Sabtu, 21 Februari 2015

The Solehah Girls


"Surround yourself with BETTER people. You are the average of the five people you spend the most time with." - Anonym

Pertama-tama, saya haturkan kepada kalian, selamat tahun baru masehi 2015 bagi yang merayakan. Perayaan tahun baru adalah kesunyian masing-masing.

Di awal tahun 2015 ini, banyak kejadian indah yang sudah aku terima. Kelar sekripsi, disidang sama dosen-dosen paporit, dirayain bareng-bareng sahabat! Kurang kul apalagi awal tahunku???

Omong-omong soal sahabat, ketahuilah bahwa aku bersahabat dengan para gadis-gadis solehah. Bekas santriwati, keturunan kiyai, calon ibu guru masa kini dan calon istri yang pasti akan mengabdi pada suami.

Sebagaimana Opick bersabda soal obat hati, perkara berkumpul dengan orang soleh adalah hal yang dianggap penting. Bagaimana tidak, dari lima usulan, setelah baca Quran dan maknanya, solat malam dirikanlah, selanjutnya disusul dengan berkumpulah dengan orang soleh. Dan aku aman.

***

Pengumuman tes Ujian Masuk Bersama (UMB) waktu itu digelar malam, ba'da isya. Secara online serempak di seluruh Indonesia. Aku kesulitan mengakses internet. Belum ada Bolt kala itu. Tekadku, aku pasti dapat UNJ! Kampus dambaan, sebab masuk IPB tak dapat restu. Pokoknya aku yakin, aku akan jadi anak Rawamangun!

Dunia pertwitteran ricuh malam itu. Banyak abege-abege gemes ribut menanyakan hasil UMB atau keluhan tentang web resmi yang down. Aku santai. Soalnya ada seorang teman yang akan membantu mengecek hasil tesku.

Di SMA, aku anak IPA. Ketika ikut tes, kuambil paket IPC. Maksudnya biar bisa ambil jurusan IPA maupun IPS saat kuliah nanti. Pilihanku ada 4:
1. UNJ, PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS
2. UNJ, PENDIDIKAN BIOLOGI
3. UIN, PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS
4. UI, ILMU GIZI

Iya, UI kujadikan pilihan terakhir. Secara urutan passing grade tentu salah. Namun, sebagai anak yang anti-UI, aku sudah ada di jalan yang lurus nan benar.

Sampai akhirnya, Merdika, teman yang mengecek hasil tesku, menyampaikan "Ra, alhamdulillah lo dapet di UIN, pendidikan bahasa inggris." beserta bukti fotonya.

Reaksiku pada saat itu adalah lemas. Lunglai. Tak bersemangat. Lah. UIN? Bukannya UNJ? Kok UIN sih... Aku kurang senang.

Kusampaikan berita sedih ini kepada bunda. Bunda malah sebaliknya, "Alhamdulillah, kak... Kapan daftar ulangnya? Ayo kapan mau makan-makan. Bunda mau bayar nazar." Kubalas dengan, "terserah~"
Kenapa bundaku sangat bahagia? Sebab menurut bunda, lolosnya aku di UIN tak lebih dari jawaban doa-doa beliau dan petunjuk melalui mimpi berkat istikharahnya yang tak putus-putus. Sedangkan aku sejak SMA masih saja tak memercayai itu.

Di kamar, aku menenangkan diri. Tenang, masih ada SNMPTN, gumamku. Jarak penutupan daftar ulang beserta pembayaran di UIN dan ujian SNMPTN hanya satu minggu. Kalau aku tidak bayar terlebih dahulu di UIN selama seminggu itu, aku akan kehilangannya. Namun, SNMPTN satu minggu lagi. Aku galau. Bunda tidak.

Pagi itu aku, bunda dan kakak sepupuku berangkat ke UIN. Aku sudah pernah cerita kesalahan kostumku saat daftar ulang.

Setelah resmi daftar ulang dan test TOEFL/TOAFL, ujian masuk PTN melalui SNMPTN segera dimulai. Aku bersikeras tetap ikut, namun bunda mencoba mematahkannya dengan berkata, "udah lah kak, percaya deh sama bunda, kamu gak bakal lolos. Denger!"

Batinku berteriak. Maksud lo? Liat nih ya, sampe gue lolos, gue bayar sendiri kuliah!

Satu bulan kemudian, ketika pengumuman SNMPTN tiba, aku kembali dikejutkan. Pilihanku kala itu; (1) UNJ PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS (lagi), (2) UNJ BIMBINGAN KONSELING. Pada akhirnya Allah tidak merestuiku masuk UNJ Pend. Bahasa Inggris. Aku lolos, tapi di pilihan kedua.

***

Menjalani perkuliahan di tempat yang tidak kuinginkan sangatlah sulit. Aku tidak berkerudung sejak kecil hingga SMA. Lalu terpaksa menggunakannya di bangku kuliah. Teman-teman yang sama sekali belum kukenal. Situasi yang berbeda. Pergaulan yang tak sama. Semua serba asing dan aku enggan beradaptasi. Aku belum ikhlas.


Sampai akhirnya aku bertemu Nur Pratiwi, Sari Febrianti dan Siti Afifah. Tiga makhluk itulah yang menjadi karibku sejak awal-awal semester hingga kini. Perkenalan kami tentu saja aku lupa hehehe.


