Langsung ke konten utama

LULUS YUK!

Entah kenapa judulnya LULUS YUK!
Umm, mungkin karena aku lagi ditekan agar cepat lulus strata satuku, atau mungkin aku sedang menyemangati diri sendiri, malah bisa jadi aku memprovokasi kawan-kawan yang juga belum lulus kuliah. Yuk lulus!!!

Anyway, today is a national education day in Indonesia! Yeay! Selamat hari Pendidikan Nasional! So many hopes and wishes for our educational system, yet I cannot explain even I'm not going to talk about that. Well, lets start by reciting basmalah! Bismillah...


Di beberapa tulisan yang lalu, aku sudah pernah menyebut bahwa aku adalah mahasiswa jurusan pendidikan di suatu kampus. Sebentar ya, aku flashback how could i 'kecemplung' di dunia yang maha penting lagi maha berantakan ini.

Aku lahir di keluarga guru; ayah dan bundaku seorang guru; encing, abang (sepupu-sepupu), sepupunya bunda, keponakannya bunda juga guru; bahkan sang Baba (kakek) sengaja membangun satu yayasan sekolah dari TK hingga SMA demi menampung anak dan keturunannya mewarisi 'darah guru' yang beliau wariskan. Seperti sudah dapat membaca takdir, Baba pernah berkata, "biar dikit, asal berkah. Guru dah kerjaan yang paling baek. Semoga anak, cucu gue pade berkah ye, pade jadi guru." Amin.

Secara personal, cita-citaku saat masih kecil sangat banyak. Kadang aku ingin menjadi pramugari. Nanti, ketika aku sudah bosan dengan rambut palsu yang kubuat dari kerudung bunda menyerupai rambut panjang nan indah, aku langsung ke ruang cuci rumahku, mengambil sabun cuci, menyuci kaus kakiku sambil menggilas aku berkata, "bund, aku mau jadi pembantu ya, kan enak main air terus! Ada gelembung-gelumbung sabun juga!" Dasar Aquarian!

Tapi ternyata aku sangat dominan ketika ayah membelikan papan tulis kecil yang terdapat deret sempoa di pojok atasnya, serta kapur dan penghapus. Koleksi bonekaku tak cukup banyak memang, tapi lumayan lah jika mereka kubariskan duduk di lantai dan menghap ke arahku sambil aku mengabsen, "Ani! Masuk ya? Hadi kemana, Ani? Oh, dia sakit. Semoga cepet sembuh ya. Habis itu, Didi..." dan seterusnya dan seterusnya. Aku bahkan kerap mengomeli para boneka itu jika mereka tak bisa mengikuti instruksiku, "kamu gimana sih! Ibu guru marah nih!"

Dari sanalah mungkin penyebab aku menjadi Biya yang sekarang. Selain itu juga aku sering sekali merasa iri ketika melihat ayahku setiap tahun ajaran baru mendapatkan banyak sekali hadiah, kado, bingkisan dari para wali murid. Wah, asyik ya jadi guru itu sering dapat kado, pikirku. Itu lah salah satu alasan terkuat mengapa aku ingin menjadi guru. Dan sekarang aku sedang berjalan perlahan tentu pasti untuk mewujudkan cita-cita yang teramat mulia itu.

***

Pengalaman mengajarku masih cetek. Belum ada apa-apanya lah. Lulus aja belum! tapi aku haus akan itu. Haus terhadap apa-apa yang terkandung di dunia pendidikan; tentang peserta didik, para supporter (orang tua, kepala sekolah, staff, teman-teman dan sebagainya), sistem pendidikan kita, para pembuat sistem, metode mengajar, waaah... masih banyak lagi! Dan aku percaya, hal itu bisa didapat jika kita berani terjun langsung mendidik para adik. Untuk lebih leluasa mencari pengalaman tersebut, tentu aku harus mengantongi lisensi mengajar. Apalagi kalau bukan ijazah S.Pd.

Sangat menyayangkan memang jika semua hal harus dinilai dari selembar kertas ijazah atau sertifikat-sertifikat yang menyatakan kita sebagai ahli ini, ahli itu secara tertulis. Ya, belum tentu kemampuannya sesuai dengan yang tertera di kertas itu kan? Ini lah wajah lain pendidikan negeri kita. Selain money oriented, bangsa kita ternyata masih academic degree oriented!

"Oh, dia S2 loh! Hebat yaaa..." Bisa saja tho, S2 nya beli!

"Nak, kamu harus jadi dokter! IPK harus cumlaude! Awas aja ya kalau sampai nilainya kurang dari 3.9!"

