Langsung ke konten utama

Bunda, Curhat, dong!

"Bund, aku terlalu muda gak sih buat punya rencana ini-itu?" Tanyaku.
"Apa rencanamu, memangnya?"
"Nanti kalau udah kerja, aku mau nabung tapi dalam bentuk emas. Terus bunda mau gak tolongin DP-in rumah, cicilannya biar aku, kalau tabunganku udah cukup, aku ganti uang yang buat DP itu... Aku juga pingin banget punya usaha bakery shop, nanti head chef nya Kak Ria, Halimah, Ibu. Akan kuberdayakan janda-janda! Hahahahaha..." Aku mengepalkan tangan di depan muka Bunda.
"Lah, ngocol. Ya, baguslah. Gak kok, gak terlalu muda. Memang harus begitu, punya tujuan dan target yang jelas. Lagipula kan kamu udah mulai dewasa. Soal rumah, semua udah ada di otak bunda. Makanya kamu kalau gajian jangan jajan mulu!" Sahut si bunda.

"Hehehe iyaaa... Hmmm... Kalau soal nikah. Gimana? Aku gak mau nikah tuaaaa~ kalo ada jodohnya, aku mau nikah usia 23 tahun. Boleh?" Pintaku dengan mantap.
"Gak perlu nunggu umur dua tiga, besok kalo ada yang mau lamar ya hayuk! Dengan catatan; JELAS!!! Keluarganya jelas, agamannya jelas, kerjaannya jelas, masa depannya jelas. Eh emang kamu gak mau ngelanjut S2?" Bunda menambah topik.
"Lah, emang S2 harus dilaksanakan sebelum nikah?" Aku bertanya balik.
"Ya, enggak... Kalau bisa sebelum nikah, kenapa harus sesudah nikah? Bunda sih, yang mana aja oke. Cuma, si ayah nawarin tuh!"
"Ayah nawarin? Ciyus banget??? Mauuu! Dibeasiswain kan? Hehehehe" Aku tergiur.
"Iya, tapi kalo sebelum kelar, kamu keburu nikah, bikin surat perjanjian ya, suami kamu yang lanjut bayarin!"
"Ngahahahahaha ya keleeuuuussshhh~"

"Eh ya, bund, kalau nanti usiaku udah cukup dan belum ada jodohnya, aku rela dijodohin kok, bund..."
"Kalo sekarang dojodohin?"
"Emangnya ada? Kalo ada mah hayuk lah hahahahaha"
"Hahahahahaha BELOM ADE! Udahlah, semoga gak perlu dijodoh-jodohin, jodohmu ngehampirin sendiri~ Amin."
"Amin..." Aku menyahut.

"Eh, tapi itu gak terlalu muda, bund? Nikah..." Aku mempertegas.
"Yaelah Kak, jodoh dan rezeki itu rahasia Allah. Kalau jodohnya cepet ya nikahlah. Lagian bunda gak suka anak bunda pacaran lama-lama. Randa-rende gak karuan kemane-mane berdua belon nikah. Kalo emang udaeh mantep ama pasangannye, maju daaaaah. Ngape bikin? Jangan takut. Entar nih, kalau beneran ada laki yang dateng ke rumah, serius ama elu, mau ngape lagi cobe? Kalo die berkualifikasi." Betawinya keluar.
"Hehehe... Enggak, aku gak pernah takut berkomitmen bund... Bunda kan tau. Aku malah takut buang-buang waktu. Makanya, aku setuju banget, tuh, kalau udah klik, ya nikah lah. Mau apa lagi, coba?"
"Nah entu ngarti..."
"Tapi kan ada aja bund, yang alesannya belum siap lah, ngumpulin duit dulu lah, ngebahagiain ortunya dulu lah, lanjut studi lah, apa lah~~" Aku memberikan ilustrasi lain.
"Caeli~ Lebaaaay. Kalo kagak bahagia-bahagia tu orang tua? Pegimane? Gak percaya janji Allah, ape? Dimana-mana, kalo nikah niatnya lillahi ta'ala, rejeki pasti ditambah. Jangan takut! Yang penting ya itu, cari calon yang agamanya oke. Ibadahnya, taatnya sama Allah oke! Penghasilan jelas. Kamunya juga! Benerin akhlaq. Mau suami soleh, kamunya males dhuha, tahajud, ngaji ape lagi! Banyakin doa. Minta sama Allah. Nih, ya, kehidupan setelah nikah itu beda, kak... Kenapa kamu juga harus solehah, sebab ummi madrasatil uula... Gimana mau mencetak masa depan yang baik kalau ibunya gak bener?" Half Betawi half Bahasa.
"Ah, perfectly stated! Gak ada niat lain selain menyempurnakan ibadahku saat bercita-cita ingin nikah dan aku gak main-main, bund. Udah sadar aku sekarang mah... Setelah pesakitan-pesakitan. Behahaha drama ye, gue? Lagipula kan katanya, kalau gak nikah bukan golongan umat Nabi. Ya nikah doooong~"

