Senin, 14 Desember 2015

Untuk Iqy Ajiy Daryini


Halo Mz...

Terakhir kali aku diminta buat resensi buku itu sejak jaman kuliah semester lima dengan mata kuliah Extensive Reading yang banyak requirement-nya untuk dipenuhi agar lulus mata kuliah ini.

Kurang lebih 20 novel berbahasa Inggris, 15 artikel berbahasa Inggris dan 10 text book berbahasa Inggris wajib kubaca, kuanalisa, kuresensikan dan kupresentasikan. Woyoooo~ boleh lah sombong, perolehan nilaiku waktu itu A. Hehehehe.

Nah karena aku sudah (dianggap) jago meresensi, maka tulisan ini aku niatkan untuk TIDAK MERESENSI bukunya Mz Iqy yang berjudul Out of the Truck Box itu. Melainkan, aku akan mengata-ngatai sahajaaaa~ sesuai permintaanmu! hahahahaha~

Loh, ngapain diresensi? Aku udah jago. Bukunya lumayan laku juga tuh. Aku juga sudah banyak jasa dalam menularkan virus-virus kekoplakan beliau sebagai penulis kepada seluruh khalayak kawan-kawanku untuk membeli dan membaca OOTTB. Bilang apa hayo, mz?

Mari kita mulai. Perkenalanku dan Mz Iqy bermula pada makhluk ciptaannya Aa Zuckerberg, fesbuk. Oh no, beberapa momen sebelum pertemanan di fesbuk, aku diminta mas-mas gagah tersayangku untuk baca draft tulisan blio yang akan dimuat di mojok.co pertama kali saat itu (tulisan itu bagian dari buku yang aku serta kamu, saudara setanah air baca lho. Buka halaman 75 deh).

Selama baca itu, aku ngikik tak tertahankan. Lalu otak ini mengeluarkan neuron-neuron rasa senang dan gembira. Hatiku langsung dag dig dug. Siapakah penulisnya? Mengapakah ia begitu lucu? Bagaimanakah rupa sang penulis? Di manakah ia mengemban ilmu menulis sehingga menjadi jenaka begitu? Dan hatiku berkata, "idolakan dia, Biya. Idolakan!"

***

"Oh yaudah, aku aja deh yang add kamu kalo malu..." beliau berkata dalam suatu kotak kolom komentar di fesbuk.

Dan benar saja. Iqbal Aji Daryono meminta pertemanan. Woooooghhh~~
Langsung aku klik yes lah. (Meskipun ternyata belakangan ini, setelah blio tenar, aku di-unfriend... hiks hiks hiks... Ciyeee, yang katanya kalau abis unfriend orang sama aja kita melepas banyak kesempatan untuk belajar memahami dan memperkaya perspektif dari orang lain, ciyeeeeee~~ Rahasia kebijaksanaanmu itu, mz, mana? Manaaaaah? Aku akhirnya cuma follow sampeyan. Huuuuuu). (Eh ternyata setelah tulisan ini terbit, aku di add lagi loooohhh~ Mz Iqy memang sangat bijak. Mz Iqy panutanku!!!)

Selama berteman di fesbuk, aku sangat senang membaca update-an status blio tentang Hayun. Aku sukaaaaaaak banget sama Hayun. Apalagi sang bapak mulai memamerkan skill-skill bijaknya dalam menghadapi pertanyaan-pertanyaan bocah wedhok satu itu. (Hhhh~ caper deh mz.)

Di buku ini, aku betul-betul merasakan apa yang Mz Iqy dan keluarga rasakan. Salah satunya, blio memuat judul Pede Education. Aku guru, Mz. Di sekolah yang isinya sama seperti sekolah Hayun. Pede education oriented BE GE TE!!! Murid-muridku secara kognisi sangatlah jauh bila disejajarkan dengan murid-murid SD Impres produk presiden kita tercinta yang terdahulu. Namun, jika mereka diadu uji kepedean dan kreativitas, aku yakin, murid Indonesia palingan cuma bisa urek-urek kertas gak jelas dengan crayon atau merawis-rawis karton dengan gunting yang urakan. (Maaf, bukan mendeskreditkan anak bangsa sendiri, tapi aku juga pernah ngajar di sekolah lokal-yang text book oriented. Kebanyakan dari mereka kalau diminta sesuatu yang kreatif, orisinil, art and craft gitu, ya pasti copy, paste, and print. Dats it! Wats da special???)

Kemudian aku makin haru ketika membaca Menjadi Bapak di halaman 231. Gak perlu berpanjang-panjang aku ulas. Kalian bisa baca lagi dengan khidmat. Bahwa kerinduan anak tentang sosok bapak yang hangat adalah kesunyian masing-masing :)

Oke. Salah berikutnya ada di halaman 152, Minder Irlander. Aku juga merasakan ini di lingkungan sekolahku. Kita, orang Indonesia, sering sekali mengekspresikan kehebohan jika ketemu turis-turis bule blonde di jalan lah, restoran lah, emol lah, tempat wisata lah dan lain lain lah. Trus tiba-tiba minta foto bareng lah. Wat the faaaaakk!!! Mereka itu bule miskin, ngapain poto-poto sama bule miskiiiinnn?! (Eh maap, bule, pakle...)

Yang lucu, ada salah satu rekan kerjaku, setiap sekolahku ada acara gathering, farewell atau apa pun itu yang melibatkan bule-bule di sekolah kumpul, dia ribut banget minta difoto di tengah-tengah kumpulan bule. Yawlo... minder irlander syndrome is detected.

Belum lagi murid-murid blonde ku yang merasa bahwa aku itu lokal, jadi mereka bisa bentak dan membangkang sebebasnya.
"Hey! Your parents come to Indonesia to earn their lives, you go to this school to be smart, to study, not to yell and get angry at me all the time you want! You know, it's my country, i can easily get you off from here if you still behave impolite to the local people!!" Hahahahaha mampus lo. Jadi, janganlah minder ya. Bule-bule itu cuma menang bahasa Inggris doang kok... gimana Mz Iqy? Setuju?


Menurutku, buku ini seru sebab bapakke Hayun sangatlah selo menulis tiap momen yang terjadi dalam pengembaraannya di Ostrali. Satu hal yang buat aku hampir mati penasaran, sampai aku cari fesbuknya, media sosial lainnya, sampai ketemu dan kepo instagram sang wonder woman di balik gagahnya seorang Iqbal Daryono, Mbak Nurul (bininya)!!! Kok jarang disebut, sih Maaazzzz? :(

Saudaraku sebangsa dan setanah air, asal kalian tahu, Mbak Nurul ini wonder woman. Sumpah. Menurutku sih yaaaa. Mbak Wonder Woman itu sedang melanjutkan studinya yang aku percaya sangat membuatnya ucing ala balbi, apalagi ditambah dengan mengurus anak, rumah, ngempanin dan mbekeli sang suami, mana jago masak, bikin kue, gak narsis kayak aku pula! Menyuport suaminya bangeeeettt... Ta, ta, tap, tapi, tapiiiii di buku itu sama sekali gak ada kisah menarik dari sosok sang wonder woman!!! Waaaaa~ parah parah parah... mau beri kesan bahwa ente super dad, gitu, mz? peace, men... tempat pipis di mana, meeen? Hehehe

Semenjak berkawan via Instagram dengan Ibunda Nurul, otakku berbalik arah. Rasa kagum dan pengidolaanku jatuh kepada sang Ibunda Nurul Wonder Woman. Gak tau kenapa, aku malah ngefens banget nget nget nget sama blio. Ibunda Nurul Wonder Woman lah inspiratorku supaya bisa sekolah lagi, ke luar negri juga, dibayarin orang pula, punya suami yang (gak) kaya Mz Iqy... Punya keluarga yang aduhai~

Mbak Nurul, kalau Mbak baca ini, sungguh inilah ungkapan jujur dari dalam hatiku. Suamimu itu, sang idola mahmud (mamah-mamah muda), yang baru add friend aku (lagi) ituuuu, gak akan heboh dielu-elukan makhluk bumi lain tanpa dirimu, Mbak wekekekek...

Untuk Hayun, aku pingin banget ketemu kamu. Pingin dikatain, "use your imagination", kamu kiyut banget sih... Don't grow up ya Hayun, it's just a trap! heuheuheu

Baiklah, cukup sekian yang bisa aku kata-katain ya, mz. Gak ada maksut apa-apa kok. Aku sudah cukup senang sekali bisa kenal Mz Iqy, Ibunda Nurul Wonder Woman dan Hayun Kiyut via internet, meski belum pernah bertatap muka. Bukankah itu tujuan dari internet, menjauhkan yang dekat?

Nanti, kalau ada kawan lagi yang tanya-tanya, mencari ilham dan minta rekomendasi buku apa yang musti dibaca, aku pasti gak ragu untuk bilang, "Out of the Truck Box!!!!!" dan idolakan istri sang penulisnya! wakakakakak...
Salam gawl,

Biya

Sabtu, 05 September 2015

Kapan Nikah?


Akhirnya sampai juga pada fase hidup dimana pertanyaan "kapan nikah?" dilontarkan bertubi-tubi kepadaku. Rasanya Baru kemarin aku meniup lilin di atas kue yang berukir 17. Rasanya belum lama ketika terakhir ayah membuatkanku gelang berukir nama serta tanggal lahirku layaknya bocah-bocah ingusan. Rasanya aku masih bocah. Dan rasanya pertanyaan itu sangat tidak logis jika diberikan kepadaku.

Ah... Ternyata aku sudah cukup dewasa. Ternyata pertanyaan itu sudah cukup mapan jika ditembakkan ke diriku. Ternyata aku sudah kepala dua. Di rumah orang betawi, seorang anak gadis yang sudah menstruasi, lulus kuliah dan punya pekerjaan, sudah saatnya dinikahkan. Masalahnya, adakah sang pria yang sungguh-sungguh berkehendak menikahi si gadis?

Kembali ke pertanyaan paling horor sedunia bagi para lajang. Rata-rata makhluk bumi ciptaan Tuhan ingin menikah. Sebagian juga tidak. Aku ingin menikah. Tapi entah kapan. Dengan siapa pun, itu masih rahasia Illahi. Hal yang pasti, aku ingin menikahi lelaki yang kupilih, yang aku cinta. Setelah itu, aku ingin dia yang tak pernah lalai solat wajib 5 waktu dan pintar mengaji. Serta kemapanan ekonomi lah satu-satunya bentuk tanggung jawab yang ia harus empu kelak. Ya, sulit sekali memang mencari lelaki yang bertaqwa dan bertanggung jawab di masa kini. Sangat sulit.

Petuah yang sering bunda sampaikan padaku ialah; jodoh kita nanti itu, cerminan dari kita. Jadi kalau mau dapat jodoh baik, kamu harus jadi lebih baik dahulu; pertama-tama cari yang Islam taat, yang paham dan mengamalkan Islam; lalu serba jelas. Keluarganya jelas, pekerjaannya jelas, hidupnya jelas, segalanya harus jelas.

Mengingat petuah-petuah itu, aku bertekad untuk menikah muda. Maka dari itu, fokus dan tujuanku saat ini hanya satu; menata diri sedini mungkin. Hampir setahun belakang ini aku sibuk menata diriku. Aku sibuk memantaskan diri untuk jodohku kelak. Kebaikan apapun yang bisa kulakukan, pasti kulakukan. Demi mendapat jodoh yang baik hanyalah alasan sampingan. Lebih dari itu, aku hanya ingin hidup berkah dan dipayungi ridho Allah. Setitik kebaikan yang kau tanam, mungkin sejuta kebaikan balasan yang kau dapat.

Tak sedikit, beberapa kisah rumah tangga orang kujadikan inspirasi. Namun tak jarang kisah mereka justru menakutiku, membuatku paranoid. Aku nanti gak mau jadi istri kayak gitu ah, batinku setiap melihat contoh yang buruk. "Ya Allah, jangan biarkan aku hidup susah. Nanti susah sedekah, susah beramal. Malah jadi nyusahin orang..." Begitulah salah satu doaku. Yang jelas, selalu ada desah "insya Allah aku bisa punya rumah tangga yang lebih baik dari itu nanti" setelah berkaca-kaca menyaksikan betapa bahagianya rumah tangga tetangga sebelah.

Sekarang, cukup Allah lah harapanku. Kau kan tak tahu untaian-untaian doa apa yang kupanjatkan? Tentang hati, hanya aku dan Dialah yang tahu soal kepada siapa yang sudah benar-benar kujatuhkan cinta. Semoga rezeki dan jodohku, kamu dan mereka segera dimudahkan dan dilancarkan yaa. Aamiin.

Sabtu, 14 Maret 2015

Pulang ke Kampung (Orang) Bagian II

"Mbaaa... Ifa melu nyebur maring curug yoo..." Ifa memohon kepada Mbak Dita saat kami bersiap-siap berkemas pergi.
"Ajaaaa... Urusah mbok keli!" Larang Dita.

Bu Upi sibuk menyiapkan bekal. Aku mencium bau bumbu pecel. "Wah... Wangi pecel ya." Kataku saat mundar-mandir kamar dan dapur. "Iya, mbak... Ini buat bekel di sana. Pecele Mbok Karsem! Nanti dicoba yaaa..." Bu Upi menjelaskan. Wah, akan menjadi hari yang keren! Bu Upi tau aja kalo aku pecinta pecel.

