Langsung ke konten utama

Kalau Cinta Jangan Pamrih

"BBRRRAAAAAAAAAAAKKK!!!!!!!!!!!"

Segala peralatan rias di atas bufet terhempas keras. Ia tersedu setelahnya. Sedu-sedan. Ia menangis sejadi-jadinya. Air mata kehitaman mengalir deras di pipi. Mascara-nya longsor, begitu pula lelehan eye-liner yang mestinya menampakkan kecantikan mata, justru terkesan menyeramkan di mata bulatnya. Polesan gincu di bibir sudah tak jelas lagi berbentuk apa. Yang tersisa hanya corengan merah di sebelah lesung pipi kirinya, di bawah lubang hidung, di dagu dan sekitar mulutnya penuh dengan lunturan lipstick.

"Who am I to you? Who am I to you?!?!?!?!?!?!?!?!?!?! YOU KNOW, IT'S LIKE YOU KILL ME SO GENTLY!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!" Si Nona Gadis kini marah dan berteriak kepada bayangan wajah menyeramkan di depan cermin. Ia marah kepada kekasihnya mungkin, atau malah terhadap dirinya sendiri.
"Kenapa kamu jadi begini? Kenapa kamu berubah? Maafin aku... Aku yang salah! Aku yang gak pengertian! Tapi jangan begini... Aku mohon... Aku cinta kamu. Sungguh! Please, don't do this to me...." Lanjutnya. Masih di depan cermin.

"Hei. Kenapa kamu?" Hati Kedua berkata.
"Dia telah melupakanku. Dia sudah tidak cinta lagi denganku. Aku payah. Aku gadis tak berguna!!!" Bentak si Nona Gadis.
"Wah, hebat kau!" Hati Kedua setengah menertawai si Nona Gadis.
"Hebat apanya? Apa maksudmu? Sudahlah, pergi saja kau! Aku tak butuh kau temani! Tak butuh!!!" Si Nona Gadis memalingkan mukanya dari cermin. Matanya menatap ke luar jendela. Sinar matahari yang menembus jendela mengalihkan perhatiannya. Betapa jingganya matahari sore itu. Andai saja ia tidak cepat-cepat pulang, mungkin sore itu akan menjadi sore yang hangat ketika ia berada di pelukkan Sang Kekasih.

"Maksudku Nona, kau hebat sekali dapat menebak dan menyimpulkan bahwa kekasihmu tak cinta lagi. Kau benar-benar gadis yang paling hebat dalam menerka perasaan kekasihmu. Apa kau punya bukti?" Hati Kedua tak tahan angkat bicara. Nona Gadis ini sangat keras kepala, maka harus dibalas lebih keras lagi, gumam sang Hati Kedua.

"Um, a... a... a... aku tak tahu. Tapi kelihatannya begitu, Hatiiiiiii... Dia berubah... Dia tak semanis dulu. Dia sudah jarang sekali mengatakan 'i love you', bahkan keluhan rinduku pun tak disambut. Dia melupakanku. Dia berubah, Hati Kedua! D I A  B E R U B A H!!!" Kali ini si Nona Gadis menundukkan kepalanya di antara lipatan kedua tangan dan lututnya. Suara tangisnya hampir tak terdengar. Hanya gerakkan bahunya yang naik-turun tak berirama yang menggambarkan bahwa sang Nona benar-benar hanyut dalam kepiluannya.

Hati Kedua tahu bahwa Nona Gadis sangat mencintai Sang Kekasih. Hati Kedua pun tahu betapa manis pasangan ini sejak mereka berkenalan. Hati Kedualah yang sangat mengerti ketika si Nona dirundung dilema untuk menerima cinta Sang Kekasih. Namun, lihatlah sekarang, si Nona benar-benar dibuatnya mabuk kepayang. Mabuk cinta. Disaat Nona memutuskan pergi (sesaat) dari Sang Kekasih, Hati Kedualah yang merayunya untuk datang kembali, Hati Kedualah yang meyakinkan bahwa tak seharusnya Nona pergi. Dan hanya Hati Kedualah yang sanggup berbicara, "kembalilah Nona, jangan bohongi aku jika kau tak cinta dia. Jangan pernah bohongi aku." Dan pergilah Nona menemui kekasihnya.

