Langsung ke konten utama

Berhitung

Horeee... Aku punya slip gaji! Soal berhitung, begini ceritanya...

Selama sekolah di SMA, aku terjebak di penjurusan IPA. Di sekolahku dulu, kelas IPA-nya eksklusif, hanya satu kelas. Namun aku tak menganggap diriku cemerlang. Aku biasa saja. Masuk IPA juga mungkin karena hoki. Rejeki. Lagian aku gak bangga-bangga banget jadi anak IPA. Sebab aku gak terlalu suka hitung-hitungan. Aku bukan anak yang perhitungan sih. Anjash.

Meski gak suka hitung-menghitung, aku terlatih untuk menjadi "anak IPA". Lumayanlah aku bisa lulus kan. Setelah lulus SMA, kuliah. Puji Tuhan aku masuk ke jurusan yang tepat; dimana hitung-hitungan hampir sama sekali tidak ada! Palingan hanya mata kuliah statistik, itupun di semester 7. Terlebih aku punya banyak teman yang siap membantu memberi contekan atau kerja sama tugas pada mata kuliah itu. Dilalahnya, aku mendapatkan dospem saat skripsi yang anti quantitative research! Jadilah aku meneliti model kualitatif dengan hitungan-hitungan yang sangat sederhana. Yang masih sederhana seperti persenan aja masih dibantu bunda yang mantan guru matematika. Hehehehehe. Mamaciw momski...

Kelemahanku dalam menghitung ternyata membawa dampak yang sangat besar disaat aku melamar kerja. Disaat panggilan-panggilan interview datang, dan nego soal gaji, aku mati kutu. Haduh, gimana ngitungnya ya? Aku jadinya digaji berapa per-hari kalau dikasih gaji sebulan segitu? Kalau perjamnya aku berapa dong? Nanti ongkosnya berapa? Menguntungkan gak yaaa? Aku bertanya-tanya dalam otak dan hati. Tak jarang, sesampai di rumah, aku langsung berdiskusi dengan bunda. Gak jarang juga aku salah hitung. Bunda cuma bisa menggeleng-geleng kepala dan menggumam, "aduh, oon banget sih kamu, kak... Udah lulus, masih aja susah ngitung! Malu-maluin!" Ya biarin. Berarti kan aku gak pusing-pusing cari kerja dengan itungan untung-rugi. Hehehe. Pokoknya aku mau gaji yang cukup buat jalan-jalan, nabung, jajan, sedekah dan kasih saku ke bunda! (Wew, banyak anet~)

Alhamdulillah sekarang udah dapet kerja. Meski masih kontrak satu tahun, aku sama sekali gak masalah. Yang penting ilmuku terpakai dan aku gak nganggur! Ada lagi kerjaan sebagai part-timer teacher. Nah untuk itu aku lebih gak masalah. Soal gaji, ya lumayanlah. Kerjaku gak berat. Liburku banyak banget (sebab sekolahku aktif belajar per-tiga bulan) dan masih terjangkau dekat rumah. Meski pun yang di sekolah ini gak sesuai dengan cita-citaku, ya oke lah. Lumayan buat di CV. Sesungguhnya aku ingin punya usaha sendiri, seperti yang sudah kurencanakan. Tapi untuk memulai itu semua, menjadi pegawai adalah lumrah.

Setelah menerima gaji pertama, aku langsung lapor bunda. Berhitung dengan beliau juga. Bunda mengajariku mengatur uang. "Kan mau beli rumah... Ya semuanya harus di-manage." Kata bunda. Oke, yuk berhitung!

Anggaplah gajiku lima juta. Biaya operasionalku hanya bensin. Makan siang dan snack selalu bawa dari rumah. Maka, uang bensin satu minggu 25,000 x 4 minggu = 100,000. Sebab bekal dari rumah, uang saku bunda harus lebih besar, serta janjiku untuk menanggung uang saku si bungsu. "Aku kasih bunda 2,5 juta ya. Udah termasuk uang jajan Nabilah loh..." Bunda mengangguk. Maka sisa gaji tinggal 2,4 juta. Bunda mulai bersabda, "Zakat jangan lupa... Abis itu kamu tabungin tuh sisanya. Atau mau nabung lebih dikit ya terserah. 2,4 dikurang zakat 125,000 sisa 2,275,000. Kamu tabung 1,5 jutanya, tinggal 775,000. Itu yang sisa buat pegangan kamu satu bulan. Boleh dijajanin, dibelanjain, tapi jangan mentang-mentang sisa, jajan dan belanjanya heboh. Jangan ya. Nah belum lagi uang privat, nanti kalo pas lagi dibayar hasil privat, kamu tabung lagi, ditambah dengan uang sisa gaji itu tapi jangan semua juga, buat pegangan sampe gajian bulan Maret. Nah kalo masih sisa juga pas gaji bulan Maret turun, kamu itung lagi kayak tadi, sisanya yang bulan ini ditambah tabungan di uang gaji Maret. Gitu... Jadi kamu punya uang cadangan. Nanti, kalau udah cukup buat beli emas dan berlebih buat ditabungan, bilang sama Bang Basyir beli 5 gram logam. Begitu seterusnya."
"Satu lagi, jangan berani-berani pake uang tabungan kalau uang peganganmu habis cuma demi baju, jajan atau keperluan yang gak penting! JANGAN BOROS!!!" Bunda menambahi sambil melotot. Tot.

