Langsung ke konten utama

Pulang ke Kampung (Orang) Bagian I

"Aelaaaaah... Ntar sik, abis gue daftar wisudaaaaa~~~" Rengekku kepada Dita.

Dita, salah satu anggota Genk Solehah, asli Purwokerto. Sudah satu semester ia tak pulang ke rumah. Maklum, mahasiswa tingkat akhir. Harus skripsi, sidang, mengejar dosen demi tanda tangan dan birokrasi-birokrasi kampus yang bisa bikin mampus demi sebuah toga.

Dita ingin pulang. Aku ingin ikut. Singkatnya begitu. Cetot dan Tiwul pun juga. Mereka kawan sepermainanku di kampus. Sayangnya, ketika Dita lapor mau pulang, aku masih ribet urus ini-itu sisa ampas-ampas sidang dan mengejar deadline daftar wisuda. Makanya aku merengek untuk sabar menantiku. Alhamdulillah semua urusan lancar dan cepat.

"Kita mau berangkat kapan? Selasa?" Tanya Dita via Whatsapp.
"Rabu ajaaaa... Selasa gue masih ada privat hehehe" Balasku.

Oke, tiket berangkat sudah dipesan. Dengan kereta Bengawan yang sudah tidak murah lagi kami berangkat. Sebelum Rabu tiba, kudapati pesan dari Tiwul,"Bi, beli tiket balik sekalian aja yuk! Takut kehabisan."
"Boleh..." Jawabku singkat.
"Mau balik kapan?" Tiwul bertanya.
"Senin aja. Piye?" Tawarku.
"Lah si Cetot malah mau balik Jumat! Gak kelamaan kalau Senin?"
"Buceeett! Dapet apaan kalo Jumat udah baliiiiiiikkk~" Aku terperanjat.
"Hahahahaha makanya... Gimana kalo Sabtu? Sabtu malem?" Tiwul menengahi.
"Nah yauda itu mendingan. Gue kapan aja dah, Wul. Yang penting jangan Jumat. Hahahaha" Putusku.

Kami sepakat bertemu langsung di Stasiun Senen. Siapa pun yang datang lebih awal, maka ia harus menyetak tiket. Tiwul yang berdomisili di planet Bekasi datang lebih dulu. Disusul aku. "Waaakkk... Kita berangkaaaatt!" Sapaku dari jauh berlari kecil menghampiri Tiwul. "Baru tumben kan lo jalan ama guweeehh hehehe..." Lanjutku.
"Woelah, Biy! Mau naek gunung? Tas lo gede amaaaaattt..." Ledek Tiwul setelah melihatku menurunkan tas carrier 30 liter dari pundak untuk duduk ngaso menunggu Dita dan Cetot.
"Yoi!" Jawabku singkat.
Kami menunggu cukup lama. Kata Dita di Whatssup, Blok-M macet. Sesampainya mereka, kami sambut dengan senyum sumringah. Wih, jadi lah kita jalan-jalan bareng! Lagi-lagi aku diejek oleh Dita dan Cetot,"mbak, ko arep ndhi mbak? Naek gunung? Hahahahahaha" ledek mereka.
"Liat aja ntar kalo tas gue lebih berguna yaaaa...hehehehe"

***

"Cirebon sekarang dua stasiun tau..." Dita bercerita.
Di kereta, kami berlomba-lomba saling bercerita apa saja. Tentang kampung halaman masing-masing. Aku, anak Betawi (dari bunda), hanya mampu bercerita tentang kampung halaman ayahku. Brebes. Sayangnya hingga kini belum pernah kakiku menginjak tanah leluhur ayah.

"Ih Brebes! Kampung babe gue nih." Kataku ketika kereta melalui stasiun Brebes.
"Ya gak jauh deh sama Purwokerto, Bi..." Lanjut Dita.

Selain bercerita, kami saling berbagi tawa. Tak ada yang tidur. Kebetulan waktu bepergian kami masih terang, jam 11.55 dari Stasiun Pasar Senen. Jadi, empat pasang mata masih segar.