Tiwul alias Nur Pratiwi adalah bocah gadis yang susah dewasa. Ia begitu konyol untuk dikatakan sebagai mahasiswi. Tingkahnya yang 'ada aja', guyonannya, kocaknya, Tiwul lah yang selalu dianggap sebagai ice breaker di tengah-tengah kami. Ditambah postur badan yang (memang) gak tinggi, lincah, (gak) mancung, dan (memang) sedikit gelap, Tiwul pun sering dijadikan objek bullying. Namun, aku salut akan kegigihannya dalam setiap mengerjakan tugas kuliah pun skripsi! Kecil-kecil cabe rawit. Melesat cepat. Ia juga mudah menitikan air mata. Ada momen dimana Tiwul, anak Planet Bekasi, nyasar di Bundaran HI. Ia menangis bak anak ayam kehilangan induk. Makhluk alien masuk kota. Oh ya, doi jomblo dari lahir! Itu yang membuat kekagumanku bertambah terhadapnya. Inget janji kita di buku diary genk, kan Wul? HUTANG NASI UDUK, TAHU, LONTONG DAN TEH MANIS!!! (Ini hanya aku dan Tiwul yang mengerti)

Sari Febrianti. Ia adalah sulung dari tiga. Semua saudaranya perempuan. Tentu, ayah dan ibunya sangat ketat dalam aturan. Ia tidak boleh keluar malam. Pulang harus sebelum maghrib, dan baru sekali jalan-jalan jauh ke Bali. Itu pun berkat acara study tour dari sekolah ia mengajar. Sepulangnya, ia sakit flu dan demam. Akrab dipanggil Aa, anaknya suka pamer. Persis seperti aku. Maklum, kami aquarian. Minusnya, dia kurang pengetahuan soal jalanan-jalanan ibu kota atau tempat nongkrong anak kekinian. Yaaa gak apa, domisili Pondok Aren. Namun, Aa menurutku adalah anak yang sangat baik. Ia sangat patuh terhadap ibu dan ayahnya. Jika sudah lewat ashar, ia selalu mendapatkan pesan singkat dari ayahnya, "Aaaaaaaa~ pulaaaaaaaang!!! Mau maghrib!!!!!" Dengan sigap Aa mamakai jaket, masker, mengambil tas dan berpamitan. Ia pula didoktrin untuk menjadi wanita yang mandiri oleh sang ibu, maka ia disekolahkan lanjut ke magister dan baru patah hati dari sang kekasih. Sabar ya, A. Menyesal lah para lelaki yang telah menyia-nyiakan kita, A! Ingat janji alasan kita kenapa ingin menikah? Yup, untuk menyempurnakan ibadah. Perfect!

Selanjutnya Vivi atau Siti Afifah. Ah, kesolehahannya jangan diragukan. Seorang gadis dari keluarga yang sangat islami. Kalem. Selo. Baik. Sabar. Pintar mengaji, urus rumah. Wah. Vivi idaman para calon mertua. Meski pernah pacaran dua kali, dan dilukai dua-duanya, Vivi tak pernah patah semangat. Ia berdoa. Terus berdoa. Agar mendapatkan jodoh yang terbaik di antara yang baik. Alhasil, ia hampir dilamar tetangganya! Bukan hampir, bahkan segera! Vivi segera menikah! Vivi pun rajin. Tekun. Gigih. Tak heran bahwa ia tak pernah absen saat bimbingan skripsi satu minggu sekali. Dan Vivi lah orangnya yang bisa sidang lebih dulu. Vivi bagaikan kiblat hidup kami. "Kayak Vivi dong, solehah. Urusan idupnya lancar ajaaaa~" amin... Vivi pula lah penyebar "ngebet kawin" sebab tak akan lama lagi Vivi akan menjadi istri orang! Aaaaaaak~

Selama kurang lebih empat semester, kami berempat selalu main bersama. Makan bersama. Mengerjakan tugas bersama. Mengunjungi Sevel-sevel terdekat bersama. Secara kita kan maunya jadi gaul dan pada saat itu, Sevel Syariah Pesanggrahan belum dibangun.

Ketika di tahun kedua. Baru lah aku bertemu dengan Nadia Saniyatul, Sita Pradhita, Listianty Ridayu, Ranny Junita, Ummu Salamah dan Nurmaw 'Izzatillah.

Nadia, Tata, Dhita dan Ranny bersatu dalam satu atap, Oot's Green House. Mereka adalah gadis-gadis hebat penakluk orang gila. Bayangkan, mereka bisa tinggal satu atap dengan putri dari ibu kos yang sakit mental dalam jangka waktu yang panjang. Luar biasa!

Nadia, yang biasa kupanggil Saniyatul konon adalah putri dari seorang kiyai di bukit Pemalang. Sedang membangun pondok di rumahnya. Rumahnya bak taman surga yang menafkahi para yatim. Saniyatul golongan solehah kelas menengah. Ia pun sejak lulus SD hijrah ke pondok pesantren. Hingga kini ia tak betah tinggal di rumah berlama-lama. Tapi ia tidak pernah pamer akan kesolehahannya. Justru malu. Maka dari ini aku pamer-pamerkan doi. Anaknya pasrah soal jodoh. Malah minta dijodohin. Saniyatul adalah orang yang paling dapat dipercaya. Tak seperti aku, Tiwul, Aa atau siapalah, kalau dirasa curhatan itu aib, Saniyatul akan tetap bungkam untuk bicara. Dia adalah penjaga rahasia yang baik. Dia amanah. Saniyatul suka jajan. Sama seperti aku. Soal makanan, Saniyatul sangat royal. Gak ribet. Jadinya aku sering banget ajak dia jalan. Kurangnya adalah jika Saniyatul belanja, pasti lama banget. Kayak cewek pada umumnya. Hih. "Kalo lo belanja sama emak gue, udah dimaki-maki lo, San!" Pesanku tiap menemaninya belanja yang super duper lama.

Tata alias Tanty alias Listianty. Ia sulung dari tiga namun kelakuannya bak bungsu dari 12!!! (Ta, percayalah, banyak keluhan-keluhan tentangmu selama ini. Perlu ditulis? Hehehe). Tata itu cuek. Pake banget. Berdasarkan cerita anak Ootdiyah, Tata itu paling males. Pada setiap jadwal kuras bak mandi, doi selalu punya jawaban yang sama, "entar, belum dateng mood-nya..." Huft. Tata lah yang memiliki perubahan penampilan sangat signifikan. Dahulu, Tata belum berbehel. Masih kucel. Kerudungnya bergo yang langsung pakai. Culun. Namun, lihatlah sekarang, Tata berevolusi. Ia cantik. Bermuka cerah. Terawat. Berbehel. Bisa pakai eye-liner. Wangi. Ketularan virus Racun Cinta dari aku. Kerudungnya pashmina. Cantik lah. Tak salah jika banyak berondong-berondong kampus gila padanya. Tapi mungkin sekarang sudah punya gacoan yang lebih dewasa, kayaknya. Meskipun dia introvert, tapi Tata hobi jalan. Aku suka!

