Sabtu, 21 September 2013

Hati-hati dengan Hati

Minggu pagi. 
Setelah Sabtu malam kusendiri. 
Setelah malam Mingguku lewati; sunyi, senyap, kasih enggan datang, cinta pun malas menghampiri. 

Aku bertanya; pertanda apakah ini? 
Satu bisikan terdengar; cintamu mulai mati...
Aku berkata lagi; tidak, tidak mungkin. Itu hanya kekhawatiranmu saja...
Baguslah kalau begitu. Pupuklah cintamu dengan rasa percaya dan saling mengerti. Siramilah ia dengan kasih yang tak henti-henti. Berdoalah agar cintamu tak salah arti. Begitu katanya.

Kini aku mengerti. Bukan cinta yang salah gizi. Bukan kamu yang (terlihat) berlari pergi. Tapi aku yang selalu lupa diri. Sekali cinta, aku tak mau biarkan ia mati. Ya, kuusahakan pasti.

"Demi segala yang telah kita lalui, demi apa yang telah kita perjungkan, demi semua pengorbanan ini, tetaplah di sini. Jangan pergi; jalan perlahan atau pun berlari." 

Aku rasa alasan itu belum cukup, sayang. Pikirkanlah. Ada hal lain yang sangat kita butuhkan saat ini; keteguhan hati dan pendirian yang kuat di dalam sendi-sendi. Berjanjilah kau takkan menawar hati dengan yang lain. Bersumpahlah kau 'kan bersamaku sehidup semati.

Ya, aku berjanji.