannya dipimpin oleh Bapak Jokowi. Ialah PT. Bumi Raya (kalau gak salah hehehe) yang memberikan izin tanah itu untuk diduduki oleh orang-orang pendatang dari Pulau Tidung dan sekitarnya. Meski bebas bayaran, namun tiap pukul 07.00-21.00, pasti ada staff pengamanan dari pihak Bumi Raya yang memantau gerak para penduduk. Mereka pun dilarang membangun bangunan baru yang terbuat dari semen, atau benda kuat lainnya. Hanya diperbolehkan memugar bangunan dan jika memang terpaksa membangun bangunan baru, bahan dasarnya harus terbuat dari kayu, papan dan bahan rentan roboh lainnya.

Selain itu, yang membuat saya sangat berkesan mengunjungi Pari adalah tidak adanya becak motor di sini seperti yang Tidung punya. Pari cukup hening-mungkin sangat. Dengan penduduk yang kurang lebih 700 jiwa dan jarang fasilitas mewah menjadikannya tempat paling aman untuk rileksasi. Kendaraan bermotor pun bisa dihitung dengan jari.

Berdasarkan cerita Pak Pendi pula, banyak keluhan yang dirasakan warga. Tak jarang, mereka iri dengan pulau lain, terutama Pulau Tidung yang dianggap memiliki segala. Perlu dicatat, Pulau Pari itu salah satu kelurahannya Kepulauan Seribu. Pusat pemerintahan ada di Pulau Pramuka. Di sini pula lah, anak-anak SD dan SMP mengemban ilmu. Lulus dari SMP, mereka mau tak mau harus hijrah ke Tidung untuk melanjutkan studi wajib 9 tahunnya yang menghabiskan ongkos Pari-Tidung atau sebaliknya sekitar 45 ribu rupiah sekali jalan, maka banyak dari mereka yang indekos di Tidung.

Ada banyak cerita dari Pak Pendi yang perlu orang-orang tahu bahwa banyak sekali pulau-pulau di Kepuluan Seribu ini yang bukan hak pemerintah negara kita, melainkan para pebisinis. Contohnya saja, di Pula Yang-Saya-Lupa-Namanya sedang didirikan villa-villa mewah yang bernilai milyaran rupiah, lalu dijual dan sang empunya pulau hanya membayar pajak. Sekian.

*********

Inilah saat yang paling ditunggu-tungguj snorkeling!!! Yeaaaayy! Selepas Dzuhur, Pak Pendi datang ke homestay demi mengetahui nomer sepatu katak untuk nanti snorkeling. Dengan keahlian Bapak nelayan yang Yang-Saya-Lupa-Namanya-Juga, kami dibawa ke arah selatan Pulau Pari. Hari itu gelombang tak terlalu tinggi hanya mendung yang mengikuti sepanjang hari.

Lucunya, semua teman-temanku tak tahu cara memakai kaca mata dengan selang serta life jacket-nya. Setelah jadi orang yang sok paling tahu, dan kapal melepas jangkar, aku langsung lompat ke laut dan menikmati dinginnya air laut di teluk Jakarta itu.

Tak ada yang bisa kukatakan selain, "ah biasa banget!" kepada bawah laut itu. Seperti Tidung, semua karang berwarna abu-abu, ada yang sudah rusak tetapi masih dikerubuti ikan-ikan. Kata pak nelayan, di Utara lebih indah, dan pada bulan bukan-musim-hujan, airnya sangat jernih dan karangnya berwarna-warni.


Perbedaan Tidung dan Pari tentu sangat menonjol. Selain Pari lebih sepi, Pari juga memiliki pantai-pantai pasir putih jauh lebih menarik dibanding Tidung. Di sini, aku masih menemukan ikan-ikan seperti yang kutemukan di Karimunjawa, masih pula menarik perhatian mereka ketika kuberi biskuit, dan setidaknya aku masih bisa tergambar jelas di dalam air yang lumayan keruh.