Dhita atau Ditdut. Cah Puertorico Jawa Tengah ini, sering mengundang tawa hanya dengan intonasi dan aksen yang ia punya saat bercerita. Anak kesayangan bapake ini selalu keren ketika menjepret hasil foto. Dita sangat menggandrungi k-pop. Ia hapal nyanyian, drama, tarian bahkan film di Korea! Soal film, Dita lah ratunya. Ia bahkan hapal setiap judul beserta pemeran utamanya, atau bahkan adegan per adegan. Kecuali film Ada Apa Dengan Cinta. Kasian ya. Masa remajanya kurang bahagia. Menurutku, Dita dan Tiwul itu pasangan yang serasi. Sama-sama k-popers, penggila Rafi-Gigi, anak Jawa, dan lain sebagainya. Kalian ingat tentang tayangan pernikahan Rafi-Gigi di tv? Aku lah saksi hidup yang menyaksikan betapa hebohnya Dita dan Tiwul saat Rafi hendak ijab kabul dan setelah ijab sah. Dita dan Tiwul berteriak. Bersorak. Bergembira. Bahkan hampir menitikan air mata. Hahahahaha...

Ranny! Behahahahahaha. Gadis kloningan Mas Dedik. Mirip banget Mas Dedik, penyair termasyhur se-Pisangan, Ciputat dan sekitarnya. Ranny, bolehkah aku mencap kamu sebagai putri-paling-sok-tahu seantero Cawang? Hehehe
Ranny selalu tahu jawaban-jawaban dari setiap pertanyaan. Meski ia selalu mengakhiri dengan frasa, "eh gak tau juga ding!" Aku menduga bahwa Ranny telah tercemar virus Vikinisasi. Kalimat yang ia ucapkan acap kali membuat kami terbahak dan mengernyitkan dahi. "Ujannya kecil tuh, tapi basah...", "Bayar pake duit kas aja (harusnya cash)", "Beliin gue shampo clean & clear ya..." dan sebagainya dan sebagainya. Oleh karena itu, aku sering menyebutnya Ranisisasi. Meskipun kocak, Ranny lah ratu paling kreatif seantero Asrama Putri UIN! Kreatif cari uang dari hasil tangan kreatifnya membuat pernak-pernik. Sila cek instagramnya @ranny_junita.

Kedua sahabat terakhir berikut memiliki sisi favoritku masing-masing. Mereka memiliki keahlian yang belum ada pada diriku. Mereka keweeenn~

Ummu Salamah. Anak kesekian dari sekian bersaudara (sekian sebab banyak banget saudaranya, kalau gak salah 7 orang). Akrab dipanggil Cetot pemberian anak-anak mapala ARKADIA UIN. Cetot bertubuh paling mungil cimil-cimil. Ia imut lagi menggemaskan. Namun sayang, jangan biarkan ia bersuara jika jantungmu tak mau copot kelojotan hehehe. Ini lebay. Tapi betul, suaranya aduhai cempreng dan menggelegar. Ditambah dengan bulat matanya yang terkesan hendak mencuat saat diajak bicara. Cetot tak pernah terlihat woles. Selamanya ia nyolot. Meskipun begitu, Cetot tetaplah Cetot. Seorang wanita butuh kasih sayang. Ia memiliki pacar, Goozy (panggilan kesayangan), yang mana adalah senior paskibrakaku dulu. Cetot hobi makan. Suka jajan. Anaknya nyantai. Ia tangguh. Kuat. Pemberani. Ia pecinta gunung. Sering mendaki gunung dan pecinta Alam. Iya Alam. Alam Goozy. Pacarnya. Ugh. Yang hebat dari Cetot, sekepepet apapun ia, Cetot selalu santae kek di pantae. Ia tak pernah segrasak-grusuk aku. Kalem namun menggelegar. Ia juga pandai dalam urusan tata bahasa atau grammar. Itulah Cetot.

Akhiran, Nurmaw 'Izzatillah. Panggil saja Numa atau Maw. Nah, dia adalah penulis favoritku! Kawannya Mas Dedik. Anak FLP Ciputat gitu loh. Maw sudah pernah merilis buku meski aku belum mendapatkan gratisannya hehe. Ia selalu asyik jika diajak curhat. Diajak bincang soal masa depan, khususnya asmara. Maw paling banyak menyaksikan bagaimana asam garam kehidupan rumah tangga melalui kakak-kakaknya. Maw selalu dewasa. Namun, satu hal yang pasti, Maw adalah putri rempong. Kalau ke restoran, pesan makanan, pasti ada saja syarat yang ia keluarkan; jangan pakai bawang lah, jagung lah, tempe lah, apa lah. Rem to the pong. Ia pun mudah panik. Suatu ketika beberapa diantara kami sudah selesai skripsi. Maw kebakaran jenggot sebab merasa ditinggal ditambah dengan dospem yang akan minggat ke Ostrali. Ia khawatir akan keribetan yang terjadi untuk mengganti dospem. Maka Maw panik. Panik sekali meski akhirnya indah, Maw selalu tetap putri rempong.

***

Kau tahu, siapa sosok paling hebat pada kesepuluh dari kami? Tahu????? Sosok itu adalah para orang tua. Khususon ibu. Bayangkan jika para ibu tak mendidik kami dengan benar, tak sering menasehati tentang nilai kebaikan dan keislaman, mungkin kalian akan menemukan kami berkerudung di kampus lalu umbar aurat di club. Kami sering umbar aurat jika hanya di kosan Oot saja kok... Sungguh. Kalau aku yaaaa, palingan kalau liburan ke pantai buka-bukaannya hehehe.