"Ih, ih belokan nih jalannya! Tuh kepalanya (kereta) gue bisa liat!" Seru tiwul sambil melongok-longok ke luar jendela demi memandang ndas kereta. Aku pun latah meski duduk berseberangan dengan Tiwul. Ikutan ingin melihat ndas kereta, kuhampiri Tiwul dan kupepetkan kepala ku ke kepala Tiwul. Kepala dan kepala saling beradu. Tiba-tiba Tiwul mendorongku dengan kasar,"eh begooookk... Elu kan bisa liat dari tempat duduk lo buntutnya kereta, Tul! Ngapa repot banget daaaah~"
"Ohiyaaaaa... Behahahaha! Lo pinter ih. Maaf ya maaf. Gue bangga punya temen kayak lo yang maha cerdas!" Pujiku pada Tiwul sang maha cerdas.

Sesampainya di Purwokerto kurang lebih pukul 17.45, tanpa ba-bi-bu kami langsung menyewa taksi dan meluncur ke kedai bakso yang paling fenomenal di sana; Bakso Pekih. Anjrit! Baksonya wuenak!!! Murah pula. Tiga belas ribu rupiah uwis wareg! Aku menyesal sebab pesanan bakso tetelan kawan lain lebih menggiurkan. Aku berjanji pada diriku sendiri, suatu saat aku akan kembali ke tempat ini dan memesan bakso tetelannya!

Kenyang dengan Bakso Pekih, kami berjalan ke arah alun-alun. Cetot dan Dita menggenggam satu bungkusan kecil di tangan kanan mereka; Es Brasil. Es krim lokal di Purwokerto. Rasanya? Aduh, maaaaakkk~ aku langsung jatuh cinta. Berjanji lagi lah aku pada diri sendiri, aku akan membeli es krim ini untuk oleh-oleh ke Jakarta!!!

Langit sudah menampakkan kuasanya. Matahari pun tersipu terbenam. Adzan Maghrib akan tiba. Mari kita sembahyang di masjid raya.

Sebelum pulang ke desa Panembangan dimana Dita dilahirkan, kami tak lupa bernarsis ria di Alun-alun Purwokerto. Ada air mancur lengkap dengan lampu warna-warni menghiasinya. Tulisan "Purwokerto" besar bercahaya di atas layar lah background andalan kami. Rumah bupati pun tak ketinggalan sebagai latar wefie kami. Purwokerto tenang dan menenangkan saat malam.


***

Aku tidak ingat jalan menuju rumah Dita malam itu. Di taksi aku lelap. Yang jelas, Dita memasang stopwatch untuk mengetahui berapa lama jarak tempuh dari Alun-alun ke desanya. Kurang lebih 25 menit kami tiba. Dua puluh lima menit di desa akan selalu berbeda dengan 25 menit milik Jakarta.

Kupanggil ia Ibu, Bu Upi. Aku memberi salam kepadanya ala-ala anak Indonesia berbudi pekerti luhur; kukecup punggung tangannya dengan bibir. Bapak Wakhid sedang Isya-an di masjid kata Bu Upi sebelum ada sosok bayangan hitam keluar dari tirai kamar. Bayangan itu tinggi, tak terlalu besar. Seketika ada kerlingan senyum putih dari gigi. Ulil. Adik tunggal Dita.
"Weeeeeehhh... Uliiiiiiillll~~~" Kami berempat berseru. Ulil tersipu.
"Eh, Fuuuu... Ko gi apaaaaak?" Sapa Dita dengan mesra. Fu dari kata Fuad. Panggilan kesayangan sang Kakak. Ulil hanya tersenyum.
"Iki lho, salam karo kanca-kanca nyong. Mbak Biya, Mbak Tiwul, Mbak Ummu (Cetot)." Dita memberi instruksi. Ulil menurut.

Berdasarkan berita burung beredar, Ulil adalah bungsu paling manja. Paling keras. Suka ngamuk di rumah kalau pintanya tak dikabuli. Di bayanganku, Ulil itu rese. Jail. Berandal. Begajulan. Eh ternyata dia hobinya mesam-mesem sok malu. Ulil manis. Hitam manis bagai kecap. Ia berondong. Selo aja. Aku gak kepingin.

