Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2015

Untuk Iqy Ajiy Daryini

Halo Mz...

Terakhir kali aku diminta buat resensi buku itu sejak jaman kuliah semester lima dengan mata kuliah Extensive Reading yang banyak requirement-nya untuk dipenuhi agar lulus mata kuliah ini.

Kurang lebih 20 novel berbahasa Inggris, 15 artikel berbahasa Inggris dan 10 text book berbahasa Inggris wajib kubaca, kuanalisa, kuresensikan dan kupresentasikan. Woyoooo~ boleh lah sombong, perolehan nilaiku waktu itu A. Hehehehe.

Nah karena aku sudah (dianggap) jago meresensi, maka tulisan ini aku niatkan untuk TIDAK MERESENSI bukunya Mz Iqy yang berjudul Out of the Truck Box itu. Melainkan, aku akan mengata-ngatai sahajaaaa~ sesuai permintaanmu! hahahahaha~

Loh, ngapain diresensi? Aku udah jago. Bukunya lumayan laku juga tuh. Aku juga sudah banyak jasa dalam menularkan virus-virus kekoplakan beliau sebagai penulis kepada seluruh khalayak kawan-kawanku untuk membeli dan membaca OOTTB. Bilang apa hayo, mz?

Mari kita mulai. Perkenalanku dan Mz Iqy bermula pada makhluk ciptaannya Aa Zucke…

Kapan Nikah?

Akhirnya sampai juga pada fase hidup dimana pertanyaan "kapan nikah?" dilontarkan bertubi-tubi kepadaku. Rasanya Baru kemarin aku meniup lilin di atas kue yang berukir 17. Rasanya belum lama ketika terakhir ayah membuatkanku gelang berukir nama serta tanggal lahirku layaknya bocah-bocah ingusan. Rasanya aku masih bocah. Dan rasanya pertanyaan itu sangat tidak logis jika diberikan kepadaku.

Ah... Ternyata aku sudah cukup dewasa. Ternyata pertanyaan itu sudah cukup mapan jika ditembakkan ke diriku. Ternyata aku sudah kepala dua. Di rumah orang betawi, seorang anak gadis yang sudah menstruasi, lulus kuliah dan punya pekerjaan, sudah saatnya dinikahkan. Masalahnya, adakah sang pria yang sungguh-sungguh berkehendak menikahi si gadis?

Kembali ke pertanyaan paling horor sedunia bagi para lajang. Rata-rata makhluk bumi ciptaan Tuhan ingin menikah. Sebagian juga tidak. Aku ingin menikah. Tapi entah kapan. Dengan siapa pun, itu masih rahasia Illahi. Hal yang pasti, aku ingin menikahi …

Pulang ke Kampung (Orang) Bagian II

"Mbaaa... Ifa melu nyebur maring curug yoo..." Ifa memohon kepada Mbak Dita saat kami bersiap-siap berkemas pergi.
"Ajaaaa... Urusah mbok keli!" Larang Dita.

Bu Upi sibuk menyiapkan bekal. Aku mencium bau bumbu pecel. "Wah... Wangi pecel ya." Kataku saat mundar-mandir kamar dan dapur. "Iya, mbak... Ini buat bekel di sana. Pecele Mbok Karsem! Nanti dicoba yaaa..." Bu Upi menjelaskan. Wah, akan menjadi hari yang keren! Bu Upi tau aja kalo aku pecinta pecel.

Kami menumpang mobil Espas tahun 90-an. Di belakang ada aku, Dita, Tiwul dan Cetot. Di tengah diisi oleh Ifa, Lik Fitri dan Bu Upi. Pak Wakhid menemani supir yang ia minta tolong membawa kami ke atas bukit. Sepanjang jalan kami bersenda gurau dengan Ifa. Aku fans berat Ifa. Anaknya borjuis meski masih 8 tahun. Di lehernya ia kalungkan perhiasan rantai emas. Di telinga, ia menggunakan anting berukir Hello Kitty yang emas pula. Pergelangan tangannya pun dilingkari emas lagi. Harta paling berharga…

Berhitung

Horeee... Aku punya slip gaji! Soal berhitung, begini ceritanya...

Selama sekolah di SMA, aku terjebak di penjurusan IPA. Di sekolahku dulu, kelas IPA-nya eksklusif, hanya satu kelas. Namun aku tak menganggap diriku cemerlang. Aku biasa saja. Masuk IPA juga mungkin karena hoki. Rejeki. Lagian aku gak bangga-bangga banget jadi anak IPA. Sebab aku gak terlalu suka hitung-hitungan. Aku bukan anak yang perhitungan sih. Anjash.

Meski gak suka hitung-menghitung, aku terlatih untuk menjadi "anak IPA". Lumayanlah aku bisa lulus kan. Setelah lulus SMA, kuliah. Puji Tuhan aku masuk ke jurusan yang tepat; dimana hitung-hitungan hampir sama sekali tidak ada! Palingan hanya mata kuliah statistik, itupun di semester 7. Terlebih aku punya banyak teman yang siap membantu memberi contekan atau kerja sama tugas pada mata kuliah itu. Dilalahnya, aku mendapatkan dospem saat skripsi yang anti quantitative research! Jadilah aku meneliti model kualitatif dengan hitungan-hitungan yang sangat sederh…

The Solehah Girls

"Surround yourself with BETTER people. You are the average of the five people you spend the most time with." - Anonym
Pertama-tama, saya haturkan kepada kalian, selamat tahun baru masehi 2015 bagi yang merayakan. Perayaan tahun baru adalah kesunyian masing-masing.