Tak pernah salah omelan-omelan ibu dan nasihat-nasihat bapak untuk kami para anak gadis. Apalagi kepada sahabat-sahabatku yang merantau. Kami wajib menjaga diri, harga diri dan nama baik keluarga. Aku yakin, mengapa orang tua kami merestui untuk menimba ilmu di UIN, salah satunya agar kami, para calon ibu, mendapatkan ilmu dunia dan akhirat. Sebab ummi almadrasatil ulaa~

Bersyukurlah wahai bapak dan ibu kami, tak sedikit pun kami mengenal diskotik, miras, bahkan narkotika. Hanya satu yang pasti; lagu Mirasantika dari Bang Haji Rhoma lah yang sering kami dendangkan. Teeett! Maksiat yang sering kami gelar pun hanya ghibah dan gosip. Ya namanya juga perempuan... Astaghfirullah.

Ketika hampir semua lulus kuliah, kalian akan sibuk dengan karir dan urusanmu masing-masing, sahabat. Tak apa. Itulah hidup. Sebagian pergi dan sebagian datang. Tapi percayalah, kawan, senyebelin apa pun kalian, kalian sahabatku dan aku akan selalu merindukanmu. Sukses selalu ya. Jangan lupain aku yaaaaa... Sekarang aku ikhlas jadi lulusan UIN dan bahkan sangat bersyukur. Ketika harus berpisah dengan kalian, kadang di situ saya merasa sedih.

Terima kasih para ibu dan bapak sekalian. Anak-anaknya aku jadiin sahabat ya. Semoga berkah dunia akhirat. Bapak, ibu, kalian aman. Anak-anaknya cool! Selamat wisuda. Selamat menjalankan hidup yang sebenarnya. Jangan lupa minta dicariin jodoh wahai para jomblo~~

Senin, 16 Februari 2015

Pulang ke Kampung (Orang) Bagian I

"Aelaaaaah... Ntar sik, abis gue daftar wisudaaaaa~~~" Rengekku kepada Dita.

Dita, salah satu anggota Genk Solehah, asli Purwokerto. Sudah satu semester ia tak pulang ke rumah. Maklum, mahasiswa tingkat akhir. Harus skripsi, sidang, mengejar dosen demi tanda tangan dan birokrasi-birokrasi kampus yang bisa bikin mampus demi sebuah toga.

Dita ingin pulang. Aku ingin ikut. Singkatnya begitu. Cetot dan Tiwul pun juga. Mereka kawan sepermainanku di kampus. Sayangnya, ketika Dita lapor mau pulang, aku masih ribet urus ini-itu sisa ampas-ampas sidang dan mengejar deadline daftar wisuda. Makanya aku merengek untuk sabar menantiku. Alhamdulillah semua urusan lancar dan cepat.

"Kita mau berangkat kapan? Selasa?" Tanya Dita via Whatsapp.
"Rabu ajaaaa... Selasa gue masih ada privat hehehe" Balasku.

Oke, tiket berangkat sudah dipesan. Dengan kereta Bengawan yang sudah tidak murah lagi kami berangkat. Sebelum Rabu tiba, kudapati pesan dari Tiwul,"Bi, beli tiket balik sekalian aja yuk! Takut kehabisan."
"Boleh..." Jawabku singkat.
"Mau balik kapan?" Tiwul bertanya.
"Senin aja. Piye?" Tawarku.
"Lah si Cetot malah mau balik Jumat! Gak kelamaan kalau Senin?"
"Buceeett! Dapet apaan kalo Jumat udah baliiiiiiikkk~" Aku terperanjat.
"Hahahahaha makanya... Gimana kalo Sabtu? Sabtu malem?" Tiwul menengahi.
"Nah yauda itu mendingan. Gue kapan aja dah, Wul. Yang penting jangan Jumat. Hahahaha" Putusku.

Kami sepakat bertemu langsung di Stasiun Senen. Siapa pun yang datang lebih awal, maka ia harus menyetak tiket. Tiwul yang berdomisili di planet Bekasi datang lebih dulu. Disusul aku. "Waaakkk... Kita berangkaaaatt!" Sapaku dari jauh berlari kecil menghampiri Tiwul. "Baru tumben kan lo jalan ama guweeehh hehehe..." Lanjutku.
"Woelah, Biy! Mau naek gunung? Tas lo gede amaaaaattt..." Ledek Tiwul setelah melihatku menurunkan tas carrier 30 liter dari pundak untuk duduk ngaso menunggu Dita dan Cetot.
"Yoi!" Jawabku singkat.
Kami menunggu cukup lama. Kata Dita di Whatssup, Blok-M macet. Sesampainya mereka, kami sambut dengan senyum sumringah. Wih, jadi lah kita jalan-jalan bareng! Lagi-lagi aku diejek oleh Dita dan Cetot,"mbak, ko arep ndhi mbak? Naek gunung? Hahahahahaha" ledek mereka.
"Liat aja ntar kalo tas gue lebih berguna yaaaa...hehehehe"

***

"Cirebon sekarang dua stasiun tau..." Dita bercerita.
Di kereta, kami berlomba-lomba saling bercerita apa saja. Tentang kampung halaman masing-masing. Aku, anak Betawi (dari bunda), hanya mampu bercerita tentang kampung halaman ayahku. Brebes. Sayangnya hingga kini belum pernah kakiku menginjak tanah leluhur ayah.

"Ih Brebes! Kampung babe gue nih." Kataku ketika kereta melalui stasiun Brebes.
"Ya gak jauh deh sama Purwokerto, Bi..." Lanjut Dita.

Selain bercerita, kami saling berbagi tawa. Tak ada yang tidur. Kebetulan waktu bepergian kami masih terang, jam 11.55 dari Stasiun Pasar Senen. Jadi, empat pasang mata masih segar.

