Langsung ke konten utama

Pulang ke Kampung (Orang) Bagian II

"Mbaaa... Ifa melu nyebur maring curug yoo..." Ifa memohon kepada Mbak Dita saat kami bersiap-siap berkemas pergi.
"Ajaaaa... Urusah mbok keli!" Larang Dita.

Bu Upi sibuk menyiapkan bekal. Aku mencium bau bumbu pecel. "Wah... Wangi pecel ya." Kataku saat mundar-mandir kamar dan dapur. "Iya, mbak... Ini buat bekel di sana. Pecele Mbok Karsem! Nanti dicoba yaaa..." Bu Upi menjelaskan. Wah, akan menjadi hari yang keren! Bu Upi tau aja kalo aku pecinta pecel.

Kami menumpang mobil Espas tahun 90-an. Di belakang ada aku, Dita, Tiwul dan Cetot. Di tengah diisi oleh Ifa, Lik Fitri dan Bu Upi. Pak Wakhid menemani supir yang ia minta tolong membawa kami ke atas bukit. Sepanjang jalan kami bersenda gurau dengan Ifa. Aku fans berat Ifa. Anaknya borjuis meski masih 8 tahun. Di lehernya ia kalungkan perhiasan rantai emas. Di telinga, ia menggunakan anting berukir Hello Kitty yang emas pula. Pergelangan tangannya pun dilingkari emas lagi. Harta paling berharga pada diri Ifa adalah sebuah bribil (tai kambing) di atas bibirnya! (Sesunggunhya itu hanyalah tahi lalat). Ifa anak borjuis. Ifa luar biasa. Ifa juga pintar berbahasa Arab. Cool!

Ketika jalanan memasuki perkampungan dan lembah, semua penumpang bisu. Kami berpegangan erat pada pinggiran kursi atau pegangan tangan dekat jendela. Jalanannya menanjak, ciyn! Sesekali mobil mengaung hebat. Aroma rem dan oli serta knalpot menjadi satu. Aku mual. Telinga mulai berdengung, pertanda kami sudah hampir sampai di atas. Belum lagi jalanan bebatuan yang menggoyang-goyangkan tubuh kami. Seru euy!

Sepanjang jalan menuju peternakan, ada beberapa hotel-hotel murah. Aku ya husnudzon aja, mungkin wisatawan suka ke dataran tingginya Panembangan. Murah pula. Harga kamar per malam dibandrol 40,000 rupiah. Lalu seketika kulihat pasangan muda-mudi keluar dari hotel. Sang perempuan berambut lepek pasca keramas. Laki-lakinya berwajah segar. Tanpa helm, tanpa jaket. Plat motor berhuruf depan R. Tak sengaja mataku bertemu dengan mata Lik Fitri. Ia langsung memberi kode seperti berkata, "abis maen tuh, doi. Asoy gebooooyy!" dan tatapanku serasa menjawab, "iya tuh, Lik, pelukan di atas motornya aja kenceng beneerr... Masih berasa mungkin." Ihir~

Sesampainya di peternakan, gerimis dan udara sejuk menyambut kami. Sejauh mata memandang, hanya ada bukit hijau dan padang rumput yang dipagari besi bercat putih demi menjaga sapi-sapi tetap pada tempatnya. Aku serasa di New Zealand, meski belum pernah ke New Zealand. Ada kerumunan sapi yang sedang melahap rumput di tengahnya. Tiwul, Dita dan Cetot sudah lebih awal mengeluarkan senapan tongsis dan fish-eye mereka. Narsis pun dimulai. Cekrak, cekrek!
Kenarsisan makin meningkat ketika kami berada di dalam kandang sapi. Para sapi sedang sibuk mengunyah kudapannya. Mereka berbaris rapih, menundukkan kepala sambil menggerak-gerakkan gigi mereka. Aroma telepong khas sapi pun sudah mulai menyerang. Demi sebuah gambar bagus untuk diaplot ke segala penjuru media sosial, kami rela menahan napas atau bahkan menikmati aroma itu tanpa keluh. Iya, aroma telepong, pong.

Ifa mengajak kami keluar kandang, memasuki gerbang lain yang hanya berisi rerumputan berbukit seperti bukit Teletubbies. Bapak Ifa menginstruksi naik ke atas bukit untuk memetik buah jambu biji. Oke, laksanakan. Meski aku enggan. Nanjak, bok! Pasti melelahkan.

Dari atas sini pemandangan nampak lebih jelas. Semua indah. Aku masih takjub. Dengan handphone di genggaman, keringat bercucuran, aku mencoba menyusul Cetot, Dita dan Ifa yang sudah lebih dulu mendaki. Tiwul paling sibuk mengambil gambar. Aku sibuk misuh-misuh, "Anjrit baguuuusss bangeeeeettt... Tapi gue capek nih... Telepong, bribil dah...." Ya, gimana ya, ngajak nenek-nenek manjat ya begini lah risikonya. Segala omongan kotor disebut-sebut pula.

Hampir tiba aku di atas, tiga makhluk pertama sudah tak terlihat batang hidungnya. Aku berteriak sambil bergandengan dengan Tiwul, "Sadaaaam! Kamu di manaaaa? Jangan bercanda deh. Gak lucu tau gak!" Ala-ala Petualangan Sherina. Tiwul menimpali, "Ditaaaa... Ta... Ta... Gak lucu deh... Deh.. Deh... Di mana sih? Sih... Sih..." Anggap saja suaranya menggema.