Whaaaaatt????? Haruskah mementingkan hasil belajar? Ijazah, IPK, universitas tersohor dan lain-lain. C'mon! Buka mata laaaaahh... Iya, memang semua yang tadi kusebut itu penting, tapi tolong jangan dijadikan pedoman hidup. Aku adalah tipe orang yang teramat santai ketika belajar. Kalau semakin aku ditekan untuk berbuat satu hal,  bukan kenyamanan yang aku dapat. Aku bisa saja anjlok. Maka yang terpenting bagiku adalah menikmati proses belajar itu sendiri. Soal hasil, kuanggap sebagai cerminan betapa keras kerjaku saat proses itu berlangsung. Jadi, ketika aku mendapatkan nilaiku buruk, aku akan segera merefleksikan sendiri bahwa kemarin kerjaku kurang keras. Besok lagi jangan.

Toh banyak orang-orang sukses yang hanya bermodalkan ijazah SMA, SMP bahkan SD. TAPI PERLU DIINGAT BAHWA BANGSA KITA ADALAH BANGSA ACADEMIC DEGREE ORIENTED!!! Kalau ingin dapat pekerjaan hebat di gedung tinggi menjulang dengan mobil canggih serta ajudan-ajudan yang gagah, tentu yang akan ditanya pertama kali; pendidikan terakhirmu apa? Oh, cuma D3? Kalau hendak melamar kekasihmu, tentu calon mertua ingin mengetahui apa pekerjaanmu, sarjana apa dan di mana serta latar belakang lain yang dapat diperhitugnkan untuk menerimamu sebagai menantu. Ya tho?

Menurutku, tak akan pernah salah bahkan tak akan pernah ada kerugian dalam menuntut ilmu. Selama aku, kamu dan kawan-kawan lain mendapat kesempatan menyicipi bangku kuliah, selesaikanlah. Jika itu tak membuatmu bahagia, setidaknya kau melakukan hal yang baik demi membahagiakan orang tuamu dengan menempel pigura fotomu dengan toga yang diapit mereka di ruang tamu.

Dengan adanya lisensi S1, S2, atau bahkan S10, aku percaya, akan lebih banyak hal yang dapat kau lakukan serta akan ada ribuan peluang yang kau raih. So, lulus yuk!


Komentar

Postingan populer dari blog ini

UNIVERSALISME VS PARTIKULARISME

Menurut survei yang dilakukan oleh Political & Economic Risk Consultancy yang berbasis di Hongkong, Indonesia adalah negara paling korup dari 16 negara di kawasan Asia Pasifik. (Kompas, 2012) Fakta yang mengkhawatirkan. Dengan indeks persepsi korupsi sebesar 1.9 dari angka terbesar 10, Indonesia dianggap sejajar dengan negara-negara baru yang sampai hari ini masih dililit masalah peperangan di mata internasional. kerugian akibat korupsi sama dengan dampak perang, bahkan bisa jadi lebih. Tentu Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN)  bukan istilah yang asing lagi di negeri ini. Menjelang jatuhnya Soeharto, KKN ramai disinggung dan dibicarakan. Pada masa reformasi, KKN semakin sering dibicarakan untuk diperangi demi pemerintahan yang bersih (good governance).

Operasi Geraham Bungsu (Impaksi)

Tulisan ini kubuat atas dasar pemikiran kawanku, Pandu Ashari, yang mengusulkan untuk dikenang dalam blog. Sungguh, ia sangat mencerahkan. Lumayan, menambah warna tulisan di blog ini, tak selalu kelabu (read: galau).
*********
Aku terlahir sebagai anak yang malas menggosok gigi. Biya kecil, dulu, kalau makan selalu diemut dan lama. Konon, nasi-nasi atau makanan yang ada di dalam mulutku bisa sampai kubawa tidur saking lamanya mengunyah. Belum lagi ketergantunganku dengan minum susu di botol sambil tidur belum hilang sampai kelas 2 SD. Parah. Jangan tiru adegan itu ya. (Kalau punya sepupu, keponakan atau anak, cegahlah mereka.)

Ngurus STNK di SAMS(SUCK)AT

Jadi gini, pada hari Selasa, 5 Februari 2013, gue pergi bersama abang sepupu ke kantor SAMSAT di deket SCBD, Semanggi, buat ngurus STNK abang kandung yang hilang beserta dompet dan isinya. Dari latar belakang itulah lahir pengetahuan dan pengalaman gue ngurus keribetan birokrasi negeri ini dan sogok-menyogok depan mata.

Pertama-tama, pastikan dulu motor lo itu wilayah mana. Bisa dilihat dari tiga huruf di belakang plat nomer. Kalau huruf depannya T, berarti segala administrasi, berkas, data dan lain-lainnya ada di SAMSAT Jakarta Timur (T). Kalau B ya barat, S ya Selatan dan seterusnya. Contohnya motor gue B XXXX TPS, nah, udah pasti di timur lah ya.