Kami menumpang mobil Espas tahun 90-an. Di belakang ada aku, Dita, Tiwul dan Cetot. Di tengah diisi oleh Ifa, Lik Fitri dan Bu Upi. Pak Wakhid menemani supir yang ia minta tolong membawa kami ke atas bukit. Sepanjang jalan kami bersenda gurau dengan Ifa. Aku fans berat Ifa. Anaknya borjuis meski masih 8 tahun. Di lehernya ia kalungkan perhiasan rantai emas. Di telinga, ia menggunakan anting berukir Hello Kitty yang emas pula. Pergelangan tangannya pun dilingkari emas lagi. Harta paling berharga pada diri Ifa adalah sebuah bribil (tai kambing) di atas bibirnya! (Sesunggunhya itu hanyalah tahi lalat). Ifa anak borjuis. Ifa luar biasa. Ifa juga pintar berbahasa Arab. Cool!

Ketika jalanan memasuki perkampungan dan lembah, semua penumpang bisu. Kami berpegangan erat pada pinggiran kursi atau pegangan tangan dekat jendela. Jalanannya menanjak, ciyn! Sesekali mobil mengaung hebat. Aroma rem dan oli serta knalpot menjadi satu. Aku mual. Telinga mulai berdengung, pertanda kami sudah hampir sampai di atas. Belum lagi jalanan bebatuan yang menggoyang-goyangkan tubuh kami. Seru euy!

Sepanjang jalan menuju peternakan, ada beberapa hotel-hotel murah. Aku ya husnudzon aja, mungkin wisatawan suka ke dataran tingginya Panembangan. Murah pula. Harga kamar per malam dibandrol 40,000 rupiah. Lalu seketika kulihat pasangan muda-mudi keluar dari hotel. Sang perempuan berambut lepek pasca keramas. Laki-lakinya berwajah segar. Tanpa helm, tanpa jaket. Plat motor berhuruf depan R. Tak sengaja mataku bertemu dengan mata Lik Fitri. Ia langsung memberi kode seperti berkata, "abis maen tuh, doi. Asoy gebooooyy!" dan tatapanku serasa menjawab, "iya tuh, Lik, pelukan di atas motornya aja kenceng beneerr... Masih berasa mungkin." Ihir~

Sesampainya di peternakan, gerimis dan udara sejuk menyambut kami. Sejauh mata memandang, hanya ada bukit hijau dan padang rumput yang dipagari besi bercat putih demi menjaga sapi-sapi tetap pada tempatnya. Aku serasa di New Zealand, meski belum pernah ke New Zealand. Ada kerumunan sapi yang sedang melahap rumput di tengahnya. Tiwul, Dita dan Cetot sudah lebih awal mengeluarkan senapan tongsis dan fish-eye mereka. Narsis pun dimulai. Cekrak, cekrek!
Kenarsisan makin meningkat ketika kami berada di dalam kandang sapi. Para sapi sedang sibuk mengunyah kudapannya. Mereka berbaris rapih, menundukkan kepala sambil menggerak-gerakkan gigi mereka. Aroma telepong khas sapi pun sudah mulai menyerang. Demi sebuah gambar bagus untuk diaplot ke segala penjuru media sosial, kami rela menahan napas atau bahkan menikmati aroma itu tanpa keluh. Iya, aroma telepong, pong.

Ifa mengajak kami keluar kandang, memasuki gerbang lain yang hanya berisi rerumputan berbukit seperti bukit Teletubbies. Bapak Ifa menginstruksi naik ke atas bukit untuk memetik buah jambu biji. Oke, laksanakan. Meski aku enggan. Nanjak, bok! Pasti melelahkan.

Dari atas sini pemandangan nampak lebih jelas. Semua indah. Aku masih takjub. Dengan handphone di genggaman, keringat bercucuran, aku mencoba menyusul Cetot, Dita dan Ifa yang sudah lebih dulu mendaki. Tiwul paling sibuk mengambil gambar. Aku sibuk misuh-misuh, "Anjrit baguuuusss bangeeeeettt... Tapi gue capek nih... Telepong, bribil dah...." Ya, gimana ya, ngajak nenek-nenek manjat ya begini lah risikonya. Segala omongan kotor disebut-sebut pula.

Hampir tiba aku di atas, tiga makhluk pertama sudah tak terlihat batang hidungnya. Aku berteriak sambil bergandengan dengan Tiwul, "Sadaaaam! Kamu di manaaaa? Jangan bercanda deh. Gak lucu tau gak!" Ala-ala Petualangan Sherina. Tiwul menimpali, "Ditaaaa... Ta... Ta... Gak lucu deh... Deh.. Deh... Di mana sih? Sih... Sih..." Anggap saja suaranya menggema.

Fuih! Akhirnya kami bertemu. Dita, Ifa dan Cetot sedang memburu jambu. Mereka sibuk sekali melihat-lihat wara-wiri pohon jambu yang tak tinggi itu sambil memijat-mijat buahnya dan mencium aroma. Sedangkan aku langsung duduk selonjoran, membuka jaket, membuka kerudung. Mengelap-elap kaca mata yang tertetes keringat. Fiuh! Baru semenit duduk, Ifa dan Dita mengajak turun. "Udah nih, kantongin gih. Yuk turun!"
"Uceeeett~ gue kasih telepong, luh! Tardulu sih. Gue baru sampeeeee... Ngocol bener luh." Aku protes.
"Oh, iya maap hehehe. Duduk dulu deh. Eh selfie yuk selfie." Narsis lagi.

Panen jambu pun dibawa turun. Di bawah, keluarga Ifa dan Dita menunggu. Waktunya makan siang. Waini, pecele Mbok Karsem (yang gak kukenal dan gak kepikiran untuk kenalan)! Pedas mantap! Banyak gorengan di samping box pecel. Ada tempe goreng tepung, bakwan, dan yang baru kulihat yaitu kampelan dan ondol! Untuk lebih tahunya, silahkan googling!

***

"Hosh... Hosh... Hosh..." Aku kelelahan. Untuk mencapai Curug, kami perlu menaiki anak tangga yang tak bisa kuhitung. Lika dan likunya pun membuat dengkulku lemas, telapak kakiku panas. Belum lagi pepohonan rindang yang selalu kutemui saat naik ataupun turun tangga. Aku sangat tidak menyukai hutan. Mistis. Maka aku berkomat-kamit. Aku berlindung kepada Allah dari godaan mantan yang terkutuk. Eh syaitan, maap.

Suara air terjun terdengar. Anak-anak tangga mulai licin sebab lumut akibat udara yang lembab. Makin kami menuruni anak tangga, suara air terjun makin jelas nan deras. Percikan-percikan air makin terasa. Akhirnya, ketika aku melihat air menerjun bertubi-tubi dari dinding lembah hutan, tak kuasa aku berdecak kagum. Wooooooooooooooooowwww!!! Subhanallah.
Yang lebih membuat aku takjub, untuk mencapai aliran sungai dari air terjun tersebut, aku mesti menuruni tangga lagi yang tak kalah licin. Sungguh perjuangan besar! Sebelum kami mandi, tak lupa bernarsis diri. Oh ya, ini curug bernama Curug Cipendok. Harga tiket masuknya 8000 rupiah.

Dita tak ingin nyebur di dekat tangga naik. Ia mengajak kami menuruni batu-batu kali sekali lagi. Entah demi apa. Padahal sudah kukatakan, di dekat air terjun saja, lebih luas kolam untuk berendamnya, tapi ia kekeuh. Ada mas-mas yang sudah lebih dulu menempati, sebabnya. Maka Dita berusaha blusukan mencari tempat yang sepi.

Sebagai anak aquarian, aku tak pernah bisa menahan hasrat jika sudah bertemu air. Jacket, off! Veil, off! Slipers, off! "Byuuurrr!" Aku tepak-tepakkan permukaan air dengan tanganku. Berendam, telungkup sambil berjalan dengan kedua tangan, menyelupkan seluruh kepala. Aaah... Segar sekali! Airnya dingiiiiinnnn... Brrr brrrr... Ditambah dengan payungan pepohonan hijau nan lebat, suara kiacauan burung yang hampir menakutkanku, aku dingin-dingin nikmat.

Memang, kami datang ke curug sudah sangat petang. Terlalu asyik di peternakan sepertinya. Jadi kami tak punya banyak waktu untuk mengeksplor curug lebih lama. Belum puas bernarsis, seorang pemuda menepuk-nepuk tangan, memberi kode pada kami untuk naik. Oh, mungkin itu penjaganya, waktu kunjung sudah habis. Pikirku.

Dengan keadaan basah kuyup kami menanjak, udara menipis, dingin menyergap, aku menyapa mencoba mengusir dingin kepada Si Mas. "Udah lama, mas, jaga sini?"
"Ah, bukan... Saya juga wisatawan." Kata si mas.
Idih mampus, aku cibob! Sok deket amad tanya-tanya begituan. Salah pula. Akoe maloe...

Lagi-lagi, kami menanjak. Aduh. Aku lelah dengan perjalanan ini. Dita dan Cetot selalu juara saat naik. Diikuti Mbah Tiwul dan Nyai Biya. Para nenek tak kuasa menahan lelah. Aku berhenti sebentar. Ngaso. Atur napas. Tiwul masih gancang. Dita dan Cetot tak perlu ditanya.

Ketika itu aku melihat Dita malah haha hihi depan ibunya. Aku tak mengerti. Ada apa? Lalu Dita bercerita. "Lo tau gak sih, mas-mas tadi itu disuruh Ibu gue nyariin kita! Disangka Ibu gue, kita nganyut! Kocak dah... Hahahahaha"
Aku belum konsentrasi. Hanya hah heh hah heh saja. Masih kekurangan oksigen. Kurang Aqua juga. Ada aqua?

Setelah semua berkumpul, kami kembali pulang. Menanjak lagi. Ya Tuhan, sampai kapan penderitaanku berakhir? Kali ini Tiwul yang memimpin dikawal olehku. Di belakangku ada Lik Fitri. Cetot. Ifa. Dita dan sang ibu. Seperti yang telah kuceritakan sebelumnya, perutku sedang bergelora. Tiba-tiba akal bulusku datang. Aku cepat-cepat mendahului Tiwul, tepat berada di depannya, gas beracun itu kubuang. Tiwul marah-marah. Aku dimaki. Lupa aku kalau setelah Tiwul adalah Lik Fitri! Katanya, kentutku bau pete! Dahsyat juga. Setelah Lik Fitri, mulai lah Cetot berbacot hingga ujung Bu Upi. Maaf ya, aku terpaksa. Di situ kadang saya merasa sedih.


Sebelum kembali ke mobil, kami berganti baju. Di sana lah aku bertanya kepada Dita. Ibu lo nangis gak? Katanya iya. Lalu kutanya lagi si ibu berkata apa saja. Lalu Dita menjelaskan, "bocah koh jebule pada langka neng ngisor curug ya ibu panik ujarku keli... Maning wis sore sepi ana ketek pada mudun maning. Terus ibu njaluk tulung mas-mas kon nggoletna bocah bocah wadon papat pada nengendi, mbokan keli soale ijik-ijik wis langka pada ora keton. Ibu mbok nangiss lahhh..."
Paham gak? Enggak ya? Kasian. Nih, intinya, Bu Upi khawatir anaknya gak kelihatan dari atas ia menunggu. Langit gelap. Hari mulai sore. Kabut sudah turun ditambah monyet-monyet menampakan rupanya. Sebagai ibu, ya wajar lah kalau beliau menangis. Nah, makanya Bu Upi meminta tolong kepada mas-mas yang tadi kusapa. Gitu...

Aku sudah rapih berganti. Dengan perasaan bersalah, aku menghampiri Bu Upi di warung. Merangkulnya dan meminta maaf. "Ibu tadi nangis ya? Maaf ya Bu... Jadi buat Ibu khawatir kan." Ini bukan adegan menjilat untuk mendekati Ulil. Bukan. Bu Upi cengar-cengir. Lik Fitri menambahi, "iya kita khawatir, mbak... Soale monyet udah pada turun. Bunyi burung-burungnya aneh. Aku takut."
"Aku juga takut, kok Lik... Itu si Dita bandel sih, udah kusuruh di tempat yang paling depan, malah ngajak ke bawah lagi. Maaf ya Bu... Maaf ya Lik..."
Tiba-tiba suara bocah terdengar, "untung Ifa ora sida melu berenang!" Paan c. Nyamber za. Bribil!

***

Aku tak menyangka, kukira aku akan lelah, pegal-pegal dan tepar. Ternyata aku strong! Mbah Tiwul lah yang lemah. Aku masih kuat pergi keluar mencari makan. Hujan-hujanan pula. Dibonceng oleh Ulil pastinya. Semua indah jika bersama Ulil. Ulil indah dan mengindahkan. Ulil menguatkanku. (Iki uwopoh!)

Saat kutawari beli makan malam kepada kawan-kawan, mereka seperti niat tak niat. Wah, bahaya ini. Bisa kelaparan. Akhirnya aku mengalah, biar aku yang pergi. Lalu dengan kesadaran yang tinggi, Dita memanggil Ulil untuk mengantarku. Tiwul bersorak, "ciyeeee Biya... Naek Ninja sama berondong."
"Iya dooong... Nanti Ulil jangan direm ya pas ada polisi tidur." Aku agresif. Ulil tersipu.

