Langsung ke konten utama

Kekecewaan Berbanding Lurus dengan Harapan


Pada awalnya saya berasumsi bahwa arti kata harapan sama dengan impian. Namun sangat jelas kontrasnya. Harapan itu lebih riil dan impian hanya angan-angan. Nah, pernahkah kalian berharap? Atau tak mungkin tidak kalian tak pernah bermimpi. (Mimpi dalam konteks ini lebih kepada cita-cita, bukan bunga tidur). Saya percaya, semakin tinggi harapan kita terhadap sesuatu, akan semakin tinggi pula kesempatan kekecewaan yang kita dapat. Lain hal dengan impian.


Ya, saat ini saya sedang kecewa. Kecewa terhadap diri sendiri tentunya; mengetahui bahwa harapan-harapan saya tidak terpenuhi sebab satu, dua, tiga dan banyak hal. Salah satunya, terlalu tinggi tingkat pengharapan yang saya ciptakan sendiri.

Pernah suatu hari saya berharap ketika saya berulang tahun, saya akan mendapatkan hadiah yang saya pinta sejak sebelum hari membahagiakan itu datang, ternyata yang saya dapat sangat jauh dari harapan tadi. Pada akhirnya saya kecewa. Pernah juga saya berharap mendapatkan nilai sempurna di salah satu mata kuliah yang saya anggap mudah untuk mendapatkan nilai tersebut, lagi-lagi, nihil. Tak hanya sekali, dua kali bahkan tak terhitung lagi berapa banyak kekecewaan yang saya buat melalui harapan-harapan itu. Yes, I blame myself.

Sama halnya kita berharap terhadap seseorang yang sudah jelas orang itu (sama seperti kita) memiliki banyak kekurangan, salah, khilaf dan lain sebagainya. Tapi kenapa masih saja kita berharap? Maka dari itu, saya selalu menamnkan prinsip untuk tidak berharap kepada manusia, melainkan kepada Tuhan saja. Tapi tetap, lagi-lagi saya tersesat, menjerumuskan diri saya pada pengharapan-pengharapan yang terlalu tinggi kepada manusia lain.

“Bukan ini yang saya mau.”

“Kenapa jadinya begini?”

“Kok beda sih, sama yang saya pingin?”

Begitulah. Beberapa keluhan yang akhirnya keluar dari hati. Sisanya saya hanya bisa terisak-isak dalam kesendirian. Seandainya hati ini sudah siap kecewa sejak awal, mungkin tak akan seburuk ini yang saya rasakan. Ya, berharap tanpa persiapan memang tak berguna.

Memang, dalam hidup ini tak semua yang kita harapkan tercapai. Be realistic!!! Semoga kecewa ini cepat hilang dan hati saya dikuatkan. Amin.







Pulo Melati II No. 38 -- Biya

Komentar

Pos populer dari blog ini

UNIVERSALISME VS PARTIKULARISME

Menurut survei yang dilakukan oleh Political & Economic Risk Consultancy yang berbasis di Hongkong, Indonesia adalah negara paling korup dari 16 negara di kawasan Asia Pasifik. (Kompas, 2012) Fakta yang mengkhawatirkan. Dengan indeks persepsi korupsi sebesar 1.9 dari angka terbesar 10, Indonesia dianggap sejajar dengan negara-negara baru yang sampai hari ini masih dililit masalah peperangan di mata internasional. kerugian akibat korupsi sama dengan dampak perang, bahkan bisa jadi lebih. Tentu Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN)  bukan istilah yang asing lagi di negeri ini. Menjelang jatuhnya Soeharto, KKN ramai disinggung dan dibicarakan. Pada masa reformasi, KKN semakin sering dibicarakan untuk diperangi demi pemerintahan yang bersih (good governance).

Operasi Geraham Bungsu (Impaksi)

Tulisan ini kubuat atas dasar pemikiran kawanku, Pandu Ashari, yang mengusulkan untuk dikenang dalam blog. Sungguh, ia sangat mencerahkan. Lumayan, menambah warna tulisan di blog ini, tak selalu kelabu (read: galau).
*********
Aku terlahir sebagai anak yang malas menggosok gigi. Biya kecil, dulu, kalau makan selalu diemut dan lama. Konon, nasi-nasi atau makanan yang ada di dalam mulutku bisa sampai kubawa tidur saking lamanya mengunyah. Belum lagi ketergantunganku dengan minum susu di botol sambil tidur belum hilang sampai kelas 2 SD. Parah. Jangan tiru adegan itu ya. (Kalau punya sepupu, keponakan atau anak, cegahlah mereka.)

Ngurus STNK di SAMS(SUCK)AT

Jadi gini, pada hari Selasa, 5 Februari 2013, gue pergi bersama abang sepupu ke kantor SAMSAT di deket SCBD, Semanggi, buat ngurus STNK abang kandung yang hilang beserta dompet dan isinya. Dari latar belakang itulah lahir pengetahuan dan pengalaman gue ngurus keribetan birokrasi negeri ini dan sogok-menyogok depan mata.

Pertama-tama, pastikan dulu motor lo itu wilayah mana. Bisa dilihat dari tiga huruf di belakang plat nomer. Kalau huruf depannya T, berarti segala administrasi, berkas, data dan lain-lainnya ada di SAMSAT Jakarta Timur (T). Kalau B ya barat, S ya Selatan dan seterusnya. Contohnya motor gue B XXXX TPS, nah, udah pasti di timur lah ya.