"Ya iya lah... Yaaa, semoga doa-doa bunda di dalam namamu gak pernah salah ya, Kak. Seorang ibu gak akan pernah berhenti berdoa untuk anaknya. Bunda gak pernah ngelarang kamu deket sama siapa pun, kalau bisa, bergaulah sebanyak-banyaknya, sambil nyeleksi temen kira-kira siap pakai gak nih? Hahahahaha... Semoga jodohmu baik ya. Segalanya terbaik untuk kamu. Semoga Allah meridhoi semua jalanmu. Jalan kita."

"Insya Allah bund... Kan aku lulusan UIN, calon ustadzah! BEHAHAHAHAHAHA."

(Mau terharu gak jadi ya? Hehehe. Aku juga. Selalu ada haru kalau bicara serius sama bunda. Sebab bunda rumah bagiku untuk berpulang. Saat senang bahkan sedih, tak ada rumah yang paling nyaman selain kembali kepada sosok ibu. Hai bunda, kalau bunda baca ini, aku cuma mau mengakhiri tulisan ini dengan ungkapan; makasih ya bund. I love you.)

Komentar

Pos populer dari blog ini

UNIVERSALISME VS PARTIKULARISME

Menurut survei yang dilakukan oleh Political & Economic Risk Consultancy yang berbasis di Hongkong, Indonesia adalah negara paling korup dari 16 negara di kawasan Asia Pasifik. (Kompas, 2012) Fakta yang mengkhawatirkan. Dengan indeks persepsi korupsi sebesar 1.9 dari angka terbesar 10, Indonesia dianggap sejajar dengan negara-negara baru yang sampai hari ini masih dililit masalah peperangan di mata internasional. kerugian akibat korupsi sama dengan dampak perang, bahkan bisa jadi lebih. Tentu Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN)  bukan istilah yang asing lagi di negeri ini. Menjelang jatuhnya Soeharto, KKN ramai disinggung dan dibicarakan. Pada masa reformasi, KKN semakin sering dibicarakan untuk diperangi demi pemerintahan yang bersih (good governance).

Operasi Geraham Bungsu (Impaksi)

Tulisan ini kubuat atas dasar pemikiran kawanku, Pandu Ashari, yang mengusulkan untuk dikenang dalam blog. Sungguh, ia sangat mencerahkan. Lumayan, menambah warna tulisan di blog ini, tak selalu kelabu (read: galau).
*********
Aku terlahir sebagai anak yang malas menggosok gigi. Biya kecil, dulu, kalau makan selalu diemut dan lama. Konon, nasi-nasi atau makanan yang ada di dalam mulutku bisa sampai kubawa tidur saking lamanya mengunyah. Belum lagi ketergantunganku dengan minum susu di botol sambil tidur belum hilang sampai kelas 2 SD. Parah. Jangan tiru adegan itu ya. (Kalau punya sepupu, keponakan atau anak, cegahlah mereka.)

Ngurus STNK di SAMS(SUCK)AT

Jadi gini, pada hari Selasa, 5 Februari 2013, gue pergi bersama abang sepupu ke kantor SAMSAT di deket SCBD, Semanggi, buat ngurus STNK abang kandung yang hilang beserta dompet dan isinya. Dari latar belakang itulah lahir pengetahuan dan pengalaman gue ngurus keribetan birokrasi negeri ini dan sogok-menyogok depan mata.

Pertama-tama, pastikan dulu motor lo itu wilayah mana. Bisa dilihat dari tiga huruf di belakang plat nomer. Kalau huruf depannya T, berarti segala administrasi, berkas, data dan lain-lainnya ada di SAMSAT Jakarta Timur (T). Kalau B ya barat, S ya Selatan dan seterusnya. Contohnya motor gue B XXXX TPS, nah, udah pasti di timur lah ya.