Langsung ke konten utama

The Solehah Girls


"Surround yourself with BETTER people. You are the average of the five people you spend the most time with." - Anonym

Pertama-tama, saya haturkan kepada kalian, selamat tahun baru masehi 2015 bagi yang merayakan. Perayaan tahun baru adalah kesunyian masing-masing.

Di awal tahun 2015 ini, banyak kejadian indah yang sudah aku terima. Kelar sekripsi, disidang sama dosen-dosen paporit, dirayain bareng-bareng sahabat! Kurang kul apalagi awal tahunku???

Omong-omong soal sahabat, ketahuilah bahwa aku bersahabat dengan para gadis-gadis solehah. Bekas santriwati, keturunan kiyai, calon ibu guru masa kini dan calon istri yang pasti akan mengabdi pada suami.

Sebagaimana Opick bersabda soal obat hati, perkara berkumpul dengan orang soleh adalah hal yang dianggap penting. Bagaimana tidak, dari lima usulan, setelah baca Quran dan maknanya, solat malam dirikanlah, selanjutnya disusul dengan berkumpulah dengan orang soleh. Dan aku aman.

***

Pengumuman tes Ujian Masuk Bersama (UMB) waktu itu digelar malam, ba'da isya. Secara online serempak di seluruh Indonesia. Aku kesulitan mengakses internet. Belum ada Bolt kala itu. Tekadku, aku pasti dapat UNJ! Kampus dambaan, sebab masuk IPB tak dapat restu. Pokoknya aku yakin, aku akan jadi anak Rawamangun!

Dunia pertwitteran ricuh malam itu. Banyak abege-abege gemes ribut menanyakan hasil UMB atau keluhan tentang web resmi yang down. Aku santai. Soalnya ada seorang teman yang akan membantu mengecek hasil tesku.

Di SMA, aku anak IPA. Ketika ikut tes, kuambil paket IPC. Maksudnya biar bisa ambil jurusan IPA maupun IPS saat kuliah nanti. Pilihanku ada 4:
1. UNJ, PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS
2. UNJ, PENDIDIKAN BIOLOGI
3. UIN, PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS
4. UI, ILMU GIZI

Iya, UI kujadikan pilihan terakhir. Secara urutan passing grade tentu salah. Namun, sebagai anak yang anti-UI, aku sudah ada di jalan yang lurus nan benar.

Sampai akhirnya, Merdika, teman yang mengecek hasil tesku, menyampaikan "Ra, alhamdulillah lo dapet di UIN, pendidikan bahasa inggris." beserta bukti fotonya.

Reaksiku pada saat itu adalah lemas. Lunglai. Tak bersemangat. Lah. UIN? Bukannya UNJ? Kok UIN sih... Aku kurang senang.

Kusampaikan berita sedih ini kepada bunda. Bunda malah sebaliknya, "Alhamdulillah, kak... Kapan daftar ulangnya? Ayo kapan mau makan-makan. Bunda mau bayar nazar." Kubalas dengan, "terserah~"
Kenapa bundaku sangat bahagia? Sebab menurut bunda, lolosnya aku di UIN tak lebih dari jawaban doa-doa beliau dan petunjuk melalui mimpi berkat istikharahnya yang tak putus-putus. Sedangkan aku sejak SMA masih saja tak memercayai itu.

Di kamar, aku menenangkan diri. Tenang, masih ada SNMPTN, gumamku. Jarak penutupan daftar ulang beserta pembayaran di UIN dan ujian SNMPTN hanya satu minggu. Kalau aku tidak bayar terlebih dahulu di UIN selama seminggu itu, aku akan kehilangannya. Namun, SNMPTN satu minggu lagi. Aku galau. Bunda tidak.

Pagi itu aku, bunda dan kakak sepupuku berangkat ke UIN. Aku sudah pernah cerita kesalahan kostumku saat daftar ulang.