"Ih, ih belokan nih jalannya! Tuh kepalanya (kereta) gue bisa liat!" Seru tiwul sambil melongok-longok ke luar jendela demi memandang ndas kereta. Aku pun latah meski duduk berseberangan dengan Tiwul. Ikutan ingin melihat ndas kereta, kuhampiri Tiwul dan kupepetkan kepala ku ke kepala Tiwul. Kepala dan kepala saling beradu. Tiba-tiba Tiwul mendorongku dengan kasar,"eh begooookk... Elu kan bisa liat dari tempat duduk lo buntutnya kereta, Tul! Ngapa repot banget daaaah~"
"Ohiyaaaaa... Behahahaha! Lo pinter ih. Maaf ya maaf. Gue bangga punya temen kayak lo yang maha cerdas!" Pujiku pada Tiwul sang maha cerdas.

Sesampainya di Purwokerto kurang lebih pukul 17.45, tanpa ba-bi-bu kami langsung menyewa taksi dan meluncur ke kedai bakso yang paling fenomenal di sana; Bakso Pekih. Anjrit! Baksonya wuenak!!! Murah pula. Tiga belas ribu rupiah uwis wareg! Aku menyesal sebab pesanan bakso tetelan kawan lain lebih menggiurkan. Aku berjanji pada diriku sendiri, suatu saat aku akan kembali ke tempat ini dan memesan bakso tetelannya!

Kenyang dengan Bakso Pekih, kami berjalan ke arah alun-alun. Cetot dan Dita menggenggam satu bungkusan kecil di tangan kanan mereka; Es Brasil. Es krim lokal di Purwokerto. Rasanya? Aduh, maaaaakkk~ aku langsung jatuh cinta. Berjanji lagi lah aku pada diri sendiri, aku akan membeli es krim ini untuk oleh-oleh ke Jakarta!!!

Langit sudah menampakkan kuasanya. Matahari pun tersipu terbenam. Adzan Maghrib akan tiba. Mari kita sembahyang di masjid raya.

Sebelum pulang ke desa Panembangan dimana Dita dilahirkan, kami tak lupa bernarsis ria di Alun-alun Purwokerto. Ada air mancur lengkap dengan lampu warna-warni menghiasinya. Tulisan "Purwokerto" besar bercahaya di atas layar lah background andalan kami. Rumah bupati pun tak ketinggalan sebagai latar wefie kami. Purwokerto tenang dan menenangkan saat malam.


***

Aku tidak ingat jalan menuju rumah Dita malam itu. Di taksi aku lelap. Yang jelas, Dita memasang stopwatch untuk mengetahui berapa lama jarak tempuh dari Alun-alun ke desanya. Kurang lebih 25 menit kami tiba. Dua puluh lima menit di desa akan selalu berbeda dengan 25 menit milik Jakarta.

Kupanggil ia Ibu, Bu Upi. Aku memberi salam kepadanya ala-ala anak Indonesia berbudi pekerti luhur; kukecup punggung tangannya dengan bibir. Bapak Wakhid sedang Isya-an di masjid kata Bu Upi sebelum ada sosok bayangan hitam keluar dari tirai kamar. Bayangan itu tinggi, tak terlalu besar. Seketika ada kerlingan senyum putih dari gigi. Ulil. Adik tunggal Dita.
"Weeeeeehhh... Uliiiiiiillll~~~" Kami berempat berseru. Ulil tersipu.
"Eh, Fuuuu... Ko gi apaaaaak?" Sapa Dita dengan mesra. Fu dari kata Fuad. Panggilan kesayangan sang Kakak. Ulil hanya tersenyum.
"Iki lho, salam karo kanca-kanca nyong. Mbak Biya, Mbak Tiwul, Mbak Ummu (Cetot)." Dita memberi instruksi. Ulil menurut.

Berdasarkan berita burung beredar, Ulil adalah bungsu paling manja. Paling keras. Suka ngamuk di rumah kalau pintanya tak dikabuli. Di bayanganku, Ulil itu rese. Jail. Berandal. Begajulan. Eh ternyata dia hobinya mesam-mesem sok malu. Ulil manis. Hitam manis bagai kecap. Ia berondong. Selo aja. Aku gak kepingin.

Kami duduk di sofa ruang tengah Dita. Rumahnya besar. Halamannya apalagi. Lebih besar dari rumahku. Bangunannya pun bagus. Tak kukira desanya Dita semodern ini. Baru kuketahui ketika esok harinya, para tetangga pun berumah tak kumuh. Kurang ajar!

"Assalamu'alaikum..." Suara berat seorang pria terdengar dari luar.
"Wa'alaikum salam..." Semua orang di dalam menyahut.
"Nah ini Bapak." Kata Bu Upi.
Oh, ini toh Pak Wakhid! Sebelas -duabelas dengan Dita mukanya. Hehehe.

Di ruang itu, percakapan hangat terjadi. Ibu Upi seorang Jawa tulen. Meski Ngapak, Bu Upi tetap ramah dan lembut. Pak Wakhid pun. Ulil apalagi. Setiap percakapan pasti diselipkan tawa--dengan bahasa Jawa. Aku kikuk. Secara yaaa gwe naq jeketi giduw loooccchh... Cetot dan Tiwul ya pasti paham lah, sebab mereka juga Jawa. Aku ya haha hihi aja biar akrab hehehehehe.

Sebelum istirahat, kami dipersilahkan untuk makan. Menunya adalah ayam burus dan sambel Bu Upi. Sambelnya wenak meski tak pedas. Aku kan anaknya anti makan malam di atas jam tujuh, sebab aku dipaksa makan, aku bisa apa? Dipaksa nambah pula, aku nurut sajalah.

Waktunya istirahat. Kami berempat ditempatkan di kamar depan. Kamar sudah siap dengan dua buah kasur besar yg didempetkan. Lengkap dengan selimut dan bantal. Subhanallah sekali keluarga Mbak Dita.

Entah mengapa rumah Dita memberikan hawa "mager" bagiku. Udaranya sejuuuuuuuukkk sekali. Tapi aku tidak pernah merasa kedinginan. Malam pertama kami menginap, aku sama sekali tak mendengar adzan Subuh. Tiwul lah yang tahu. Ia membangunkan kami untuk sembahyang. Sebab mager, aku tak langsung bangkit. Golar-galer, golar-galer...