Naaaah... Bingung gak? Coba baca lagi deh hehehe. Intinya atur secerdas-cerdasmu dan sesuai kebutuhanmu. Satu yang pasti, bundaku hebat euy! Aku langsung semangat. Demi masa depan. Demi rumah impian, bakery shop idaman, jalan-jalan keliling Indonesia. Aaaah... Bisa lah yaa...

Beruntunglah aku bukan gadis make-up-an. Gak ada budget beli perlengkapan make-up. Aku juga bukan anak tongkrongan di Starbucks atau warung kopi lainnya, aku gak minum kopi. Makin bersyukur bahwa aku gak punya perawatan apa-apa. Dari rambut, wajah hingga spa, aku gak perlu pusing pikirin itu. Baju dan trend ku ya paling mahal diskonan Metro. Aku anak Tenabang banget soalnya. Kalau pun mau hura-hura, paling banter ya neraktir abang, adek, ayah-bunda, encang, encing, sahabat-sahabat dan mengasihi anak yatim. Satu hal yang paling penting, aku jomblo, mblo. Gak ada lagi anggaran dana untuk perayaan anniversarry kesekian bulan, beliin kado pacar kalau ulang tahun. Surprise demi terjaganya romantisme hubungan dan lain-lain. Jadi, untukmu, calon jodohku, aku sederhana kok. Yuk ah! (Kode besar).

Maka, bagaimana aku mau gak bersyukur? Kalau dalam Quran surat Ar Rahman yang diulang berkali-kali itu, maka nikmat Tuhan-Mu yang manakah yang engkau dustakan? Aku gak perlu bayar sewa tempat tinggal, gak perlu pusing uang makan seharian. Listrik, PAM, First Media, ongkos londri, semua tinggal terima. Terima kasih ya Allah. Makasih bangeeeeettt... Semoga anggaran lanjut studi segera digalakkan! Eh, jangan deh. Mari memburu scholarship!

Terima kasih juga ya, bunda... Sabda bunda yang selalu kuingat, "jangan pelit ame harte! Sedekah banyakin! Kagek bikin lu mati miskin dah. Malah sebaliknye; harte bande berlimpah berkah." Amin. Love you to the fullest!😚

Komentar

Postingan populer dari blog ini

UNIVERSALISME VS PARTIKULARISME

Menurut survei yang dilakukan oleh Political & Economic Risk Consultancy yang berbasis di Hongkong, Indonesia adalah negara paling korup dari 16 negara di kawasan Asia Pasifik. (Kompas, 2012) Fakta yang mengkhawatirkan. Dengan indeks persepsi korupsi sebesar 1.9 dari angka terbesar 10, Indonesia dianggap sejajar dengan negara-negara baru yang sampai hari ini masih dililit masalah peperangan di mata internasional. kerugian akibat korupsi sama dengan dampak perang, bahkan bisa jadi lebih. Tentu Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN)  bukan istilah yang asing lagi di negeri ini. Menjelang jatuhnya Soeharto, KKN ramai disinggung dan dibicarakan. Pada masa reformasi, KKN semakin sering dibicarakan untuk diperangi demi pemerintahan yang bersih (good governance).

Operasi Geraham Bungsu (Impaksi)

Tulisan ini kubuat atas dasar pemikiran kawanku, Pandu Ashari, yang mengusulkan untuk dikenang dalam blog. Sungguh, ia sangat mencerahkan. Lumayan, menambah warna tulisan di blog ini, tak selalu kelabu (read: galau).
*********
Aku terlahir sebagai anak yang malas menggosok gigi. Biya kecil, dulu, kalau makan selalu diemut dan lama. Konon, nasi-nasi atau makanan yang ada di dalam mulutku bisa sampai kubawa tidur saking lamanya mengunyah. Belum lagi ketergantunganku dengan minum susu di botol sambil tidur belum hilang sampai kelas 2 SD. Parah. Jangan tiru adegan itu ya. (Kalau punya sepupu, keponakan atau anak, cegahlah mereka.)

Ngurus STNK di SAMS(SUCK)AT

Jadi gini, pada hari Selasa, 5 Februari 2013, gue pergi bersama abang sepupu ke kantor SAMSAT di deket SCBD, Semanggi, buat ngurus STNK abang kandung yang hilang beserta dompet dan isinya. Dari latar belakang itulah lahir pengetahuan dan pengalaman gue ngurus keribetan birokrasi negeri ini dan sogok-menyogok depan mata.

Pertama-tama, pastikan dulu motor lo itu wilayah mana. Bisa dilihat dari tiga huruf di belakang plat nomer. Kalau huruf depannya T, berarti segala administrasi, berkas, data dan lain-lainnya ada di SAMSAT Jakarta Timur (T). Kalau B ya barat, S ya Selatan dan seterusnya. Contohnya motor gue B XXXX TPS, nah, udah pasti di timur lah ya.