*********

Kau memanglah bukan cinta pertamaku, tapi aku sangat yakin bahwa kau cinta terakhirku. Entah apa jadinya jika aku tak dipertemukanmu. Mungkin hidupku tak akan berwarna seperti ini. Kau cintaku. Kau kasihku. Kau rajaku. Kau monsterku. Kau badutku. Kau surgaku, sayang.

"Hei. Ada kamu?" Sang Kekasih tercintanya setengah takjub.

Nona Gadis tersadar dari lamunan dan gumamannya ketika Sang Kekasih terjaga. Ia duduk bersila, menopangkan dagu persis di dekat ujung kaki Sang Kekasih. Keindahan saat itu bagi Nona adalah melihat Sang Kekasih menggeliat di atas matrasnya. Lalu Sang Kekasih bangun, mengatur posisi dan duduk tak jauh dari Nona.

"Aku kira kamu gak akan mau ketemu aku lagi. Aku kira kamu benar-benar pergi, Nona. Apa kabar kamu?" Sapa Sang Kekasih.
"Aku... Ak.. Aku... baik. Kamu?" Nona membalas singkat dan langsung menyembunyikan paras manisnya. Ia tertunduk. Malu.
"Kelihatannya gimana?" Sang Kekasih menjawab dengan suara berat khasnya. Namun, ada yang berbeda. Tak jarang ia mengelap-elap hidung mancungnya. Sesekali juga ia menjambak-jambak rambutnya (yang kini menutupi mata serta dahinya akibat berbulan-bulan tak dipangkas) dengan perlahan tetapi kuat. Bahunya digerak-gerakkan memutar ke depan dan ke belakang.
"Kamu sakit?" Akhirnya Nona menanggapi kode-kode tersebut.
"Ya. Mungkin."
"Hmmm..." Nona Gadis tak sanggup meneruskan kata.
"Hmmm..." Sang Kekasih membalas dan menunggu kalimat Nona Gadis selanjutnya.
"Hmmm... Boleh aku peluk?" Pinta Nona Gadis kikuk dan sedikit manja.

Sang Kekasih keheranan. Setan apa yang membawa Nona ke kamarnya dan meminta untuk memeluknya? Namun, Sang Kekasih tak dapat membohongi diri pula tak memungkiri bahwa ia sangat merindukan pelukan itu. Maka, diraihnya Nona dan dipeluknya erat.

Nona terharu. Juga tersedu. Ia memejamkan matanya dan merekatkan tubuhnya di pelukkan Sang kekasih. Ketahuhilah, Hati Kedua tak pernah salah. Nona benar-benar sangat mencintai Sang Kekasih.

"Maafin aku..." Lirih Nona. "Aku gak bermaksud pergi dari kamu. Aku gak akan mau pergi lagi. Aku cinta kamu. Sungguh, Kasih. Aku cinta kamu." Di pelukan Sang Kekasih, air mata Nona nyaris tak terbendung. Ia pejamkan matanya, mendekap tubuh Sang Kekasih erat. Nona Gadis sangat khidmat memeluknya. Seakan tak boleh ada yang memisahkan.

Sang Kekasih hanya membalas dengan dekapan yang lebih kencang. Ia diam. Seolah bisu.

"Aku cuma butuh waktu, saat itu. Aku gak pernah kepikiran untuk ninggalin kamu. Aku cuma mau sejenak fokus benahin diri aku sendiri... I love you. I really do." Suara Nona Gadis mulai parau.

Lagi. Sang Kekasih membisu. Tak sepatah katapun ia keluarkan. Nona tak menghiraukan. Yang sangat ia inginkan adalah memeluknya. Memeluk kekasih pujannya. Memeluk cintanya dan berharap cinta berpihak padanya.

