Langsung ke konten utama

UNIVERSALISME VS PARTIKULARISME

Menurut survei yang dilakukan oleh Political & Economic Risk Consultancy yang berbasis di Hongkong, Indonesia adalah negara paling korup dari 16 negara di kawasan Asia Pasifik. (Kompas, 2012) Fakta yang mengkhawatirkan. Dengan indeks persepsi korupsi sebesar 1.9 dari angka terbesar 10, Indonesia dianggap sejajar dengan negara-negara baru yang sampai hari ini masih dililit masalah peperangan di mata internasional. kerugian akibat korupsi sama dengan dampak perang, bahkan bisa jadi lebih.
Tentu Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN)  bukan istilah yang asing lagi di negeri ini. Menjelang jatuhnya Soeharto, KKN ramai disinggung dan dibicarakan. Pada masa reformasi, KKN semakin sering dibicarakan untuk diperangi demi pemerintahan yang bersih (good governance).

Mengapa kasus korupsi begitu marak dan korupsi seolah-olah menjadi budaya?  Edward T. Hall menggolongkan dua kelompok masyarakat dalam dimensi budaya: partikularisme dan universalisme. Partikularisme lebih mengedepankan aspek-aspek personal yang dilandasi dengan adanya hubungan emosional dibanding peraturan yang berlaku, sedangkan universalisme memfokuskan diri terhadap tanggung jawab tiap personal kepada peraturan-peraturan yang ada daripada memikirikan nasib orang lain walaupun masih ada hubungan saudara. Hasil riset Hall menunjukkan, di masyarakat di Asia partikularisme lebih dominan daripada universalisme.
Jika kita hubungkan dengan kasus KKN yang marak terjadi, terlihat jelas bahwa  partikularisme di negeri ini sangat mendominasi. Maka tidaklah mengherankan jika korupsi seolah-olah menjadi budaya yang telah mengakar di bumi pertiwi.
Dalam hal nepotisme, tak perlu jauh-jauh menelaah, lihat saja pejabat Banten dan jajarannya. Sang Teteh menjabat sebagai gubernur, Si Adik menjadi walikota, Si Suami menjabat sebagai ketua DPD provinsi Banten, belum lagi Si Anak, Si Adik, sanak-famili yang lainnya. Fakta yang cukup mencengangkan di masa demokrasi yang terbuka ini. Dinasti yang nepotistis ternyata berdiri di atas demokrasi.
Namun, apakah semua warga negara Indonesia merupakan golongan partikularis? Saya katakan dominan saja, sebab masih ada golongan universalis walaupun mereka minoritas, dan saya termasuk di dalamnya. Bagi  saya, setiap manusia dilahirkan dengan kodrat yang sama, memiliki hak dan kewajiban yang sama, tinggal bagaimana kita menjalani hidup ini; menuntut hak dan menjalankan kewajiban yang ada.
Bagaimana saya mencondongkan hidup saya ke dalam golongan universalisme? Berangkat dari rumah, saya adalah anak perempuan paling tua yang dipercaya dapat meringankan beban Ibu mengerjakan pekerjaan rumah. Ketika kewajiban sebagai anak perempuan paling tua saya jalankan, sebut saja menyapu, saya telah mengingatkan untuk membereskan tempat tidur masing-masing sebelum saya mulai menyapu kepada abang dan adik saya, sebab hal tersebut merupakan tanggung jawab individu yang dipikul siempunya kamar. Jangan harap saya akan membantu membereskannya.
Dalam kerja kelompok di kampus, saya bukanlah anggota kelompok yang baik, sebab ketika tugas sudah dibagi sama rata dan masih ada anggota yang lupa mengerjakan, maka akan saya tunjuk-tunjuk ia dengan geramnya. Bahkan, saya sulit memercayai orang yang bekerja sama dengan saya, sebab rasa khawatir yang tinggi pada diri sendiri jikalau orang tersebut menghasilkan pekerjaan yang tidak sesuai dengan yang saya inginkan.
Ada satu tradisi di kelas saya ketika ujian tiba; teman-teman yang sangat tinggi rasa toleransinya berusaha dengan berbagai cara agar dapat duduk bersebelahan dengan  kawan yang mereka inginkan. Jika sang kawan belum datang, bangku tersebut telkah ditandai, macam seat number pada pesawat. Tentu saja tujuannya agar dapat mencontek, atau minimal kerjasama. Saya orang yang paling sering berteriak, “it’s unfair ya! Siapa cepat dia dapat, dong! Gak usah di-booking gitu. Curang!!!”. Apalagi jika saya yang mendapati satu-satunya bangku kosong tepat di depan meja dosen.
Janji adalah hutang. Itulah yang semestinya orang-orang hayati ketika mereka berjanji. Saya bukanlah orang yang mudah ditebar janji-janji palsu. Sekalipun orang itu adalah orang tua, bahkan sang kekasih pujaan. Pernah satu waktu Ayah saya berjanji akan mengajak saya ke Dufan kalau ada peningkatan nilai atau prestasi di sekolah dulu, namun karena satu dan lain hal, Ayah mengurungkan janji itu dan dengan terpaksanya saya marah terhadapnya dan menempel satu karton ukuran sedang di depan pintu kamar dengan tulisan tangan yang berbunyi, “Ayah tukang bohong!!!”.
Lain waktu, ketika sang kekasih pujaan memenangkan taruhan (yang dibuat hanya untuk lucu-lucuan) dan saya sebagai orang yang kalah harus membayar hutang traktiran di sebuah restoran yang sudah disepakati bersama. Lalu, tiba-tiba sang kekasih merengek meminta tambahan hadiah sebuah novel, maka tak peduli seberapa cintanya ia kepada saya, saya hanya membayar hutang taruhan, tidak ditambah novel. Yes, a deal is a deal, no matter what.
Dalam organisasi yang saya ikuti, setiap tahunnya rutin diadakan pemilihan calon Paskibraka demi menjaganya rasa nasionalisme di kaum muda-mudi dan regenerasi tiap anggota. Setiap peserta datang dengan latar belakang yang berbeda. Anak dari seorang tukang cuci boleh ikut. Anak-anak yang bukan merupakan anggota paskibra di sekolah pun tak ada masalah. Hingga anak yang berkerabat dengan kakak senior yang sudah terlebih dahulu masuk pun tak ada yang melarang untuk berpartisipasi. Namun sayang, kriteria ‘saudara Kak Fulan’ ternyata masih eksis meski tak tertulis. Sebut saja Mawar, tingginya terlalu cukup untuk mendekati 160 cm dan berat badan yang terlampau jauh dari kata ideal ternyata lolos seleksi pada tingkat wilayah. Bukan hanya saya yang geram, tapi juga kawan-kawan dan senior-senior lain pun ikut memerah wajahnya ketika mengetahui ia lolos. Terlebih ketika adanya seleksi tingkat provinsi, si Mawar diikutsertakan dan dengan anehnya ia lolos ke tingkat tersebut.
Setelah ditelisik, ternyata Mawar adalah seorang sepupu dari Kak Fulan yang menjabat sebagai pengurus di tingkat Provinsi.  Bagaimana KKN tidak merajalela jika di tingkat seperti itu saja masih begitu penting latar belakang keluarga atau bahkan kedekatan emosi?
Meski demikian, saya pun bukanlah  universalis garis keras. Pastilah ada hal-hal yang menurut saya masih bisa ditoleransi demi terjaganya ikatan silaturahmi sesama manusia. Saya berani mengatakan bahwa diri saya murah hati karena memang hal tersebut saya anggap sebagai ibadah.
Saya sering meminta tolong orang lain, teman maupun saudara, untuk membelikan saya sesuatu. Ketika uang itu berlebih atau ada kembalian yang tak seberapa, maka tak pernah berat hati ini untuk mengikhlaskan sebagai sedekah. Ada lagi kasus dimana saya menjadi tutor sebuah perkumpulan anak-anak, terdapat seorang anak yang sangat nakal namun cerdas, saya tak pernah menghukumnya sebab ia anak dari guru waktu saya bersekolah dulu.
Dari sekian peristiwa yang telah saya elaborasi dan kaitkan dengan dimensi budaya oleh Hall, saya dapati simpulan yang bukan menilai suatu pribadi universal merupakan yang terbaik, sebab saya pun memiliki pribadi yang agak partikular. Apapun tipe pribadi orang, janganlah membuat saling membenci atau bahkan saling bermusuhan.