Syukur Alhamdulillah Ulil tak menggunakan Ninja-nya. Tiwul salah besar. Kepada tukang nasi goreng kami menentukan pilihan. Sambil menunggu, aku mengajak Ulil mengobrol.
"Mau kuliah di mana nanti, Lil?" Pancingku.
"Mbuh, mbak."
"Lho. Kok? Kok lho? Gak mau kuliah ya kamu?" Tanyaku dan Ulil hanya menjawab dengan cengiran kuda.
"Laki-laki itu harus kuliah. Kalau gak kuliah, mau apa? Kerja? Emang Ulil punya keahlian apa? Kalo punya ya gak apa sih. Tapi diusahain kuliah. Mbak Dita aja kuliah. Moso Ulil enggak? Apa mau masuk militer? Pelayaran?" Aku bawel.
"Wah, gak kepikiran, mbak..."
"Harus dipikirin, Lil!"
"Ng... Nganu, aku maunya sih komputer. IT gitu." Ulil mencoba bicara.
"Nah, ya udah. Ambil lah jurusan komputer. Laki-laki harus punya masa depan, Lil. Sekarang kan masih ditanggung Bapak Ibu, nanti kalau mereka udah tua, siapa yang mau urus Ulil? Makanya Ulil harus mandiri." Mbak Biya menasihati. Ulil lagi-lagi mesam-mesem. Sesekali ia mengangguk.
"Ulil mesti udah punya pacar deh! Ya po ora?" Pertanyaanku makin agresif.
"Woah! Ora mbaaak. Ra duweee..." Ulil kaget dan menepis tuduhanku.
"Masaaaaak?" Aku memojokkan.
"Sumpah, mbak. Sumpah."
"Tapi fans banyak, tho?" Aku menyudutkan.
"Wah, kalau itu mah wis akeh mbaaak!" Akhirnya Ulil belagu.
"Wuahahahaha guwayamu, Lil! Jangan pacaran ya. Buang-buang waktu. Buang-buang duit. Mending sekolah dulu yang bener. Nanti kalau udah kerja, punya uang sendiri, Ulil boleh deh punya pacar." Mbak Biya sok tahu sekali ya. Namun Ulil mengangguk-angguk cepat seperti menyutujui segala omonganku. Entah karena ia bosan atau memang ia setuju.
"Sip, sip! Aku jadi mau kuliah!" Tiba-tiba Ulil bersemangat.

***

Aku melihat Bu Upi seperti aku melihat setengah dari Bundaku. Bu Upi rajin sekali. Selama kami menumpang, Bu Upi giat menghidangkan sarapan. Beliau selalu menyeduhkan teh. Teh awur. Teh kesukaanku. Belum lagi kudapan kecil seperti gorengan, lontong, martabak dan lain-lain. Bu Upi adalah ibu peri bagi kami.

Seperti biasa, bangun tidur kuterus minum air putih sebanyak mungkin. Lupa sikat gigi dan langsung menyerbu hidangan Bu Upi. Sebelum aku meminum teh, aku hirup dalam-dalam aroma daun teh yang menguap. Apalagi jika hangat. Oh, Tuhan, terpujilah Kau yang telah menciptakan daun teh. Kemudian diikuti dengan cemilan-cemilan.

Pagi itu, Bu Upi menghidangkan kudapan yang luar biasa. Favoritku kali ini adalah cimplung. Pisang rebus yang dicemplungin ke larutan gula aren. Mantap kan? Lalu Bu Upi menyuguhkan kami susu sapi murni hangat dengan tambahan gula aren (lagi). Waduh maaaaak, gak mau pulang aku!!! Sepulang dari Purwokerto, pasti timbangan berat badanku melonjak!

Saat keluar rumah, sejuk selalu menghampiri. Namun, awan pagi tak terlihat, tertutup kabut kiraku. Aku sudah bahagia. Sudah menghembus-hembuskan nafas dari mulut demi mengeluarkan uap. Sudah posting di Path. Ternyata aku salah. Itu bukan kabut. Itu abu. Abu si Slamet. Cibob maning.

Aku bertamu ke rumah Mbak Eka, kakak sepupu Dita, di seberang rumah sebentar. Usut punya usut, Dita sedang melakukan diplomasi dengan Mbak Eka-- pinjam motor untuk ke kota! Terpujilah Mbak Eka yang cantik dan baik hati, ia rela motornya dipinjam setengah hari. Hore! Kami segera menjadi anak gaul Purwokerto!

***

Seperti ceritaku soal wangan yang kulakukan pertama kali seumur hidup, ada hal lain yang juga kulakukan pertama kalinya selama aku jadi tongjabon. Selama empat hari di Wakhid Kingdom, sarapan kami selalu hasil masakan Bu Upi. Meskipun hanya telor dadar, tapi Bu Upi tak pernah sibuk meracik lauk dari warung. Beliau lah koki peri kami. Hebat.

Aku lupa pada pagi keberapa kami dihidangkan telur dadar. Aku yang jarang rewel soal makanan, ketika dipersilahkan, langsung kusikat. Bu Upi selalu menghiasi meja makannya dengan sambel khas Bu Upi sendiri. Kala itu telor dadar dan sambel sudah sangat cukup bagiku. Ditambah sepiring tumis sayur.

Aku asyik memakan sarapanku ketika teman-teman yang lain masih betah di sofa depan tv. Kenikmatan tiada banding ketika baru bangun, lapar dan menyantap makanan. Aku tengah sibuk mengunyah, membelah-belah telur dadarku kemudian menjumput sambel dengannya dan menata nasi kuncup-kuncup dengan tangan. Di mulut, kunyahanku terasa lembut berpadu garing. Krenyes-krenyes. Ketika satu persatu menyendok nasi, entah siapa yang bertanya, "itu telor dadar pake apa?" Pake sambel, jawabku. "Bukan, maksudnya, telor dicampur apa? Sosis? Daun bawang?" Lalu aku mengobservasi telur itu, kubelah-belah, dan kuteliti. Kau tahu apa yang kudapat? Irisan petai!!! Gosh! Aku menikmati telur dadar petai? Senikmat itu??? Ah, gila lu ndro... Akhirnya, kali pertama aku menikmati petai tanpa tolakan ya di Wakhid Kingdom. Makasih Bu Upi... Maka dari itu, telor dadar Bu Upi yang menjadikan landasan mengapa kentutku bau petai. Gimana, Lik Fitri, paham? hehehehe.

***

Sejak awal, tujuan kami ke kota memang hanya untuk wisata kuliner. Tak ada yang lain. Destinasi pertama untuk menjadi anak gaul Purwokerto adalah Soto Jl. Bank, Haji Loso. Kuyakin semua makhluk bumi Indonesia sudah mengenalnya. Soto yang maha fenomenal ini konon mantap dan enak. Setelah kuicip. Damn God Fakin Mummy!!! Aku gak suka. Sorry, no offence. Seleraku yang gurih-gurih nyoi! Ini manis bangeeeettt... Banyak kacangnya pula. Oh no!

Di warung soto, kami hanya memesan dua mangkuk. Alhamdulillah mangkuknya imut. Kami sengaja mengirit-irit isi perut agar tidak terlalu kenyang saat kunjungan wiskul setelahnya. Selanjutnya kami ke Choco Klik di Jl. Merdeka. Ini cafe. Tapi aku serasa ada di warung cokelat. Kenapa? Sebab muraaaaaaaaahh!!! Ya ampun, cafe cokelat, minuman dan makanannya range harga hanya 7,500 - 25,000. Itu range untuk snacks ya. Kalau cake ukuran besarnya aku lupa. Coba kalau kalian bandingkan ke Dapur Coklat atau The Harvest, Pipiltin Chocolate, Collete Lola blablabla, jauh banget harganya! Rasanya mah ya ala-ala cafe gitu. Enak juga. Cozy juga. Sama juga. Aku gak kebayang kalau seorang Biya Tongjabon tinggal di Purwokerto dengan gaji UMR Jakarta, sebesar apa ya badanku?

Pergerakan kami sangat pesat. Isi perut tentu diatur sedemikian rupa. Jujur, aku begah. Kenyang! Atas rekomendasi kawan Cetot yang bermukim di sekitaran kampus Unsoed, kami menuju Loempia Bom di Jl. Hr. Bunyamin, Purwokerto Utara. Di sana mataku makin terbelalak. (Ingatanku pudar soal menu yang kupesan, yang jelas lumpianya besar, ukuran panjangnya bisa sepiring nasi dan lebar kurang lebih tiga jari, bisa tambah nasi pula, padat dan yang pasti murah!). Di tambah sambal dan lalap, juos! Sayang, aku sudah kenyang. Alhasil aku hanya mencoel sana-sini, tak ikut seru melahap.

Setelahnya, kami harus menunaikan dzuhur. Mencari-cari mushola. Ternyata Dita mengingatkanku soal cita-citaku pada saat hari pertama tiba; makan ke Bakso Pekih (lagi) dan membawa oleh-oleh Es Brasil. Digiring lah kami ke Pasar Kebon Dalem, sekalian dzuhuran. Saking napsunya, aku membeli 4 pak Es Brasil. Satu pak terdiri dari sepuluh bungkus es kecil. Mantap! Cita-citaku satu telah kutunaikan.

"Eh, Bakso Pekih lagi yuk! Sebelom balik nih. Gue pengen tetelan plis~" Aku berkampanye setelah keluar masjid dan menuju parkiran.
"Hayuk aja gue mah. Tapi ntaran lah... Masih kenyang banget." Kata Cetot.
"Dut, di sini ada taman kota gak? Main ke sana yuk kalo ada!" Tanyaku.
"Ada. Tapi panas banget, Biy. Tamannya rame kalo sore tau..." Kata Dita Ngapak.
"Ya udahlah gapapa yuk. Biar kenal. Nunggu laper lagi sebelum ke Pekih. Selonjorin kaki sebentar." Tiwul menjawab.

Hari itu panas sekali. Oh, bukan. Terik lebih tepatnya. Selama perjalanan, aku menggerak-gerakkan kaki, tangan dan ngomel-ngomel tentunya. Aku juga memikirkan nasib Brasilku yang terkasih. Lumer deh. Gak apa sih. Hanya takut pecah aja.

Sampailah kami di Andhang Pangrenan, taman kota yang dulunya terminal lama. Tamannya luas sekali. Tapi sepertinya masih lebih luas Taman Menteng. Mirip Taman Menteng hanya saja Andhang Pangrenan tak punya rumah-rumah kaca dan ia memiliki pagar sekelilingnya. Oh ya, ada HTM juga loh! Harganya murah, hanya 2,500 rupiah. Sebelum sampai, sebenarnya kami sedikit salah jalan. Salah alur masuk. Dibantulah oleh beberapa mas-mas ketje berseragam biru laut kemuda-mudaan. Mereka plontos. Berkulit gelap tapi ketje. Sebagai wanita pengagum berat pria seragaman, tentu mataku tidak fokus ke jalan. Maafkan.

"Mbak, mau ke mana? Pintu masuknya di sebelah kanan, mbak. Belok kanan ya..." Kata seorang pemuda plontos ketje seragaman sambil menunjuk ke arah jalan yang dimaksud.

"Oh, suwun nggih, mas.... Ganteng." Aku ngloyor.

Di taman, kami berteduh. Rebahan. Selonjoran. Taman ini bisa digunakan untuk pentas ternyata. Ada benches (apa deh bahasa Indonesianya?), kanopi di atasnya, panggung kecil, wah seru. Ada tempat bermain anak juga. Sayang, kami tak sempat berkeliling taman. Jadi, gak terlalu banyak tahu tempat itu.

"Jam dua cabs ya!" Ajakku.
"Jadi ke Pekih?" Tanya Dita.
"Yongkruw mamen, magerl~" Teriakku semangat.

Keluar parkir, aku dikejutkan dengan banyaknya adek-adek plontos berseragam seperti mas-mas yang membantuku tadi, dengan gagah dan tampannya berjalan menuju pulang. Beberapa ada yang menjinjing tas, berjalan cepat dan bersenda gurau.

"Oh... Lah itu ada sekolah pelayaran ternyata ya. Mereka anak pelayaran, tho?" Aku bicara sendiri. Cetot di bangku belakang menyosor mulutnya, "hah? Kenapa Tul?"
"Itu loh, seragaman itu. Anak pelayaran..." Sambil jalan perlahan ke arah pulang, leherku masih saja ke arah adek-adek emesh. Kulihat plang di sebuah gang yang tepat berdiri mas-mas ketje tadi bertuliskan SMK SPM NASIONAL PURWOKERTO. Wah, pemuda harapan bangsa. Semangat ya adek-adek. Mbak bisa bantu apa nih? ;)

Setiap janji adalah hutang. Termasuk janji pada diri sendiri. Aku masih berhutang janji pada diri sendiri, yaitu kembali ke Bakso Pekih dan memesan menu bakso tetelan andalannya. (Sumpah ya, aku ngetik ini sambil telan ludah sebab saliva berkerumun di dalam mulut. Huh.) Pada Bakso Pekih kita percaya! Aku saking bahagianya bertemu makanan favoritku hingga tak bisa mengontrol; kuambil satu buah ketupat dan kucampur dengan bakso. Yaolo~ Akhirnya hutangku lunas. Haleluyah.

***

Hari terakhirku di Purwokerto diguyur hujan. Apalagi ketika hendak pulang ke Panembangan. Aku yang memboncengi Cetot sangat keren dengan ponco biru yang berkibar-kibar di kala melaju motor dengan cepat. Jalanan dari kota ke desa tidak begitu bagus. Jalannya bolong-bolong dan beberapa tambalan aspal. Mungkin karena jalur ini adalah jalur para bus dan truk melintas. Tak heran lah. Aku bukanlah seorang pengendara motor yang sabar acap kali salip sana-sini, mendahului di sisi kanan-kiri, misuh taya-tayi. Sejenak kulupa bahwa ini adalah kampung orang. Lanjut! Hajar! Namun, kasihan Cetot. Ia ngeri-ngeri nyoi. Kakinya mengapit kencang di belakang. Tangannya menjumput baju sampingku sangat erat. Cetot si nyolot bernyali ciut. Kasihan. Sungguh kasihan.