Sekitar pukul 6.30, aku mengajak Dita jalan pagi keliling desa. Nah, saat ini lah kusadari bahwa kampungnya Dita bagus. Bukan dusun. Berbeda dengan kunjungan dua desa saat SMA dan ikut study tour dari sekolah tempatku mengajar dahulu.

Rumah kanan-kiri, depan-belakang umumnya bagus. Modern. Rapih berjejer. Kami jalan kaki dari rumahnya hingga jalan raya yang tak kurang dari 500 meter. Menuruni jalanan aspal. Perjalanan kami dipayungi langit berawan. Ketika keluar gang rumah, aku takjub. Pemandangannya sungguh luar biasa. Ada puncak Gunung Selamet terlihat tertutup awan. Bukit hijau, sawah, dan udara sejuk; FABIAYYI ALAA 'IRAABBIKUMAA TUKADZDZIBAAN...

Sebagai anak asli Betawi, jarang-jarang aku melihat pemandangan seperti ini. Aku sedang memanjakan mata! Subhanallah. Kami terus berjalan. Melewati SD, pasar, lapangan, rel kereta, jembatan, menikung, menanjak, menurun dan sebagainya. Aku haus pula kebelet pipis. Dita menunjukkan sebuah aliran sungai.
"Mau mandi di kali gak?" Tawar Dita.
"Ya kali, Dut, di pinggir jalan gini..." Cetot nyolot.
"Gimana?" Tanyaku.
"Apanya?" Timpal Tiwul ala-ala Mang Saswi dan Sule.

Kami menjelajahi aliran sungai itu. Waaahh... Bening euy airnya! Aku tergoda untuk melompat. Tiba-tiba...
"Duuutt... Pengen pipis. Cari masjid, please." Lirihku.
"Sini aja di kali. Nanti gue cariin tempat biasa dulu gue nongkrong." Namun naas, tempat tongkrongan Dita waktu ia SD jika terdesak ingin pipis telah langka. Lalu Dita mengajak kami ke kandang sapi milik Budhe-nya yang dikira-kira memiliki kamar mandi. Ternyata tidak. Aku panik.

Akhirnya Dita menawarkan hal gila. Hal yang menurut anak urban seperti aku sangat ekstrim. Hal pertama kalinya aku pipis di alam terbuka. "Sini aja lah, Biy... Wangan." Kata Dita sambil menunjuk ke samping jalan setapak yang kami lalui. Wangan? Apa itu? Kenapa menunjuk-nunjuk di selokan itu?

Tibalah waktu dimana aku pipis di wangan. Aliran kecil dari sungai seperti selokan namun jernih. Gila bukan? Dita memraktekan cara pipis di wangan. Cetot jaga di belakang, Tiwul di depan, dan Dita siap siaga jika ada orang lain lewat.

Sebelumnya Dita memberikan demo. Pertama-tama, aku harus melawan arah aliran air; aku menghadap atas, air mengalir ke bawah. Lalu, kedua kaki tidak boleh berada di dalam wangan. Kaki kanan berpijak di tanah sisi kanan wangan, begitu pun kaki kiriku. Lalu jongkok. Membuka celana pun tak boleh sejak aku berdiri. Saat posisi jongkok lah waktu paling tepat membuka celana. Agar tidak ketahuan orang untuk diintip. Kemudian, "ssssseeeeerrrrrr..." Kencingku memancur. Lega sekali. Nah ini lah bagian tersulit. Beristinja. Jarak wangan dengan tanah lumayan tinggi. Aku musti agak merunduk untuk mencapai aliran air dan berbasuh. Ngeri nyusruk. Setelah semua tahap kulalui, aku lupa, aku langsung berdiri. Memakai celana saat berdiri adalah haram! Tapi saking excited nya, setelah selesai, aku bersorak dan berlompat-lompat. "Yiaaay!!! Mission completed! Gue pipis di pinggir sawah!!! Gilz bangz gak tuuuh!!!" Maaf norak. Anak kota. Makasih ya, Mbak Dita...

Kami melanjutkan perjalanan. Kembali menyusuri sungai menuju tengah sawah dengan berlatar bukit hijau nan sejuk. Aku tak henti-hentinya menghirup udara dalam-dalam lalu hembuskan lagi dengan mulut. Damai sekali. Sejuk sekali. Indah luar biasa.

Di pinggir sawah, di pinggir jalan juga kami mengambil (banyak) foto. Dita menunjuk ke arah bukit sambil berkata,"lo liat itu ada putih-putih?"
"Mana? Banyak, hego, putih-putih..." Tanyaku sambil menerawang ke arah atas bukit yang Dita maksud.
"Itu loh, Biy. Yang garis lurus. Itu curug yang besok kita kunjungin."
"Hah? Demi apa lo? Kok keliatan? Kok bisa?" Heranku. Curug itu terlihat jauh sekali namun sepertinya tinggi. Sebab garis lurus yang terlihat cukup jelas.
"Ya bisa... Nah kalo yang itu tuh. Yang rumput hijaunya lebih muda dari hijau yang lain? Yang ada rumahnya tuh... Bisa lihat?" Tunjuk Dita ke atas bukit lagi. Sebelah kiri sang curug.
"Ho oh... Ho oh... Apa itu?" Aku mengangguk dan benar dapat kulihat objek yang Dita tunjuk dengan jelas.
"Itu peternakan sapinya. Sabananya."
"Woaaaahh... Padang rumput? Kayak di New Zealand?" Aku mengonfirmasi.
"Yoi. Keren kan? Besok deh lo liat langsung." Waaah, gak sabar besok!
Setelah puas narsis, kami berjalan pulang. Memotong jalan dengan kembali melewati sungai tadi. Lalu melewati jembatan besi berkarat dan bertemu sungai lagi. Matahari makin tinggi. Bel sekolah-sekolah telah berbunyi. Ibu-ibu sudah mulai menggelar alat cuci dan memakai kemben. Kami mulai lelah. Haus.

