Langsung ke konten utama

GARA-GARA DJOKO SUSILO

Siapa yang tak kenal Bos Djoko Susilo? Kalau kalian belum mengenalnya, kalian bukanlah rider sejati! Kalian tidak anti selip!!! Malas mengulas, sila klik tinta biru ini.


So, sekarang sudah kenal tho, sopo si Bos Djoko?


Oke, tulisan ini akan saya mulai dengan bacaan basmalah, bismillahirrohmannirrohiim...
Lalu saya akan bertanya kepada kalian, apakah kalian sudah pernah menyicipi masuk ke markas Korlantas POLRI untuk membuat SIM? Apakah kalian menggunakan jasa calo? Atau kalian tergolong orang-orang mukmin yang rela datang berkali-kali tanpa sogok sana-sini demi mendapatkan lisensi menyetir? Atau bahkan kalian pernah mencoba membuat SIM dengan alat simulator nan megah itu? Sungguh luar biasa!

Bagi kawan setanah air Indonesia yang menggunakan jasa calo, bagaimana pengalaman anda? Gampang ya? Hanya butuh waktu 5 menit, bayar 600 ribu, masuk ruang foto, keluar, lalu, TADA!!! SIM-nya sudah jadi. Kilat sekali. Saya curiga, calo kalian menggunakan jin iprit untuk menyulap uang 600 ribu menjadi sebuah kartu SIM. Subhanallah.

Kemudian bagaimana dengan para golongan mukmin? Datang dari bedug subuh, antre panjang, isi formulir, bayar 100 ribu, (belum lagi bayar foto kopian KTP yang mahalnya alaihum gambreng, 5000/lembar) ikut tes tertulis, jawabnya pakai otak, mikir, susah, bingung dan gak lolos. Diminta datang lagi dua minggu ke depan, antre lagi, isi formulir lagi, bayar lagi, ikut tes tertulis lagi, mikir lagi, susah lagi, gak lolos lagi sampai tes tertulis ketiga kalinya lolos! Horeeeeee!!! Tapi penderitaannya belum selesai. Setelah lolos tes tertulis, ikut tes nyetir (tentu dengan serangkaian antre yang seperti ular naga panjangnya bukan kepalang), diberi arahan oleh bos-bos polisi yang minta diberi ucapan 'terima kasih', kalau refleks menurunkan kaki kanan, kalian dianggap gagal, lalu diminta kembali dua minggu lagi dan seterusnya dan seterusnya hingga kalian ditawarkan, "piye, kok ndak lulus-lulus? Wis lah, sing cepet wae yo? Gelem ora?" Lalu setelah perjuangan nan panjang, akhirnya kalian menyerah dengan memberikan 300 ribu (misalnya) kepada si Pak Bos. Hvt ngedtz.

Lalu, bagaimana dengan saya? Tidakkah kalian penasaran dengan apa yang saya alami selama membuat SIM sejak Bos Djoko tertangkap? Well, rencana untuk membuat SIM C sudah jauh-jauh hari saya dan Bunda susun. Namun selalu gagal, sebab Om Calo selalu sibuk dan sekalinya luang, saya yang padat. Ya sudah, mari bersabar. Pada akhirnya, Ayah berjodoh dengan 'orang dalam' markas dibilangan Daan Mogot itu. Sebut saja Gempal. Ia bekerja di Ditlantas POLDA Metro Jaya, Daan Mogot, Jakarta Barat. Entah apa jabatannya, saya percayakan uang 700 ribu rupiah kepadanya untuk mengurus SIM C. Begitu pula dengan sepupu-sepupu dan keponakan-keponakan lain yang juga turut memanfaatkannya. Total rombongan kami ada 3 orang SIM C dan 2 orang SIM A. Harganya berbeda. Hitunglah sendiri berapa jumlah uangnya. 

Seperti yang saya katakan tentang penggunaan jasa calo di atas, tentu berdasarkan pengalaman teman-teman, umumnya kami hanya menghabiskan waktu 5-15 menit untuk memiliki kartu sakti itu. Saya dari rumah sudah tak sabar. Wah, hanya 5 menit pikir saya. Tentu akan berbeda dengan pengalaman mengurus SIM dan STNK yang hilang yang pernah saya ceritakan; lama dan melelahkan. Dari rumah, saya sudah menyiapkan dress code macam apa yang akan membuat saya terlihat kece di kartu sakti itu. Wajah sudah dipoles sedemikian cantiknya, bibir sudah saya taburkan gincu sedemikian aduhainya, lalu kami berangkat.