Bagai motor racing di kampung orang, kamilah pemenangnya; kami sampai paling awal di Wakhid Kingdom. Nyonya Wakhid beserta suami kaget dengan kedatangan kami yang lebih awal.
"Wah, berdua aja? Dita kemana, nduk? Ndak nyasar?" Nyonya Wakhid memberi perhatian.
"Enggak dong, Bu. Buktinya ini udah sampe hehehe. Ini aku beli es Brasil banyak loh, Bu. Buat oleh-oleh! Titip di kulkas yo, Bu..." Permisiku.
"Yo, monggo, mbak, monggo... Keujanan gak tadi? Pake jas hujan kan?" Pak Wakhid menyambung.
"Pakai, Pak. Ujannya ngeledek juga. Sebentar hujan, sebentar enggak. Itu si Dita sebentar lagi sampe kok." Sahut Cetot.

Ketika semua personel lengkap, semua senang. Lega dan bahagia. Mari menunggu waktu pulang! Hari itu masih petang. Di luar sana terdengar alunan shalawatan ibu-ibu pengajian. Sedang kami di dalam kamar hanya mlaha-mlehe di atas kasur. Golar-galer demikian rupa. Tiba-tiba Tiwul dengan asyik menikmati salawat-salawat yang para ibu-ibu majelis dendangkan.
"Allohumma sholli shollatan kamilah wa sallim salaman. Taman 'ala sayyidina Muhammadiladzi tanhallu bihil 'uqodu wa tanfariju bihil kurobu. Wa tuqdhobihil hawa iju wa tunna lu bihiro 'ibu wa husnul khowatim wa yustaqol ghomawu biwaj hihil kariim wa 'ala aalihi washosbihi fii kulli lamhatin wa hafasim bi'adadi kulli ma'luu mi laka ya robbal 'aalamiin..." Pernah kuceritakan, bukan, kawan-kawanku sebagian besar adalah lulusan pondok, tapi tidak bagi Tiwul. Ia hanyalah anak majelis yang rajin ikut ibunya pengajian.

Ketika para ibu di masjid depan rumah berganti lirik shalawat, Tiwul kemudian mengikuti dengan khidmat sambil berbaring di atas kasur dengan kaki yang di rentangkan ke atas tembok dengan santai. Tak lama Tiwul bershalawat, aku yang bukan anak pengajian dari buaian hingga liang lahat penasaran. Kuhampiri Tiwul dan bertanya, "itu shalawat apa namanya, Wul?"
"Auk dah... Ini aja gue tau depan sama tengahnya doang, tul."
"Gugling, Wul... yuk shalawatan!" Ajakku.
"Srius banget nih gugling?"
"Iyaaaaaa... Buruan ah!"

Beberapa menit kemudian, kami menemukan lirik shalawat tersebut. Berdendanglah kami. Cetot pun latah. Dita mungkin dalam hati bergumam, "Ya Allah ini anak pe-ak banget..."
"Sholatum bissalamil mubiini..." Tiwul memulai, kemudian aku dan Cetot menyahuti "salam, salam, salam~~"
"Sholatum bissalamil mubiini linuqtotitta’yiini ya ghoromi~~~ nabiyyun kana ashlattakwiini min ‘ahdikun fayakun ya ghoromi~~ Ayyaman ja ana haqqon nadziri mughiitsam musbilan subularrosyaadi~~~~~~~" Aku merinding. Subhanallah. Allahu akbar.

Adzan ashar berkumandang. Ibu-ibu pengajian mungkin sudah bubaran. Kami cepat-cepat gambreng.
"Yang keluar duluan, mandi lebih awal yaaa..." Tiwul membuka peraturan.
"Oke fine!" Sepakat didapat.
"Hompipa alayum gaaambreeeeng!"
"Aaaaaaaaak, malah gue~" Dita histeris.
"Monyong! Gue kedua." Disusul aku.
"Yeeeeesss!!! Gue terahir! Hahahahahaha. Mandi luh sonoh, Dut!!!" Cetot bergembira. Ish, males mandinya ketauan banget sih, Tot!

Selesai mandi, sembahyang dan menunggu maghrib. Bapak dan Ibu Wakhid tiba-tiba memanggil kami.
"Nduk... sini nduk..."

Kau tahu apa yang terjadi? Pak Wakhid duduk di kursi bambu dekat dapur, sedangkan Bu Upi berdiri di sebelahnya memasuk-masukkan sesuatu ke dalam plastik.
"Ini nanti dibawa pulang ya... Oleh-oleh buat wong nang omah." Aku terpana sejenak. Waaaahh... Gumamku. Keripik singkong kering dua bungkus besar dan beberapa balok gula jawa sing uakeh tenan!
"Ini buat kita, Pak?" Aku nyepik.
"Iya lah, mbak... Dibawa. Masa ditinggal." Pak Wakhid menanggapi.
"Masa diinjek!" Cetot nyamber.
"Wah, jadi keenakan nih Pak, Bu..."
Semua tertawa.

Setelah packing baju, tentu kami packing oleh-oleh tersebut. Aku yang tak pernah menggunakan koper jika bepergian dengan sangat senang hati memasukkan semua barang-barang bawaan pribadiku dan pemberian keluarga Pak Wakhid. Sedangkan Tiwul dan Cetot sungguh merana dengan banyak tas bawaannya.
"Gue nenteng-nenteng tas dua biji gini kalik? Ya Allah, kan beraaaaaaatttt~" Tiwul merana.
"Uh, kacian anet ih... Gue dong cuma satu tas gedeeeee..." Aku menari.
"Dih, iye lah, tas lo kan gede, Tul. Lah gueeee... Rempong deh nih, bakalan." Tiwul merana lagi.
"Nyahahahahaha nih liat gue dong. Tas gue kecil tapi ajaib. Apa aja masuk." Cetot menari di atas Tiwul yang merana.
"Kemaren lo boleh ngatain gue naek gunung! Sekarang lihatlah siapa yang meranaaaaahahahahaha." Aku tertawa. Tiwul manyun. Ciyan.

***

Kami akan caw dari rumah ba'da maghrib. Sejak siang tadi, aku melihat Ulil bermain PS dengan asyik di ruang TV. Karena kesibukan bershalawatan, aku lupa bahwa aku ingin ikutan main. Akhirnya kuminta Ulil untuk bermain PS sambil menunggu maghrib.
"Lil, main yuk! Ada game apa aja?" Tanyaku.
"Mbak, maunya apa? Adanya cuma balapan sama perang, mbak. Eh ada bola. Bisa main bola?"
"Eh, jangan, jangan. Main perang aja deh." (Duh, aku lupa judul game perangnya.)

Kami berdua sangat seru bermain. Aku dan Ulil berkongsi menjadi satu team. Kami dari sebuah kerajaan yang akan menyerang kerajaan lain. Game ini soal perang antara dua kerajaan Romawi.
"Yeah! majuuiiiiinnn! Sini lo maju lo, gue tebas lo! Wah gila, ini ilmunya nih, Lil?"
"Hehehe iya mbak..."

Ulil kalem, aku rusuh. Betapa paduan yang serasi, bukan? Setiap kali aku mengeluarkan kata-kata, Ulil pasti haha hihi sendirian.
"Kenapa sih, ketawa?" Aku bertanya sambil pandangan mata lurus ke layar dan jari-jemari sibuk memijat-mijat stcik game.
"Hehehe, enggak, mbak. Lucu..." Suara Ulil malu-malu.
"Eh ini gimana mau naik ke kudanya, Lil?"
"Itu loh, berdiri di lingkaran biru. Pencet L2. Panggil kudanya siul-siul otomatis, mbak. Nanti naik sendiri, deh mbak..." Ulil menerangkan.
"Oh, iya bener, bener. Pinter, pinter... Haiyaaa! ciha, ciha!!!" Sumpah, aku berisik dan hebatnya, Ulil hanya tersipu. Duh, Ulil manis sekali.

Maghrib pun tiba. Aku pinta Ulil untuk matikan, sembahyang dan antar aku pulang.
"Oy, maghrib, oy! Matiin! Ayo solat!" Kataku setelah meninggalkan Ulil merapihkan PS dan pergi berwudhu.
"Hehehe iya, mbak." Lagi-lagi Ulil hanya haha hehe.

Aku melihat Pak Wakhid berbaju koko rapih, peci di kepala dan sajadah di pundaknya dengan tampan meninggalkan rumah. Ia hendak berjamaah di masjid. Di kamar, aku menemukan para anak gadis yang masih saja golar-galer di atas kasur meski sudah mandi.
"Buset deh anak perawan bukannya sembahyaaaaaang~~ Astaghfirullah al'adziim..."

***

Aku tidak suka menunggu. Sampai kapan pun aku benci menunggu. Namun ada beberapa hal terkecuali seperti saat itu. Pak Wakhid belum juga pulang padahal kami sudah siap berangkat pulang, terlebih Bu Upi yang sejak tadi sudah cantik untuk mengantar kami. Jam menunjukkan hampir pukul 18.00. Kereta kami akan meluncur ke Jakarta pukul 18.30. Tiwul menggerutu, "aduuuuh... Ini mana sih? Emang keburu apa nih kita. Entar ketinggalan kereta gimana?" Lalu aku menambahkan keresahannya, "eh kita naek apa dah? Mobilnya aja belom dateng..." Keadaan diperparah ketika Dita tak menampakkan batang hidungnya. Ia di dalam kamar bersama sang Ibu entah sedang apa. Haduh. Pada momen-momen seperti ini lah kesabaranku diuji.

All set. Go! Ada duka menyelinap di setiap perpisahan. Aku bersedih, entah bagi tiga temanku yang lain. Aku akan merindukan suasana desa ini seperti aku merindukan kebun-kebun di halaman rumah tetanggaku dulu. Aku pula akan merindukan jalanan yang lengang dan pengendara kendaraan yang sopan dan sabar seperti aku merindukan beberapa tulisan tentangku dan dirinya. Aku akan merindukan kelembutan Bu Upi dan keramahan Pak Wakhid seperti aku merindukan sosok Goesti Nurul puteri Kasultanan Surakarta beserta suaminya. Sebagai penutup malam itu, aku berbisik kepada Ulil yang tak ikut mengantarku ke stasiun dengan berpesan, "inget ya Lil, jangan pacaran. Jaga hatimu untukku saja. Aku akan kembali..." Ulil terkekeh-kekeh. Aku meminta ampun pada Tuhan Yang Maha Esa dalam senyum godaku. Terima kasih, keluarga Mbak Dhita. Semoga Allah memberkahi kalian. Amin.


Kalau ketinggalan cerita, silahkan klik ini :)

Sabtu, 07 Maret 2015

Berhitung

Horeee... Aku punya slip gaji! Soal berhitung, begini ceritanya...

Selama sekolah di SMA, aku terjebak di penjurusan IPA. Di sekolahku dulu, kelas IPA-nya eksklusif, hanya satu kelas. Namun aku tak menganggap diriku cemerlang. Aku biasa saja. Masuk IPA juga mungkin karena hoki. Rejeki. Lagian aku gak bangga-bangga banget jadi anak IPA. Sebab aku gak terlalu suka hitung-hitungan. Aku bukan anak yang perhitungan sih. Anjash.

Meski gak suka hitung-menghitung, aku terlatih untuk menjadi "anak IPA". Lumayanlah aku bisa lulus kan. Setelah lulus SMA, kuliah. Puji Tuhan aku masuk ke jurusan yang tepat; dimana hitung-hitungan hampir sama sekali tidak ada! Palingan hanya mata kuliah statistik, itupun di semester 7. Terlebih aku punya banyak teman yang siap membantu memberi contekan atau kerja sama tugas pada mata kuliah itu. Dilalahnya, aku mendapatkan dospem saat skripsi yang anti quantitative research! Jadilah aku meneliti model kualitatif dengan hitungan-hitungan yang sangat sederhana. Yang masih sederhana seperti persenan aja masih dibantu bunda yang mantan guru matematika. Hehehehehe. Mamaciw momski...

Kelemahanku dalam menghitung ternyata membawa dampak yang sangat besar disaat aku melamar kerja. Disaat panggilan-panggilan interview datang, dan nego soal gaji, aku mati kutu. Haduh, gimana ngitungnya ya? Aku jadinya digaji berapa per-hari kalau dikasih gaji sebulan segitu? Kalau perjamnya aku berapa dong? Nanti ongkosnya berapa? Menguntungkan gak yaaa? Aku bertanya-tanya dalam otak dan hati. Tak jarang, sesampai di rumah, aku langsung berdiskusi dengan bunda. Gak jarang juga aku salah hitung. Bunda cuma bisa menggeleng-geleng kepala dan menggumam, "aduh, oon banget sih kamu, kak... Udah lulus, masih aja susah ngitung! Malu-maluin!" Ya biarin. Berarti kan aku gak pusing-pusing cari kerja dengan itungan untung-rugi. Hehehe. Pokoknya aku mau gaji yang cukup buat jalan-jalan, nabung, jajan, sedekah dan kasih saku ke bunda! (Wew, banyak anet~)

Alhamdulillah sekarang udah dapet kerja. Meski masih kontrak satu tahun, aku sama sekali gak masalah. Yang penting ilmuku terpakai dan aku gak nganggur! Ada lagi kerjaan sebagai part-timer teacher. Nah untuk itu aku lebih gak masalah. Soal gaji, ya lumayanlah. Kerjaku gak berat. Liburku banyak banget (sebab sekolahku aktif belajar per-tiga bulan) dan masih terjangkau dekat rumah. Meski pun yang di sekolah ini gak sesuai dengan cita-citaku, ya oke lah. Lumayan buat di CV. Sesungguhnya aku ingin punya usaha sendiri, seperti yang sudah kurencanakan. Tapi untuk memulai itu semua, menjadi pegawai adalah lumrah.

