Langsung ke konten utama

Hari Demi Hari

Aku mahasiswi semester 6. Sudah 3 tahun duduk di bangku (sepanjang) ruang lantai 4 Tarbiyah UIN bidang bahasa Inggris. Hari demi hari aku lewati tentu dengan keluh. Apalagi jika teringat saat menjadi mahasiswa baru, tak ada semangat mengobar dalam diri ini.

Ya, aku terpaksa, terpaksa kuliah di kampus yang menghasilkan band Wali. Kampus yang melahirkan ratusan (mungkin ribuan) ustadz maupun ustadzah. Kampus yang sangat melimpah anak-anak lulusan pondok pesantren. Kampus yang didamba-dambakan para wali murid agar kelak setelah lulus nanti, sang anak memiliki akhlaq pun masa depan yang baik. Orang tuaku adalah bagian dari golongan itu.


Masih lekat di memoriku, saat pertama kali datang untuk daftar ulang, saat dimana aku permalukan diriku sendiri. Ya, malu sekali, sebab dresscode yang kupakai benar-benar menyalahi aturan kampus islam ini. Aku datang bersama Bunda, diantar oleh Encang dan disupiri oleh kakak sepupuku. Dengan gagahnya kakiku yang diselimuti selop menginjakkan pelataran parkir depan Gedung Akademik. Kumasukki gedung itu, terlihat semua orang yang sedang sibuk tiba-tiba memusatkan penglihatannya padaku. Aku. Aku yang mengenakan dress se-lutut dengan lengan pendek, tanpa jilbab--dan cuek. Beberapa hari kemudian, aku datang untuk berpartisipasi dalam test TOEFL dan TOAFL, aku sudah berjilbab. Tadaa!!!

Lalu berikutnya, setelah resmi menjadi mahasiswi blablabla, aku merasakan sesuatu yang aneh-se-aneh-anehnya. Hari pertama masuk kuliah, aku sudah di kelas, sudah belajar, sudah berkenalan dengan teman-teman lain. Sudah! Hanya satu yang kurang; aku belum diospek! Hari ketiga setelah kuliah di kelas, mulailah kami angkatan 2010 diospek. Ah, telat sekali. Aku jelas tak mengerti bagaimana alur pemikiran para akang-teteh eksekutif itu.

Hari demi hari kulalui. Kuliah itu-ini. Bergaul sana-sini. Tak kutemukan satu pun sahabat sejati. Pasca kehilangan Wayan, aku seolah menutup diri. Pasca ditinggal sahabat kuliah di luar kota, mereka seakan tak terganti.

Di semester satu dan dua, mata kuliah favoritku adalah Speaking. Sesungguhnya aku tak begitu jago cas-ces-cos, namun al-mukaromah yang begitu enerjik dan aktif, membuatku lulus dua mata kuliah berjenjang itu. Beliau pintar, tidak begitu cantik, tidak begitu sexy, namun beliau sumber inspirasiku pertama kali.

Kami diajarkan bukan hanya teori, lebih dari itu. Ada Tongue Twister, percakapan-percakapan, story telling, banyak rupanya. Beliau pun sering bercerita tentang pengalamannya sebagai mantan pramugari, seorang istri chef di hotel Grand Hyatt, dan mengimpi-impikan seorang anak.

Hari demi hari kujalani dengan semakin tangkas. Kucoba ikhlaskan semuanya. Kucoba menerima takdir bahwa aku adalah bagian dari harapan al-mukarom Komar Hidayat agar menjadi lulusan yang berguna, bermartabat dan solehah.

Hari demi hari langkahku semakin perkasa. Diriku semakin tegar. Kuperbaiki cara belajarku. Kutingkatkan pemahaman dan persiapanku sebelum kelas dimulai. Kucari sumber bacaan sana-sini meski jarang sekali singgah di perpustakaan.

Pada semester empat, dipertemukanlah aku kepada seorang doktor lulusan Amerika dengan tingkah lakunya yang begitu mengesankan. Beliau dosen pria satu-satunya yang kukagumi. Gelarnya sih doktor, tapi kelakuan bagai guru taman kanak-kanak. Beliau begitu aktif. Satu yang selalu membuatku kecil diri; beliau selalu mengeluarkan pertanyaan, "kalian sudah pernah baca buku ini yang ditulis oleh itu?" Ah, aku minder. Tak suka aku membaca.

Sebenarnya, dosen ini sangat kontroversial. Banyak yang mengagumi, pula banyak yang tak mengerti materi apa yang diberikan. Menurutku, begitulah doktor. Saking pintarnya, kita juga harus pintar menyerap ilmu yang diberikannya. Beliau memang bukan dosen yang suka ceramah, sebaliknya, beliaulah yang mencoba membuka mata dan pikiran anak didiknya agar kami tak jalan di tempat. Terima kasih Pak Alek.

