Langsung ke konten utama

XXI

Hell-oh 21!!!

Memasuki usia baru aku semakin merasa tua. Makin malu kalau di rumah harus diteriakkan bunda untuk sembahyang. Makin malu kalau membuat kesalahan yang berdampak air mata bunda bercucuran. Makin malu juga jika aku masih saja hobi ngambek ketika keinginan tak sepenuhnya terpenuhi. Ah, usiaku bertambah satu. Dua puluh satu.




Menjelang hari ulang tahunku, beberapa hal yang terjadi yang tak henti-hentinya membuatku haru dan pilu. Bayangkan, selama satu minggu aku dihantui bayang-bayang kematian. Aku mengilustrasikan bagaimana jika aku mati muda. Atau bagaimana jika aku ditinggal mati Bunda? Ayah, bahkan Bana... Bayang-bayang itu bahkan acap kali merasuki tidur nyenyakku. Lalu kutemukan tetesan air di pipi ketika kuterbangun.

Ditambah dengan musibah-musibah datang bak mata rantai, bersambungan. Minggu lalu, aku hampir saja tewas gara-gara supir angkot ugal-ugalan di jalan. Aku rasa ia sedang kerasukan. Ia tancap gas secara mendadak dan melaju super cepat. Aku terpental-pental selama perjalanan. Kupengang sisi jendela dan pinggir kursi dengan eratnya. Ketika rem diinjak, aku terpental dari kursi belakang hingga tepat di pembatas kursi supir dan penumpang! Dadaku menubruk batas kursi. Posisiku jatuh dari bangku dan hampir nyusruk ke bagian paling depan mobil. Untung tidak sampai keluar pintu. Ingin kutempeleng rasanya! Tiap tancapan gas atau bahkan injakkan rem sang supir, otomatis kurapatkan mulut dan mataku. Dalam hati aku bertasbih tak lupa juga meneriakkan kata-kata kotor dalam hening. Setelah sampai di Kebayoran, aku turun dan langsung melemparkan uang dua ribu rupiah!

"Woy, mbak! Kurang nih! Kurang banyak!!!" Teriak supir setan.
"Bodo! Gue jatoh! Lo ngebut!!! Siapa suruh!?!?"
"Anjing kau!!!"
"Elo setan, bangsat!!!"
Lalu aku kabur.

Belum lagi demam akibat cuaca akhir-akhir ini. Aku termasuk orang yang sangat tidak rentan terhadap penyakit. Sekali sakit, aku pasti akan sangat tersiksa. Tiap malam ketika hendak tidur, aku diserang demam. Dingin sekali. Kukuat-kuatkan tubuhku. Dan selama malam-malam beku kemarin, aku tidak pernah berselimut tebal. Ternyata efeknya makin parah. Kepalaku sakit tak karuan. Tubuhku menggigil. Dadaku nyeri. Detak jantungku terasa lebih cepat. Aku menangis terisak-isak. Kataku, sebentar lagi aku mati, sebentar lagi mati.

Mungkin sebab tangisku yang kuat atau suara napasku yang dalam, Bunda mengetahuinya. Dengan sigap Bundaku masuk ke kamar. Ia balurkan minyak angin sambil dipijit-pijit kepala dan jari-jari kakiku. Mulut Bundaku komat-kamit membaca mantra. Esoknya aku dibuatkan ramuan, cairan hijau rebusan dari dedaunan yang tak kukenal. Aku menguat di pagi hari hingga sore. Malamnya aku kumat lagi. Hal itu terjadi selama 4 hari berturut-turut pasca tragedi Supir Setan.

Beberapa hari belakang ini juga aku serasa ditempa. Deadline proposal skripsiku yang memaksaku untuk wisata pustaka ke pelbagai perpustakaan, events di tempatku mengajar yang mendesakku untuk menjadi pendidik yang lebih kreatif, dan sekian persoalan pribadi yang tak jarang membuat hatiku gelisah. Lagi-lagi hanya tangislah yang bisa kuperbuat. Ternyata aku cukup tegang meghadapi semua itu. Aku stress. Kupikir, aku bagai mutiara yang sedang digosok agar bersinar pada waktunya. Ya kuharap di hari ini, hari ulang tahunku.

Tentang harapan dan doaku, ah, sudah bosan rasanya kusebut-sebut. Biarlah jadi renunganku saja agar tidak berkesan omdo atau apalah kata mereka.

Kau tahu tidak hadiah apa yang sangat kudambakan saat ini? Aku ingin dalam satu hari saja aku mendapatkan bonus waktu. Biasanya dalam sehari ada 24 jam, aku ingin bonus 5 jam saja, total 29 jam sehari. Tiga puluh juga oke. Pembulatan.