Setelah resmi daftar ulang dan test TOEFL/TOAFL, ujian masuk PTN melalui SNMPTN segera dimulai. Aku bersikeras tetap ikut, namun bunda mencoba mematahkannya dengan berkata, "udah lah kak, percaya deh sama bunda, kamu gak bakal lolos. Denger!"

Batinku berteriak. Maksud lo? Liat nih ya, sampe gue lolos, gue bayar sendiri kuliah!

Satu bulan kemudian, ketika pengumuman SNMPTN tiba, aku kembali dikejutkan. Pilihanku kala itu; (1) UNJ PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS (lagi), (2) UNJ BIMBINGAN KONSELING. Pada akhirnya Allah tidak merestuiku masuk UNJ Pend. Bahasa Inggris. Aku lolos, tapi di pilihan kedua.

***

Menjalani perkuliahan di tempat yang tidak kuinginkan sangatlah sulit. Aku tidak berkerudung sejak kecil hingga SMA. Lalu terpaksa menggunakannya di bangku kuliah. Teman-teman yang sama sekali belum kukenal. Situasi yang berbeda. Pergaulan yang tak sama. Semua serba asing dan aku enggan beradaptasi. Aku belum ikhlas.


Sampai akhirnya aku bertemu Nur Pratiwi, Sari Febrianti dan Siti Afifah. Tiga makhluk itulah yang menjadi karibku sejak awal-awal semester hingga kini. Perkenalan kami tentu saja aku lupa hehehe.


Tiwul alias Nur Pratiwi adalah bocah gadis yang susah dewasa. Ia begitu konyol untuk dikatakan sebagai mahasiswi. Tingkahnya yang 'ada aja', guyonannya, kocaknya, Tiwul lah yang selalu dianggap sebagai ice breaker di tengah-tengah kami. Ditambah postur badan yang (memang) gak tinggi, lincah, (gak) mancung, dan (memang) sedikit gelap, Tiwul pun sering dijadikan objek bullying. Namun, aku salut akan kegigihannya dalam setiap mengerjakan tugas kuliah pun skripsi! Kecil-kecil cabe rawit. Melesat cepat. Ia juga mudah menitikan air mata. Ada momen dimana Tiwul, anak Planet Bekasi, nyasar di Bundaran HI. Ia menangis bak anak ayam kehilangan induk. Makhluk alien masuk kota. Oh ya, doi jomblo dari lahir! Itu yang membuat kekagumanku bertambah terhadapnya. Inget janji kita di buku diary genk, kan Wul? HUTANG NASI UDUK, TAHU, LONTONG DAN TEH MANIS!!! (Ini hanya aku dan Tiwul yang mengerti)

Sari Febrianti. Ia adalah sulung dari tiga. Semua saudaranya perempuan. Tentu, ayah dan ibunya sangat ketat dalam aturan. Ia tidak boleh keluar malam. Pulang harus sebelum maghrib, dan baru sekali jalan-jalan jauh ke Bali. Itu pun berkat acara study tour dari sekolah ia mengajar. Sepulangnya, ia sakit flu dan demam. Akrab dipanggil Aa, anaknya suka pamer. Persis seperti aku. Maklum, kami aquarian. Minusnya, dia kurang pengetahuan soal jalanan-jalanan ibu kota atau tempat nongkrong anak kekinian. Yaaa gak apa, domisili Pondok Aren. Namun, Aa menurutku adalah anak yang sangat baik. Ia sangat patuh terhadap ibu dan ayahnya. Jika sudah lewat ashar, ia selalu mendapatkan pesan singkat dari ayahnya, "Aaaaaaaa~ pulaaaaaaaang!!! Mau maghrib!!!!!" Dengan sigap Aa mamakai jaket, masker, mengambil tas dan berpamitan. Ia pula didoktrin untuk menjadi wanita yang mandiri oleh sang ibu, maka ia disekolahkan lanjut ke magister dan baru patah hati dari sang kekasih. Sabar ya, A. Menyesal lah para lelaki yang telah menyia-nyiakan kita, A! Ingat janji alasan kita kenapa ingin menikah? Yup, untuk menyempurnakan ibadah. Perfect!