Sebelum sampai di rumah, kami mampir ke rumah Lik Fitri, tantenya Dita yang mana bersuami petugas peternakan sapi. Pula beranak bernama Ifa yang maha ekspresif itu. Dita bercerita kepada Lik bahwa kanca-kancanya ini ingin main di peternakan. Lik Fitri baik sekali. Ia hanya tinggal bercerita kepada suaminya agar kami diberi akses masuk. Lik Fitri pun menyuguhi kami minum dan martabak pasar. Sebab lapar, semuanya kami hajar. Kemudian kenyang dan pamit pulang. Tamu kurang ajar.

Rencananya, di hari pertama itu, kami hendak ke kota untuk wisata kuliner. Esoknya hendak ke Baturraden dan hari terakhir barulah kami ke curug dan peternakan sapi. Dikarenakan that Mager Syndrom, setelah jalan pagi, kami sarapan, kenyang, aku ngantuk, bobok lagi. Sambil menunggu Ulil yang meminjam motor kawannya untuk kami pakai, hingga menjelang sore Ulil tak nampak. Sekalinya kendaraan siap, Tiwul dan Dita pergi keluar cari jajan. Aku tidur lagi sebelum Tiwul pulang dan setelah makan jajanan. Tiwul setelah makan pun teler.

Hingga akhirnya sore. Aku bangun dan mengajak ke kota. Cetot menyahut,"ngapain? Orang motornya udah dibalikin sih..." Nada kecewa terdengar dari suara Cetot yang selalu terkesan nyolot itu. Aku merasa bersalah sebab aku yang paling banyak tidur akibat Mager Syndrome. "Yaaahh... Gara-gara gue ya? Maaf... Terus gimana?" Lirihku pada Cetot. Dita datang dan menyelamatkanku. "Heh, malem ini malem jumat kliwon. Kata Mbak gue, gak boleh keluyuran. Besok kita ke curug aja sama ke peternakan. Om gue adanya besok. Kalau Sabtu, doi libur. Nah Sabtu pagi sampe siang, kita ke kota sebelum kalian pulang. Gimana?" Semua setuju. Aku selamat. Terima kasih lagi ya, Mbak Dita...

Maghrib. Kami diajak sembahyang di masjid depan rumah. Oke. Kami anak solehah. Di shaf perempuan, kami paling depan. Tiwul di pojok kanan, lanjut Dita disebelah kirinya, aku, Cetot dan Bu Upi. Dilanjutkan dengan ibu-ibu tetangga.

Masjid ini dinamai An-Nur. Dibangun sedikit menyerong ke kanan, berbeda dengan barisan-barisan rumah di kanan-kirinya. Berkubah sedikit emas, bertiang emas dan diwarnai corak-corak keemasan. Semua emas itu adalah cat tembok. Ada sebuah bedug besar di teras masjid. Di halaman masjid banyak ditanami bunga-bunga, berukuran cukup lebar dan rapih pula bersih. Tempat wudhunya lucu. Ada kolam ikan berisi ikan hias berwarna-warni. Jalan setapaknya pun dipenuhi bebungaan. Di sebelah tempat wudhu ada ruang pertemuan dan teras kecil. Masjidnya keren! Walau di kampung tapi gak kampungan. Lagi-lagi aku memuji kampung Dita sebagai kampung modern.

Jama'ah di sini sangatlah NU. Doa-doa setelah sholat yang dikumandangkan bersama seperti doa-doa yang biasa di dalam rumahku ba'da sholat tarawih berjama'ah dengan encang, encing, dan para sepupu. Aku tak ada kesulitan mengikuti untaian doa-doanya.

Setelah doa, ternyata ada tradisi salam-salaman dan selalu dimulai dari pojok paling kanan; posisi Tiwul! Kami, para tamu, tidak tahu bahwa akan ada tradisi ini setiap selesai sembahyang. Tiwul sedang selo-selonya duduk bersila. Tiba-tiba Dita menepuk-nepuk Tiwul untuk segera bangun. Tiwul kelojotan.
"Woy, woy berdiri! Salaman!" Seru Dita.
"Lah gue duluan? Elu lah..." Tiwul panik. Mukanya jadi putih.
"Hayoloh, Wul, hayoloh!" Godaku.
"Hahaha yauda lo ikutin gue." Kata Dita sambil memulai jabatan tangan kepada aku, Cetot, mencium tangan Bu Upi dan tangan-tangan jama'ah lain. Disambung dengan Tiwul, aku, Cetot dan selanjutnya hingga ujung. Aku senyam-senyum sok ramah saat mencium tangan para ibu-ibu. Wanginya macam-macam. Ada yang wangi sabun; mungkin ia baru kelar mandi. Wangi bumbu-dapur, dan lain sebagainya. Pula bermacam-macam struktur tangan; mulus, kasar, kenyal, keriput, dan setengah keriput.

Malamnya, kami kedatangan Ifa; adik sepupu Dita, sekeluarga. Ifa masih cilik. Usianya sekitar 8 tahun. Ia kelas 2 SD, berwajah dan bermata bulat. Kulitnya sawo matang. Terdapat tahi lalat di antara hidung dan mulutnya. Ifa cetakan Lik Fitri 90%. Ia sangat aktif dan ekspresif. Aku suka. Satu hal yang pasti, bahasa Jawanya lancar! Mantap.

Kedatangan Ifa mengonfirmasi rencana besok. Jadi besok Ifa dan sekeluarga turut ke curug. Berkat ayahnya lah kami dapat akses masuk ke peternakan sapi.

Pada malam ini lah tubuhku diterpa angin Purwokerto. Perutku kembung. Sakit namun tak mulas. Tak ingin buang air. Hanya angin yang diproduksi. Baunya? Bikin mati! Kepada Tiwul, Cetot dan Dita, kalian adalah pejuang cium kentutku. Kalian luar biasa. Jangan pernah menyesal, ya, berkawan denganku...
(Bersambung)

Selasa, 10 Februari 2015

Bunda, Curhat, dong!

