Langsung ke konten utama

Big Brother

Kumengenalnya lebih lama dari fase metamorfosis ulat menjadi kupu-kupu. Lebih lama dari usia kehamilan gajah, sapi, kambing, tikus, kelinci, kucing dan mamalia lain di muka bumi ini. Kumengenalnya lebih dalam dari dalamnya lubang septic tank atau lubang-lubang lain yang terdalam.


Cholillurrahman bin Caca Priyatna

Sejak kecil kupanggil ia Bang Aman (Arman). Ia abangku. Sulung di keluargaku. Masih sangat lekat di memoriku betapa galak dan nakalnya ia dulu. Betapa ganasnya ia ketika mencekik leherku di samping rumah akibat kelalaianku salah memasak jagung berondong yang gosong lalu kulempar ke jendela kamarnya. Ternyata ia mengejarku, menghampiriku dan mencekik sambil berteriak, "makan gak! Lo yang masak, gosong, makaaaaaannnn!!!"

Suasana saat itu sangat mencekam. Lebih parah dari detik-detik pengumuman kelulusan. Belum lagi perkelahian kami sebab satu kasus--aku lupa--yang menghantarkan ia ke dalam raungan bunda atas aduanku. Sungguh indah masa-masa menjadi bungsu saat itu.

Makin dewasa, kami makin mengerti istilah 'sayang' dalam persaudaraan. Sebagai adik, aku mulai meniru-niru apa yang Abangku suka. Kuakui, gara-garanya lah aku mengenal lagu-lagu Bon Jovi. Sebab dirinya pula  lah aku menancapkan 'harus masuk IPA' ketika SMA dan alhamdulillah bisa. Gaya berpakaiannya pun dulu sering kuduplikasi untuk diriku.

Ketika Abang mulai menjalani hidupnya sendiri di Bogor dan pertama kali hengkang dari rumah, ternyata rasa sayang itu bertambah dan menjadi-jadi. Aku mulai merasakan kehilangan meski memiliki adik yang saat itu masih lucu untuk diajak bercanda. Setiap Abang pulang ke rumah inilah kesempatan bermanja-manja dengan meminta antar ke sini atau meminta jemput di sana dan di mana-mana. Bersyukurlah Abangku tidak rewel.

Momen-momen terindah menjelang kepulangan Abang-lah yang selalu kunanti. Ayah dan Bundaku seketika menjadi heboh. Si Ayah menginstruksi Bunda agar kulkas terisi penuh. Kalau bisa sesak. Sebelum pulang, Ayah menelepon Abang, menanyakan kabar, kapan pulang dan lain sebagainya. Seperti hendak menanti kedatangan raja terhormat. Kemudian malamnya, jika Abang sudah di rumah, Ayah pasti mengajak makan malam di luar. Ini lah kesempatanku merong-rong Ayah untuk makan di tempat makan yang enak lagi mahal! Walau hanya sate kambing Bang Maman.

Umumnya, manusia-manusia di muka bumi ini akan senang saling curhat kepada sang kakak. Kalau aku tidak. Bukan tidak senang, melainkan jarang punya kesempatan untuk bertukar cerita. Kali pertamanya aku curhat ke Abang ketika sedang galau-galaunya pasca-putus cinta. Itu pun curhat melalui inbox facebook. Sebagai Abang yang bijak, ia menenangkan dengan kalimat yang teramat mainstream, "ya udah, ntar juga ketemu cowok baru lagi. Sabar..."

Dan kali kedua curhat bareng Abang ketika si Abang bertanya perihal pendapatku tentang pacarnya (yang sekarang).
"Eh, Wa (Wawa nama panggilan unyuk-ku di rumah). Menurut lo, si (sebut saja) Maysaroh gimana?"
"Gimana apanya?"
"Ya gimana? Oke gak?" Paksa Abangku.
"Maysaroh yang temen se-genk lo kan? Kenape? Naksir ye?"
"Iye, gue abis nembak. Subuh-subuh gue ke kostan-nye hehehe"
"Heh? Gilak!" Kejutku.
"Dia drummer band gue loh..."
"Whaaatt?!?! Drummer?????? Setuju lah gue lo sama dia! Lanjutkan!" 

Woah, pacar abangku seorang drummer. Setidaknya bisa main drum --cita-citaku dulu yang belum sempat terealisasi. Ya, aku memimpikan kelak bisa main drum. Setaraf Gilang Ramadhan gak apalah. Ketika kutahu Kak Maysaroh bisa main drum, wah, kenapa harus tak diberi restu? Jadi rindu bisa curhat-curhat lagi bareng Abang. How many moments we've missed, Bang? So much, I guess.
Aku, Abang dan Si Bungsu

Aku dan Abang jarang sekali berlaku mesra. Hangat pelukan dan manis kecupan hanya berlaku ketika Idul Fitri, Idul Adha dan hari-hari besar seperti kemarin, hari ketika ia disumpah menjadi seorang dokter hewan. Menurutku, mesra bagi kami adalah ketika Abang keluar kamar menuju kulkas dan melewatiku yang sedang duduk di meja makan lalu dengan santainya Abang menunggingkan pantatnya sedikit ke arah wajahku dan ia semburkan gas beracun dengan irama yang tidak begitu indah, "brooottotototototot!!!" Sambil berlalu ia hanya tertawa geli. Aku sebagai makhluk yang di-dzalimi langsung menendang atau menonjok pantatnya yang semok itu.
"Bangkek!!!"