Fuih! Akhirnya kami bertemu. Dita, Ifa dan Cetot sedang memburu jambu. Mereka sibuk sekali melihat-lihat wara-wiri pohon jambu yang tak tinggi itu sambil memijat-mijat buahnya dan mencium aroma. Sedangkan aku langsung duduk selonjoran, membuka jaket, membuka kerudung. Mengelap-elap kaca mata yang tertetes keringat. Fiuh! Baru semenit duduk, Ifa dan Dita mengajak turun. "Udah nih, kantongin gih. Yuk turun!"
"Uceeeett~ gue kasih telepong, luh! Tardulu sih. Gue baru sampeeeee... Ngocol bener luh." Aku protes.
"Oh, iya maap hehehe. Duduk dulu deh. Eh selfie yuk selfie." Narsis lagi.

Panen jambu pun dibawa turun. Di bawah, keluarga Ifa dan Dita menunggu. Waktunya makan siang. Waini, pecele Mbok Karsem (yang gak kukenal dan gak kepikiran untuk kenalan)! Pedas mantap! Banyak gorengan di samping box pecel. Ada tempe goreng tepung, bakwan, dan yang baru kulihat yaitu kampelan dan ondol! Untuk lebih tahunya, silahkan googling!

***

"Hosh... Hosh... Hosh..." Aku kelelahan. Untuk mencapai Curug, kami perlu menaiki anak tangga yang tak bisa kuhitung. Lika dan likunya pun membuat dengkulku lemas, telapak kakiku panas. Belum lagi pepohonan rindang yang selalu kutemui saat naik ataupun turun tangga. Aku sangat tidak menyukai hutan. Mistis. Maka aku berkomat-kamit. Aku berlindung kepada Allah dari godaan mantan yang terkutuk. Eh syaitan, maap.

Suara air terjun terdengar. Anak-anak tangga mulai licin sebab lumut akibat udara yang lembab. Makin kami menuruni anak tangga, suara air terjun makin jelas nan deras. Percikan-percikan air makin terasa. Akhirnya, ketika aku melihat air menerjun bertubi-tubi dari dinding lembah hutan, tak kuasa aku berdecak kagum. Wooooooooooooooooowwww!!! Subhanallah.
Yang lebih membuat aku takjub, untuk mencapai aliran sungai dari air terjun tersebut, aku mesti menuruni tangga lagi yang tak kalah licin. Sungguh perjuangan besar! Sebelum kami mandi, tak lupa bernarsis diri. Oh ya, ini curug bernama Curug Cipendok. Harga tiket masuknya 8000 rupiah.

Dita tak ingin nyebur di dekat tangga naik. Ia mengajak kami menuruni batu-batu kali sekali lagi. Entah demi apa. Padahal sudah kukatakan, di dekat air terjun saja, lebih luas kolam untuk berendamnya, tapi ia kekeuh. Ada mas-mas yang sudah lebih dulu menempati, sebabnya. Maka Dita berusaha blusukan mencari tempat yang sepi.

Sebagai anak aquarian, aku tak pernah bisa menahan hasrat jika sudah bertemu air. Jacket, off! Veil, off! Slipers, off! "Byuuurrr!" Aku tepak-tepakkan permukaan air dengan tanganku. Berendam, telungkup sambil berjalan dengan kedua tangan, menyelupkan seluruh kepala. Aaah... Segar sekali! Airnya dingiiiiinnnn... Brrr brrrr... Ditambah dengan payungan pepohonan hijau nan lebat, suara kiacauan burung yang hampir menakutkanku, aku dingin-dingin nikmat.

Memang, kami datang ke curug sudah sangat petang. Terlalu asyik di peternakan sepertinya. Jadi kami tak punya banyak waktu untuk mengeksplor curug lebih lama. Belum puas bernarsis, seorang pemuda menepuk-nepuk tangan, memberi kode pada kami untuk naik. Oh, mungkin itu penjaganya, waktu kunjung sudah habis. Pikirku.

Dengan keadaan basah kuyup kami menanjak, udara menipis, dingin menyergap, aku menyapa mencoba mengusir dingin kepada Si Mas. "Udah lama, mas, jaga sini?"
"Ah, bukan... Saya juga wisatawan." Kata si mas.
Idih mampus, aku cibob! Sok deket amad tanya-tanya begituan. Salah pula. Akoe maloe...

Lagi-lagi, kami menanjak. Aduh. Aku lelah dengan perjalanan ini. Dita dan Cetot selalu juara saat naik. Diikuti Mbah Tiwul dan Nyai Biya. Para nenek tak kuasa menahan lelah. Aku berhenti sebentar. Ngaso. Atur napas. Tiwul masih gancang. Dita dan Cetot tak perlu ditanya.

Ketika itu aku melihat Dita malah haha hihi depan ibunya. Aku tak mengerti. Ada apa? Lalu Dita bercerita. "Lo tau gak sih, mas-mas tadi itu disuruh Ibu gue nyariin kita! Disangka Ibu gue, kita nganyut! Kocak dah... Hahahahaha"
Aku belum konsentrasi. Hanya hah heh hah heh saja. Masih kekurangan oksigen. Kurang Aqua juga. Ada aqua?