Sesampainya di sana, ternyata mencari Bos Gempal agak sulit. Ia sibuk sekali. Mungkin banyak pasien yang harus diladeni. Jadilah kami menunggu, kurang lebih 20 menit. Yak! Harusnya dalam waktu sekian, kartu itu sudah jadi jika mengacu pada pengalaman kawan-kawan yang lain. Setelah bertemu, Bos Gempal meminta kami menunggu lagi, "duduk di depan bank BRI aja. Nanti saya panggil, baru kita masuk."

Selama menunggu, bahkan selama perjalanan menuju Daan Mogot, saya sudah bertanya-tanya, "kita cuma foto doang kan? Gak pake tes apa-apa?"
"Iya enggak kok. Cuma sebentar." Ayah menjawab.

Setelah 10 menit, Bos gempal tiba. Ia langsung memanggil nama-nama yang tertera di KTP yang ia genggam. Lalu mempersilahkan kami masuk melalui pintu masuk orang-orang pada umumnya. Di sana, dua bos-bos ber-ban lengan bertuliskan PROVOS bertanya, "siapa aja ini?"

"Tamu saya. Berenam" Jawab Bos Gempal. Kami berjalan mengikutinya di belakang.
"Hush, hush! Jangan dekat-dekat! Jaga jarak semua ya jalannya!" Bisik Bos Gempal setengah membentak. Kami manut. Lagi, kami menunggu di depan loket. Lagi, Bos Gempal muncul dan mengajak ke ruang tes tertulis. Saya mulai heran, kok ikut tes tertulis??? Keheranan saya memudar ketika Bos Gempal celoteh agar mengisinya cepat dan langsung turun ke tengah lapangan. 

Beruntunglah sepupu saya yang dulunya kaum mukmin juga turut ikut membuat SIM. Dahulu ia golongan mukmin garis keras saat membuat SIM C, kini setelah ia muak dengan permainan bos-bos itu, berkhianatlah ia. Dari dialah saya tahu lapangan tengah itu apa; lapangan untuk test mengendarai motor, mobil, mini bus dan truk! WHAT???? KITA TES NYETIR JUGA?!?!?!?!? Ampun beribu jendil, lamanya bukan main. Bos Gempal tak menunjukkan batang hidungnya. Saya makin lelah. Panas. gerah, asap rokok di mana-mana. kursi tak ada, uh, buat apa saya bayar 700 ribu kalau capek juga! Mana yang katanya 5 menit langsung jadi, mana!

Mungkin ada 30 menit saya menunggu panggilan untuk test nyetir. Tak lama, secercah harapan datang juga.

"Robiatul Adawiyah! Mba, langsung ke lapangan ya tes nyetir motor paling pinggir sini." Saya ambil berkas, menuju lapangan yang sudah dijaga bos-bos keling. Mereka jaga berdua. Keduanya sok asik. Keduanya sok lucu dan keduanya gak ramah! Cih! 

Mulanya Bos 1 mengumpulkan berkas-berkas kami. Lalu kami dipanggil, briefing, panjang kali lebar. Bos 1 bilang bahwa ketentuannya banyak. Tes nya banyak, ada 6 macam (kalau tidak salah), tapi beliau hanya meminta kami memeragakan satu tes saja. Saat itu, peserta perempuan lebih banyak jumlahnya. Kami dipisahkan. Saya makin muak ketika ada satu peserta wanita merengek kepada Bos 1 kalau ia tidak bisa mengoperasikan motor gigi, hanya matic yang ia bisa. Usut punya usut, ternyata ia dikomandokan oleh Om Calonya, "bilang aja kamu gak bisa pake motor gigi ya. Bilang gitu aja. Melas-melas. Bakal lolos kok." Walah, bajingan. Gak kalah brengseknya dengan si Bos, ternyata. Sialan.

Nama-nama kami dipanggil (kaum hawa), saya ditanya, lebih tepatnya memastikan jika saya dapat mengendarai motor gigi. Oh, ya tentu bisa! Saya tak mau sama brengseknya dengan gadis cengeng dan Bos brengsek ini. 

"Jadi saya bisa mulai nih, Pak?" tanya saya yang sedikit terdengar menantang. Bos 1 hanya sibuk mencorat-coret berkas dengan acuhnya.
"Nih, Robiatul. Udah, saya percaya kamu bisa. Terima kasih ya..."
"Udah? Wih, makasih juga Pak..." senyum saya mengembang. Hehehehe cuma begitu? Dalam hati saya kegirangan. Sambil mengambil berkas di tangan Bos 1, saya senyam-senyum cengengesan. Lalu ketika saya berbalik badan dan hendak meninggalkan tempat, si Bos ngedumel, "harusnya saya yang diterimakasihin!!!" Saya berpaling sebentar, menatap sinis Bos Keling tak ramah itu. Cih! Ngarep diselipin cebanan? Gak sudi!