Hari demi hari kujalani. Akhirnya aku menjadi mahasiswa semester lima Pendidikan Bahasa Inggris. Semester dimana banyak kakak-kakak kelas yang konon tiba-tiba mengundurkan diri. Semester yang katanya paling mengerikan. Hal yang mengerikan itu adalah Extensive Reading.

Kelas Extensive Reading adalah kelas yang memaksa kami untuk membaca puluhan novel berbahasa Inggris dengan ketebalan lebih dari 500 halaman, beberapa jurnal-jurnal bahasa Inggris ditambah buku teks yang kesemuanya telah ditentukan judul pula batas pengumpulan review.

Aku, seorang pemalas membaca langsung bergidik. Mempertanyakan apakah aku mampu atau tidak melewati ini. Akan kubagi rahasiaku di sini; aku pun meminta tolong patjar untuk membacakan beberapa novel dan biografi. Bersyukur aku memiliki patjar seorang pecinta buku dan pecinta aku yang handal.

Kini, setelah hari demi hari kulewati, setelah strategi-strategi belajar kujajali, setelah semuanya kuresapi, sampailah aku di titik dimana titik ini menandakan kekhawatiranku terhadap masa depan nanti.

Entahlah, mungkin aku sedang bosan. Mungkin aku sudah tidak dapat inspirasi-inspirasi lagi dari para al-mukarom dan al-mukaromahku kemarin. Mungkin juga lingkunganku sudah mulai luntur rasa solidaritasnya. Mungkin aku sudah muak karena banyak teman-teman yang kulihat sebagai penjilat sejati. Banyak kemungkinan memang. Ah sudahlah, namanya juga mahasiswa. Beginilah.






Biya--kutulis saat menunggu dosen Writing-ku yang sudah lansia, yang hobinya memancing mahasiswa untuk berkomentar namun diakhiri dengan mencari-cari kesalahan mereka tanpa memberi kebenaran yang jelas, lalu memaki-makinya. Sekian.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

UNIVERSALISME VS PARTIKULARISME

Menurut survei yang dilakukan oleh Political & Economic Risk Consultancy yang berbasis di Hongkong, Indonesia adalah negara paling korup dari 16 negara di kawasan Asia Pasifik. (Kompas, 2012) Fakta yang mengkhawatirkan. Dengan indeks persepsi korupsi sebesar 1.9 dari angka terbesar 10, Indonesia dianggap sejajar dengan negara-negara baru yang sampai hari ini masih dililit masalah peperangan di mata internasional. kerugian akibat korupsi sama dengan dampak perang, bahkan bisa jadi lebih. Tentu Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN)  bukan istilah yang asing lagi di negeri ini. Menjelang jatuhnya Soeharto, KKN ramai disinggung dan dibicarakan. Pada masa reformasi, KKN semakin sering dibicarakan untuk diperangi demi pemerintahan yang bersih (good governance).

Operasi Geraham Bungsu (Impaksi)

Tulisan ini kubuat atas dasar pemikiran kawanku, Pandu Ashari, yang mengusulkan untuk dikenang dalam blog. Sungguh, ia sangat mencerahkan. Lumayan, menambah warna tulisan di blog ini, tak selalu kelabu (read: galau).
*********
Aku terlahir sebagai anak yang malas menggosok gigi. Biya kecil, dulu, kalau makan selalu diemut dan lama. Konon, nasi-nasi atau makanan yang ada di dalam mulutku bisa sampai kubawa tidur saking lamanya mengunyah. Belum lagi ketergantunganku dengan minum susu di botol sambil tidur belum hilang sampai kelas 2 SD. Parah. Jangan tiru adegan itu ya. (Kalau punya sepupu, keponakan atau anak, cegahlah mereka.)

Ngurus STNK di SAMS(SUCK)AT

Jadi gini, pada hari Selasa, 5 Februari 2013, gue pergi bersama abang sepupu ke kantor SAMSAT di deket SCBD, Semanggi, buat ngurus STNK abang kandung yang hilang beserta dompet dan isinya. Dari latar belakang itulah lahir pengetahuan dan pengalaman gue ngurus keribetan birokrasi negeri ini dan sogok-menyogok depan mata.

Pertama-tama, pastikan dulu motor lo itu wilayah mana. Bisa dilihat dari tiga huruf di belakang plat nomer. Kalau huruf depannya T, berarti segala administrasi, berkas, data dan lain-lainnya ada di SAMSAT Jakarta Timur (T). Kalau B ya barat, S ya Selatan dan seterusnya. Contohnya motor gue B XXXX TPS, nah, udah pasti di timur lah ya.