Selanjutnya Vivi atau Siti Afifah. Ah, kesolehahannya jangan diragukan. Seorang gadis dari keluarga yang sangat islami. Kalem. Selo. Baik. Sabar. Pintar mengaji, urus rumah. Wah. Vivi idaman para calon mertua. Meski pernah pacaran dua kali, dan dilukai dua-duanya, Vivi tak pernah patah semangat. Ia berdoa. Terus berdoa. Agar mendapatkan jodoh yang terbaik di antara yang baik. Alhasil, ia hampir dilamar tetangganya! Bukan hampir, bahkan segera! Vivi segera menikah! Vivi pun rajin. Tekun. Gigih. Tak heran bahwa ia tak pernah absen saat bimbingan skripsi satu minggu sekali. Dan Vivi lah orangnya yang bisa sidang lebih dulu. Vivi bagaikan kiblat hidup kami. "Kayak Vivi dong, solehah. Urusan idupnya lancar ajaaaa~" amin... Vivi pula lah penyebar "ngebet kawin" sebab tak akan lama lagi Vivi akan menjadi istri orang! Aaaaaaak~

Selama kurang lebih empat semester, kami berempat selalu main bersama. Makan bersama. Mengerjakan tugas bersama. Mengunjungi Sevel-sevel terdekat bersama. Secara kita kan maunya jadi gaul dan pada saat itu, Sevel Syariah Pesanggrahan belum dibangun.

Ketika di tahun kedua. Baru lah aku bertemu dengan Nadia Saniyatul, Sita Pradhita, Listianty Ridayu, Ranny Junita, Ummu Salamah dan Nurmaw 'Izzatillah.

Nadia, Tata, Dhita dan Ranny bersatu dalam satu atap, Oot's Green House. Mereka adalah gadis-gadis hebat penakluk orang gila. Bayangkan, mereka bisa tinggal satu atap dengan putri dari ibu kos yang sakit mental dalam jangka waktu yang panjang. Luar biasa!

Nadia, yang biasa kupanggil Saniyatul konon adalah putri dari seorang kiyai di bukit Pemalang. Sedang membangun pondok di rumahnya. Rumahnya bak taman surga yang menafkahi para yatim. Saniyatul golongan solehah kelas menengah. Ia pun sejak lulus SD hijrah ke pondok pesantren. Hingga kini ia tak betah tinggal di rumah berlama-lama. Tapi ia tidak pernah pamer akan kesolehahannya. Justru malu. Maka dari ini aku pamer-pamerkan doi. Anaknya pasrah soal jodoh. Malah minta dijodohin. Saniyatul adalah orang yang paling dapat dipercaya. Tak seperti aku, Tiwul, Aa atau siapalah, kalau dirasa curhatan itu aib, Saniyatul akan tetap bungkam untuk bicara. Dia adalah penjaga rahasia yang baik. Dia amanah. Saniyatul suka jajan. Sama seperti aku. Soal makanan, Saniyatul sangat royal. Gak ribet. Jadinya aku sering banget ajak dia jalan. Kurangnya adalah jika Saniyatul belanja, pasti lama banget. Kayak cewek pada umumnya. Hih. "Kalo lo belanja sama emak gue, udah dimaki-maki lo, San!" Pesanku tiap menemaninya belanja yang super duper lama.

Tata alias Tanty alias Listianty. Ia sulung dari tiga namun kelakuannya bak bungsu dari 12!!! (Ta, percayalah, banyak keluhan-keluhan tentangmu selama ini. Perlu ditulis? Hehehe). Tata itu cuek. Pake banget. Berdasarkan cerita anak Ootdiyah, Tata itu paling males. Pada setiap jadwal kuras bak mandi, doi selalu punya jawaban yang sama, "entar, belum dateng mood-nya..." Huft. Tata lah yang memiliki perubahan penampilan sangat signifikan. Dahulu, Tata belum berbehel. Masih kucel. Kerudungnya bergo yang langsung pakai. Culun. Namun, lihatlah sekarang, Tata berevolusi. Ia cantik. Bermuka cerah. Terawat. Berbehel. Bisa pakai eye-liner. Wangi. Ketularan virus Racun Cinta dari aku. Kerudungnya pashmina. Cantik lah. Tak salah jika banyak berondong-berondong kampus gila padanya. Tapi mungkin sekarang sudah punya gacoan yang lebih dewasa, kayaknya. Meskipun dia introvert, tapi Tata hobi jalan. Aku suka!