Kami duduk di sofa ruang tengah Dita. Rumahnya besar. Halamannya apalagi. Lebih besar dari rumahku. Bangunannya pun bagus. Tak kukira desanya Dita semodern ini. Baru kuketahui ketika esok harinya, para tetangga pun berumah tak kumuh. Kurang ajar!

"Assalamu'alaikum..." Suara berat seorang pria terdengar dari luar.
"Wa'alaikum salam..." Semua orang di dalam menyahut.
"Nah ini Bapak." Kata Bu Upi.
Oh, ini toh Pak Wakhid! Sebelas -duabelas dengan Dita mukanya. Hehehe.

Di ruang itu, percakapan hangat terjadi. Ibu Upi seorang Jawa tulen. Meski Ngapak, Bu Upi tetap ramah dan lembut. Pak Wakhid pun. Ulil apalagi. Setiap percakapan pasti diselipkan tawa--dengan bahasa Jawa. Aku kikuk. Secara yaaa gwe naq jeketi giduw loooccchh... Cetot dan Tiwul ya pasti paham lah, sebab mereka juga Jawa. Aku ya haha hihi aja biar akrab hehehehehe.

Sebelum istirahat, kami dipersilahkan untuk makan. Menunya adalah ayam burus dan sambel Bu Upi. Sambelnya wenak meski tak pedas. Aku kan anaknya anti makan malam di atas jam tujuh, sebab aku dipaksa makan, aku bisa apa? Dipaksa nambah pula, aku nurut sajalah.

Waktunya istirahat. Kami berempat ditempatkan di kamar depan. Kamar sudah siap dengan dua buah kasur besar yg didempetkan. Lengkap dengan selimut dan bantal. Subhanallah sekali keluarga Mbak Dita.

Entah mengapa rumah Dita memberikan hawa "mager" bagiku. Udaranya sejuuuuuuuukkk sekali. Tapi aku tidak pernah merasa kedinginan. Malam pertama kami menginap, aku sama sekali tak mendengar adzan Subuh. Tiwul lah yang tahu. Ia membangunkan kami untuk sembahyang. Sebab mager, aku tak langsung bangkit. Golar-galer, golar-galer...

Sekitar pukul 6.30, aku mengajak Dita jalan pagi keliling desa. Nah, saat ini lah kusadari bahwa kampungnya Dita bagus. Bukan dusun. Berbeda dengan kunjungan dua desa saat SMA dan ikut study tour dari sekolah tempatku mengajar dahulu.

Rumah kanan-kiri, depan-belakang umumnya bagus. Modern. Rapih berjejer. Kami jalan kaki dari rumahnya hingga jalan raya yang tak kurang dari 500 meter. Menuruni jalanan aspal. Perjalanan kami dipayungi langit berawan. Ketika keluar gang rumah, aku takjub. Pemandangannya sungguh luar biasa. Ada puncak Gunung Selamet terlihat tertutup awan. Bukit hijau, sawah, dan udara sejuk; FABIAYYI ALAA 'IRAABBIKUMAA TUKADZDZIBAAN...

Sebagai anak asli Betawi, jarang-jarang aku melihat pemandangan seperti ini. Aku sedang memanjakan mata! Subhanallah. Kami terus berjalan. Melewati SD, pasar, lapangan, rel kereta, jembatan, menikung, menanjak, menurun dan sebagainya. Aku haus pula kebelet pipis. Dita menunjukkan sebuah aliran sungai.
"Mau mandi di kali gak?" Tawar Dita.
"Ya kali, Dut, di pinggir jalan gini..." Cetot nyolot.
"Gimana?" Tanyaku.
"Apanya?" Timpal Tiwul ala-ala Mang Saswi dan Sule.

Kami menjelajahi aliran sungai itu. Waaahh... Bening euy airnya! Aku tergoda untuk melompat. Tiba-tiba...
"Duuutt... Pengen pipis. Cari masjid, please." Lirihku.
"Sini aja di kali. Nanti gue cariin tempat biasa dulu gue nongkrong." Namun naas, tempat tongkrongan Dita waktu ia SD jika terdesak ingin pipis telah langka. Lalu Dita mengajak kami ke kandang sapi milik Budhe-nya yang dikira-kira memiliki kamar mandi. Ternyata tidak. Aku panik.