"Nona... Maafin aku. Aku rasa semuanya sudah terlambat." Sambil melepas pelukan dengan perlahan, Sang Kekasih menjawab dengan hati-hati. Ia memegang kedua bahu Nona, menatapnya dalam-dalam, seraya memohon pengertian Nona ribuan kali. "Aku gak bisa lagi." Titik.

"Maksudmu? Terlambat bagaimana? Gak bisa apa?" Nona masih dibanjiri air mata.
"Ehhhmmm... Aku sangat berterima kasih kamu datang. Kamu akhirnya datang juga, Nona. Tapi... tapi aku gak ngerti... aku gak tahu... aku gak bisa..." Sang Kekasih mulai terbata-bata.
"Please, aku gak ngerti apa yang kamu omongin... Maksudnya apa?" Nona mulai mengontrol sesegukkannya. Ia keringkan air mata. Hatinya berdebar tak karuan. Ia berharap Hati Kedua datang. Ia berharap Hati Kedua membisikkan kata kunci agar ia tidak perlu mengkhawatirkan keadaan seperti ini.

"Nona. Maaf, aku udah gak bisa lagi cinta sama kamu. Rasanya semua telah hilang, bersama dengan kepergianmu yang lalu. Maaf Nona. Maafin aku."

Nona membeku. Menunggu Hati Kedua. Menunggu kata kunci yang akan Hati Kedua ungkapkan.

Hati Kedua tak pernah datang. Belum kering air mata, Nona mulai berkaca-kaca. Matanya basah. Bibirnya tak tertutup rapat. Nafasnya terhenti sesaat. Ia seperti ditikam tepat di hatinya. Sang Kekasih memindahkan tangannya. Sekarang ia menggenggam kedua tangan Nona, sama seperti pelukan tadi, ia menggenggam erat. Tanpa kata.

Cukup lama Nona terhenyak. Setelah stabil, mulut Nona bergerak. Menangkap-nangkap oksigen. Hidungnya tak berfungsi dengan baik. Ia bernafas melalui tenggorokkan. 

"Lalu, bagaimana dengan janji-janjimu? Tentang mimpi-mimpi kita? Yang kau sebut komitmen, sudah lenyapkah mereka?" Nona menemukan kata.

Sang Kekasih mengangkat bahu dan menggeleng. Mencerminkan bahwa ia benar-benar tak ada ide untuk menjawab dan membahas tagihan Nona.

"Sudah tak ada sedikitkah aku di hatimu?" Nona menambahi.
"Sudah benar-benar sirnakah cintamu?" Lagi. Nona menambah.
"Beginikah caramu membalas kepergianku, Kasih?" Masih kurang. Nona menambah.
"Aku datang ke sini karena cinta. Kubawakan kembali cintaku, Kasih. Inikah balasan yang kudapat?" Tak puas, Nona menambah lagi.
"Tak ingatkah kamu? Tak ingat lagi mengapa kau dahulu pernah memohon aku untuk mencintaimu? Tak ingatkah kamu dahulu betapa berjuangnya aku memercayaimu kembali? Sudah tak ingat????" Nona tak akan pernah puas.

"Nona!!!!! Stop!!!!!! Aku ingat semuanya!!! Aku ingat!!! Aku hanya... Aku hanya..."
"Hanya apa????? Hanya apa?!?!?!?! Ayo teruskan!!!"

Keduanya kini hening. Nona Gadis menanti kalimat yang digantung Sang Kekasih sejak tadi.

"Oh... Baiklah. Mungkin aku lebih baik pergi." Nona mencoba melepaskan genggaman Sang Kekasih. Apa daya ia tak cukup bertenaga.

"Jadi kamu mau pergi lagi?!?! Setelah semua ini??? Iya??????????? Mencintai tak sebercanda itu!!! Tega kau, Nona!!!!" Sang Kekasih mencengkeram tangan Nona. Matanya terbuka lebar. Wajahnya memerah. Ia mungkin marah.