Setelah menerima gaji pertama, aku langsung lapor bunda. Berhitung dengan beliau juga. Bunda mengajariku mengatur uang. "Kan mau beli rumah... Ya semuanya harus di-manage." Kata bunda. Oke, yuk berhitung!

Anggaplah gajiku lima juta. Biaya operasionalku hanya bensin. Makan siang dan snack selalu bawa dari rumah. Maka, uang bensin satu minggu 25,000 x 4 minggu = 100,000. Sebab bekal dari rumah, uang saku bunda harus lebih besar, serta janjiku untuk menanggung uang saku si bungsu. "Aku kasih bunda 2,5 juta ya. Udah termasuk uang jajan Nabilah loh..." Bunda mengangguk. Maka sisa gaji tinggal 2,4 juta. Bunda mulai bersabda, "Zakat jangan lupa... Abis itu kamu tabungin tuh sisanya. Atau mau nabung lebih dikit ya terserah. 2,4 dikurang zakat 125,000 sisa 2,275,000. Kamu tabung 1,5 jutanya, tinggal 775,000. Itu yang sisa buat pegangan kamu satu bulan. Boleh dijajanin, dibelanjain, tapi jangan mentang-mentang sisa, jajan dan belanjanya heboh. Jangan ya. Nah belum lagi uang privat, nanti kalo pas lagi dibayar hasil privat, kamu tabung lagi, ditambah dengan uang sisa gaji itu tapi jangan semua juga, buat pegangan sampe gajian bulan Maret. Nah kalo masih sisa juga pas gaji bulan Maret turun, kamu itung lagi kayak tadi, sisanya yang bulan ini ditambah tabungan di uang gaji Maret. Gitu... Jadi kamu punya uang cadangan. Nanti, kalau udah cukup buat beli emas dan berlebih buat ditabungan, bilang sama Bang Basyir beli 5 gram logam. Begitu seterusnya."
"Satu lagi, jangan berani-berani pake uang tabungan kalau uang peganganmu habis cuma demi baju, jajan atau keperluan yang gak penting! JANGAN BOROS!!!" Bunda menambahi sambil melotot. Tot.

Naaaah... Bingung gak? Coba baca lagi deh hehehe. Intinya atur secerdas-cerdasmu dan sesuai kebutuhanmu. Satu yang pasti, bundaku hebat euy! Aku langsung semangat. Demi masa depan. Demi rumah impian, bakery shop idaman, jalan-jalan keliling Indonesia. Aaaah... Bisa lah yaa...

Beruntunglah aku bukan gadis make-up-an. Gak ada budget beli perlengkapan make-up. Aku juga bukan anak tongkrongan di Starbucks atau warung kopi lainnya, aku gak minum kopi. Makin bersyukur bahwa aku gak punya perawatan apa-apa. Dari rambut, wajah hingga spa, aku gak perlu pusing pikirin itu. Baju dan trend ku ya paling mahal diskonan Metro. Aku anak Tenabang banget soalnya. Kalau pun mau hura-hura, paling banter ya neraktir abang, adek, ayah-bunda, encang, encing, sahabat-sahabat dan mengasihi anak yatim. Satu hal yang paling penting, aku jomblo, mblo. Gak ada lagi anggaran dana untuk perayaan anniversarry kesekian bulan, beliin kado pacar kalau ulang tahun. Surprise demi terjaganya romantisme hubungan dan lain-lain. Jadi, untukmu, calon jodohku, aku sederhana kok. Yuk ah! (Kode besar).

Maka, bagaimana aku mau gak bersyukur? Kalau dalam Quran surat Ar Rahman yang diulang berkali-kali itu, maka nikmat Tuhan-Mu yang manakah yang engkau dustakan? Aku gak perlu bayar sewa tempat tinggal, gak perlu pusing uang makan seharian. Listrik, PAM, First Media, ongkos londri, semua tinggal terima. Terima kasih ya Allah. Makasih bangeeeeettt... Semoga anggaran lanjut studi segera digalakkan! Eh, jangan deh. Mari memburu scholarship!

Terima kasih juga ya, bunda... Sabda bunda yang selalu kuingat, "jangan pelit ame harte! Sedekah banyakin! Kagek bikin lu mati miskin dah. Malah sebaliknye; harte bande berlimpah berkah." Amin. Love you to the fullest!😚

Sabtu, 21 Februari 2015

The Solehah Girls


"Surround yourself with BETTER people. You are the average of the five people you spend the most time with." - Anonym

Pertama-tama, saya haturkan kepada kalian, selamat tahun baru masehi 2015 bagi yang merayakan. Perayaan tahun baru adalah kesunyian masing-masing.

Di awal tahun 2015 ini, banyak kejadian indah yang sudah aku terima. Kelar sekripsi, disidang sama dosen-dosen paporit, dirayain bareng-bareng sahabat! Kurang kul apalagi awal tahunku???

Omong-omong soal sahabat, ketahuilah bahwa aku bersahabat dengan para gadis-gadis solehah. Bekas santriwati, keturunan kiyai, calon ibu guru masa kini dan calon istri yang pasti akan mengabdi pada suami.

Sebagaimana Opick bersabda soal obat hati, perkara berkumpul dengan orang soleh adalah hal yang dianggap penting. Bagaimana tidak, dari lima usulan, setelah baca Quran dan maknanya, solat malam dirikanlah, selanjutnya disusul dengan berkumpulah dengan orang soleh. Dan aku aman.

***

Pengumuman tes Ujian Masuk Bersama (UMB) waktu itu digelar malam, ba'da isya. Secara online serempak di seluruh Indonesia. Aku kesulitan mengakses internet. Belum ada Bolt kala itu. Tekadku, aku pasti dapat UNJ! Kampus dambaan, sebab masuk IPB tak dapat restu. Pokoknya aku yakin, aku akan jadi anak Rawamangun!

Dunia pertwitteran ricuh malam itu. Banyak abege-abege gemes ribut menanyakan hasil UMB atau keluhan tentang web resmi yang down. Aku santai. Soalnya ada seorang teman yang akan membantu mengecek hasil tesku.

Di SMA, aku anak IPA. Ketika ikut tes, kuambil paket IPC. Maksudnya biar bisa ambil jurusan IPA maupun IPS saat kuliah nanti. Pilihanku ada 4:
1. UNJ, PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS
2. UNJ, PENDIDIKAN BIOLOGI
3. UIN, PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS
4. UI, ILMU GIZI

Iya, UI kujadikan pilihan terakhir. Secara urutan passing grade tentu salah. Namun, sebagai anak yang anti-UI, aku sudah ada di jalan yang lurus nan benar.

Sampai akhirnya, Merdika, teman yang mengecek hasil tesku, menyampaikan "Ra, alhamdulillah lo dapet di UIN, pendidikan bahasa inggris." beserta bukti fotonya.

Reaksiku pada saat itu adalah lemas. Lunglai. Tak bersemangat. Lah. UIN? Bukannya UNJ? Kok UIN sih... Aku kurang senang.

Kusampaikan berita sedih ini kepada bunda. Bunda malah sebaliknya, "Alhamdulillah, kak... Kapan daftar ulangnya? Ayo kapan mau makan-makan. Bunda mau bayar nazar." Kubalas dengan, "terserah~"
Kenapa bundaku sangat bahagia? Sebab menurut bunda, lolosnya aku di UIN tak lebih dari jawaban doa-doa beliau dan petunjuk melalui mimpi berkat istikharahnya yang tak putus-putus. Sedangkan aku sejak SMA masih saja tak memercayai itu.

Di kamar, aku menenangkan diri. Tenang, masih ada SNMPTN, gumamku. Jarak penutupan daftar ulang beserta pembayaran di UIN dan ujian SNMPTN hanya satu minggu. Kalau aku tidak bayar terlebih dahulu di UIN selama seminggu itu, aku akan kehilangannya. Namun, SNMPTN satu minggu lagi. Aku galau. Bunda tidak.

Pagi itu aku, bunda dan kakak sepupuku berangkat ke UIN. Aku sudah pernah cerita kesalahan kostumku saat daftar ulang.

Setelah resmi daftar ulang dan test TOEFL/TOAFL, ujian masuk PTN melalui SNMPTN segera dimulai. Aku bersikeras tetap ikut, namun bunda mencoba mematahkannya dengan berkata, "udah lah kak, percaya deh sama bunda, kamu gak bakal lolos. Denger!"

Batinku berteriak. Maksud lo? Liat nih ya, sampe gue lolos, gue bayar sendiri kuliah!

Satu bulan kemudian, ketika pengumuman SNMPTN tiba, aku kembali dikejutkan. Pilihanku kala itu; (1) UNJ PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS (lagi), (2) UNJ BIMBINGAN KONSELING. Pada akhirnya Allah tidak merestuiku masuk UNJ Pend. Bahasa Inggris. Aku lolos, tapi di pilihan kedua.

***

Menjalani perkuliahan di tempat yang tidak kuinginkan sangatlah sulit. Aku tidak berkerudung sejak kecil hingga SMA. Lalu terpaksa menggunakannya di bangku kuliah. Teman-teman yang sama sekali belum kukenal. Situasi yang berbeda. Pergaulan yang tak sama. Semua serba asing dan aku enggan beradaptasi. Aku belum ikhlas.


Sampai akhirnya aku bertemu Nur Pratiwi, Sari Febrianti dan Siti Afifah. Tiga makhluk itulah yang menjadi karibku sejak awal-awal semester hingga kini. Perkenalan kami tentu saja aku lupa hehehe.


Tiwul alias Nur Pratiwi adalah bocah gadis yang susah dewasa. Ia begitu konyol untuk dikatakan sebagai mahasiswi. Tingkahnya yang 'ada aja', guyonannya, kocaknya, Tiwul lah yang selalu dianggap sebagai ice breaker di tengah-tengah kami. Ditambah postur badan yang (memang) gak tinggi, lincah, (gak) mancung, dan (memang) sedikit gelap, Tiwul pun sering dijadikan objek bullying. Namun, aku salut akan kegigihannya dalam setiap mengerjakan tugas kuliah pun skripsi! Kecil-kecil cabe rawit. Melesat cepat. Ia juga mudah menitikan air mata. Ada momen dimana Tiwul, anak Planet Bekasi, nyasar di Bundaran HI. Ia menangis bak anak ayam kehilangan induk. Makhluk alien masuk kota. Oh ya, doi jomblo dari lahir! Itu yang membuat kekagumanku bertambah terhadapnya. Inget janji kita di buku diary genk, kan Wul? HUTANG NASI UDUK, TAHU, LONTONG DAN TEH MANIS!!! (Ini hanya aku dan Tiwul yang mengerti)

Sari Febrianti. Ia adalah sulung dari tiga. Semua saudaranya perempuan. Tentu, ayah dan ibunya sangat ketat dalam aturan. Ia tidak boleh keluar malam. Pulang harus sebelum maghrib, dan baru sekali jalan-jalan jauh ke Bali. Itu pun berkat acara study tour dari sekolah ia mengajar. Sepulangnya, ia sakit flu dan demam. Akrab dipanggil Aa, anaknya suka pamer. Persis seperti aku. Maklum, kami aquarian. Minusnya, dia kurang pengetahuan soal jalanan-jalanan ibu kota atau tempat nongkrong anak kekinian. Yaaa gak apa, domisili Pondok Aren. Namun, Aa menurutku adalah anak yang sangat baik. Ia sangat patuh terhadap ibu dan ayahnya. Jika sudah lewat ashar, ia selalu mendapatkan pesan singkat dari ayahnya, "Aaaaaaaa~ pulaaaaaaaang!!! Mau maghrib!!!!!" Dengan sigap Aa mamakai jaket, masker, mengambil tas dan berpamitan. Ia pula didoktrin untuk menjadi wanita yang mandiri oleh sang ibu, maka ia disekolahkan lanjut ke magister dan baru patah hati dari sang kekasih. Sabar ya, A. Menyesal lah para lelaki yang telah menyia-nyiakan kita, A! Ingat janji alasan kita kenapa ingin menikah? Yup, untuk menyempurnakan ibadah. Perfect!

Selanjutnya Vivi atau Siti Afifah. Ah, kesolehahannya jangan diragukan. Seorang gadis dari keluarga yang sangat islami. Kalem. Selo. Baik. Sabar. Pintar mengaji, urus rumah. Wah. Vivi idaman para calon mertua. Meski pernah pacaran dua kali, dan dilukai dua-duanya, Vivi tak pernah patah semangat. Ia berdoa. Terus berdoa. Agar mendapatkan jodoh yang terbaik di antara yang baik. Alhasil, ia hampir dilamar tetangganya! Bukan hampir, bahkan segera! Vivi segera menikah! Vivi pun rajin. Tekun. Gigih. Tak heran bahwa ia tak pernah absen saat bimbingan skripsi satu minggu sekali. Dan Vivi lah orangnya yang bisa sidang lebih dulu. Vivi bagaikan kiblat hidup kami. "Kayak Vivi dong, solehah. Urusan idupnya lancar ajaaaa~" amin... Vivi pula lah penyebar "ngebet kawin" sebab tak akan lama lagi Vivi akan menjadi istri orang! Aaaaaaak~

Selama kurang lebih empat semester, kami berempat selalu main bersama. Makan bersama. Mengerjakan tugas bersama. Mengunjungi Sevel-sevel terdekat bersama. Secara kita kan maunya jadi gaul dan pada saat itu, Sevel Syariah Pesanggrahan belum dibangun.