Dhita atau Ditdut. Cah Puertorico Jawa Tengah ini, sering mengundang tawa hanya dengan intonasi dan aksen yang ia punya saat bercerita. Anak kesayangan bapake ini selalu keren ketika menjepret hasil foto. Dita sangat menggandrungi k-pop. Ia hapal nyanyian, drama, tarian bahkan film di Korea! Soal film, Dita lah ratunya. Ia bahkan hapal setiap judul beserta pemeran utamanya, atau bahkan adegan per adegan. Kecuali film Ada Apa Dengan Cinta. Kasian ya. Masa remajanya kurang bahagia. Menurutku, Dita dan Tiwul itu pasangan yang serasi. Sama-sama k-popers, penggila Rafi-Gigi, anak Jawa, dan lain sebagainya. Kalian ingat tentang tayangan pernikahan Rafi-Gigi di tv? Aku lah saksi hidup yang menyaksikan betapa hebohnya Dita dan Tiwul saat Rafi hendak ijab kabul dan setelah ijab sah. Dita dan Tiwul berteriak. Bersorak. Bergembira. Bahkan hampir menitikan air mata. Hahahahaha...

Ranny! Behahahahahaha. Gadis kloningan Mas Dedik. Mirip banget Mas Dedik, penyair termasyhur se-Pisangan, Ciputat dan sekitarnya. Ranny, bolehkah aku mencap kamu sebagai putri-paling-sok-tahu seantero Cawang? Hehehe
Ranny selalu tahu jawaban-jawaban dari setiap pertanyaan. Meski ia selalu mengakhiri dengan frasa, "eh gak tau juga ding!" Aku menduga bahwa Ranny telah tercemar virus Vikinisasi. Kalimat yang ia ucapkan acap kali membuat kami terbahak dan mengernyitkan dahi. "Ujannya kecil tuh, tapi basah...", "Bayar pake duit kas aja (harusnya cash)", "Beliin gue shampo clean & clear ya..." dan sebagainya dan sebagainya. Oleh karena itu, aku sering menyebutnya Ranisisasi. Meskipun kocak, Ranny lah ratu paling kreatif seantero Asrama Putri UIN! Kreatif cari uang dari hasil tangan kreatifnya membuat pernak-pernik. Sila cek instagramnya @ranny_junita.

Kedua sahabat terakhir berikut memiliki sisi favoritku masing-masing. Mereka memiliki keahlian yang belum ada pada diriku. Mereka keweeenn~

Ummu Salamah. Anak kesekian dari sekian bersaudara (sekian sebab banyak banget saudaranya, kalau gak salah 7 orang). Akrab dipanggil Cetot pemberian anak-anak mapala ARKADIA UIN. Cetot bertubuh paling mungil cimil-cimil. Ia imut lagi menggemaskan. Namun sayang, jangan biarkan ia bersuara jika jantungmu tak mau copot kelojotan hehehe. Ini lebay. Tapi betul, suaranya aduhai cempreng dan menggelegar. Ditambah dengan bulat matanya yang terkesan hendak mencuat saat diajak bicara. Cetot tak pernah terlihat woles. Selamanya ia nyolot. Meskipun begitu, Cetot tetaplah Cetot. Seorang wanita butuh kasih sayang. Ia memiliki pacar, Goozy (panggilan kesayangan), yang mana adalah senior paskibrakaku dulu. Cetot hobi makan. Suka jajan. Anaknya nyantai. Ia tangguh. Kuat. Pemberani. Ia pecinta gunung. Sering mendaki gunung dan pecinta Alam. Iya Alam. Alam Goozy. Pacarnya. Ugh. Yang hebat dari Cetot, sekepepet apapun ia, Cetot selalu santae kek di pantae. Ia tak pernah segrasak-grusuk aku. Kalem namun menggelegar. Ia juga pandai dalam urusan tata bahasa atau grammar. Itulah Cetot.