Akan kugunakan waktu itu untuk melakukan hal yang sempat terlupakan akhir-akhir ini. Aku ingin makan malam dengan keluargaku, tak perlu di tempat mewah dan mahal, cukup saung yang di bawahnya terdapat ikan-ikan berlarian pada kolamnya, kemudian di sisi atap terdapat beberapa obor yang menerangi dan kami saling berbagi canda dan tawa. Dipayungi langit malam dan bertaburan bintang-bintang kami menghabiskan menu ikan bakar, lalap dan sambal dengan semangatnya, pasti akan kututup dengan senyum malamku itu.

Aku juga ingin bertamasya di suatu kebun yang rata dengan hijaunya rumput serta rimbunnya pepohonan. Ketika kurebahkan tubuhku di atas tikar, aku dapat melihat kupu-kupu dan burung-burung saling berkejaran. Aroma bunga-bunga merasuki hidung dan membuatku rileks. Jingganya sinar matahari yang sangat kurindukan dapat menembus dengan hangat ke dalam pori-pori kulit tubuhku. Tak lupa sekeranjang bekal kubawa untuk makan bersama setelah lelah berlarian di padang rumput berdua, mesra. Ya, dengan siapapun yang menenangkan dan menyenangkanku. Kau pasti tahu siapa dia.

Lima jam saja tambahan waktu untukku. Aku pasti akan menjadi perempuan paling bahagia sejagat Palmerah. Hanya itu hadiah yang sangat kuimpikan--quality time. Aku butuh hiburan.

Selamat ulang tahun Biya. Life gets hard when you grow up. Be tough, babe!!!
Semoga sehat jiwa dan ragamu! Berpikniklah!

Komentar

  1. Selamat ulang taun biyaaaaaakkkkkkkkkk.....
    Semoga makin kreatip, makin sukses makin berkah usianya...
    Maap yak telat muehehehehe....

    BalasHapus
    Balasan
    1. kak widiiiii.. baru bacaaaaaaa... aaaaakkkkk!!!
      makasiyah kakakkuuuu :*

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

UNIVERSALISME VS PARTIKULARISME

Menurut survei yang dilakukan oleh Political & Economic Risk Consultancy yang berbasis di Hongkong, Indonesia adalah negara paling korup dari 16 negara di kawasan Asia Pasifik. (Kompas, 2012) Fakta yang mengkhawatirkan. Dengan indeks persepsi korupsi sebesar 1.9 dari angka terbesar 10, Indonesia dianggap sejajar dengan negara-negara baru yang sampai hari ini masih dililit masalah peperangan di mata internasional. kerugian akibat korupsi sama dengan dampak perang, bahkan bisa jadi lebih. Tentu Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN)  bukan istilah yang asing lagi di negeri ini. Menjelang jatuhnya Soeharto, KKN ramai disinggung dan dibicarakan. Pada masa reformasi, KKN semakin sering dibicarakan untuk diperangi demi pemerintahan yang bersih (good governance).

Operasi Geraham Bungsu (Impaksi)

Tulisan ini kubuat atas dasar pemikiran kawanku, Pandu Ashari, yang mengusulkan untuk dikenang dalam blog. Sungguh, ia sangat mencerahkan. Lumayan, menambah warna tulisan di blog ini, tak selalu kelabu (read: galau).
*********
Aku terlahir sebagai anak yang malas menggosok gigi. Biya kecil, dulu, kalau makan selalu diemut dan lama. Konon, nasi-nasi atau makanan yang ada di dalam mulutku bisa sampai kubawa tidur saking lamanya mengunyah. Belum lagi ketergantunganku dengan minum susu di botol sambil tidur belum hilang sampai kelas 2 SD. Parah. Jangan tiru adegan itu ya. (Kalau punya sepupu, keponakan atau anak, cegahlah mereka.)

Ngurus STNK di SAMS(SUCK)AT

Jadi gini, pada hari Selasa, 5 Februari 2013, gue pergi bersama abang sepupu ke kantor SAMSAT di deket SCBD, Semanggi, buat ngurus STNK abang kandung yang hilang beserta dompet dan isinya. Dari latar belakang itulah lahir pengetahuan dan pengalaman gue ngurus keribetan birokrasi negeri ini dan sogok-menyogok depan mata.

Pertama-tama, pastikan dulu motor lo itu wilayah mana. Bisa dilihat dari tiga huruf di belakang plat nomer. Kalau huruf depannya T, berarti segala administrasi, berkas, data dan lain-lainnya ada di SAMSAT Jakarta Timur (T). Kalau B ya barat, S ya Selatan dan seterusnya. Contohnya motor gue B XXXX TPS, nah, udah pasti di timur lah ya.