"Bund, aku terlalu muda gak sih buat punya rencana ini-itu?" Tanyaku.
"Apa rencanamu, memangnya?"
"Nanti kalau udah kerja, aku mau nabung tapi dalam bentuk emas. Terus bunda mau gak tolongin DP-in rumah, cicilannya biar aku, kalau tabunganku udah cukup, aku ganti uang yang buat DP itu... Aku juga pingin banget punya usaha bakery shop, nanti head chef nya Kak Ria, Halimah, Ibu. Akan kuberdayakan janda-janda! Hahahahaha..." Aku mengepalkan tangan di depan muka Bunda.
"Lah, ngocol. Ya, baguslah. Gak kok, gak terlalu muda. Memang harus begitu, punya tujuan dan target yang jelas. Lagipula kan kamu udah mulai dewasa. Soal rumah, semua udah ada di otak bunda. Makanya kamu kalau gajian jangan jajan mulu!" Sahut si bunda.

"Hehehe iyaaa... Hmmm... Kalau soal nikah. Gimana? Aku gak mau nikah tuaaaa~ kalo ada jodohnya, aku mau nikah usia 23 tahun. Boleh?" Pintaku dengan mantap.
"Gak perlu nunggu umur dua tiga, besok kalo ada yang mau lamar ya hayuk! Dengan catatan; JELAS!!! Keluarganya jelas, agamannya jelas, kerjaannya jelas, masa depannya jelas. Eh emang kamu gak mau ngelanjut S2?" Bunda menambah topik.
"Lah, emang S2 harus dilaksanakan sebelum nikah?" Aku bertanya balik.
"Ya, enggak... Kalau bisa sebelum nikah, kenapa harus sesudah nikah? Bunda sih, yang mana aja oke. Cuma, si ayah nawarin tuh!"
"Ayah nawarin? Ciyus banget??? Mauuu! Dibeasiswain kan? Hehehehe" Aku tergiur.
"Iya, tapi kalo sebelum kelar, kamu keburu nikah, bikin surat perjanjian ya, suami kamu yang lanjut bayarin!"
"Ngahahahahaha ya keleeuuuussshhh~"

"Eh ya, bund, kalau nanti usiaku udah cukup dan belum ada jodohnya, aku rela dijodohin kok, bund..."
"Kalo sekarang dojodohin?"
"Emangnya ada? Kalo ada mah hayuk lah hahahahaha"
"Hahahahahaha BELOM ADE! Udahlah, semoga gak perlu dijodoh-jodohin, jodohmu ngehampirin sendiri~ Amin."
"Amin..." Aku menyahut.

"Eh, tapi itu gak terlalu muda, bund? Nikah..." Aku mempertegas.
"Yaelah Kak, jodoh dan rezeki itu rahasia Allah. Kalau jodohnya cepet ya nikahlah. Lagian bunda gak suka anak bunda pacaran lama-lama. Randa-rende gak karuan kemane-mane berdua belon nikah. Kalo emang udaeh mantep ama pasangannye, maju daaaaah. Ngape bikin? Jangan takut. Entar nih, kalau beneran ada laki yang dateng ke rumah, serius ama elu, mau ngape lagi cobe? Kalo die berkualifikasi." Betawinya keluar.
"Hehehe... Enggak, aku gak pernah takut berkomitmen bund... Bunda kan tau. Aku malah takut buang-buang waktu. Makanya, aku setuju banget, tuh, kalau udah klik, ya nikah lah. Mau apa lagi, coba?"
"Nah entu ngarti..."
"Tapi kan ada aja bund, yang alesannya belum siap lah, ngumpulin duit dulu lah, ngebahagiain ortunya dulu lah, lanjut studi lah, apa lah~~" Aku memberikan ilustrasi lain.
"Caeli~ Lebaaaay. Kalo kagak bahagia-bahagia tu orang tua? Pegimane? Gak percaya janji Allah, ape? Dimana-mana, kalo nikah niatnya lillahi ta'ala, rejeki pasti ditambah. Jangan takut! Yang penting ya itu, cari calon yang agamanya oke. Ibadahnya, taatnya sama Allah oke! Penghasilan jelas. Kamunya juga! Benerin akhlaq. Mau suami soleh, kamunya males dhuha, tahajud, ngaji ape lagi! Banyakin doa. Minta sama Allah. Nih, ya, kehidupan setelah nikah itu beda, kak... Kenapa kamu juga harus solehah, sebab ummi madrasatil uula... Gimana mau mencetak masa depan yang baik kalau ibunya gak bener?" Half Betawi half Bahasa.
"Ah, perfectly stated! Gak ada niat lain selain menyempurnakan ibadahku saat bercita-cita ingin nikah dan aku gak main-main, bund. Udah sadar aku sekarang mah... Setelah pesakitan-pesakitan. Behahaha drama ye, gue? Lagipula kan katanya, kalau gak nikah bukan golongan umat Nabi. Ya nikah doooong~"

"Ya iya lah... Yaaa, semoga doa-doa bunda di dalam namamu gak pernah salah ya, Kak. Seorang ibu gak akan pernah berhenti berdoa untuk anaknya. Bunda gak pernah ngelarang kamu deket sama siapa pun, kalau bisa, bergaulah sebanyak-banyaknya, sambil nyeleksi temen kira-kira siap pakai gak nih? Hahahahaha... Semoga jodohmu baik ya. Segalanya terbaik untuk kamu. Semoga Allah meridhoi semua jalanmu. Jalan kita."

"Insya Allah bund... Kan aku lulusan UIN, calon ustadzah! BEHAHAHAHAHAHA."

(Mau terharu gak jadi ya? Hehehe. Aku juga. Selalu ada haru kalau bicara serius sama bunda. Sebab bunda rumah bagiku untuk berpulang. Saat senang bahkan sedih, tak ada rumah yang paling nyaman selain kembali kepada sosok ibu. Hai bunda, kalau bunda baca ini, aku cuma mau mengakhiri tulisan ini dengan ungkapan; makasih ya bund. I love you.)