Setelah semua berkumpul, kami kembali pulang. Menanjak lagi. Ya Tuhan, sampai kapan penderitaanku berakhir? Kali ini Tiwul yang memimpin dikawal olehku. Di belakangku ada Lik Fitri. Cetot. Ifa. Dita dan sang ibu. Seperti yang telah kuceritakan sebelumnya, perutku sedang bergelora. Tiba-tiba akal bulusku datang. Aku cepat-cepat mendahului Tiwul, tepat berada di depannya, gas beracun itu kubuang. Tiwul marah-marah. Aku dimaki. Lupa aku kalau setelah Tiwul adalah Lik Fitri! Katanya, kentutku bau pete! Dahsyat juga. Setelah Lik Fitri, mulai lah Cetot berbacot hingga ujung Bu Upi. Maaf ya, aku terpaksa. Di situ kadang saya merasa sedih.


Sebelum kembali ke mobil, kami berganti baju. Di sana lah aku bertanya kepada Dita. Ibu lo nangis gak? Katanya iya. Lalu kutanya lagi si ibu berkata apa saja. Lalu Dita menjelaskan, "bocah koh jebule pada langka neng ngisor curug ya ibu panik ujarku keli... Maning wis sore sepi ana ketek pada mudun maning. Terus ibu njaluk tulung mas-mas kon nggoletna bocah bocah wadon papat pada nengendi, mbokan keli soale ijik-ijik wis langka pada ora keton. Ibu mbok nangiss lahhh..."
Paham gak? Enggak ya? Kasian. Nih, intinya, Bu Upi khawatir anaknya gak kelihatan dari atas ia menunggu. Langit gelap. Hari mulai sore. Kabut sudah turun ditambah monyet-monyet menampakan rupanya. Sebagai ibu, ya wajar lah kalau beliau menangis. Nah, makanya Bu Upi meminta tolong kepada mas-mas yang tadi kusapa. Gitu...

Aku sudah rapih berganti. Dengan perasaan bersalah, aku menghampiri Bu Upi di warung. Merangkulnya dan meminta maaf. "Ibu tadi nangis ya? Maaf ya Bu... Jadi buat Ibu khawatir kan." Ini bukan adegan menjilat untuk mendekati Ulil. Bukan. Bu Upi cengar-cengir. Lik Fitri menambahi, "iya kita khawatir, mbak... Soale monyet udah pada turun. Bunyi burung-burungnya aneh. Aku takut."
"Aku juga takut, kok Lik... Itu si Dita bandel sih, udah kusuruh di tempat yang paling depan, malah ngajak ke bawah lagi. Maaf ya Bu... Maaf ya Lik..."
Tiba-tiba suara bocah terdengar, "untung Ifa ora sida melu berenang!" Paan c. Nyamber za. Bribil!

***

Aku tak menyangka, kukira aku akan lelah, pegal-pegal dan tepar. Ternyata aku strong! Mbah Tiwul lah yang lemah. Aku masih kuat pergi keluar mencari makan. Hujan-hujanan pula. Dibonceng oleh Ulil pastinya. Semua indah jika bersama Ulil. Ulil indah dan mengindahkan. Ulil menguatkanku. (Iki uwopoh!)

Saat kutawari beli makan malam kepada kawan-kawan, mereka seperti niat tak niat. Wah, bahaya ini. Bisa kelaparan. Akhirnya aku mengalah, biar aku yang pergi. Lalu dengan kesadaran yang tinggi, Dita memanggil Ulil untuk mengantarku. Tiwul bersorak, "ciyeeee Biya... Naek Ninja sama berondong."
"Iya dooong... Nanti Ulil jangan direm ya pas ada polisi tidur." Aku agresif. Ulil tersipu.

Syukur Alhamdulillah Ulil tak menggunakan Ninja-nya. Tiwul salah besar. Kepada tukang nasi goreng kami menentukan pilihan. Sambil menunggu, aku mengajak Ulil mengobrol.
"Mau kuliah di mana nanti, Lil?" Pancingku.
"Mbuh, mbak."
"Lho. Kok? Kok lho? Gak mau kuliah ya kamu?" Tanyaku dan Ulil hanya menjawab dengan cengiran kuda.
"Laki-laki itu harus kuliah. Kalau gak kuliah, mau apa? Kerja? Emang Ulil punya keahlian apa? Kalo punya ya gak apa sih. Tapi diusahain kuliah. Mbak Dita aja kuliah. Moso Ulil enggak? Apa mau masuk militer? Pelayaran?" Aku bawel.
"Wah, gak kepikiran, mbak..."
"Harus dipikirin, Lil!"
"Ng... Nganu, aku maunya sih komputer. IT gitu." Ulil mencoba bicara.
"Nah, ya udah. Ambil lah jurusan komputer. Laki-laki harus punya masa depan, Lil. Sekarang kan masih ditanggung Bapak Ibu, nanti kalau mereka udah tua, siapa yang mau urus Ulil? Makanya Ulil harus mandiri." Mbak Biya menasihati. Ulil lagi-lagi mesam-mesem. Sesekali ia mengangguk.
"Ulil mesti udah punya pacar deh! Ya po ora?" Pertanyaanku makin agresif.
"Woah! Ora mbaaak. Ra duweee..." Ulil kaget dan menepis tuduhanku.
"Masaaaaak?" Aku memojokkan.
"Sumpah, mbak. Sumpah."
"Tapi fans banyak, tho?" Aku menyudutkan.
"Wah, kalau itu mah wis akeh mbaaak!" Akhirnya Ulil belagu.
"Wuahahahaha guwayamu, Lil! Jangan pacaran ya. Buang-buang waktu. Buang-buang duit. Mending sekolah dulu yang bener. Nanti kalau udah kerja, punya uang sendiri, Ulil boleh deh punya pacar." Mbak Biya sok tahu sekali ya. Namun Ulil mengangguk-angguk cepat seperti menyutujui segala omonganku. Entah karena ia bosan atau memang ia setuju.
"Sip, sip! Aku jadi mau kuliah!" Tiba-tiba Ulil bersemangat.

