Langsung ke konten utama

Surat untuk Laras

Dear Ni Wayan Desi Larasani,




Lama betul kau pergi, Ras... Sudah benar-benar betahkah kau di sana? Tega sekali kau tinggalkanku di sini. Meninggalkan jejak-jejak kenangan dan sebongkah rindu. Ras, beruntunglah kau di sana. Tak perlu kau susah-susah menjalani hidup. Takkan kenal kau dengan kata galau, benci, iri, pengorbanan yang terlalu panjang. Oh, maaf, kau memang dari dulu tak pernah tampak memiliki sifat-sifat itu. Terpujilah kamu.

Ras, tentu kau tahu maksud dari kedatangan surat ini. Tentu kau bisa menerka apa yang ada dibalik untaian kata-kataku. Pula, jika memang kau dapat melihatku dari sana, kau mungkin takkan biarkan aku sibuk menyapukan air mata sambil mengetik ini. Larasku, aku rindu. Berapa milyar sudah sering kukatakan ini, Ras? Bosankah kau mendengarnya? Aku tidak.

Tiga tahun. Sudah tiga tahun kau pergi. Mungkin lebih. Banyak sekali yang ingin kubagi dan kuceritakan denganmu. Andai kau masih ada, Ras. Dirimulah orang pertama yang akan kucari ketika hati ini sedang tak menentu. Dirimulah yang akan kupanggil saat tubuh ini membutuhkan sandaran. Dirimulah yang akan selalu kuajak untuk menghabiskan upah gajiku mengajar. Andai kau masih ada, Ras. Mungkin takkan ada air mata di setiap saatku mengenangmu.

Kau tahu, Ras... Aku sedang tertatih-tatih membenahkan diriku saat ini. Setelah badai menerpa. Ia menghantam jiwaku. Hingga luluh lantak. Aku tidak cukup pandai membuatnya seperti semula dengan hitungan detik. Tidak juga dalam menit, ataupun jam. Bisa berhari-hari, berbulan-bulan bahkan tahunan. Aku payah. Aku pun merasa tidak memiliki lagi kepercayaan diri untuk membangun ulang semua. Istilahnya, aku kehausan. Aku sudah minum, malah sudah banyak sekali kutenggak air, tapi tetap, aku masih merasa kehausan. Mungkin aku yang tak ingin berhenti minum atau aku yang tak pernah puas dengan apa yang sudah kuminum. Di sinilah masalahnya. Hanya saja aku tak tahu solusinya. Belum ada satu pun yang membuatku tenang, Ras.

Kurasakan diri ini bukanlah diriku. Aku tak pernah merasa sepayah ini. Aku tak pernah selemah ini. Aku kehilangan banyak energi. Aku sedang kacau. Bisakah kau rasakan? Buruk sekali, bukan? Aku terlalu sibuk membuat benteng pertahanan yang teramat kokoh agar aku jauh dari rasa kecewa. Namun aku salah. Ras, aku butuh kedamaian untuk jiwaku demi mengembalikan diriku yang dulu. Ras, aku butuh kamu. I need a big hug --super-duper-mega-big hug.

Ras, aku takkan pernah berhenti menulis tentangmu dan untukmu. Jangan pernah bosan ya, duhai sahabat yang selalu kurindukan. Sampaikan salamku untuk dewa-dewa yang mendampingimu di sana. Ucapkan terima kasih untuknya karena telah mengizinkanku mengenalmu. Damailah di surga.




Dari karibmu,
Rara yang sekarang anak marching band ;)

Komentar

Pos populer dari blog ini

UNIVERSALISME VS PARTIKULARISME

Menurut survei yang dilakukan oleh Political & Economic Risk Consultancy yang berbasis di Hongkong, Indonesia adalah negara paling korup dari 16 negara di kawasan Asia Pasifik. (Kompas, 2012) Fakta yang mengkhawatirkan. Dengan indeks persepsi korupsi sebesar 1.9 dari angka terbesar 10, Indonesia dianggap sejajar dengan negara-negara baru yang sampai hari ini masih dililit masalah peperangan di mata internasional. kerugian akibat korupsi sama dengan dampak perang, bahkan bisa jadi lebih. Tentu Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN)  bukan istilah yang asing lagi di negeri ini. Menjelang jatuhnya Soeharto, KKN ramai disinggung dan dibicarakan. Pada masa reformasi, KKN semakin sering dibicarakan untuk diperangi demi pemerintahan yang bersih (good governance).

Operasi Geraham Bungsu (Impaksi)

Tulisan ini kubuat atas dasar pemikiran kawanku, Pandu Ashari, yang mengusulkan untuk dikenang dalam blog. Sungguh, ia sangat mencerahkan. Lumayan, menambah warna tulisan di blog ini, tak selalu kelabu (read: galau).
*********
Aku terlahir sebagai anak yang malas menggosok gigi. Biya kecil, dulu, kalau makan selalu diemut dan lama. Konon, nasi-nasi atau makanan yang ada di dalam mulutku bisa sampai kubawa tidur saking lamanya mengunyah. Belum lagi ketergantunganku dengan minum susu di botol sambil tidur belum hilang sampai kelas 2 SD. Parah. Jangan tiru adegan itu ya. (Kalau punya sepupu, keponakan atau anak, cegahlah mereka.)

Ngurus STNK di SAMS(SUCK)AT

Jadi gini, pada hari Selasa, 5 Februari 2013, gue pergi bersama abang sepupu ke kantor SAMSAT di deket SCBD, Semanggi, buat ngurus STNK abang kandung yang hilang beserta dompet dan isinya. Dari latar belakang itulah lahir pengetahuan dan pengalaman gue ngurus keribetan birokrasi negeri ini dan sogok-menyogok depan mata.

Pertama-tama, pastikan dulu motor lo itu wilayah mana. Bisa dilihat dari tiga huruf di belakang plat nomer. Kalau huruf depannya T, berarti segala administrasi, berkas, data dan lain-lainnya ada di SAMSAT Jakarta Timur (T). Kalau B ya barat, S ya Selatan dan seterusnya. Contohnya motor gue B XXXX TPS, nah, udah pasti di timur lah ya.