Ketika di tahun kedua. Baru lah aku bertemu dengan Nadia Saniyatul, Sita Pradhita, Listianty Ridayu, Ranny Junita, Ummu Salamah dan Nurmaw 'Izzatillah.

Nadia, Tata, Dhita dan Ranny bersatu dalam satu atap, Oot's Green House. Mereka adalah gadis-gadis hebat penakluk orang gila. Bayangkan, mereka bisa tinggal satu atap dengan putri dari ibu kos yang sakit mental dalam jangka waktu yang panjang. Luar biasa!

Nadia, yang biasa kupanggil Saniyatul konon adalah putri dari seorang kiyai di bukit Pemalang. Sedang membangun pondok di rumahnya. Rumahnya bak taman surga yang menafkahi para yatim. Saniyatul golongan solehah kelas menengah. Ia pun sejak lulus SD hijrah ke pondok pesantren. Hingga kini ia tak betah tinggal di rumah berlama-lama. Tapi ia tidak pernah pamer akan kesolehahannya. Justru malu. Maka dari ini aku pamer-pamerkan doi. Anaknya pasrah soal jodoh. Malah minta dijodohin. Saniyatul adalah orang yang paling dapat dipercaya. Tak seperti aku, Tiwul, Aa atau siapalah, kalau dirasa curhatan itu aib, Saniyatul akan tetap bungkam untuk bicara. Dia adalah penjaga rahasia yang baik. Dia amanah. Saniyatul suka jajan. Sama seperti aku. Soal makanan, Saniyatul sangat royal. Gak ribet. Jadinya aku sering banget ajak dia jalan. Kurangnya adalah jika Saniyatul belanja, pasti lama banget. Kayak cewek pada umumnya. Hih. "Kalo lo belanja sama emak gue, udah dimaki-maki lo, San!" Pesanku tiap menemaninya belanja yang super duper lama.

Tata alias Tanty alias Listianty. Ia sulung dari tiga namun kelakuannya bak bungsu dari 12!!! (Ta, percayalah, banyak keluhan-keluhan tentangmu selama ini. Perlu ditulis? Hehehe). Tata itu cuek. Pake banget. Berdasarkan cerita anak Ootdiyah, Tata itu paling males. Pada setiap jadwal kuras bak mandi, doi selalu punya jawaban yang sama, "entar, belum dateng mood-nya..." Huft. Tata lah yang memiliki perubahan penampilan sangat signifikan. Dahulu, Tata belum berbehel. Masih kucel. Kerudungnya bergo yang langsung pakai. Culun. Namun, lihatlah sekarang, Tata berevolusi. Ia cantik. Bermuka cerah. Terawat. Berbehel. Bisa pakai eye-liner. Wangi. Ketularan virus Racun Cinta dari aku. Kerudungnya pashmina. Cantik lah. Tak salah jika banyak berondong-berondong kampus gila padanya. Tapi mungkin sekarang sudah punya gacoan yang lebih dewasa, kayaknya. Meskipun dia introvert, tapi Tata hobi jalan. Aku suka!

Dhita atau Ditdut. Cah Puertorico Jawa Tengah ini, sering mengundang tawa hanya dengan intonasi dan aksen yang ia punya saat bercerita. Anak kesayangan bapake ini selalu keren ketika menjepret hasil foto. Dita sangat menggandrungi k-pop. Ia hapal nyanyian, drama, tarian bahkan film di Korea! Soal film, Dita lah ratunya. Ia bahkan hapal setiap judul beserta pemeran utamanya, atau bahkan adegan per adegan. Kecuali film Ada Apa Dengan Cinta. Kasian ya. Masa remajanya kurang bahagia. Menurutku, Dita dan Tiwul itu pasangan yang serasi. Sama-sama k-popers, penggila Rafi-Gigi, anak Jawa, dan lain sebagainya. Kalian ingat tentang tayangan pernikahan Rafi-Gigi di tv? Aku lah saksi hidup yang menyaksikan betapa hebohnya Dita dan Tiwul saat Rafi hendak ijab kabul dan setelah ijab sah. Dita dan Tiwul berteriak. Bersorak. Bergembira. Bahkan hampir menitikan air mata. Hahahahaha...

Ranny! Behahahahahaha. Gadis kloningan Mas Dedik. Mirip banget Mas Dedik, penyair termasyhur se-Pisangan, Ciputat dan sekitarnya. Ranny, bolehkah aku mencap kamu sebagai putri-paling-sok-tahu seantero Cawang? Hehehe
Ranny selalu tahu jawaban-jawaban dari setiap pertanyaan. Meski ia selalu mengakhiri dengan frasa, "eh gak tau juga ding!" Aku menduga bahwa Ranny telah tercemar virus Vikinisasi. Kalimat yang ia ucapkan acap kali membuat kami terbahak dan mengernyitkan dahi. "Ujannya kecil tuh, tapi basah...", "Bayar pake duit kas aja (harusnya cash)", "Beliin gue shampo clean & clear ya..." dan sebagainya dan sebagainya. Oleh karena itu, aku sering menyebutnya Ranisisasi. Meskipun kocak, Ranny lah ratu paling kreatif seantero Asrama Putri UIN! Kreatif cari uang dari hasil tangan kreatifnya membuat pernak-pernik. Sila cek instagramnya @ranny_junita.

Kedua sahabat terakhir berikut memiliki sisi favoritku masing-masing. Mereka memiliki keahlian yang belum ada pada diriku. Mereka keweeenn~

Ummu Salamah. Anak kesekian dari sekian bersaudara (sekian sebab banyak banget saudaranya, kalau gak salah 7 orang). Akrab dipanggil Cetot pemberian anak-anak mapala ARKADIA UIN. Cetot bertubuh paling mungil cimil-cimil. Ia imut lagi menggemaskan. Namun sayang, jangan biarkan ia bersuara jika jantungmu tak mau copot kelojotan hehehe. Ini lebay. Tapi betul, suaranya aduhai cempreng dan menggelegar. Ditambah dengan bulat matanya yang terkesan hendak mencuat saat diajak bicara. Cetot tak pernah terlihat woles. Selamanya ia nyolot. Meskipun begitu, Cetot tetaplah Cetot. Seorang wanita butuh kasih sayang. Ia memiliki pacar, Goozy (panggilan kesayangan), yang mana adalah senior paskibrakaku dulu. Cetot hobi makan. Suka jajan. Anaknya nyantai. Ia tangguh. Kuat. Pemberani. Ia pecinta gunung. Sering mendaki gunung dan pecinta Alam. Iya Alam. Alam Goozy. Pacarnya. Ugh. Yang hebat dari Cetot, sekepepet apapun ia, Cetot selalu santae kek di pantae. Ia tak pernah segrasak-grusuk aku. Kalem namun menggelegar. Ia juga pandai dalam urusan tata bahasa atau grammar. Itulah Cetot.

Akhiran, Nurmaw 'Izzatillah. Panggil saja Numa atau Maw. Nah, dia adalah penulis favoritku! Kawannya Mas Dedik. Anak FLP Ciputat gitu loh. Maw sudah pernah merilis buku meski aku belum mendapatkan gratisannya hehe. Ia selalu asyik jika diajak curhat. Diajak bincang soal masa depan, khususnya asmara. Maw paling banyak menyaksikan bagaimana asam garam kehidupan rumah tangga melalui kakak-kakaknya. Maw selalu dewasa. Namun, satu hal yang pasti, Maw adalah putri rempong. Kalau ke restoran, pesan makanan, pasti ada saja syarat yang ia keluarkan; jangan pakai bawang lah, jagung lah, tempe lah, apa lah. Rem to the pong. Ia pun mudah panik. Suatu ketika beberapa diantara kami sudah selesai skripsi. Maw kebakaran jenggot sebab merasa ditinggal ditambah dengan dospem yang akan minggat ke Ostrali. Ia khawatir akan keribetan yang terjadi untuk mengganti dospem. Maka Maw panik. Panik sekali meski akhirnya indah, Maw selalu tetap putri rempong.

***

Kau tahu, siapa sosok paling hebat pada kesepuluh dari kami? Tahu????? Sosok itu adalah para orang tua. Khususon ibu. Bayangkan jika para ibu tak mendidik kami dengan benar, tak sering menasehati tentang nilai kebaikan dan keislaman, mungkin kalian akan menemukan kami berkerudung di kampus lalu umbar aurat di club. Kami sering umbar aurat jika hanya di kosan Oot saja kok... Sungguh. Kalau aku yaaaa, palingan kalau liburan ke pantai buka-bukaannya hehehe.

Tak pernah salah omelan-omelan ibu dan nasihat-nasihat bapak untuk kami para anak gadis. Apalagi kepada sahabat-sahabatku yang merantau. Kami wajib menjaga diri, harga diri dan nama baik keluarga. Aku yakin, mengapa orang tua kami merestui untuk menimba ilmu di UIN, salah satunya agar kami, para calon ibu, mendapatkan ilmu dunia dan akhirat. Sebab ummi almadrasatil ulaa~

Bersyukurlah wahai bapak dan ibu kami, tak sedikit pun kami mengenal diskotik, miras, bahkan narkotika. Hanya satu yang pasti; lagu Mirasantika dari Bang Haji Rhoma lah yang sering kami dendangkan. Teeett! Maksiat yang sering kami gelar pun hanya ghibah dan gosip. Ya namanya juga perempuan... Astaghfirullah.

Ketika hampir semua lulus kuliah, kalian akan sibuk dengan karir dan urusanmu masing-masing, sahabat. Tak apa. Itulah hidup. Sebagian pergi dan sebagian datang. Tapi percayalah, kawan, senyebelin apa pun kalian, kalian sahabatku dan aku akan selalu merindukanmu. Sukses selalu ya. Jangan lupain aku yaaaaa... Sekarang aku ikhlas jadi lulusan UIN dan bahkan sangat bersyukur. Ketika harus berpisah dengan kalian, kadang di situ saya merasa sedih.

Terima kasih para ibu dan bapak sekalian. Anak-anaknya aku jadiin sahabat ya. Semoga berkah dunia akhirat. Bapak, ibu, kalian aman. Anak-anaknya cool! Selamat wisuda. Selamat menjalankan hidup yang sebenarnya. Jangan lupa minta dicariin jodoh wahai para jomblo~~

Senin, 16 Februari 2015

Pulang ke Kampung (Orang) Bagian I

"Aelaaaaah... Ntar sik, abis gue daftar wisudaaaaa~~~" Rengekku kepada Dita.

Dita, salah satu anggota Genk Solehah, asli Purwokerto. Sudah satu semester ia tak pulang ke rumah. Maklum, mahasiswa tingkat akhir. Harus skripsi, sidang, mengejar dosen demi tanda tangan dan birokrasi-birokrasi kampus yang bisa bikin mampus demi sebuah toga.

Dita ingin pulang. Aku ingin ikut. Singkatnya begitu. Cetot dan Tiwul pun juga. Mereka kawan sepermainanku di kampus. Sayangnya, ketika Dita lapor mau pulang, aku masih ribet urus ini-itu sisa ampas-ampas sidang dan mengejar deadline daftar wisuda. Makanya aku merengek untuk sabar menantiku. Alhamdulillah semua urusan lancar dan cepat.

"Kita mau berangkat kapan? Selasa?" Tanya Dita via Whatsapp.
"Rabu ajaaaa... Selasa gue masih ada privat hehehe" Balasku.

Oke, tiket berangkat sudah dipesan. Dengan kereta Bengawan yang sudah tidak murah lagi kami berangkat. Sebelum Rabu tiba, kudapati pesan dari Tiwul,"Bi, beli tiket balik sekalian aja yuk! Takut kehabisan."
"Boleh..." Jawabku singkat.
"Mau balik kapan?" Tiwul bertanya.
"Senin aja. Piye?" Tawarku.
"Lah si Cetot malah mau balik Jumat! Gak kelamaan kalau Senin?"
"Buceeett! Dapet apaan kalo Jumat udah baliiiiiiikkk~" Aku terperanjat.
"Hahahahaha makanya... Gimana kalo Sabtu? Sabtu malem?" Tiwul menengahi.
"Nah yauda itu mendingan. Gue kapan aja dah, Wul. Yang penting jangan Jumat. Hahahaha" Putusku.

Kami sepakat bertemu langsung di Stasiun Senen. Siapa pun yang datang lebih awal, maka ia harus menyetak tiket. Tiwul yang berdomisili di planet Bekasi datang lebih dulu. Disusul aku. "Waaakkk... Kita berangkaaaatt!" Sapaku dari jauh berlari kecil menghampiri Tiwul. "Baru tumben kan lo jalan ama guweeehh hehehe..." Lanjutku.
"Woelah, Biy! Mau naek gunung? Tas lo gede amaaaaattt..." Ledek Tiwul setelah melihatku menurunkan tas carrier 30 liter dari pundak untuk duduk ngaso menunggu Dita dan Cetot.
"Yoi!" Jawabku singkat.
Kami menunggu cukup lama. Kata Dita di Whatssup, Blok-M macet. Sesampainya mereka, kami sambut dengan senyum sumringah. Wih, jadi lah kita jalan-jalan bareng! Lagi-lagi aku diejek oleh Dita dan Cetot,"mbak, ko arep ndhi mbak? Naek gunung? Hahahahahaha" ledek mereka.
"Liat aja ntar kalo tas gue lebih berguna yaaaa...hehehehe"

***

"Cirebon sekarang dua stasiun tau..." Dita bercerita.
Di kereta, kami berlomba-lomba saling bercerita apa saja. Tentang kampung halaman masing-masing. Aku, anak Betawi (dari bunda), hanya mampu bercerita tentang kampung halaman ayahku. Brebes. Sayangnya hingga kini belum pernah kakiku menginjak tanah leluhur ayah.