***

Aku melihat Bu Upi seperti aku melihat setengah dari Bundaku. Bu Upi rajin sekali. Selama kami menumpang, Bu Upi giat menghidangkan sarapan. Beliau selalu menyeduhkan teh. Teh awur. Teh kesukaanku. Belum lagi kudapan kecil seperti gorengan, lontong, martabak dan lain-lain. Bu Upi adalah ibu peri bagi kami.

Seperti biasa, bangun tidur kuterus minum air putih sebanyak mungkin. Lupa sikat gigi dan langsung menyerbu hidangan Bu Upi. Sebelum aku meminum teh, aku hirup dalam-dalam aroma daun teh yang menguap. Apalagi jika hangat. Oh, Tuhan, terpujilah Kau yang telah menciptakan daun teh. Kemudian diikuti dengan cemilan-cemilan.

Pagi itu, Bu Upi menghidangkan kudapan yang luar biasa. Favoritku kali ini adalah cimplung. Pisang rebus yang dicemplungin ke larutan gula aren. Mantap kan? Lalu Bu Upi menyuguhkan kami susu sapi murni hangat dengan tambahan gula aren (lagi). Waduh maaaaak, gak mau pulang aku!!! Sepulang dari Purwokerto, pasti timbangan berat badanku melonjak!

Saat keluar rumah, sejuk selalu menghampiri. Namun, awan pagi tak terlihat, tertutup kabut kiraku. Aku sudah bahagia. Sudah menghembus-hembuskan nafas dari mulut demi mengeluarkan uap. Sudah posting di Path. Ternyata aku salah. Itu bukan kabut. Itu abu. Abu si Slamet. Cibob maning.

Aku bertamu ke rumah Mbak Eka, kakak sepupu Dita, di seberang rumah sebentar. Usut punya usut, Dita sedang melakukan diplomasi dengan Mbak Eka-- pinjam motor untuk ke kota! Terpujilah Mbak Eka yang cantik dan baik hati, ia rela motornya dipinjam setengah hari. Hore! Kami segera menjadi anak gaul Purwokerto!

***

Seperti ceritaku soal wangan yang kulakukan pertama kali seumur hidup, ada hal lain yang juga kulakukan pertama kalinya selama aku jadi tongjabon. Selama empat hari di Wakhid Kingdom, sarapan kami selalu hasil masakan Bu Upi. Meskipun hanya telor dadar, tapi Bu Upi tak pernah sibuk meracik lauk dari warung. Beliau lah koki peri kami. Hebat.

Aku lupa pada pagi keberapa kami dihidangkan telur dadar. Aku yang jarang rewel soal makanan, ketika dipersilahkan, langsung kusikat. Bu Upi selalu menghiasi meja makannya dengan sambel khas Bu Upi sendiri. Kala itu telor dadar dan sambel sudah sangat cukup bagiku. Ditambah sepiring tumis sayur.

Aku asyik memakan sarapanku ketika teman-teman yang lain masih betah di sofa depan tv. Kenikmatan tiada banding ketika baru bangun, lapar dan menyantap makanan. Aku tengah sibuk mengunyah, membelah-belah telur dadarku kemudian menjumput sambel dengannya dan menata nasi kuncup-kuncup dengan tangan. Di mulut, kunyahanku terasa lembut berpadu garing. Krenyes-krenyes. Ketika satu persatu menyendok nasi, entah siapa yang bertanya, "itu telor dadar pake apa?" Pake sambel, jawabku. "Bukan, maksudnya, telor dicampur apa? Sosis? Daun bawang?" Lalu aku mengobservasi telur itu, kubelah-belah, dan kuteliti. Kau tahu apa yang kudapat? Irisan petai!!! Gosh! Aku menikmati telur dadar petai? Senikmat itu??? Ah, gila lu ndro... Akhirnya, kali pertama aku menikmati petai tanpa tolakan ya di Wakhid Kingdom. Makasih Bu Upi... Maka dari itu, telor dadar Bu Upi yang menjadikan landasan mengapa kentutku bau petai. Gimana, Lik Fitri, paham? hehehehe.

