Langsung ke konten utama

Operasi Geraham Bungsu (Impaksi)

Tulisan ini kubuat atas dasar pemikiran kawanku, Pandu Ashari, yang mengusulkan untuk dikenang dalam blog. Sungguh, ia sangat mencerahkan. Lumayan, menambah warna tulisan di blog ini, tak selalu kelabu (read: galau).

*********

Aku terlahir sebagai anak yang malas menggosok gigi. Biya kecil, dulu, kalau makan selalu diemut dan lama. Konon, nasi-nasi atau makanan yang ada di dalam mulutku bisa sampai kubawa tidur saking lamanya mengunyah. Belum lagi ketergantunganku dengan minum susu di botol sambil tidur belum hilang sampai kelas 2 SD. Parah. Jangan tiru adegan itu ya. (Kalau punya sepupu, keponakan atau anak, cegahlah mereka.)

Sebab kebiasaan kecil yang kurang baik itu, jadilah Biya yang tumbuh dengan gigi yang amat berantakan. Sejak TK, aku ingat betul, Bunda sering sekali membawaku ke Puskesmas Bendungan Hilir. Dulu, Puskesmasnya belum semegah sekarang. Masih berlantai satu, bercat coklat, ruang periksa gigi terletak di paling depan gedung, dekat pintu masuk dan masih ada tukang kue cubit langganan di depan pagar. Dokternya pun masih langsing. Cantik. Memiliki anak seumuranku, ganteng.

Aku tak pernah pindah ke lain hati. Kalau sakit, tentu aku lari ke Bend-Hill. Selain gratis sebab keluargaku (tentu) pemegang Askes PNS, lokasinya pun strategis.

Hingga kini, Puskesmas telah berlantai dua, bercat putih, ruang periksa gigi berada di lantai atas dan ber-AC, anak bu dokter makin ganteng pula, aku masih setia berkunjung ke sana. Dua tahun lalu, dokter Seri memeriksa gigiku ketika kunjungan enam bulan sekali berkala kulakoni, beliau menemukan geraham belakangku tumbuh abnormal, tidur. Posisinya rebah. Tidak tegak.

"Wah, Dek, ini musti diambil nih. Operasi kecil. Bahaya kalau lama-lama dibiarin aja..." Sarannya. ('Dek', panggilan kecilku sebelum Bunda memiliki bungsu, 'Ade Rara'.)

Tanpa ragu, Bunda mengiyakan. Dokter Seri langsung memberi surat rujukan untuk ke RS AL Mintohardjo, bertetanggaan dengan Puskesmas.

"Ke AL aja ya, Bu... Bisa pakai Askes kok. Itu harus cepat-cepat diangkat, tuh. Takutnya ngerusak gigi yang lain."

*********

20 Juli 2011 operasi kecil pertamaku terjadi. Gigi geraham kiri atas dan bawah. Kuberanikan diri. Mau tak mau. Demi kesehatan. Jiwaku saat itu sedang hancur. Patah hati dengan cinta yang dulu. Galau. Klise. Untung saja, dokter bedahku lucu. Baik sekali. Dengan asistennya yang sama konyolnya, gugupku hilang.

"Wah, wah, wah, Mbaaaaakk. Ini rebah sekali, yo, gigine... Wis siap, tho? Yuk kita kerjaken!" Kata Dokter Susetyo bagai Pak Raden.

Masih lekat di memoriku, Mas Agus, asisten dokter, memutarkan lagu D'Massive. Sebagai pengalihan perhatian katanya. Agar aku rileks juga katanya. Di tengah pekerjaan. Di tengah pegalnya aku membuka mulut lebar-lebar. Dan di tengah Ryan D'Massive bervokal, aku lalu menitikan air mata.

"Mbak, kok nangis? Ojo, ojo. Ora sakit, kan? Kenapa? Ya uwis, rehat sek, Dok, mbaknya sakit tuh." Bujuk Mas Agus. Lalu aku menjawab dengan lirih, "Lagunya mas, bikin inget mantan..." Kemudian aku ditoyor.

"Owalah... Mbaknya ini nangis patah hati yo. Bu, bocahe disakitin karo sopo, Bu? Sini tak bor gigine!" Hibur dokter gila itu.

Setelah gigi bawah dicabut dan dijahit, Dokter Sus melanjutkan untuk menarik paksa gigi gerahamku yang atas. Anestesi dilakukan sejak pengerjaan gigi bawah. Lidahku kebal sebelah. Gusiku pun. Ketika Dokter Sus menggoyangkan dan menarik paksa gigiku, aku mengeluh dan menangis lagi.

"Weh, mbak? Inget mantan lagi? Uwis lah uwis..."
"Bukaaaaann... Biusnya habis, Doooookk... Berasa nih..." Tangisku.
"Ya ampuuuuuunnn... Sek, sek, yowis, tak suntik lagi. Maaf yo, maaf..."
ASU TENAN! Gigiku main tarik aja, biusnya udah hilang!!! Aaaaaaaaarrghhh!!!


Oh, ya. Biaya operasiku dulu sebesar Rp 2.300.000 untuk 2 gigi, lalu si Bunda nego. Akhirnya cukup membayar Rp 1.800.000 bersih. Askes tidak meng-cover biaya operasi saat itu.

*********

Harusnya operasi kedua kulaksanakan setahun atau bahkan 6 bulan setelah oprasi pertama. Karena aku trauma dan belum siap, kemudian banyak tempat yang ingin kukunjungi, jadilah jeda 2 tahun yang terlalu lama.