Akhirnya Dita menawarkan hal gila. Hal yang menurut anak urban seperti aku sangat ekstrim. Hal pertama kalinya aku pipis di alam terbuka. "Sini aja lah, Biy... Wangan." Kata Dita sambil menunjuk ke samping jalan setapak yang kami lalui. Wangan? Apa itu? Kenapa menunjuk-nunjuk di selokan itu?

Tibalah waktu dimana aku pipis di wangan. Aliran kecil dari sungai seperti selokan namun jernih. Gila bukan? Dita memraktekan cara pipis di wangan. Cetot jaga di belakang, Tiwul di depan, dan Dita siap siaga jika ada orang lain lewat.

Sebelumnya Dita memberikan demo. Pertama-tama, aku harus melawan arah aliran air; aku menghadap atas, air mengalir ke bawah. Lalu, kedua kaki tidak boleh berada di dalam wangan. Kaki kanan berpijak di tanah sisi kanan wangan, begitu pun kaki kiriku. Lalu jongkok. Membuka celana pun tak boleh sejak aku berdiri. Saat posisi jongkok lah waktu paling tepat membuka celana. Agar tidak ketahuan orang untuk diintip. Kemudian, "ssssseeeeerrrrrr..." Kencingku memancur. Lega sekali. Nah ini lah bagian tersulit. Beristinja. Jarak wangan dengan tanah lumayan tinggi. Aku musti agak merunduk untuk mencapai aliran air dan berbasuh. Ngeri nyusruk. Setelah semua tahap kulalui, aku lupa, aku langsung berdiri. Memakai celana saat berdiri adalah haram! Tapi saking excited nya, setelah selesai, aku bersorak dan berlompat-lompat. "Yiaaay!!! Mission completed! Gue pipis di pinggir sawah!!! Gilz bangz gak tuuuh!!!" Maaf norak. Anak kota. Makasih ya, Mbak Dita...

Kami melanjutkan perjalanan. Kembali menyusuri sungai menuju tengah sawah dengan berlatar bukit hijau nan sejuk. Aku tak henti-hentinya menghirup udara dalam-dalam lalu hembuskan lagi dengan mulut. Damai sekali. Sejuk sekali. Indah luar biasa.

Di pinggir sawah, di pinggir jalan juga kami mengambil (banyak) foto. Dita menunjuk ke arah bukit sambil berkata,"lo liat itu ada putih-putih?"
"Mana? Banyak, hego, putih-putih..." Tanyaku sambil menerawang ke arah atas bukit yang Dita maksud.
"Itu loh, Biy. Yang garis lurus. Itu curug yang besok kita kunjungin."
"Hah? Demi apa lo? Kok keliatan? Kok bisa?" Heranku. Curug itu terlihat jauh sekali namun sepertinya tinggi. Sebab garis lurus yang terlihat cukup jelas.
"Ya bisa... Nah kalo yang itu tuh. Yang rumput hijaunya lebih muda dari hijau yang lain? Yang ada rumahnya tuh... Bisa lihat?" Tunjuk Dita ke atas bukit lagi. Sebelah kiri sang curug.
"Ho oh... Ho oh... Apa itu?" Aku mengangguk dan benar dapat kulihat objek yang Dita tunjuk dengan jelas.
"Itu peternakan sapinya. Sabananya."
"Woaaaahh... Padang rumput? Kayak di New Zealand?" Aku mengonfirmasi.
"Yoi. Keren kan? Besok deh lo liat langsung." Waaah, gak sabar besok!
Setelah puas narsis, kami berjalan pulang. Memotong jalan dengan kembali melewati sungai tadi. Lalu melewati jembatan besi berkarat dan bertemu sungai lagi. Matahari makin tinggi. Bel sekolah-sekolah telah berbunyi. Ibu-ibu sudah mulai menggelar alat cuci dan memakai kemben. Kami mulai lelah. Haus.