Nona Gadis menatap balik Sang Kekasih. Ditelusurinya dalam-dalam mata itu untuk mencari makna dari ungkapan Sang Kekasih. Mata itulah yang sejak awal membuat Nona jatuh hati padanya. Merasa dijajah isi hatinya, Sang Kekasih lekas memalingkan wajah. Ia menunduk dan tetap memegang kedua tangan Nona Gadis.

"Aku gak mau kamu pergi lagi, Nona. Aku gak mau. Aku cuma gak tau tentang perasaanku sekarang ke kamu... Aku gak tahu. Maaf, Nona. Maaf... Satu hal yang pasti, aku gak mau kamu pergi. Jangan tinggalin aku..." Sang Kekasih melunak. Dielusnya kini tangan milik Nona. Lembut dan penuh cinta.

"Boleh aku bertanya?"
"Apa?"
"Bisakah kau hidup dengan tenang jika kau mencintai seseorang yang belum tentu ia membalas cintamu, tapi di sisi lain ia tak ingin kau pergi? Bisa kah? Dan adilkah semua itu?" Nona menunggu jawaban Sang Kekasih sambil membalas usapan jari-jemari di punggung tangannya.

Sungguh Sang Kekasih kehabisan kata-kata. Tak biasanya lidahnya mematung. Mungkin benar kata Nona; ia berubah. Tanpa berlama-lama, Nona melepaskan genggaman Sang Kekasih. Dengan cepat dan tanggap, ia berdiri, mengambil tas dan bawaannya, memakai sendal dan lari keluar rumah Sang Kekasih. Berlarilah Nona. Sekencang-kencangnya. Secepat-cepatnya. Ia sangat tak memedulikan apakah Sang Kekasih mengejarnya atau tidak. Satu tujuan yang ingin ia capai adalah duduk di depan meja bufet kamar.

*********

Di depan cermin itu ia melamun. Memikirkan sesuatu. Merenungkan sesuatu. Wajahnya tak cantik lagi. Air mata bertinta hitam membasahi seluruh pipinya. Bibirnya yang sudah tak merah mencari kata-kata. 

Apa kubilang. Kekasihku berubah. Ia sudah tak mencintaiku lagi. Di mana kau Hati Kedua? Muncullah! Nona menyembunyikan kepalanya diantara kedua lipatan tangan di atas meja bufet. Ia mengaung-ngaung. Memaju-mundurkan tubuh dan membentur-benturkan kepalanya sambil tak henti-hentinya memanggil Hati Kedua. Lagi-lagi ia menyimpulkan sendiri keadaan yang ia hadapi; Sang Kekasih sudah tak cinta lagi.

Kenapa aku selalu mengandalkan Hati Keduaku? Ia tak selamanya benar. Harusnya aku lebih mendengarkan Hati Kecilku, bukan Hati Kedua!!! Di mana kau Hati Kedua! Terdengar bisikan-bisikan Nona Gadis. Air matanya masih deras. Ia sangat terpukul oleh perkataan Sang Kekasih.

Ditengah riuhnya Nona menangis, memukul-mukul meja, membentur-benturkan kepala serta berbisik-bisik tak jelas, hal yang ditunggu Nona datang.
"Bukakah dicintai hanyalah bonus dari mencintai dengan tulus, Nona?"

Nona Gadis mengangkat kepalanya dengan cepat. Air matanya terhenti. Seluruh kamar hening. Tak sedikitpun suara terdengar.

"Hati Kedua..." Bisik Nona.
"Bukankah begitu, Nona? Tapi mengapa kau sangat mengharapkan ia membalas cintamu?"
"Karena ia sempat mencintaiku dengan hebat!!! Tapi sekarang sudah tidak!!!" Nona menggebrak meja. Ia tak sadar. Emosinya terbawa.