***

Sejak awal, tujuan kami ke kota memang hanya untuk wisata kuliner. Tak ada yang lain. Destinasi pertama untuk menjadi anak gaul Purwokerto adalah Soto Jl. Bank, Haji Loso. Kuyakin semua makhluk bumi Indonesia sudah mengenalnya. Soto yang maha fenomenal ini konon mantap dan enak. Setelah kuicip. Damn God Fakin Mummy!!! Aku gak suka. Sorry, no offence. Seleraku yang gurih-gurih nyoi! Ini manis bangeeeettt... Banyak kacangnya pula. Oh no!

Di warung soto, kami hanya memesan dua mangkuk. Alhamdulillah mangkuknya imut. Kami sengaja mengirit-irit isi perut agar tidak terlalu kenyang saat kunjungan wiskul setelahnya. Selanjutnya kami ke Choco Klik di Jl. Merdeka. Ini cafe. Tapi aku serasa ada di warung cokelat. Kenapa? Sebab muraaaaaaaaahh!!! Ya ampun, cafe cokelat, minuman dan makanannya range harga hanya 7,500 - 25,000. Itu range untuk snacks ya. Kalau cake ukuran besarnya aku lupa. Coba kalau kalian bandingkan ke Dapur Coklat atau The Harvest, Pipiltin Chocolate, Collete Lola blablabla, jauh banget harganya! Rasanya mah ya ala-ala cafe gitu. Enak juga. Cozy juga. Sama juga. Aku gak kebayang kalau seorang Biya Tongjabon tinggal di Purwokerto dengan gaji UMR Jakarta, sebesar apa ya badanku?

Pergerakan kami sangat pesat. Isi perut tentu diatur sedemikian rupa. Jujur, aku begah. Kenyang! Atas rekomendasi kawan Cetot yang bermukim di sekitaran kampus Unsoed, kami menuju Loempia Bom di Jl. Hr. Bunyamin, Purwokerto Utara. Di sana mataku makin terbelalak. (Ingatanku pudar soal menu yang kupesan, yang jelas lumpianya besar, ukuran panjangnya bisa sepiring nasi dan lebar kurang lebih tiga jari, bisa tambah nasi pula, padat dan yang pasti murah!). Di tambah sambal dan lalap, juos! Sayang, aku sudah kenyang. Alhasil aku hanya mencoel sana-sini, tak ikut seru melahap.

Setelahnya, kami harus menunaikan dzuhur. Mencari-cari mushola. Ternyata Dita mengingatkanku soal cita-citaku pada saat hari pertama tiba; makan ke Bakso Pekih (lagi) dan membawa oleh-oleh Es Brasil. Digiring lah kami ke Pasar Kebon Dalem, sekalian dzuhuran. Saking napsunya, aku membeli 4 pak Es Brasil. Satu pak terdiri dari sepuluh bungkus es kecil. Mantap! Cita-citaku satu telah kutunaikan.

"Eh, Bakso Pekih lagi yuk! Sebelom balik nih. Gue pengen tetelan plis~" Aku berkampanye setelah keluar masjid dan menuju parkiran.
"Hayuk aja gue mah. Tapi ntaran lah... Masih kenyang banget." Kata Cetot.
"Dut, di sini ada taman kota gak? Main ke sana yuk kalo ada!" Tanyaku.
"Ada. Tapi panas banget, Biy. Tamannya rame kalo sore tau..." Kata Dita Ngapak.
"Ya udahlah gapapa yuk. Biar kenal. Nunggu laper lagi sebelum ke Pekih. Selonjorin kaki sebentar." Tiwul menjawab.

Hari itu panas sekali. Oh, bukan. Terik lebih tepatnya. Selama perjalanan, aku menggerak-gerakkan kaki, tangan dan ngomel-ngomel tentunya. Aku juga memikirkan nasib Brasilku yang terkasih. Lumer deh. Gak apa sih. Hanya takut pecah aja.

Sampailah kami di Andhang Pangrenan, taman kota yang dulunya terminal lama. Tamannya luas sekali. Tapi sepertinya masih lebih luas Taman Menteng. Mirip Taman Menteng hanya saja Andhang Pangrenan tak punya rumah-rumah kaca dan ia memiliki pagar sekelilingnya. Oh ya, ada HTM juga loh! Harganya murah, hanya 2,500 rupiah. Sebelum sampai, sebenarnya kami sedikit salah jalan. Salah alur masuk. Dibantulah oleh beberapa mas-mas ketje berseragam biru laut kemuda-mudaan. Mereka plontos. Berkulit gelap tapi ketje. Sebagai wanita pengagum berat pria seragaman, tentu mataku tidak fokus ke jalan. Maafkan.

"Mbak, mau ke mana? Pintu masuknya di sebelah kanan, mbak. Belok kanan ya..." Kata seorang pemuda plontos ketje seragaman sambil menunjuk ke arah jalan yang dimaksud.

"Oh, suwun nggih, mas.... Ganteng." Aku ngloyor.

Di taman, kami berteduh. Rebahan. Selonjoran. Taman ini bisa digunakan untuk pentas ternyata. Ada benches (apa deh bahasa Indonesianya?), kanopi di atasnya, panggung kecil, wah seru. Ada tempat bermain anak juga. Sayang, kami tak sempat berkeliling taman. Jadi, gak terlalu banyak tahu tempat itu.