Sebelum sampai di rumah, kami mampir ke rumah Lik Fitri, tantenya Dita yang mana bersuami petugas peternakan sapi. Pula beranak bernama Ifa yang maha ekspresif itu. Dita bercerita kepada Lik bahwa kanca-kancanya ini ingin main di peternakan. Lik Fitri baik sekali. Ia hanya tinggal bercerita kepada suaminya agar kami diberi akses masuk. Lik Fitri pun menyuguhi kami minum dan martabak pasar. Sebab lapar, semuanya kami hajar. Kemudian kenyang dan pamit pulang. Tamu kurang ajar.

Rencananya, di hari pertama itu, kami hendak ke kota untuk wisata kuliner. Esoknya hendak ke Baturraden dan hari terakhir barulah kami ke curug dan peternakan sapi. Dikarenakan that Mager Syndrom, setelah jalan pagi, kami sarapan, kenyang, aku ngantuk, bobok lagi. Sambil menunggu Ulil yang meminjam motor kawannya untuk kami pakai, hingga menjelang sore Ulil tak nampak. Sekalinya kendaraan siap, Tiwul dan Dita pergi keluar cari jajan. Aku tidur lagi sebelum Tiwul pulang dan setelah makan jajanan. Tiwul setelah makan pun teler.

Hingga akhirnya sore. Aku bangun dan mengajak ke kota. Cetot menyahut,"ngapain? Orang motornya udah dibalikin sih..." Nada kecewa terdengar dari suara Cetot yang selalu terkesan nyolot itu. Aku merasa bersalah sebab aku yang paling banyak tidur akibat Mager Syndrome. "Yaaahh... Gara-gara gue ya? Maaf... Terus gimana?" Lirihku pada Cetot. Dita datang dan menyelamatkanku. "Heh, malem ini malem jumat kliwon. Kata Mbak gue, gak boleh keluyuran. Besok kita ke curug aja sama ke peternakan. Om gue adanya besok. Kalau Sabtu, doi libur. Nah Sabtu pagi sampe siang, kita ke kota sebelum kalian pulang. Gimana?" Semua setuju. Aku selamat. Terima kasih lagi ya, Mbak Dita...

Maghrib. Kami diajak sembahyang di masjid depan rumah. Oke. Kami anak solehah. Di shaf perempuan, kami paling depan. Tiwul di pojok kanan, lanjut Dita disebelah kirinya, aku, Cetot dan Bu Upi. Dilanjutkan dengan ibu-ibu tetangga.

Masjid ini dinamai An-Nur. Dibangun sedikit menyerong ke kanan, berbeda dengan barisan-barisan rumah di kanan-kirinya. Berkubah sedikit emas, bertiang emas dan diwarnai corak-corak keemasan. Semua emas itu adalah cat tembok. Ada sebuah bedug besar di teras masjid. Di halaman masjid banyak ditanami bunga-bunga, berukuran cukup lebar dan rapih pula bersih. Tempat wudhunya lucu. Ada kolam ikan berisi ikan hias berwarna-warni. Jalan setapaknya pun dipenuhi bebungaan. Di sebelah tempat wudhu ada ruang pertemuan dan teras kecil. Masjidnya keren! Walau di kampung tapi gak kampungan. Lagi-lagi aku memuji kampung Dita sebagai kampung modern.

Jama'ah di sini sangatlah NU. Doa-doa setelah sholat yang dikumandangkan bersama seperti doa-doa yang biasa di dalam rumahku ba'da sholat tarawih berjama'ah dengan encang, encing, dan para sepupu. Aku tak ada kesulitan mengikuti untaian doa-doanya.

Setelah doa, ternyata ada tradisi salam-salaman dan selalu dimulai dari pojok paling kanan; posisi Tiwul! Kami, para tamu, tidak tahu bahwa akan ada tradisi ini setiap selesai sembahyang. Tiwul sedang selo-selonya duduk bersila. Tiba-tiba Dita menepuk-nepuk Tiwul untuk segera bangun. Tiwul kelojotan.
"Woy, woy berdiri! Salaman!" Seru Dita.
"Lah gue duluan? Elu lah..." Tiwul panik. Mukanya jadi putih.
"Hayoloh, Wul, hayoloh!" Godaku.
"Hahaha yauda lo ikutin gue." Kata Dita sambil memulai jabatan tangan kepada aku, Cetot, mencium tangan Bu Upi dan tangan-tangan jama'ah lain. Disambung dengan Tiwul, aku, Cetot dan selanjutnya hingga ujung. Aku senyam-senyum sok ramah saat mencium tangan para ibu-ibu. Wanginya macam-macam. Ada yang wangi sabun; mungkin ia baru kelar mandi. Wangi bumbu-dapur, dan lain sebagainya. Pula bermacam-macam struktur tangan; mulus, kasar, kenyal, keriput, dan setengah keriput.