Kelima dari kami telah selesai. Lagi-lagi ada kesalahan. Berkas sepupu saya ternyata belum rampung. Harus kembali lagi ke atas, ke ruang tes tertulis berada. Uh, apa lagi ini! Lagi, kami menunggu dan menunggu. Setelah selesai, kami diantar Bos Gempal ke loket foto. Sebelumnya ada bersitegang antara saya, sepupu saya yang mantan golongan mukmin dan si Bos Gempal.

"Kemana aja, Pak? Ini kita udah masukkin ke loket 12 kok disuruh naik lagi ke atas. Annisa dan Abdurrahman."
"Oh, iya iya. Ikutin aja. Sudah beres tho, semua? Ayo kita foto." Ajak si Bos. Bangsat, enak aja dia main hayok-hayok! Gak tahu apa ya, kalau kita tuh udah 'panas'!

FYI, di sana loket fotonya terpisah; laki-laki dan perempuan berbeda dan perlu diingat, kita harus antre! Berdiri berbaris! berkat Bos Gempal lah kami tidak perlu melakukan itu. Ia berjalan cepat memutar setengah gedung. Kami diajak melewati lorong sambil sedikit berlari, lalu tiba-tiba ia menoleh ke belakang, ke arah saya dan berkata, "ada goceng?"
Cepat-cepat saya menoleh ke belakang lagi dan menanyakan yang Bos Gempal tanya, "ada goceng, kak?"
Sepupu yang berada di belakang saya melakukan hal yang sama juga, "ada goceng?" akhirnya goceng itu berlabuh di tangan si Bos. Ia masuk ke ruang loket foto melalui pintu belakang, mengejar si tukang foto dan menyelipkan gocengan itu, "tolong nih, lima doang. Buru-buru." kata Bos kepada juru foto.

"Oke, mbak, mas, lari ke pintu depan! Masuk dari pintu depan! Sekarang!" Seru Bos Gempal.

Kami berlima spontan mengikuti instruksi Bos. Kasihan kakak sepupu saya yang sedang hamil tua. Napasnya terputus-putus. Larinya terseok-seok. Saya raih tangannya dan saya bopong. Di depan loket foto saya lihat sekerumunan arjuna berebut masuk. Ada yang saling dorong, saling tarik, saling teriak, wah, riweh! Saya dan sepupu-sepupu tak kalah hebohnya. Ibu hamil yang saya bopong ternyata galak juga, ia seruduk semua arjuna tanpa ampun!

"Hoi, mba! Ini tempat laki-laki! Main masuk aja!" Teriak seorang arjuna.
"Ah, diem lo! Gue hamil nih!"
"Gue udah bayar goceng juga! Ape lo!" tambah saya.

Fiuh! Akhirnya aman. Di ruangan yang tak terlalu besar itu, saya dan ibu hamil lah dua-duanya makhluk paling cantik. Si juru foto memanggil nama satu per satu. Ia cukup lucu. Ia mempersilahkan seorang bapak untuk berdandan merapihkan pakaiannya sebelum "cekreeeeek!"

"Pak, mau nyisir dulu?"
"Hahahahahaha! Asu!!!" meledak tawa semua orang di dalam ruangan. Wong bapaknya botak! Gundul! Mau nyisir opo?

Terdengarlah nama saya dipanggil. Ibu jari sudah saya tempel di alat scanner, tanda tangan pula sudah rapih, saya siap duduk dan tersenyum. Namun, si juru foto menyela.

"Mbak, coba dieja nomor pesertanya. Nah, bisa baca kan? Ke loket 12 dulu ya. Datanya belum masuk. Tuh, liat!"

WHAT??? Saya dinyatakn tidak lulus tes tertulis?????? Permainan macam apa lagi ini! Buru-buru saya ambil berkasnya, saya lari menuju loket yang disarankan. Sepupu-sepupu semua menatap penuh keheranan. Di loket 12 saya tembus kerumunan orang-orang yang menunggu panggilan.

"Pak! Apa lagi ini? Saya disuruh balik lagi ke sini! Saya tinggal foto!!!" saya gebrak meja sambil menempelkan berkas yang tadi dinyatakan ditolak. Sejenak panggilan peserta-peserta yang akan menuju tahap selanjutnya berhenti.
"Iya, mbak, sabar ya, mbak. Tunggu dulu ya mbak..." Bapak itu kembali memanggil beberapa nama. Lalu terdengar lagi nama saya. Dengan sigap, saya langsung ke loket foto yang penuh dengan para arjuna. Saya mengintip dari pintu belakang dan juru foto memberi izin untuk masuk dan langsung duduk. Ia membacakan semua biodata dengan cepat dan saya mengangguk.