Akhiran, Nurmaw 'Izzatillah. Panggil saja Numa atau Maw. Nah, dia adalah penulis favoritku! Kawannya Mas Dedik. Anak FLP Ciputat gitu loh. Maw sudah pernah merilis buku meski aku belum mendapatkan gratisannya hehe. Ia selalu asyik jika diajak curhat. Diajak bincang soal masa depan, khususnya asmara. Maw paling banyak menyaksikan bagaimana asam garam kehidupan rumah tangga melalui kakak-kakaknya. Maw selalu dewasa. Namun, satu hal yang pasti, Maw adalah putri rempong. Kalau ke restoran, pesan makanan, pasti ada saja syarat yang ia keluarkan; jangan pakai bawang lah, jagung lah, tempe lah, apa lah. Rem to the pong. Ia pun mudah panik. Suatu ketika beberapa diantara kami sudah selesai skripsi. Maw kebakaran jenggot sebab merasa ditinggal ditambah dengan dospem yang akan minggat ke Ostrali. Ia khawatir akan keribetan yang terjadi untuk mengganti dospem. Maka Maw panik. Panik sekali meski akhirnya indah, Maw selalu tetap putri rempong.

***

Kau tahu, siapa sosok paling hebat pada kesepuluh dari kami? Tahu????? Sosok itu adalah para orang tua. Khususon ibu. Bayangkan jika para ibu tak mendidik kami dengan benar, tak sering menasehati tentang nilai kebaikan dan keislaman, mungkin kalian akan menemukan kami berkerudung di kampus lalu umbar aurat di club. Kami sering umbar aurat jika hanya di kosan Oot saja kok... Sungguh. Kalau aku yaaaa, palingan kalau liburan ke pantai buka-bukaannya hehehe.

Tak pernah salah omelan-omelan ibu dan nasihat-nasihat bapak untuk kami para anak gadis. Apalagi kepada sahabat-sahabatku yang merantau. Kami wajib menjaga diri, harga diri dan nama baik keluarga. Aku yakin, mengapa orang tua kami merestui untuk menimba ilmu di UIN, salah satunya agar kami, para calon ibu, mendapatkan ilmu dunia dan akhirat. Sebab ummi almadrasatil ulaa~

Bersyukurlah wahai bapak dan ibu kami, tak sedikit pun kami mengenal diskotik, miras, bahkan narkotika. Hanya satu yang pasti; lagu Mirasantika dari Bang Haji Rhoma lah yang sering kami dendangkan. Teeett! Maksiat yang sering kami gelar pun hanya ghibah dan gosip. Ya namanya juga perempuan... Astaghfirullah.

Ketika hampir semua lulus kuliah, kalian akan sibuk dengan karir dan urusanmu masing-masing, sahabat. Tak apa. Itulah hidup. Sebagian pergi dan sebagian datang. Tapi percayalah, kawan, senyebelin apa pun kalian, kalian sahabatku dan aku akan selalu merindukanmu. Sukses selalu ya. Jangan lupain aku yaaaaa... Sekarang aku ikhlas jadi lulusan UIN dan bahkan sangat bersyukur. Ketika harus berpisah dengan kalian, kadang di situ saya merasa sedih.