Setelah asyik snorkeling, aku meminta teman-teman naik ke kapal dan menyuruh pak nelayan segera menyalakan mesin agar nanti ketika kami mampir ke pemberhentian selanjutnya, kami lah orang yang pertama tiba. Lalu, benar saja, kapal kami adalah kapal pertama yang tiba di Pulau Tikus yang hanya dihuni oleh burung Jalak. Jangan tanya mengapa pulau itu dinamakan demikian, karena Pak Pendi sendiri pun tak mengerti. Yang pasti, pasir putih terhampar luas, meski pulau ini lumayan kecil, namun air laut yang jernih dengan gradasi biru muda-putih sangat terlihat jelas. Indahnya!


Sayang seribu sayang, pulau ini bak pembuangan sampah. Semua sampah ada. Konon, sampah ini dari sungai-sungai Jakarta ketika meluap dan banjir, kemudian sampah-sampah tersebut terbawa air sungai yang dibuang ke laut. Aku menjadi keki tiba-tiba dan membayangkan diriku berada di tengah-tengah Bundaran HI dan mengembar-gemborkan di depan warga DKI untuk menjaga lingkungan, bak presiden berpidato di atas mimbar dengan gagahnya.

Walaupun demikian, di sini banyak sekali Teripang dan Bintang Laut. Kelomang pun tak kalah hebohnya. Ada pula Bulu Babi meski berbeda bentuk-tak semenyeramkan yang kutemukan di Pok Tunggal bahkan Karimunjawa. Ah, damai rasanya, keliling pulau dengan berbagai gaya; berlari, berjalan, merangkak bahkan berenang. Yippiii!!!

Allah memberkati perjalanan kami. Tak ada gelombang yang begitu keras. Hujan pun deras ketika kita sudah di jalan pulang setelah snorkeling dan susur pantai. Subhanallah. Praise be to Allah.

And... In the night, kami menggelar acara barbekyu. Walaupun ikan Tongkol 2 ekor pula 2 ekor Cumi-cumi, kami tetap bahagia. Barbeque diadakan di Pantai Pasir Perawan. Pada malam itu, air laut surut jauh ke belakang pantai. Tak sedikit pun aku mendengar desir ombak. Sangat damai. Beruntung Hendra membawa gitar dan kami bernyanyi-nyanyi seheboh mungkin seakan pantai itu milik kami sendiri.

*********

Pada saat snorkeling dan barbekyu, Nadia hadir dan menikmati. Namun, ketika hendak tidur, keadaannya memburuk. Sudah dikompres dan diberi obat, panasnya tak kunjung turun. Sampai keesokan harinya, setelah aku dan beberapa kawan pulang dari gowes, ia dipanggilkan dokter yang paling mahal se-pulau. Dengan tarif 50 ribu rupiah, Nadia diberi beberapa obat yang padahal bisa ia dapatkan dengan harga dua ribu rupiah jika di Puskesmas.

Tak lama dari itu, Pak Pendi menjemput kami dan langsung memimpin rombongan ke Pantai Pasir Putih Perawan yang tadi malam kami jajaki. Dengan riang kami mengayuh sepeda dan bercanda-ria.

"Aaaastagaaaaa!!! Ini pantai yang semalem??? Anjriiiiitttt!!! Deket banget laut sama pantainya!!! Subhanallah indahnyaaaaaaaa..." Aku shock. Bagaimana bisa pantai yang malamnya kulihat surut tak berair lalu di pagi hari air lautnya sangat dekat dengan daratan? Hanya Allah-lah yang berkuasa mengatur ini semua.

Kalau sudah begini, panggilan alam lah yang mengaung-ngaung di dalam jiwa. Tak sabar rasanya aku ingin menyemplungkan diri. Kutitipkan hand phone, dompet dan harta benda lain kepada Pak Pendi, lalu kugenggam erat camdig, berjalan ke tengah laut, lalu menginjakkan kaki di daratan pasir putih yang cukup tinggi, yang membuatnya seperti pantai. Jadi, pantai di tengah laut! Wow!!!



Aku bahagia sekali. Belum pernah kutemukan pantai seindah ini di teluk Jakarta. Memang sangat mirip dengan Pulau Gosong di Karimunjawa, hanya saja, ini tak bernama dan cukup sempit. Setelah camdig-ku baterainya low, kutitip lagi dan segera kubasahkan diri ini.