"Jam dua cabs ya!" Ajakku.
"Jadi ke Pekih?" Tanya Dita.
"Yongkruw mamen, magerl~" Teriakku semangat.

Keluar parkir, aku dikejutkan dengan banyaknya adek-adek plontos berseragam seperti mas-mas yang membantuku tadi, dengan gagah dan tampannya berjalan menuju pulang. Beberapa ada yang menjinjing tas, berjalan cepat dan bersenda gurau.

"Oh... Lah itu ada sekolah pelayaran ternyata ya. Mereka anak pelayaran, tho?" Aku bicara sendiri. Cetot di bangku belakang menyosor mulutnya, "hah? Kenapa Tul?"
"Itu loh, seragaman itu. Anak pelayaran..." Sambil jalan perlahan ke arah pulang, leherku masih saja ke arah adek-adek emesh. Kulihat plang di sebuah gang yang tepat berdiri mas-mas ketje tadi bertuliskan SMK SPM NASIONAL PURWOKERTO. Wah, pemuda harapan bangsa. Semangat ya adek-adek. Mbak bisa bantu apa nih? ;)

Setiap janji adalah hutang. Termasuk janji pada diri sendiri. Aku masih berhutang janji pada diri sendiri, yaitu kembali ke Bakso Pekih dan memesan menu bakso tetelan andalannya. (Sumpah ya, aku ngetik ini sambil telan ludah sebab saliva berkerumun di dalam mulut. Huh.) Pada Bakso Pekih kita percaya! Aku saking bahagianya bertemu makanan favoritku hingga tak bisa mengontrol; kuambil satu buah ketupat dan kucampur dengan bakso. Yaolo~ Akhirnya hutangku lunas. Haleluyah.

***

Hari terakhirku di Purwokerto diguyur hujan. Apalagi ketika hendak pulang ke Panembangan. Aku yang memboncengi Cetot sangat keren dengan ponco biru yang berkibar-kibar di kala melaju motor dengan cepat. Jalanan dari kota ke desa tidak begitu bagus. Jalannya bolong-bolong dan beberapa tambalan aspal. Mungkin karena jalur ini adalah jalur para bus dan truk melintas. Tak heran lah. Aku bukanlah seorang pengendara motor yang sabar acap kali salip sana-sini, mendahului di sisi kanan-kiri, misuh taya-tayi. Sejenak kulupa bahwa ini adalah kampung orang. Lanjut! Hajar! Namun, kasihan Cetot. Ia ngeri-ngeri nyoi. Kakinya mengapit kencang di belakang. Tangannya menjumput baju sampingku sangat erat. Cetot si nyolot bernyali ciut. Kasihan. Sungguh kasihan.

Bagai motor racing di kampung orang, kamilah pemenangnya; kami sampai paling awal di Wakhid Kingdom. Nyonya Wakhid beserta suami kaget dengan kedatangan kami yang lebih awal.
"Wah, berdua aja? Dita kemana, nduk? Ndak nyasar?" Nyonya Wakhid memberi perhatian.
"Enggak dong, Bu. Buktinya ini udah sampe hehehe. Ini aku beli es Brasil banyak loh, Bu. Buat oleh-oleh! Titip di kulkas yo, Bu..." Permisiku.
"Yo, monggo, mbak, monggo... Keujanan gak tadi? Pake jas hujan kan?" Pak Wakhid menyambung.
"Pakai, Pak. Ujannya ngeledek juga. Sebentar hujan, sebentar enggak. Itu si Dita sebentar lagi sampe kok." Sahut Cetot.

Ketika semua personel lengkap, semua senang. Lega dan bahagia. Mari menunggu waktu pulang! Hari itu masih petang. Di luar sana terdengar alunan shalawatan ibu-ibu pengajian. Sedang kami di dalam kamar hanya mlaha-mlehe di atas kasur. Golar-galer demikian rupa. Tiba-tiba Tiwul dengan asyik menikmati salawat-salawat yang para ibu-ibu majelis dendangkan.
"Allohumma sholli shollatan kamilah wa sallim salaman. Taman 'ala sayyidina Muhammadiladzi tanhallu bihil 'uqodu wa tanfariju bihil kurobu. Wa tuqdhobihil hawa iju wa tunna lu bihiro 'ibu wa husnul khowatim wa yustaqol ghomawu biwaj hihil kariim wa 'ala aalihi washosbihi fii kulli lamhatin wa hafasim bi'adadi kulli ma'luu mi laka ya robbal 'aalamiin..." Pernah kuceritakan, bukan, kawan-kawanku sebagian besar adalah lulusan pondok, tapi tidak bagi Tiwul. Ia hanyalah anak majelis yang rajin ikut ibunya pengajian.

Ketika para ibu di masjid depan rumah berganti lirik shalawat, Tiwul kemudian mengikuti dengan khidmat sambil berbaring di atas kasur dengan kaki yang di rentangkan ke atas tembok dengan santai. Tak lama Tiwul bershalawat, aku yang bukan anak pengajian dari buaian hingga liang lahat penasaran. Kuhampiri Tiwul dan bertanya, "itu shalawat apa namanya, Wul?"
"Auk dah... Ini aja gue tau depan sama tengahnya doang, tul."
"Gugling, Wul... yuk shalawatan!" Ajakku.
"Srius banget nih gugling?"
"Iyaaaaaa... Buruan ah!"