"Ih Brebes! Kampung babe gue nih." Kataku ketika kereta melalui stasiun Brebes.
"Ya gak jauh deh sama Purwokerto, Bi..." Lanjut Dita.

Selain bercerita, kami saling berbagi tawa. Tak ada yang tidur. Kebetulan waktu bepergian kami masih terang, jam 11.55 dari Stasiun Pasar Senen. Jadi, empat pasang mata masih segar.

"Ih, ih belokan nih jalannya! Tuh kepalanya (kereta) gue bisa liat!" Seru tiwul sambil melongok-longok ke luar jendela demi memandang ndas kereta. Aku pun latah meski duduk berseberangan dengan Tiwul. Ikutan ingin melihat ndas kereta, kuhampiri Tiwul dan kupepetkan kepala ku ke kepala Tiwul. Kepala dan kepala saling beradu. Tiba-tiba Tiwul mendorongku dengan kasar,"eh begooookk... Elu kan bisa liat dari tempat duduk lo buntutnya kereta, Tul! Ngapa repot banget daaaah~"
"Ohiyaaaaa... Behahahaha! Lo pinter ih. Maaf ya maaf. Gue bangga punya temen kayak lo yang maha cerdas!" Pujiku pada Tiwul sang maha cerdas.

Sesampainya di Purwokerto kurang lebih pukul 17.45, tanpa ba-bi-bu kami langsung menyewa taksi dan meluncur ke kedai bakso yang paling fenomenal di sana; Bakso Pekih. Anjrit! Baksonya wuenak!!! Murah pula. Tiga belas ribu rupiah uwis wareg! Aku menyesal sebab pesanan bakso tetelan kawan lain lebih menggiurkan. Aku berjanji pada diriku sendiri, suatu saat aku akan kembali ke tempat ini dan memesan bakso tetelannya!

Kenyang dengan Bakso Pekih, kami berjalan ke arah alun-alun. Cetot dan Dita menggenggam satu bungkusan kecil di tangan kanan mereka; Es Brasil. Es krim lokal di Purwokerto. Rasanya? Aduh, maaaaakkk~ aku langsung jatuh cinta. Berjanji lagi lah aku pada diri sendiri, aku akan membeli es krim ini untuk oleh-oleh ke Jakarta!!!

Langit sudah menampakkan kuasanya. Matahari pun tersipu terbenam. Adzan Maghrib akan tiba. Mari kita sembahyang di masjid raya.

Sebelum pulang ke desa Panembangan dimana Dita dilahirkan, kami tak lupa bernarsis ria di Alun-alun Purwokerto. Ada air mancur lengkap dengan lampu warna-warni menghiasinya. Tulisan "Purwokerto" besar bercahaya di atas layar lah background andalan kami. Rumah bupati pun tak ketinggalan sebagai latar wefie kami. Purwokerto tenang dan menenangkan saat malam.


***

Aku tidak ingat jalan menuju rumah Dita malam itu. Di taksi aku lelap. Yang jelas, Dita memasang stopwatch untuk mengetahui berapa lama jarak tempuh dari Alun-alun ke desanya. Kurang lebih 25 menit kami tiba. Dua puluh lima menit di desa akan selalu berbeda dengan 25 menit milik Jakarta.

Kupanggil ia Ibu, Bu Upi. Aku memberi salam kepadanya ala-ala anak Indonesia berbudi pekerti luhur; kukecup punggung tangannya dengan bibir. Bapak Wakhid sedang Isya-an di masjid kata Bu Upi sebelum ada sosok bayangan hitam keluar dari tirai kamar. Bayangan itu tinggi, tak terlalu besar. Seketika ada kerlingan senyum putih dari gigi. Ulil. Adik tunggal Dita.
"Weeeeeehhh... Uliiiiiiillll~~~" Kami berempat berseru. Ulil tersipu.
"Eh, Fuuuu... Ko gi apaaaaak?" Sapa Dita dengan mesra. Fu dari kata Fuad. Panggilan kesayangan sang Kakak. Ulil hanya tersenyum.
"Iki lho, salam karo kanca-kanca nyong. Mbak Biya, Mbak Tiwul, Mbak Ummu (Cetot)." Dita memberi instruksi. Ulil menurut.

Berdasarkan berita burung beredar, Ulil adalah bungsu paling manja. Paling keras. Suka ngamuk di rumah kalau pintanya tak dikabuli. Di bayanganku, Ulil itu rese. Jail. Berandal. Begajulan. Eh ternyata dia hobinya mesam-mesem sok malu. Ulil manis. Hitam manis bagai kecap. Ia berondong. Selo aja. Aku gak kepingin.

Kami duduk di sofa ruang tengah Dita. Rumahnya besar. Halamannya apalagi. Lebih besar dari rumahku. Bangunannya pun bagus. Tak kukira desanya Dita semodern ini. Baru kuketahui ketika esok harinya, para tetangga pun berumah tak kumuh. Kurang ajar!

"Assalamu'alaikum..." Suara berat seorang pria terdengar dari luar.
"Wa'alaikum salam..." Semua orang di dalam menyahut.
"Nah ini Bapak." Kata Bu Upi.
Oh, ini toh Pak Wakhid! Sebelas -duabelas dengan Dita mukanya. Hehehe.

Di ruang itu, percakapan hangat terjadi. Ibu Upi seorang Jawa tulen. Meski Ngapak, Bu Upi tetap ramah dan lembut. Pak Wakhid pun. Ulil apalagi. Setiap percakapan pasti diselipkan tawa--dengan bahasa Jawa. Aku kikuk. Secara yaaa gwe naq jeketi giduw loooccchh... Cetot dan Tiwul ya pasti paham lah, sebab mereka juga Jawa. Aku ya haha hihi aja biar akrab hehehehehe.

Sebelum istirahat, kami dipersilahkan untuk makan. Menunya adalah ayam burus dan sambel Bu Upi. Sambelnya wenak meski tak pedas. Aku kan anaknya anti makan malam di atas jam tujuh, sebab aku dipaksa makan, aku bisa apa? Dipaksa nambah pula, aku nurut sajalah.

Waktunya istirahat. Kami berempat ditempatkan di kamar depan. Kamar sudah siap dengan dua buah kasur besar yg didempetkan. Lengkap dengan selimut dan bantal. Subhanallah sekali keluarga Mbak Dita.

Entah mengapa rumah Dita memberikan hawa "mager" bagiku. Udaranya sejuuuuuuuukkk sekali. Tapi aku tidak pernah merasa kedinginan. Malam pertama kami menginap, aku sama sekali tak mendengar adzan Subuh. Tiwul lah yang tahu. Ia membangunkan kami untuk sembahyang. Sebab mager, aku tak langsung bangkit. Golar-galer, golar-galer...

Sekitar pukul 6.30, aku mengajak Dita jalan pagi keliling desa. Nah, saat ini lah kusadari bahwa kampungnya Dita bagus. Bukan dusun. Berbeda dengan kunjungan dua desa saat SMA dan ikut study tour dari sekolah tempatku mengajar dahulu.

Rumah kanan-kiri, depan-belakang umumnya bagus. Modern. Rapih berjejer. Kami jalan kaki dari rumahnya hingga jalan raya yang tak kurang dari 500 meter. Menuruni jalanan aspal. Perjalanan kami dipayungi langit berawan. Ketika keluar gang rumah, aku takjub. Pemandangannya sungguh luar biasa. Ada puncak Gunung Selamet terlihat tertutup awan. Bukit hijau, sawah, dan udara sejuk; FABIAYYI ALAA 'IRAABBIKUMAA TUKADZDZIBAAN...

Sebagai anak asli Betawi, jarang-jarang aku melihat pemandangan seperti ini. Aku sedang memanjakan mata! Subhanallah. Kami terus berjalan. Melewati SD, pasar, lapangan, rel kereta, jembatan, menikung, menanjak, menurun dan sebagainya. Aku haus pula kebelet pipis. Dita menunjukkan sebuah aliran sungai.
"Mau mandi di kali gak?" Tawar Dita.
"Ya kali, Dut, di pinggir jalan gini..." Cetot nyolot.
"Gimana?" Tanyaku.
"Apanya?" Timpal Tiwul ala-ala Mang Saswi dan Sule.

Kami menjelajahi aliran sungai itu. Waaahh... Bening euy airnya! Aku tergoda untuk melompat. Tiba-tiba...
"Duuutt... Pengen pipis. Cari masjid, please." Lirihku.
"Sini aja di kali. Nanti gue cariin tempat biasa dulu gue nongkrong." Namun naas, tempat tongkrongan Dita waktu ia SD jika terdesak ingin pipis telah langka. Lalu Dita mengajak kami ke kandang sapi milik Budhe-nya yang dikira-kira memiliki kamar mandi. Ternyata tidak. Aku panik.

Akhirnya Dita menawarkan hal gila. Hal yang menurut anak urban seperti aku sangat ekstrim. Hal pertama kalinya aku pipis di alam terbuka. "Sini aja lah, Biy... Wangan." Kata Dita sambil menunjuk ke samping jalan setapak yang kami lalui. Wangan? Apa itu? Kenapa menunjuk-nunjuk di selokan itu?

Tibalah waktu dimana aku pipis di wangan. Aliran kecil dari sungai seperti selokan namun jernih. Gila bukan? Dita memraktekan cara pipis di wangan. Cetot jaga di belakang, Tiwul di depan, dan Dita siap siaga jika ada orang lain lewat.

Sebelumnya Dita memberikan demo. Pertama-tama, aku harus melawan arah aliran air; aku menghadap atas, air mengalir ke bawah. Lalu, kedua kaki tidak boleh berada di dalam wangan. Kaki kanan berpijak di tanah sisi kanan wangan, begitu pun kaki kiriku. Lalu jongkok. Membuka celana pun tak boleh sejak aku berdiri. Saat posisi jongkok lah waktu paling tepat membuka celana. Agar tidak ketahuan orang untuk diintip. Kemudian, "ssssseeeeerrrrrr..." Kencingku memancur. Lega sekali. Nah ini lah bagian tersulit. Beristinja. Jarak wangan dengan tanah lumayan tinggi. Aku musti agak merunduk untuk mencapai aliran air dan berbasuh. Ngeri nyusruk. Setelah semua tahap kulalui, aku lupa, aku langsung berdiri. Memakai celana saat berdiri adalah haram! Tapi saking excited nya, setelah selesai, aku bersorak dan berlompat-lompat. "Yiaaay!!! Mission completed! Gue pipis di pinggir sawah!!! Gilz bangz gak tuuuh!!!" Maaf norak. Anak kota. Makasih ya, Mbak Dita...

Kami melanjutkan perjalanan. Kembali menyusuri sungai menuju tengah sawah dengan berlatar bukit hijau nan sejuk. Aku tak henti-hentinya menghirup udara dalam-dalam lalu hembuskan lagi dengan mulut. Damai sekali. Sejuk sekali. Indah luar biasa.

Di pinggir sawah, di pinggir jalan juga kami mengambil (banyak) foto. Dita menunjuk ke arah bukit sambil berkata,"lo liat itu ada putih-putih?"
"Mana? Banyak, hego, putih-putih..." Tanyaku sambil menerawang ke arah atas bukit yang Dita maksud.
"Itu loh, Biy. Yang garis lurus. Itu curug yang besok kita kunjungin."
"Hah? Demi apa lo? Kok keliatan? Kok bisa?" Heranku. Curug itu terlihat jauh sekali namun sepertinya tinggi. Sebab garis lurus yang terlihat cukup jelas.
"Ya bisa... Nah kalo yang itu tuh. Yang rumput hijaunya lebih muda dari hijau yang lain? Yang ada rumahnya tuh... Bisa lihat?" Tunjuk Dita ke atas bukit lagi. Sebelah kiri sang curug.
"Ho oh... Ho oh... Apa itu?" Aku mengangguk dan benar dapat kulihat objek yang Dita tunjuk dengan jelas.
"Itu peternakan sapinya. Sabananya."
"Woaaaahh... Padang rumput? Kayak di New Zealand?" Aku mengonfirmasi.
"Yoi. Keren kan? Besok deh lo liat langsung." Waaah, gak sabar besok!
Setelah puas narsis, kami berjalan pulang. Memotong jalan dengan kembali melewati sungai tadi. Lalu melewati jembatan besi berkarat dan bertemu sungai lagi. Matahari makin tinggi. Bel sekolah-sekolah telah berbunyi. Ibu-ibu sudah mulai menggelar alat cuci dan memakai kemben. Kami mulai lelah. Haus.

Sebelum sampai di rumah, kami mampir ke rumah Lik Fitri, tantenya Dita yang mana bersuami petugas peternakan sapi. Pula beranak bernama Ifa yang maha ekspresif itu. Dita bercerita kepada Lik bahwa kanca-kancanya ini ingin main di peternakan. Lik Fitri baik sekali. Ia hanya tinggal bercerita kepada suaminya agar kami diberi akses masuk. Lik Fitri pun menyuguhi kami minum dan martabak pasar. Sebab lapar, semuanya kami hajar. Kemudian kenyang dan pamit pulang. Tamu kurang ajar.

