Langsung ke konten utama

Mendung Pagi Itu

Rajab, hari ke-3, pagi itu awan tidak memancarkan kebahagiaannya. Ia muram, agak kelabu. Ketika kusapa ia malah menangis, rintik-rintik awalnya, kemudian melebat meski butiran airnya masih kecil-kecil.

Berdirilah aku di dalam bus paling perkasa se-Tanah Abang-Ciputat, Kowanbisata 102. Sedikit sesak di dalam. Beberapa joki menumpang sambil menggendong anak atau bersenda gurau satu dengan yang lainnya. Di luar kulihat hujan semakin damai. Jalanan belum begitu ramai.

Farmasi, Senayan, Plaza Senayan, satu per satu penumpang turun. Sampailah Si Perkasa di sepanjang jalan Pakubuwono, para joki turun beramai-ramai. Kulihat seorang gadis berbibir sumbing nan bawel berteriak memohon Si Perkasa berhenti dengan paksa. Ibu Kondektur geram akan kebawelannya.

Akhirnya bangku belakang kosong, kududuki satu. Ibu Kondektur ngedumel, "tahun besok mbak, gak akan ada yang mau ngangkut dia pada. Males saya mbak, diminta ongkos malah ngasih serebu, malah kadang gak ada yang mau bayar. Ditagih, malah marah! Males saya!" Ia luapkan kemarahannya tak lupa dengan aksen ngapak.

"Tahun besok mau dibikin AC semua, mbak! Mana ada yang mau ngangkut dia."
"AC? 102? Masa sih?" Tanggapku.
"Iya. Kita nih pada bingung. Sekarang setoran 300 ribu aja udah bingung. Solar 300 ribu, buat apa duitnya kalo kita seharian dapet 800? 200 ribu buat apa jaman sekarang mbak?"
"Paling bos-bos ini pada demo. Saya mah pasrah aja. Kiloin aja ini bus!" Lanjutnya. Kubalas dengan senyuman dan tawa kecil.

Dalam hati aku bertanya, mungkinkah pemerintah meremajakan semua bus butut dengan mengganti menjadi AC? Tidak mungkin. Dan jika nanti memang benar diganti, bukankah supir-supir yang kemarin tetap dijadikan supir bus AC namun diberikan pelatihan agar tidak ugal-ugalan? Aku tidak tahu pasti. Akan ku-gugling nanti atau kudiskusikan dengan teman-teman.

Si Perkasa semakin gagah menelusuri rutenya menuju Ciputat. Perjalanan tak selamanya indah, begitu juga bagi Si Perkasa. Di tengah jalan, ada saja bus lain yang mengoper penumpang banyak namun upah yang diberikan untuk Si Perkasa sangatlah kecil. Bak awan dihinggapi petir, gelap gulita, semakin gelap dan akhirnya badai bertiupan, Ibu Kondektur tak cukup sabar untuk menerima.

"Kebiasaan lo! Kalo mau narik yang niat!!! Ngasih cuma dua rebu! Berapa orang lo oper!!!! *****!!!" Keluarlah kebun binatang dilepehkan dari mulutnya. Sumpah-serapah tak terbendung lagi.

Makin menjadi-jadilah si Ibu ngedumel ini-itu. Entah siapa yang ia ajak bicara, ia terus saja nyerocos. Aku memaklumi. Jika kalian berpengalaman dalam dunia per-angkot-an atau per-bus-an, pasti keki jika dioper ke sana-ke sini. Apalagi jika kita memosisikan diri sebagai Ibu Kondektur yang niat dari rumah 'narik' tanpa oper-operan, pasti merasa dikhianati kawan seperjuangan.

Setelah mendengar keluhan Ibu Kondektur, aku meresapi fenomena yang terjadi. Ya, hidup memang sering dianggap tak adil, tapi Allah adil. Lalu aku mengucap syukur, karena aku sadar bahwa hidupku jauh lebih baik daripada para supir bus, Ibu Kondektur, para joki yang hobinya numpang bahkan lebih baik daripada kalian yang membaca ini.

Aku tertegun. Mataku berkaca-kaca. Betapa bodohnya aku (mungkin manusia lain) yang masih saja merasa kekurangan atas nikmat yang Allah berikan. Tak ada syukurnya. Baru saja aku mengambarkan baju idamanku yang belum sempat terbeli, tiba-tiba gambaran itu lenyap dari pikiranku. Hilang entah kemana bagai tersapu Tsunami yang maha dahsyat.