Kemarin, tanggal 10 Oktober 2013, kulakukan operasi kecil lagi. Dengan suasana hati yang galau lagi. Dokter yang sama lagi. Dan asistennya yang itu-itu lagi. Mas Agus sekarang berubah. Ia mengenakan seragam loreng-loreng. Bukan biru seperti suster-suster lain. Dokter Sus makin subur. Dan mereka pun makin humoris. Dua tahun rasanya baru kemarin.

Aku kegirangan bertemu mereka, sebab pasti selama operasi berlangsung aku akan selalu tertawa-tawa haha-hihi melihat tingkah makhluk dua ini. Aku tak lagi diputarkan lagu D'Massive, melainkan Korea. Shit!

Selama pengerjaan, Dokter Sus dan Mas Agus malah asyik ngerumpi dengan bahasa Jawa mereka yang dimedok-medokin. Bahkan Dokter Sus tak jarang menyinden. Rasanya, suntikan yang maha besar masuk ke mulutku tak ada rasa apapun. Sakti sekali.

Aku pun tidak menangis. Tidak pula ingat mantan. Aku sangat menikmati operasi ini. Dokter Sus tak lupa memberi anestesi sebelum menarik gigi atasku. Tak terulang lagi kecerobohan dua tahun lalu. Hanya saja, gigi gerahamku yang tidur itu dipotong terlebih dahulu sebelum diangkat. Bunyi mesinnya sangat mengganggu di telinga.

"Ro, minggu depan kontrol ya. Lepas jahitan... Nomermu wis ganti? Tak tilpuni waktu itu gak terdaftar katanya." Kata Mas Agus.

"Iya. Hilang nomerku yang itu, Mas. Lagian Mas Agus yang kecentilan deh. Harusnya tuh, nomerku dikasih ke koncomu sing Perwira! Emoh aku karo kamu mah, Mas..."

"Weleh, Mbak... Sampeyan ngerti-ngertinya Perwira ya? Mantap! Jaman sekarang memang cewek-cewek nyari jodoh yang penting HATI-nya yo mbak... Harta dan Ti**t nya!!!" Humor Dokter Sus. Seisi ruangan tertawa bersama. Aku pun. Lupa kalau sedang menggigit kasa. Kasaku mental dari dalam mulut. Hehehehe.

Kali ini, Askes menanggung biaya opersiku, namun hanya untuk gigi bawah yang tidur. Gigi atas tidak. Aku cukup membayar Rp 750.000 saja kemarin. Harusnya bayar dua kali lipatnya. Biasa, Bunda berdiplomasi dengan dokter.

*********

Ketika gigimu tumbuh abnormal, kata Dokter Sus, pasangan gigi yang rebah itu juga harus diangkat. Karena nanti ia jomblo. Single. Tak ada teman berbagi gigit. Mereka harus bersama dalam segala.

Hasil rotgen tahun 2011. Yang bertanda merah bawah adalah geraham tidurku.
Yang geraham atas yakni pasangan yang bawah.

Sampai saat ini, gusi atasku bekas gigi geraham atas masih suka berdarah. Itu disebabkan karena dibiarkan menganga, tidak dijahit seperti yang bawah. Pasca operasi, aku masih bisa tertawa, meski terkesan jaim sebab tidak bisa membuka mulut lebar-lebar. Sholat pun agak sulit ketika sujud. Menyikat gigi harus perlahan.

Bagi kalian yang memiliki masalah yang sama, jangan ragu untuk mengangkat ya. Akan membawa bencana jika gigi rebahnya dibiarkan begitu saja. Bisa terjadi peradangan bahkan kanker mulut. Jangan takut. Takutlah kepada Allah s.w.t! Allahu akbar!!!





Nb: maaf ya, Bund... Gara-gara aku, Bunda gak jadi beli sendal Scholl. Nanti kubelikan ya, kalau ada rezekinya.

Komentar

Posting Komentar

Pos populer dari blog ini

UNIVERSALISME VS PARTIKULARISME

Menurut survei yang dilakukan oleh Political & Economic Risk Consultancy yang berbasis di Hongkong, Indonesia adalah negara paling korup dari 16 negara di kawasan Asia Pasifik. (Kompas, 2012) Fakta yang mengkhawatirkan. Dengan indeks persepsi korupsi sebesar 1.9 dari angka terbesar 10, Indonesia dianggap sejajar dengan negara-negara baru yang sampai hari ini masih dililit masalah peperangan di mata internasional. kerugian akibat korupsi sama dengan dampak perang, bahkan bisa jadi lebih. Tentu Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN)  bukan istilah yang asing lagi di negeri ini. Menjelang jatuhnya Soeharto, KKN ramai disinggung dan dibicarakan. Pada masa reformasi, KKN semakin sering dibicarakan untuk diperangi demi pemerintahan yang bersih (good governance).

Ngurus STNK di SAMS(SUCK)AT

Jadi gini, pada hari Selasa, 5 Februari 2013, gue pergi bersama abang sepupu ke kantor SAMSAT di deket SCBD, Semanggi, buat ngurus STNK abang kandung yang hilang beserta dompet dan isinya. Dari latar belakang itulah lahir pengetahuan dan pengalaman gue ngurus keribetan birokrasi negeri ini dan sogok-menyogok depan mata.

Pertama-tama, pastikan dulu motor lo itu wilayah mana. Bisa dilihat dari tiga huruf di belakang plat nomer. Kalau huruf depannya T, berarti segala administrasi, berkas, data dan lain-lainnya ada di SAMSAT Jakarta Timur (T). Kalau B ya barat, S ya Selatan dan seterusnya. Contohnya motor gue B XXXX TPS, nah, udah pasti di timur lah ya.