Rencananya, di hari pertama itu, kami hendak ke kota untuk wisata kuliner. Esoknya hendak ke Baturraden dan hari terakhir barulah kami ke curug dan peternakan sapi. Dikarenakan that Mager Syndrom, setelah jalan pagi, kami sarapan, kenyang, aku ngantuk, bobok lagi. Sambil menunggu Ulil yang meminjam motor kawannya untuk kami pakai, hingga menjelang sore Ulil tak nampak. Sekalinya kendaraan siap, Tiwul dan Dita pergi keluar cari jajan. Aku tidur lagi sebelum Tiwul pulang dan setelah makan jajanan. Tiwul setelah makan pun teler.

Hingga akhirnya sore. Aku bangun dan mengajak ke kota. Cetot menyahut,"ngapain? Orang motornya udah dibalikin sih..." Nada kecewa terdengar dari suara Cetot yang selalu terkesan nyolot itu. Aku merasa bersalah sebab aku yang paling banyak tidur akibat Mager Syndrome. "Yaaahh... Gara-gara gue ya? Maaf... Terus gimana?" Lirihku pada Cetot. Dita datang dan menyelamatkanku. "Heh, malem ini malem jumat kliwon. Kata Mbak gue, gak boleh keluyuran. Besok kita ke curug aja sama ke peternakan. Om gue adanya besok. Kalau Sabtu, doi libur. Nah Sabtu pagi sampe siang, kita ke kota sebelum kalian pulang. Gimana?" Semua setuju. Aku selamat. Terima kasih lagi ya, Mbak Dita...

Maghrib. Kami diajak sembahyang di masjid depan rumah. Oke. Kami anak solehah. Di shaf perempuan, kami paling depan. Tiwul di pojok kanan, lanjut Dita disebelah kirinya, aku, Cetot dan Bu Upi. Dilanjutkan dengan ibu-ibu tetangga.

Masjid ini dinamai An-Nur. Dibangun sedikit menyerong ke kanan, berbeda dengan barisan-barisan rumah di kanan-kirinya. Berkubah sedikit emas, bertiang emas dan diwarnai corak-corak keemasan. Semua emas itu adalah cat tembok. Ada sebuah bedug besar di teras masjid. Di halaman masjid banyak ditanami bunga-bunga, berukuran cukup lebar dan rapih pula bersih. Tempat wudhunya lucu. Ada kolam ikan berisi ikan hias berwarna-warni. Jalan setapaknya pun dipenuhi bebungaan. Di sebelah tempat wudhu ada ruang pertemuan dan teras kecil. Masjidnya keren! Walau di kampung tapi gak kampungan. Lagi-lagi aku memuji kampung Dita sebagai kampung modern.

Jama'ah di sini sangatlah NU. Doa-doa setelah sholat yang dikumandangkan bersama seperti doa-doa yang biasa di dalam rumahku ba'da sholat tarawih berjama'ah dengan encang, encing, dan para sepupu. Aku tak ada kesulitan mengikuti untaian doa-doanya.

Setelah doa, ternyata ada tradisi salam-salaman dan selalu dimulai dari pojok paling kanan; posisi Tiwul! Kami, para tamu, tidak tahu bahwa akan ada tradisi ini setiap selesai sembahyang. Tiwul sedang selo-selonya duduk bersila. Tiba-tiba Dita menepuk-nepuk Tiwul untuk segera bangun. Tiwul kelojotan.
"Woy, woy berdiri! Salaman!" Seru Dita.
"Lah gue duluan? Elu lah..." Tiwul panik. Mukanya jadi putih.
"Hayoloh, Wul, hayoloh!" Godaku.
"Hahaha yauda lo ikutin gue." Kata Dita sambil memulai jabatan tangan kepada aku, Cetot, mencium tangan Bu Upi dan tangan-tangan jama'ah lain. Disambung dengan Tiwul, aku, Cetot dan selanjutnya hingga ujung. Aku senyam-senyum sok ramah saat mencium tangan para ibu-ibu. Wanginya macam-macam. Ada yang wangi sabun; mungkin ia baru kelar mandi. Wangi bumbu-dapur, dan lain sebagainya. Pula bermacam-macam struktur tangan; mulus, kasar, kenyal, keriput, dan setengah keriput.

Malamnya, kami kedatangan Ifa; adik sepupu Dita, sekeluarga. Ifa masih cilik. Usianya sekitar 8 tahun. Ia kelas 2 SD, berwajah dan bermata bulat. Kulitnya sawo matang. Terdapat tahi lalat di antara hidung dan mulutnya. Ifa cetakan Lik Fitri 90%. Ia sangat aktif dan ekspresif. Aku suka. Satu hal yang pasti, bahasa Jawanya lancar! Mantap.

Kedatangan Ifa mengonfirmasi rencana besok. Jadi besok Ifa dan sekeluarga turut ke curug. Berkat ayahnya lah kami dapat akses masuk ke peternakan sapi.

Pada malam ini lah tubuhku diterpa angin Purwokerto. Perutku kembung. Sakit namun tak mulas. Tak ingin buang air. Hanya angin yang diproduksi. Baunya? Bikin mati! Kepada Tiwul, Cetot dan Dita, kalian adalah pejuang cium kentutku. Kalian luar biasa. Jangan pernah menyesal, ya, berkawan denganku...
(Bersambung)

Selasa, 10 Februari 2015

Bunda, Curhat, dong!

"Bund, aku terlalu muda gak sih buat punya rencana ini-itu?" Tanyaku.
"Apa rencanamu, memangnya?"
"Nanti kalau udah kerja, aku mau nabung tapi dalam bentuk emas. Terus bunda mau gak tolongin DP-in rumah, cicilannya biar aku, kalau tabunganku udah cukup, aku ganti uang yang buat DP itu... Aku juga pingin banget punya usaha bakery shop, nanti head chef nya Kak Ria, Halimah, Ibu. Akan kuberdayakan janda-janda! Hahahahaha..." Aku mengepalkan tangan di depan muka Bunda.
"Lah, ngocol. Ya, baguslah. Gak kok, gak terlalu muda. Memang harus begitu, punya tujuan dan target yang jelas. Lagipula kan kamu udah mulai dewasa. Soal rumah, semua udah ada di otak bunda. Makanya kamu kalau gajian jangan jajan mulu!" Sahut si bunda.

"Hehehe iyaaa... Hmmm... Kalau soal nikah. Gimana? Aku gak mau nikah tuaaaa~ kalo ada jodohnya, aku mau nikah usia 23 tahun. Boleh?" Pintaku dengan mantap.
"Gak perlu nunggu umur dua tiga, besok kalo ada yang mau lamar ya hayuk! Dengan catatan; JELAS!!! Keluarganya jelas, agamannya jelas, kerjaannya jelas, masa depannya jelas. Eh emang kamu gak mau ngelanjut S2?" Bunda menambah topik.
"Lah, emang S2 harus dilaksanakan sebelum nikah?" Aku bertanya balik.
"Ya, enggak... Kalau bisa sebelum nikah, kenapa harus sesudah nikah? Bunda sih, yang mana aja oke. Cuma, si ayah nawarin tuh!"
"Ayah nawarin? Ciyus banget??? Mauuu! Dibeasiswain kan? Hehehehe" Aku tergiur.
"Iya, tapi kalo sebelum kelar, kamu keburu nikah, bikin surat perjanjian ya, suami kamu yang lanjut bayarin!"
"Ngahahahahaha ya keleeuuuussshhh~"

"Eh ya, bund, kalau nanti usiaku udah cukup dan belum ada jodohnya, aku rela dijodohin kok, bund..."
"Kalo sekarang dojodohin?"
"Emangnya ada? Kalo ada mah hayuk lah hahahahaha"
"Hahahahahaha BELOM ADE! Udahlah, semoga gak perlu dijodoh-jodohin, jodohmu ngehampirin sendiri~ Amin."
"Amin..." Aku menyahut.

"Eh, tapi itu gak terlalu muda, bund? Nikah..." Aku mempertegas.
"Yaelah Kak, jodoh dan rezeki itu rahasia Allah. Kalau jodohnya cepet ya nikahlah. Lagian bunda gak suka anak bunda pacaran lama-lama. Randa-rende gak karuan kemane-mane berdua belon nikah. Kalo emang udaeh mantep ama pasangannye, maju daaaaah. Ngape bikin? Jangan takut. Entar nih, kalau beneran ada laki yang dateng ke rumah, serius ama elu, mau ngape lagi cobe? Kalo die berkualifikasi." Betawinya keluar.
"Hehehe... Enggak, aku gak pernah takut berkomitmen bund... Bunda kan tau. Aku malah takut buang-buang waktu. Makanya, aku setuju banget, tuh, kalau udah klik, ya nikah lah. Mau apa lagi, coba?"
"Nah entu ngarti..."
"Tapi kan ada aja bund, yang alesannya belum siap lah, ngumpulin duit dulu lah, ngebahagiain ortunya dulu lah, lanjut studi lah, apa lah~~" Aku memberikan ilustrasi lain.
"Caeli~ Lebaaaay. Kalo kagak bahagia-bahagia tu orang tua? Pegimane? Gak percaya janji Allah, ape? Dimana-mana, kalo nikah niatnya lillahi ta'ala, rejeki pasti ditambah. Jangan takut! Yang penting ya itu, cari calon yang agamanya oke. Ibadahnya, taatnya sama Allah oke! Penghasilan jelas. Kamunya juga! Benerin akhlaq. Mau suami soleh, kamunya males dhuha, tahajud, ngaji ape lagi! Banyakin doa. Minta sama Allah. Nih, ya, kehidupan setelah nikah itu beda, kak... Kenapa kamu juga harus solehah, sebab ummi madrasatil uula... Gimana mau mencetak masa depan yang baik kalau ibunya gak bener?" Half Betawi half Bahasa.
"Ah, perfectly stated! Gak ada niat lain selain menyempurnakan ibadahku saat bercita-cita ingin nikah dan aku gak main-main, bund. Udah sadar aku sekarang mah... Setelah pesakitan-pesakitan. Behahaha drama ye, gue? Lagipula kan katanya, kalau gak nikah bukan golongan umat Nabi. Ya nikah doooong~"

"Ya iya lah... Yaaa, semoga doa-doa bunda di dalam namamu gak pernah salah ya, Kak. Seorang ibu gak akan pernah berhenti berdoa untuk anaknya. Bunda gak pernah ngelarang kamu deket sama siapa pun, kalau bisa, bergaulah sebanyak-banyaknya, sambil nyeleksi temen kira-kira siap pakai gak nih? Hahahahaha... Semoga jodohmu baik ya. Segalanya terbaik untuk kamu. Semoga Allah meridhoi semua jalanmu. Jalan kita."

"Insya Allah bund... Kan aku lulusan UIN, calon ustadzah! BEHAHAHAHAHAHA."

(Mau terharu gak jadi ya? Hehehe. Aku juga. Selalu ada haru kalau bicara serius sama bunda. Sebab bunda rumah bagiku untuk berpulang. Saat senang bahkan sedih, tak ada rumah yang paling nyaman selain kembali kepada sosok ibu. Hai bunda, kalau bunda baca ini, aku cuma mau mengakhiri tulisan ini dengan ungkapan; makasih ya bund. I love you.)

Senin, 05 Januari 2015

Dear... Thanks

Dear you... Akhirnya perjuangan kita gak sia-sia yaaa... I dedicated my life to you for almost a year! Maaf kalau selama hampir setahun ini aku rada gak komit sama kamu sebab beberapa distraksi; kerjaan lain yang menghasilkan uang, kesenangan jalan-jalan, pantai, atau kenangan-kenangan masa lalu yang masih suka menghantui.

Akhirnya kita sampai pada hari ini dimana aku dan kamu diumumkan sebagai satu ikatan yang sah! Tak terpisahkan. Syukurku bukan main kepada Allah Yang Maha Esa. Aku berjuang sangat keras dan kamu bertahan begitu kuat. Kita hebat!

Hanya Dia-lah yang tahu jatuh bangun aku membina ini. Susahku. Senangku. Mungkin aku banyak mengeluh di sosmed, tapi mereka tak pernah tahu sedalam apa perjuanganku demi kamu. Demi orang tuaku. Demi masa depan kita.

Mereka gak akan pernah tahu saat masa-masa sulit kita, aku patah hati, aku pun makin rumit denganmu. Rasanya ingin mati! But i know, we're worth it to fight! Dan kamu menguatkanku saat itu. Thank you so much!

Terima kasih ya kamu, semenjak ada kamu, aku sering ibadah sunnah. Doaku panjaaaaaaang banget. Solatku jadi lama. Biasanya kan kayak capung cebok hehe. Untuk kamu, untuk kita. Untuk masa depan dan semuanya. Semoga ada atau gak ada kamu di sampingku lagi, ibadahku tetap terjaga.

Terima kasih, kamu telah mendewasakanku. Telah menguatkanku. Telah mencerdaskanku. Telah mengajari pentingnya sabar, ikhlas dan tawakkal. Telah membuat hidup dan pikiranku lebih positif. Kamu segalanya. Terima kasih yang tak terhingga.

Mungkin ini berlebihan, tapi benar, aku sangat menyayangimu dan aku sungguh-sungguh. Akhirnya. Alhamdulillah.

Skripsi, aku sarjana juga!
Aku siap berkomitmen dengan tesis, kalau begini!!!