Beberapa menit kemudian, kami menemukan lirik shalawat tersebut. Berdendanglah kami. Cetot pun latah. Dita mungkin dalam hati bergumam, "Ya Allah ini anak pe-ak banget..."
"Sholatum bissalamil mubiini..." Tiwul memulai, kemudian aku dan Cetot menyahuti "salam, salam, salam~~"
"Sholatum bissalamil mubiini linuqtotitta’yiini ya ghoromi~~~ nabiyyun kana ashlattakwiini min ‘ahdikun fayakun ya ghoromi~~ Ayyaman ja ana haqqon nadziri mughiitsam musbilan subularrosyaadi~~~~~~~" Aku merinding. Subhanallah. Allahu akbar.

Adzan ashar berkumandang. Ibu-ibu pengajian mungkin sudah bubaran. Kami cepat-cepat gambreng.
"Yang keluar duluan, mandi lebih awal yaaa..." Tiwul membuka peraturan.
"Oke fine!" Sepakat didapat.
"Hompipa alayum gaaambreeeeng!"
"Aaaaaaaaak, malah gue~" Dita histeris.
"Monyong! Gue kedua." Disusul aku.
"Yeeeeesss!!! Gue terahir! Hahahahahaha. Mandi luh sonoh, Dut!!!" Cetot bergembira. Ish, males mandinya ketauan banget sih, Tot!

Selesai mandi, sembahyang dan menunggu maghrib. Bapak dan Ibu Wakhid tiba-tiba memanggil kami.
"Nduk... sini nduk..."

Kau tahu apa yang terjadi? Pak Wakhid duduk di kursi bambu dekat dapur, sedangkan Bu Upi berdiri di sebelahnya memasuk-masukkan sesuatu ke dalam plastik.
"Ini nanti dibawa pulang ya... Oleh-oleh buat wong nang omah." Aku terpana sejenak. Waaaahh... Gumamku. Keripik singkong kering dua bungkus besar dan beberapa balok gula jawa sing uakeh tenan!
"Ini buat kita, Pak?" Aku nyepik.
"Iya lah, mbak... Dibawa. Masa ditinggal." Pak Wakhid menanggapi.
"Masa diinjek!" Cetot nyamber.
"Wah, jadi keenakan nih Pak, Bu..."
Semua tertawa.

Setelah packing baju, tentu kami packing oleh-oleh tersebut. Aku yang tak pernah menggunakan koper jika bepergian dengan sangat senang hati memasukkan semua barang-barang bawaan pribadiku dan pemberian keluarga Pak Wakhid. Sedangkan Tiwul dan Cetot sungguh merana dengan banyak tas bawaannya.
"Gue nenteng-nenteng tas dua biji gini kalik? Ya Allah, kan beraaaaaaatttt~" Tiwul merana.
"Uh, kacian anet ih... Gue dong cuma satu tas gedeeeee..." Aku menari.
"Dih, iye lah, tas lo kan gede, Tul. Lah gueeee... Rempong deh nih, bakalan." Tiwul merana lagi.
"Nyahahahahaha nih liat gue dong. Tas gue kecil tapi ajaib. Apa aja masuk." Cetot menari di atas Tiwul yang merana.
"Kemaren lo boleh ngatain gue naek gunung! Sekarang lihatlah siapa yang meranaaaaahahahahaha." Aku tertawa. Tiwul manyun. Ciyan.

***

Kami akan caw dari rumah ba'da maghrib. Sejak siang tadi, aku melihat Ulil bermain PS dengan asyik di ruang TV. Karena kesibukan bershalawatan, aku lupa bahwa aku ingin ikutan main. Akhirnya kuminta Ulil untuk bermain PS sambil menunggu maghrib.
"Lil, main yuk! Ada game apa aja?" Tanyaku.
"Mbak, maunya apa? Adanya cuma balapan sama perang, mbak. Eh ada bola. Bisa main bola?"
"Eh, jangan, jangan. Main perang aja deh." (Duh, aku lupa judul game perangnya.)

Kami berdua sangat seru bermain. Aku dan Ulil berkongsi menjadi satu team. Kami dari sebuah kerajaan yang akan menyerang kerajaan lain. Game ini soal perang antara dua kerajaan Romawi.
"Yeah! majuuiiiiinnn! Sini lo maju lo, gue tebas lo! Wah gila, ini ilmunya nih, Lil?"
"Hehehe iya mbak..."

Ulil kalem, aku rusuh. Betapa paduan yang serasi, bukan? Setiap kali aku mengeluarkan kata-kata, Ulil pasti haha hihi sendirian.
"Kenapa sih, ketawa?" Aku bertanya sambil pandangan mata lurus ke layar dan jari-jemari sibuk memijat-mijat stcik game.
"Hehehe, enggak, mbak. Lucu..." Suara Ulil malu-malu.
"Eh ini gimana mau naik ke kudanya, Lil?"
"Itu loh, berdiri di lingkaran biru. Pencet L2. Panggil kudanya siul-siul otomatis, mbak. Nanti naik sendiri, deh mbak..." Ulil menerangkan.
"Oh, iya bener, bener. Pinter, pinter... Haiyaaa! ciha, ciha!!!" Sumpah, aku berisik dan hebatnya, Ulil hanya tersipu. Duh, Ulil manis sekali.