"Pernahkah ibumu menagih balasan cintamu, Nona? Padahal kau tahu betapa besarnya cinta ibumu padamu. Pernahkah ia marah ketika kau tidak pernah mengucapkan 'i love you' untuknya, Nona?" Hati Kedua meneruskan.
"Pernahkah ibumu pergi disaat kau tidak pernah membalas cintanya? Pernahkah ia pergi begitu saja?" Tak kalah, Hati Kedua menambahkan.
"Sebab bukan cinta kalau kau pamrih..." Hati Kedua mencoba mengakhiri.
"Bukan cinta kalau kau menuntut balas darinya..." Hati Kedua gagal mengakhiri.
"Jangan berhenti mencintainya, Nona. Jangan pernah berhenti. Karena kau takkan tahu balasan apa yang akan kau dapat jika kau mencintainya dengan tulus..." Tak patah arang, Hati Kedua tak dapat mengakhiri.
"Kembalilah... Jagalah cintamu, seperti ia yang tak ingin melepaskanmu..."
"Setidaknya kau masih memiliki harapan." Selesai.

Inilah kata kunci yang ditunggu-tunggu. Di depan cermin itu, Nona Gadis melihat lengkungan senyum manis. "Aku akan terus mencintaimu, Sang Kekasih... Tak kuharapkan balasanmu. Setidaknya aku berusaha menyalakan harapan untuk diriku sendiri." Kata Nona Gadis dalam hati. Semakin ia memantapkan diri untuk terus mencintai Sang Kekasih, semakin terlihat jelas senyumnya pada bayangan cermin itu.

"I love you... I mean it."





Komentar

Posting Komentar

Pos populer dari blog ini

UNIVERSALISME VS PARTIKULARISME

Menurut survei yang dilakukan oleh Political & Economic Risk Consultancy yang berbasis di Hongkong, Indonesia adalah negara paling korup dari 16 negara di kawasan Asia Pasifik. (Kompas, 2012) Fakta yang mengkhawatirkan. Dengan indeks persepsi korupsi sebesar 1.9 dari angka terbesar 10, Indonesia dianggap sejajar dengan negara-negara baru yang sampai hari ini masih dililit masalah peperangan di mata internasional. kerugian akibat korupsi sama dengan dampak perang, bahkan bisa jadi lebih. Tentu Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN)  bukan istilah yang asing lagi di negeri ini. Menjelang jatuhnya Soeharto, KKN ramai disinggung dan dibicarakan. Pada masa reformasi, KKN semakin sering dibicarakan untuk diperangi demi pemerintahan yang bersih (good governance).

Operasi Geraham Bungsu (Impaksi)

Tulisan ini kubuat atas dasar pemikiran kawanku, Pandu Ashari, yang mengusulkan untuk dikenang dalam blog. Sungguh, ia sangat mencerahkan. Lumayan, menambah warna tulisan di blog ini, tak selalu kelabu (read: galau).
*********
Aku terlahir sebagai anak yang malas menggosok gigi. Biya kecil, dulu, kalau makan selalu diemut dan lama. Konon, nasi-nasi atau makanan yang ada di dalam mulutku bisa sampai kubawa tidur saking lamanya mengunyah. Belum lagi ketergantunganku dengan minum susu di botol sambil tidur belum hilang sampai kelas 2 SD. Parah. Jangan tiru adegan itu ya. (Kalau punya sepupu, keponakan atau anak, cegahlah mereka.)

Ngurus STNK di SAMS(SUCK)AT

Jadi gini, pada hari Selasa, 5 Februari 2013, gue pergi bersama abang sepupu ke kantor SAMSAT di deket SCBD, Semanggi, buat ngurus STNK abang kandung yang hilang beserta dompet dan isinya. Dari latar belakang itulah lahir pengetahuan dan pengalaman gue ngurus keribetan birokrasi negeri ini dan sogok-menyogok depan mata.

Pertama-tama, pastikan dulu motor lo itu wilayah mana. Bisa dilihat dari tiga huruf di belakang plat nomer. Kalau huruf depannya T, berarti segala administrasi, berkas, data dan lain-lainnya ada di SAMSAT Jakarta Timur (T). Kalau B ya barat, S ya Selatan dan seterusnya. Contohnya motor gue B XXXX TPS, nah, udah pasti di timur lah ya.