Setelah sampai ditujuan, aku berjalan menuju Oot Green House. Di belakang kudengar seorang penjual kolor berseru-seru menjajakan dagangannya untuk menarik perhatian orang-orang.

"Kolor, kolor, kolor! Lima rebuan empat, kolornya satu! Gak bakal ancur kalo jatoh dari pesawat! Kolor, kolor, kolor!"

Aku menoleh ke arahnya, seorang bapak separuh baya menggendong buntalan di pundak kirinya. Beberapa macam dan berbagai warna kolor tergenggam di kedua tangangnnya, menjuntai berharap ada orang yang membawa pulang dirinya.

Lagi-lagi aku terenyuh. Ya Allah, ridhai-lah mereka yang penuh perjuangan dalam menjemput rizki yang Kau janjikan. Kuatkanlah mereka ya Allah...

Aku lalu memimpikan pekerjaan yang layak untuk masa depanku, agar hidupku tak sesulit mereka. Rasanya enak menjadi orang cerdas kelak ya, uang akan datang dengan sendirinya. Maka dari itu, pendidikan itu perlu! Ini tugasku sebagai calon pendidik.

*********

Akhirnya mentari datang. Ciputat cerah. Aku layaknya manusia yang baru mendapati hidayah. Aku seperti orang yang baru bangkit dari keterpurukan, dari awan kelabu yang terisak-isak lalu menjadi mentari yang mencerahkan dunia.




Kutulis ini di atas bus--ya, inspirasiku sering datang tiba-tiba tanpa diduga. Selamat menikmati! Selamat bulan Rajab!!! Semoga Allah memberkati.

Komentar

Pos populer dari blog ini

UNIVERSALISME VS PARTIKULARISME

Menurut survei yang dilakukan oleh Political & Economic Risk Consultancy yang berbasis di Hongkong, Indonesia adalah negara paling korup dari 16 negara di kawasan Asia Pasifik. (Kompas, 2012) Fakta yang mengkhawatirkan. Dengan indeks persepsi korupsi sebesar 1.9 dari angka terbesar 10, Indonesia dianggap sejajar dengan negara-negara baru yang sampai hari ini masih dililit masalah peperangan di mata internasional. kerugian akibat korupsi sama dengan dampak perang, bahkan bisa jadi lebih. Tentu Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN)  bukan istilah yang asing lagi di negeri ini. Menjelang jatuhnya Soeharto, KKN ramai disinggung dan dibicarakan. Pada masa reformasi, KKN semakin sering dibicarakan untuk diperangi demi pemerintahan yang bersih (good governance).

Operasi Geraham Bungsu (Impaksi)

Tulisan ini kubuat atas dasar pemikiran kawanku, Pandu Ashari, yang mengusulkan untuk dikenang dalam blog. Sungguh, ia sangat mencerahkan. Lumayan, menambah warna tulisan di blog ini, tak selalu kelabu (read: galau).
*********
Aku terlahir sebagai anak yang malas menggosok gigi. Biya kecil, dulu, kalau makan selalu diemut dan lama. Konon, nasi-nasi atau makanan yang ada di dalam mulutku bisa sampai kubawa tidur saking lamanya mengunyah. Belum lagi ketergantunganku dengan minum susu di botol sambil tidur belum hilang sampai kelas 2 SD. Parah. Jangan tiru adegan itu ya. (Kalau punya sepupu, keponakan atau anak, cegahlah mereka.)

Ngurus STNK di SAMS(SUCK)AT

Jadi gini, pada hari Selasa, 5 Februari 2013, gue pergi bersama abang sepupu ke kantor SAMSAT di deket SCBD, Semanggi, buat ngurus STNK abang kandung yang hilang beserta dompet dan isinya. Dari latar belakang itulah lahir pengetahuan dan pengalaman gue ngurus keribetan birokrasi negeri ini dan sogok-menyogok depan mata.

Pertama-tama, pastikan dulu motor lo itu wilayah mana. Bisa dilihat dari tiga huruf di belakang plat nomer. Kalau huruf depannya T, berarti segala administrasi, berkas, data dan lain-lainnya ada di SAMSAT Jakarta Timur (T). Kalau B ya barat, S ya Selatan dan seterusnya. Contohnya motor gue B XXXX TPS, nah, udah pasti di timur lah ya.