Komentar

Pos populer dari blog ini

Operasi Geraham Bungsu (Impaksi)

Tulisan ini kubuat atas dasar pemikiran kawanku, Pandu Ashari, yang mengusulkan untuk dikenang dalam blog. Sungguh, ia sangat mencerahkan. Lumayan, menambah warna tulisan di blog ini, tak selalu kelabu (read: galau).
*********
Aku terlahir sebagai anak yang malas menggosok gigi. Biya kecil, dulu, kalau makan selalu diemut dan lama. Konon, nasi-nasi atau makanan yang ada di dalam mulutku bisa sampai kubawa tidur saking lamanya mengunyah. Belum lagi ketergantunganku dengan minum susu di botol sambil tidur belum hilang sampai kelas 2 SD. Parah. Jangan tiru adegan itu ya. (Kalau punya sepupu, keponakan atau anak, cegahlah mereka.)

Ngurus STNK di SAMS(SUCK)AT

Jadi gini, pada hari Selasa, 5 Februari 2013, gue pergi bersama abang sepupu ke kantor SAMSAT di deket SCBD, Semanggi, buat ngurus STNK abang kandung yang hilang beserta dompet dan isinya. Dari latar belakang itulah lahir pengetahuan dan pengalaman gue ngurus keribetan birokrasi negeri ini dan sogok-menyogok depan mata.

Pertama-tama, pastikan dulu motor lo itu wilayah mana. Bisa dilihat dari tiga huruf di belakang plat nomer. Kalau huruf depannya T, berarti segala administrasi, berkas, data dan lain-lainnya ada di SAMSAT Jakarta Timur (T). Kalau B ya barat, S ya Selatan dan seterusnya. Contohnya motor gue B XXXX TPS, nah, udah pasti di timur lah ya.