Malamnya, kami kedatangan Ifa; adik sepupu Dita, sekeluarga. Ifa masih cilik. Usianya sekitar 8 tahun. Ia kelas 2 SD, berwajah dan bermata bulat. Kulitnya sawo matang. Terdapat tahi lalat di antara hidung dan mulutnya. Ifa cetakan Lik Fitri 90%. Ia sangat aktif dan ekspresif. Aku suka. Satu hal yang pasti, bahasa Jawanya lancar! Mantap.

Kedatangan Ifa mengonfirmasi rencana besok. Jadi besok Ifa dan sekeluarga turut ke curug. Berkat ayahnya lah kami dapat akses masuk ke peternakan sapi.

Pada malam ini lah tubuhku diterpa angin Purwokerto. Perutku kembung. Sakit namun tak mulas. Tak ingin buang air. Hanya angin yang diproduksi. Baunya? Bikin mati! Kepada Tiwul, Cetot dan Dita, kalian adalah pejuang cium kentutku. Kalian luar biasa. Jangan pernah menyesal, ya, berkawan denganku...
(Bersambung)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

UNIVERSALISME VS PARTIKULARISME

Menurut survei yang dilakukan oleh Political & Economic Risk Consultancy yang berbasis di Hongkong, Indonesia adalah negara paling korup dari 16 negara di kawasan Asia Pasifik. (Kompas, 2012) Fakta yang mengkhawatirkan. Dengan indeks persepsi korupsi sebesar 1.9 dari angka terbesar 10, Indonesia dianggap sejajar dengan negara-negara baru yang sampai hari ini masih dililit masalah peperangan di mata internasional. kerugian akibat korupsi sama dengan dampak perang, bahkan bisa jadi lebih. Tentu Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN)  bukan istilah yang asing lagi di negeri ini. Menjelang jatuhnya Soeharto, KKN ramai disinggung dan dibicarakan. Pada masa reformasi, KKN semakin sering dibicarakan untuk diperangi demi pemerintahan yang bersih (good governance).

Operasi Geraham Bungsu (Impaksi)

Tulisan ini kubuat atas dasar pemikiran kawanku, Pandu Ashari, yang mengusulkan untuk dikenang dalam blog. Sungguh, ia sangat mencerahkan. Lumayan, menambah warna tulisan di blog ini, tak selalu kelabu (read: galau).
*********
Aku terlahir sebagai anak yang malas menggosok gigi. Biya kecil, dulu, kalau makan selalu diemut dan lama. Konon, nasi-nasi atau makanan yang ada di dalam mulutku bisa sampai kubawa tidur saking lamanya mengunyah. Belum lagi ketergantunganku dengan minum susu di botol sambil tidur belum hilang sampai kelas 2 SD. Parah. Jangan tiru adegan itu ya. (Kalau punya sepupu, keponakan atau anak, cegahlah mereka.)

Ngurus STNK di SAMS(SUCK)AT

Jadi gini, pada hari Selasa, 5 Februari 2013, gue pergi bersama abang sepupu ke kantor SAMSAT di deket SCBD, Semanggi, buat ngurus STNK abang kandung yang hilang beserta dompet dan isinya. Dari latar belakang itulah lahir pengetahuan dan pengalaman gue ngurus keribetan birokrasi negeri ini dan sogok-menyogok depan mata.

Pertama-tama, pastikan dulu motor lo itu wilayah mana. Bisa dilihat dari tiga huruf di belakang plat nomer. Kalau huruf depannya T, berarti segala administrasi, berkas, data dan lain-lainnya ada di SAMSAT Jakarta Timur (T). Kalau B ya barat, S ya Selatan dan seterusnya. Contohnya motor gue B XXXX TPS, nah, udah pasti di timur lah ya.