Terima kasih para ibu dan bapak sekalian. Anak-anaknya aku jadiin sahabat ya. Semoga berkah dunia akhirat. Bapak, ibu, kalian aman. Anak-anaknya cool! Selamat wisuda. Selamat menjalankan hidup yang sebenarnya. Jangan lupa minta dicariin jodoh wahai para jomblo~~

Komentar

  1. Robiatul Adawiyah nama keramat yang diberikanAyah Bundanya. Di dunia maya lbh dikenal dengan biyatiful. Apakah beautiful? Lihat saja sosoknya sendiri. Berkali kali laku meski sering berakhir luka. Tak apa. Ia makin dewasa. Biya yg pertama kali gue kenal pendiem, gak banyak omong, beda ama gue yg cerewet dan sok tahu. Tapi ternyata oh faktanya dia bukan sembarang wanita. Orangnya rame, frontal abis ala betawi, suka cerita berhikmah sabda ibundanya. Biya sobat yang baru belajar nulis, baru kenal buku, dan punya blog kehidupan stelah ketemua sama seorang yang suka melanglang buana. Tak perlu disebut siapa. Tapi, weits... dia gigih tak terkira, blognya melejit dengan ratusan pembaca dan ia mulain pandai mengukir kisah. Indah. Salah satunya cerita ttg persahabatan kami dan masing masing membernya. Hebat bukan? Ya, dia sahabat yang belum banyak terjelaskan. Rangkaian kata ini mungkin hanya sepersekian kata yg bisa gue deskripsiin ttg biya sahabat gue yg ngocol, baru selesai diwisuda dan sedang menempuh kehidupan yg sebenarnya. Good luck Robiatu Adawiyah. Keep writing and wish all the best for you, your family and us-soleha girls, always.

    BalasHapus
    Balasan
    1. speechless and i started to cry... its touchy. thanks mw. loveya!

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

UNIVERSALISME VS PARTIKULARISME

Menurut survei yang dilakukan oleh Political & Economic Risk Consultancy yang berbasis di Hongkong, Indonesia adalah negara paling korup dari 16 negara di kawasan Asia Pasifik. (Kompas, 2012) Fakta yang mengkhawatirkan. Dengan indeks persepsi korupsi sebesar 1.9 dari angka terbesar 10, Indonesia dianggap sejajar dengan negara-negara baru yang sampai hari ini masih dililit masalah peperangan di mata internasional. kerugian akibat korupsi sama dengan dampak perang, bahkan bisa jadi lebih. Tentu Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN)  bukan istilah yang asing lagi di negeri ini. Menjelang jatuhnya Soeharto, KKN ramai disinggung dan dibicarakan. Pada masa reformasi, KKN semakin sering dibicarakan untuk diperangi demi pemerintahan yang bersih (good governance).

Operasi Geraham Bungsu (Impaksi)

Tulisan ini kubuat atas dasar pemikiran kawanku, Pandu Ashari, yang mengusulkan untuk dikenang dalam blog. Sungguh, ia sangat mencerahkan. Lumayan, menambah warna tulisan di blog ini, tak selalu kelabu (read: galau).
*********
Aku terlahir sebagai anak yang malas menggosok gigi. Biya kecil, dulu, kalau makan selalu diemut dan lama. Konon, nasi-nasi atau makanan yang ada di dalam mulutku bisa sampai kubawa tidur saking lamanya mengunyah. Belum lagi ketergantunganku dengan minum susu di botol sambil tidur belum hilang sampai kelas 2 SD. Parah. Jangan tiru adegan itu ya. (Kalau punya sepupu, keponakan atau anak, cegahlah mereka.)

Ngurus STNK di SAMS(SUCK)AT

Jadi gini, pada hari Selasa, 5 Februari 2013, gue pergi bersama abang sepupu ke kantor SAMSAT di deket SCBD, Semanggi, buat ngurus STNK abang kandung yang hilang beserta dompet dan isinya. Dari latar belakang itulah lahir pengetahuan dan pengalaman gue ngurus keribetan birokrasi negeri ini dan sogok-menyogok depan mata.

Pertama-tama, pastikan dulu motor lo itu wilayah mana. Bisa dilihat dari tiga huruf di belakang plat nomer. Kalau huruf depannya T, berarti segala administrasi, berkas, data dan lain-lainnya ada di SAMSAT Jakarta Timur (T). Kalau B ya barat, S ya Selatan dan seterusnya. Contohnya motor gue B XXXX TPS, nah, udah pasti di timur lah ya.