Langsung ke konten utama

Mirror

Foto: www.flickr.com
Di satu lorong. Gelap. Pekat. Berlantai putih keramik, sedikit pecah dan tidak rata. Di sisi-sisinya disesaki dengan beberapa perabot, sepeda, rak sendal dan segala peralatan rumah tangga.

Dia setengah berdiri di sisi dinding yang sedikit lega. Menyenderkan tubuhnya yang ditumpu lutut tertekuk. Memeluk tas yang terbilang berat di tangan kanannya dan mengalungkan helm di tangan kirinya. Hijabnya sedikit kacau. Terkoyak oleh angin di atas motor. Dia menunggu. Menunggu. Terus menunggu.


Masuklah ia di dalam ruangan. Ada TV, karpet, meja kecil dan perabot rumah sederhana lainnya. Tubuhnya terpaku di samping meja. Menanggalkan hijab merahnya lalu ia duduk termenung. Kosong; tatapannya lurus ke cermin di ruangan lain tepat di hadapannya.

Foto: www.reformer820.com
Sepertinya ia menahan tangis. Atau menahan emosi. Dari pancaran matanya yang tak biasa, mata yang lelah, mata yang kurang bahagia, ia lalu berkedip. Air matanya turun setetes-dua tetes.

Semakin dalam ia melihat bayangannya di cermin, semakin deras air matanya tumpah. Sungguh, tak tega. Hatinya pasti sedang merana. Bisa jadi pundaknya terlalu lelah menahan beban. Ia kelelahan.

Bibir bergincu merah mudanya tertutup rapat. Diam tak bersuara bahkan tak bergerak sedikit pun. Hanya sedikit bergetar dan basah oleh air matanya. Sesekali ia menunduk, bahunya berguncang diikuti isak tangis yang dalam. Kurasa ia benar-benar hancur. Atau ia takut di tempat baru yang sangat asing baginya.

Ia angkat kembali kepalanya. Dipatahkan sedikit ke kiri dan kanan sambil terus memperhatikan bayangannya di dalam cermin. Terdengar suara, "aku salah apa ya?". Lirih. Suara yang teramat lirih untuk seukuran gadis setegar dia.

Air matanya masih deras. Suara muncul lagi, "kok makin banyak ya masalahnya? Kok gak selesai-selesai ya?". Ia sapukan air mata dengan telunjuk kananya, lembut sekali. Ia ikat rambutnya tinggi-tinggi, lalu ia berdiri, mendekati cermin itu yang membuat tubuhnya yang sintal terlihat dari ujung kepala hingga kaki.

Ia makin maju, mendekati cermin. Setelah bayangan di cermin memperlihatkan setengah badannya. Ia tersenyum. Sedikit saja. Menatap kabur mata yang lebam dan memerah. Perlahan, ia lengkungkan lagi bibirnya naik hingga legokkan di pipi kanannya timbul. Ia berkedip sambil menyemangati diri, "tahan ya, Manis... Kamu pasti bisa. Percayalah, hanya orang-orang spesial yang diberi ujian sespesial ini oleh Tuhannya. Bersabar ya."

Komentar

Postingan populer dari blog ini

UNIVERSALISME VS PARTIKULARISME

Menurut survei yang dilakukan oleh Political & Economic Risk Consultancy yang berbasis di Hongkong, Indonesia adalah negara paling korup dari 16 negara di kawasan Asia Pasifik. (Kompas, 2012) Fakta yang mengkhawatirkan. Dengan indeks persepsi korupsi sebesar 1.9 dari angka terbesar 10, Indonesia dianggap sejajar dengan negara-negara baru yang sampai hari ini masih dililit masalah peperangan di mata internasional. kerugian akibat korupsi sama dengan dampak perang, bahkan bisa jadi lebih. Tentu Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN)  bukan istilah yang asing lagi di negeri ini. Menjelang jatuhnya Soeharto, KKN ramai disinggung dan dibicarakan. Pada masa reformasi, KKN semakin sering dibicarakan untuk diperangi demi pemerintahan yang bersih (good governance).

Operasi Geraham Bungsu (Impaksi)

Tulisan ini kubuat atas dasar pemikiran kawanku, Pandu Ashari, yang mengusulkan untuk dikenang dalam blog. Sungguh, ia sangat mencerahkan. Lumayan, menambah warna tulisan di blog ini, tak selalu kelabu (read: galau).
*********
Aku terlahir sebagai anak yang malas menggosok gigi. Biya kecil, dulu, kalau makan selalu diemut dan lama. Konon, nasi-nasi atau makanan yang ada di dalam mulutku bisa sampai kubawa tidur saking lamanya mengunyah. Belum lagi ketergantunganku dengan minum susu di botol sambil tidur belum hilang sampai kelas 2 SD. Parah. Jangan tiru adegan itu ya. (Kalau punya sepupu, keponakan atau anak, cegahlah mereka.)

Ngurus STNK di SAMS(SUCK)AT

Jadi gini, pada hari Selasa, 5 Februari 2013, gue pergi bersama abang sepupu ke kantor SAMSAT di deket SCBD, Semanggi, buat ngurus STNK abang kandung yang hilang beserta dompet dan isinya. Dari latar belakang itulah lahir pengetahuan dan pengalaman gue ngurus keribetan birokrasi negeri ini dan sogok-menyogok depan mata.

Pertama-tama, pastikan dulu motor lo itu wilayah mana. Bisa dilihat dari tiga huruf di belakang plat nomer. Kalau huruf depannya T, berarti segala administrasi, berkas, data dan lain-lainnya ada di SAMSAT Jakarta Timur (T). Kalau B ya barat, S ya Selatan dan seterusnya. Contohnya motor gue B XXXX TPS, nah, udah pasti di timur lah ya.