Di awal tahun 2015 ini, banyak kejadian indah yang sudah aku terima. Kelar sekripsi, disidang sama dosen-dosen paporit, dirayain bareng-bareng sahabat! Kurang kul apalagi awal tahunku???

Omong-omong soal sahabat, ketahuilah bahwa aku bersahabat dengan para gadis-gadis solehah. Bekas santriwati, keturunan kiyai, calon ibu guru masa kini dan calon istri yang pasti akan mengabdi pada suami.

Sebagaimana Opick bersabda soal obat hati, perkara berkumpul dengan orang soleh adalah hal yang dianggap penting. Bagaimana tidak, dari lima usulan, setelah baca Quran dan maknanya, solat malam dirikanlah, selanjutnya disusul dengan berkumpulah dengan orang soleh. Dan aku aman.

***

Pengumuman tes Ujian Masuk Bersama (UMB) waktu it…

Pulang ke Kampung (Orang) Bagian I

"Aelaaaaah... Ntar sik, abis gue daftar wisudaaaaa~~~" Rengekku kepada Dita.

Dita, salah satu anggota Genk Solehah, asli Purwokerto. Sudah satu semester ia tak pulang ke rumah. Maklum, mahasiswa tingkat akhir. Harus skripsi, sidang, mengejar dosen demi tanda tangan dan birokrasi-birokrasi kampus yang bisa bikin mampus demi sebuah toga.

Dita ingin pulang. Aku ingin ikut. Singkatnya begitu. Cetot dan Tiwul pun juga. Mereka kawan sepermainanku di kampus. Sayangnya, ketika Dita lapor mau pulang, aku masih ribet urus ini-itu sisa ampas-ampas sidang dan mengejar deadline daftar wisuda. Makanya aku merengek untuk sabar menantiku. Alhamdulillah semua urusan lancar dan cepat.

"Kita mau berangkat kapan? Selasa?" Tanya Dita via Whatsapp.
"Rabu ajaaaa... Selasa gue masih ada privat hehehe" Balasku.

Oke, tiket berangkat sudah dipesan. Dengan kereta Bengawan yang sudah tidak murah lagi kami berangkat. Sebelum Rabu tiba, kudapati pesan dari Tiwul,"Bi, beli tiket ba…

Bunda, Curhat, dong!

"Bund, aku terlalu muda gak sih buat punya rencana ini-itu?" Tanyaku.
"Apa rencanamu, memangnya?"
"Nanti kalau udah kerja, aku mau nabung tapi dalam bentuk emas. Terus bunda mau gak tolongin DP-in rumah, cicilannya biar aku, kalau tabunganku udah cukup, aku ganti uang yang buat DP itu... Aku juga pingin banget punya usaha bakery shop, nanti head chef nya Kak Ria, Halimah, Ibu. Akan kuberdayakan janda-janda! Hahahahaha..." Aku mengepalkan tangan di depan muka Bunda.
"Lah, ngocol. Ya, baguslah. Gak kok, gak terlalu muda. Memang harus begitu, punya tujuan dan target yang jelas. Lagipula kan kamu udah mulai dewasa. Soal rumah, semua udah ada di otak bunda. Makanya kamu kalau gajian jangan jajan mulu!" Sahut si bunda.

"Hehehe iyaaa... Hmmm... Kalau soal nikah. Gimana? Aku gak mau nikah tuaaaa~ kalo ada jodohnya, aku mau nikah usia 23 tahun. Boleh?" Pintaku dengan mantap.
"Gak perlu nunggu umur dua tiga, besok kalo ada yang mau lamar ya…

Dear... Thanks

Dear you... Akhirnya perjuangan kita gak sia-sia yaaa... I dedicated my life to you for almost a year! Maaf kalau selama hampir setahun ini aku rada gak komit sama kamu sebab beberapa distraksi; kerjaan lain yang menghasilkan uang, kesenangan jalan-jalan, pantai, atau kenangan-kenangan masa lalu yang masih suka menghantui.

Akhirnya kita sampai pada hari ini dimana aku dan kamu diumumkan sebagai satu ikatan yang sah! Tak terpisahkan. Syukurku bukan main kepada Allah Yang Maha Esa. Aku berjuang sangat keras dan kamu bertahan begitu kuat. Kita hebat!

Hanya Dia-lah yang tahu jatuh bangun aku membina ini. Susahku. Senangku. Mungkin aku banyak mengeluh di sosmed, tapi mereka tak pernah tahu sedalam apa perjuanganku demi kamu. Demi orang tuaku. Demi masa depan kita.

Mereka gak akan pernah tahu saat masa-masa sulit kita, aku patah hati, aku pun makin rumit denganmu. Rasanya ingin mati! But i know, we're worth it to fight! Dan kamu menguatkanku saat itu. Thank you so much!

Terima kasih ya …