"Waaaaaaaaakkkk!!! Keren banget!!! Gak ada karang sedikit pun di tengah lautnya!" Yeah!!! Itu yang kuteriakan selalu. Airnya jernih, putih kebiru-biruan. Pasirnya lembut, putih pula. Di atas langit dihiasi burung-burung berterbangan. Pokoknya indah!!!

Nah, kegiatan terakhirku adalah naik 'sopa' boat!!! 'Sopa' maksudnya itu sofa (bahasanya Pak Pendi hihihihi). Jadi bentuknya kotak, berisikan angin seperti banana boat ada dua tempat di depan dan tiga di belakang. Kita cuma duduk aja sambil pegangan di bagian samping tempat duduk kita. Kemudian, di depan ada boat yang akan menarik dan memanufer 'sopa' kita. Wah, seruuuu!!! Gujlak-gajluk, teriak-teriakan. Mantap dehhhh!!!

Tentu kami tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Pamer puluhan gaya di depan kamera, tertawa-tawa dan berbahagia. Sungguh, liburan awal 2013 yang takkan pernah kulupakan!!! \o/

Okay, segitu aja yang bisa kuceritakan yaaa... Masalah perjalanan pulang, ya sama aja. Enak kok Pulau Pari! Cobain deh! Akhir kata, wassalam.

"Ber-traveling lah kamu agar kamu menjadi bijak dan membuatmu mengenal negerimu..." (Robiatullahu anhu)








Komentar

  1. seruu...sampe w bilang abang n ade w trus pada iri haha...kya'a w bkal ksitu lg insya allah

    BalasHapus
  2. Seru nya ....penginapan nya bagus yaaa ????

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

UNIVERSALISME VS PARTIKULARISME

Menurut survei yang dilakukan oleh Political & Economic Risk Consultancy yang berbasis di Hongkong, Indonesia adalah negara paling korup dari 16 negara di kawasan Asia Pasifik. (Kompas, 2012) Fakta yang mengkhawatirkan. Dengan indeks persepsi korupsi sebesar 1.9 dari angka terbesar 10, Indonesia dianggap sejajar dengan negara-negara baru yang sampai hari ini masih dililit masalah peperangan di mata internasional. kerugian akibat korupsi sama dengan dampak perang, bahkan bisa jadi lebih. Tentu Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN)  bukan istilah yang asing lagi di negeri ini. Menjelang jatuhnya Soeharto, KKN ramai disinggung dan dibicarakan. Pada masa reformasi, KKN semakin sering dibicarakan untuk diperangi demi pemerintahan yang bersih (good governance).

Operasi Geraham Bungsu (Impaksi)

Tulisan ini kubuat atas dasar pemikiran kawanku, Pandu Ashari, yang mengusulkan untuk dikenang dalam blog. Sungguh, ia sangat mencerahkan. Lumayan, menambah warna tulisan di blog ini, tak selalu kelabu (read: galau).
*********
Aku terlahir sebagai anak yang malas menggosok gigi. Biya kecil, dulu, kalau makan selalu diemut dan lama. Konon, nasi-nasi atau makanan yang ada di dalam mulutku bisa sampai kubawa tidur saking lamanya mengunyah. Belum lagi ketergantunganku dengan minum susu di botol sambil tidur belum hilang sampai kelas 2 SD. Parah. Jangan tiru adegan itu ya. (Kalau punya sepupu, keponakan atau anak, cegahlah mereka.)

Ngurus STNK di SAMS(SUCK)AT

Jadi gini, pada hari Selasa, 5 Februari 2013, gue pergi bersama abang sepupu ke kantor SAMSAT di deket SCBD, Semanggi, buat ngurus STNK abang kandung yang hilang beserta dompet dan isinya. Dari latar belakang itulah lahir pengetahuan dan pengalaman gue ngurus keribetan birokrasi negeri ini dan sogok-menyogok depan mata.

Pertama-tama, pastikan dulu motor lo itu wilayah mana. Bisa dilihat dari tiga huruf di belakang plat nomer. Kalau huruf depannya T, berarti segala administrasi, berkas, data dan lain-lainnya ada di SAMSAT Jakarta Timur (T). Kalau B ya barat, S ya Selatan dan seterusnya. Contohnya motor gue B XXXX TPS, nah, udah pasti di timur lah ya.