"Oke, silahkan duduk, mbak. Senyum ya. Kamu paling cantik loh di sini. Satu, dua, ti... Cekrek!"

Masuklah kami di gerbang tahap akhir. Yeay! Akhirnya punya SIM! Makin aman dan makin liar di jalanan nih sepertinya. Ternyata oh, ternyata, satu dari kami kartunya terselip entah di mana. Namanya belum dipanggil juga setelah 100 nama peserta lain disebut. Oh, Gusti...Cobaan apalagi yang Kau berikan...

Ya, saya menghabiskan waktu kurang lebih 3 jam untuk sebuah kartu sakti mandraguna ini! My God! Betapa irinya saya kepada teman-teman yang sudah bayar mahal dan hanya menghabiskan waktu 5 menit! Betapa malangnya saya sudah membayar mahal dan harus berkeringat juga! Tapi tak apalah, saya jadi mengerti bagaimana susahnya mengurus pembuatan SIM. Saya makin menghargai SIM saya. BUKAN PETUGAS-PETUGAS DI SANA! BUKAN!!!

Konon, hal itu disebabkan makin diperketatnya sistem pembuatan SIM. Sejak Bos besar mereka, Djoko Susilo, terjerat kasus simulator SIM, pasukan KPK tak jarang mengadakan sidak. Para intel pun sering berkerumun di kantin-kantin. Kadang mereka berpencar, tak jarang juga berkoloni. Begitu lah yang Bunda dengar selentingan dari orang-orang selama menunggu saya. Hal itu juga lah yang membuat saya selalu tertunda mengurus pembuatan SIM ini.

Jadi, SEMUA GARA-GARA DJOKO!!!!! SEMUA GARA-GARA DJOKO!!!!!!!!



Komentar

  1. Gilak gue bacanya mengernyitkan dahi. Tulisannnya kagak kebaca ._.

    BalasHapus
    Balasan
    1. lo menyadarkan betapa gue butuh rombak template blog ini! suwuuunn...

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

UNIVERSALISME VS PARTIKULARISME

Menurut survei yang dilakukan oleh Political & Economic Risk Consultancy yang berbasis di Hongkong, Indonesia adalah negara paling korup dari 16 negara di kawasan Asia Pasifik. (Kompas, 2012) Fakta yang mengkhawatirkan. Dengan indeks persepsi korupsi sebesar 1.9 dari angka terbesar 10, Indonesia dianggap sejajar dengan negara-negara baru yang sampai hari ini masih dililit masalah peperangan di mata internasional. kerugian akibat korupsi sama dengan dampak perang, bahkan bisa jadi lebih. Tentu Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN)  bukan istilah yang asing lagi di negeri ini. Menjelang jatuhnya Soeharto, KKN ramai disinggung dan dibicarakan. Pada masa reformasi, KKN semakin sering dibicarakan untuk diperangi demi pemerintahan yang bersih (good governance).

Operasi Geraham Bungsu (Impaksi)

Tulisan ini kubuat atas dasar pemikiran kawanku, Pandu Ashari, yang mengusulkan untuk dikenang dalam blog. Sungguh, ia sangat mencerahkan. Lumayan, menambah warna tulisan di blog ini, tak selalu kelabu (read: galau).
*********
Aku terlahir sebagai anak yang malas menggosok gigi. Biya kecil, dulu, kalau makan selalu diemut dan lama. Konon, nasi-nasi atau makanan yang ada di dalam mulutku bisa sampai kubawa tidur saking lamanya mengunyah. Belum lagi ketergantunganku dengan minum susu di botol sambil tidur belum hilang sampai kelas 2 SD. Parah. Jangan tiru adegan itu ya. (Kalau punya sepupu, keponakan atau anak, cegahlah mereka.)

Ngurus STNK di SAMS(SUCK)AT

Jadi gini, pada hari Selasa, 5 Februari 2013, gue pergi bersama abang sepupu ke kantor SAMSAT di deket SCBD, Semanggi, buat ngurus STNK abang kandung yang hilang beserta dompet dan isinya. Dari latar belakang itulah lahir pengetahuan dan pengalaman gue ngurus keribetan birokrasi negeri ini dan sogok-menyogok depan mata.

Pertama-tama, pastikan dulu motor lo itu wilayah mana. Bisa dilihat dari tiga huruf di belakang plat nomer. Kalau huruf depannya T, berarti segala administrasi, berkas, data dan lain-lainnya ada di SAMSAT Jakarta Timur (T). Kalau B ya barat, S ya Selatan dan seterusnya. Contohnya motor gue B XXXX TPS, nah, udah pasti di timur lah ya.