Atau saling ejek. Umumnya fisik. Abangku lidahnya tajam. Sumpah. Perih loh, kalau dia sudah mulai berkicau. Anehnya, aku tidak pernah merasa tersinggung apalagi marah. Ya memang sudah modelnya begitu.

Ada lagi momen mesra antara aku dan abangku. Sebab Abang indekos di Bogor cukup lama, ia tak jarang ketinggalan tren anak Jakarta. Mulai dari tren berbicara, acara TV dan mall-mall baru yang menyesakkan tanah Jakarta. Yang paling sering ketika adikku membawa kosa kata baru ke dalam rumah. Hanya dia lah yang tak mengerti arti kata tersebut.
"Ah, cibob dah luh, Bang..." ejek si bungsu.
"Apaan Wa, cibob?" Tanya Abang.
"Yeaaaaaahh, tuh kan, elo yang cibob!!!" Seketika aku dan si bungsu kompakan.
Setelah Abang paham tentang arti kata itu, tak henti-hentinya ia menyebut-nyebut 'cibob' dengan tanpa alasan.
"Wahahahahaha lo cibob bego, Dek... Elu juga Wa. Cibob lu cibob!!!" Abangku mulai gila.

Abangku ganteng, kalau kurus. Abangku ganteng, walau gelap. Abangku pintar. Iya memang. Abangku gila, koplak, fudul, konyol, gembel, jorok, tapi aku sayang. Satu hal; Abang tak pernah lagi membentak bahkan mencekikku seperti dulu. Abangku penyayang. Abang juga tak pernah melarangku dekat dengan laki-laki yang sebenarnya tak ia restui. Abang tak pernah ikut campur urusan pribadiku, apalagi menghasut Bunda untuk lebih pro ke dirinya daripada aku. Semoga Abang selalu begitu.

Berkembanglah, Bang. Semoga apa yang kau cita-citakan benar-benar menjadi kenyataan. Semoga kau selalu menjadi Abang yang kubangga-banggakan. Semoga kita takkan pernah bercerai-berai. Selamat menjadi drh. Cholillurrahman. I love you.

drh. Cholillurrahman


"Your brother is your first male friend in life. No one will ever understand your craziness like your brother. If you don't get together or talk as much as you'd like, he always remains your friend. While people come and go in your life, your brother will always be in your heart for a lifetime."

Komentar

  1. mesra sekali ya kalian hehe... salam buat abang nya :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

UNIVERSALISME VS PARTIKULARISME

Menurut survei yang dilakukan oleh Political & Economic Risk Consultancy yang berbasis di Hongkong, Indonesia adalah negara paling korup dari 16 negara di kawasan Asia Pasifik. (Kompas, 2012) Fakta yang mengkhawatirkan. Dengan indeks persepsi korupsi sebesar 1.9 dari angka terbesar 10, Indonesia dianggap sejajar dengan negara-negara baru yang sampai hari ini masih dililit masalah peperangan di mata internasional. kerugian akibat korupsi sama dengan dampak perang, bahkan bisa jadi lebih. Tentu Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN)  bukan istilah yang asing lagi di negeri ini. Menjelang jatuhnya Soeharto, KKN ramai disinggung dan dibicarakan. Pada masa reformasi, KKN semakin sering dibicarakan untuk diperangi demi pemerintahan yang bersih (good governance).

Operasi Geraham Bungsu (Impaksi)

Tulisan ini kubuat atas dasar pemikiran kawanku, Pandu Ashari, yang mengusulkan untuk dikenang dalam blog. Sungguh, ia sangat mencerahkan. Lumayan, menambah warna tulisan di blog ini, tak selalu kelabu (read: galau).
*********
Aku terlahir sebagai anak yang malas menggosok gigi. Biya kecil, dulu, kalau makan selalu diemut dan lama. Konon, nasi-nasi atau makanan yang ada di dalam mulutku bisa sampai kubawa tidur saking lamanya mengunyah. Belum lagi ketergantunganku dengan minum susu di botol sambil tidur belum hilang sampai kelas 2 SD. Parah. Jangan tiru adegan itu ya. (Kalau punya sepupu, keponakan atau anak, cegahlah mereka.)

Ngurus STNK di SAMS(SUCK)AT

Jadi gini, pada hari Selasa, 5 Februari 2013, gue pergi bersama abang sepupu ke kantor SAMSAT di deket SCBD, Semanggi, buat ngurus STNK abang kandung yang hilang beserta dompet dan isinya. Dari latar belakang itulah lahir pengetahuan dan pengalaman gue ngurus keribetan birokrasi negeri ini dan sogok-menyogok depan mata.

Pertama-tama, pastikan dulu motor lo itu wilayah mana. Bisa dilihat dari tiga huruf di belakang plat nomer. Kalau huruf depannya T, berarti segala administrasi, berkas, data dan lain-lainnya ada di SAMSAT Jakarta Timur (T). Kalau B ya barat, S ya Selatan dan seterusnya. Contohnya motor gue B XXXX TPS, nah, udah pasti di timur lah ya.