Maghrib pun tiba. Aku pinta Ulil untuk matikan, sembahyang dan antar aku pulang.
"Oy, maghrib, oy! Matiin! Ayo solat!" Kataku setelah meninggalkan Ulil merapihkan PS dan pergi berwudhu.
"Hehehe iya, mbak." Lagi-lagi Ulil hanya haha hehe.

Aku melihat Pak Wakhid berbaju koko rapih, peci di kepala dan sajadah di pundaknya dengan tampan meninggalkan rumah. Ia hendak berjamaah di masjid. Di kamar, aku menemukan para anak gadis yang masih saja golar-galer di atas kasur meski sudah mandi.
"Buset deh anak perawan bukannya sembahyaaaaaang~~ Astaghfirullah al'adziim..."

***

Aku tidak suka menunggu. Sampai kapan pun aku benci menunggu. Namun ada beberapa hal terkecuali seperti saat itu. Pak Wakhid belum juga pulang padahal kami sudah siap berangkat pulang, terlebih Bu Upi yang sejak tadi sudah cantik untuk mengantar kami. Jam menunjukkan hampir pukul 18.00. Kereta kami akan meluncur ke Jakarta pukul 18.30. Tiwul menggerutu, "aduuuuh... Ini mana sih? Emang keburu apa nih kita. Entar ketinggalan kereta gimana?" Lalu aku menambahkan keresahannya, "eh kita naek apa dah? Mobilnya aja belom dateng..." Keadaan diperparah ketika Dita tak menampakkan batang hidungnya. Ia di dalam kamar bersama sang Ibu entah sedang apa. Haduh. Pada momen-momen seperti ini lah kesabaranku diuji.

All set. Go! Ada duka menyelinap di setiap perpisahan. Aku bersedih, entah bagi tiga temanku yang lain. Aku akan merindukan suasana desa ini seperti aku merindukan kebun-kebun di halaman rumah tetanggaku dulu. Aku pula akan merindukan jalanan yang lengang dan pengendara kendaraan yang sopan dan sabar seperti aku merindukan beberapa tulisan tentangku dan dirinya. Aku akan merindukan kelembutan Bu Upi dan keramahan Pak Wakhid seperti aku merindukan sosok Goesti Nurul puteri Kasultanan Surakarta beserta suaminya. Sebagai penutup malam itu, aku berbisik kepada Ulil yang tak ikut mengantarku ke stasiun dengan berpesan, "inget ya Lil, jangan pacaran. Jaga hatimu untukku saja. Aku akan kembali..." Ulil terkekeh-kekeh. Aku meminta ampun pada Tuhan Yang Maha Esa dalam senyum godaku. Terima kasih, keluarga Mbak Dhita. Semoga Allah memberkahi kalian. Amin.


Kalau ketinggalan cerita, silahkan klik ini :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

UNIVERSALISME VS PARTIKULARISME

Menurut survei yang dilakukan oleh Political & Economic Risk Consultancy yang berbasis di Hongkong, Indonesia adalah negara paling korup dari 16 negara di kawasan Asia Pasifik. (Kompas, 2012) Fakta yang mengkhawatirkan. Dengan indeks persepsi korupsi sebesar 1.9 dari angka terbesar 10, Indonesia dianggap sejajar dengan negara-negara baru yang sampai hari ini masih dililit masalah peperangan di mata internasional. kerugian akibat korupsi sama dengan dampak perang, bahkan bisa jadi lebih. Tentu Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN)  bukan istilah yang asing lagi di negeri ini. Menjelang jatuhnya Soeharto, KKN ramai disinggung dan dibicarakan. Pada masa reformasi, KKN semakin sering dibicarakan untuk diperangi demi pemerintahan yang bersih (good governance).

Operasi Geraham Bungsu (Impaksi)

Tulisan ini kubuat atas dasar pemikiran kawanku, Pandu Ashari, yang mengusulkan untuk dikenang dalam blog. Sungguh, ia sangat mencerahkan. Lumayan, menambah warna tulisan di blog ini, tak selalu kelabu (read: galau).
*********
Aku terlahir sebagai anak yang malas menggosok gigi. Biya kecil, dulu, kalau makan selalu diemut dan lama. Konon, nasi-nasi atau makanan yang ada di dalam mulutku bisa sampai kubawa tidur saking lamanya mengunyah. Belum lagi ketergantunganku dengan minum susu di botol sambil tidur belum hilang sampai kelas 2 SD. Parah. Jangan tiru adegan itu ya. (Kalau punya sepupu, keponakan atau anak, cegahlah mereka.)

Ngurus STNK di SAMS(SUCK)AT

Jadi gini, pada hari Selasa, 5 Februari 2013, gue pergi bersama abang sepupu ke kantor SAMSAT di deket SCBD, Semanggi, buat ngurus STNK abang kandung yang hilang beserta dompet dan isinya. Dari latar belakang itulah lahir pengetahuan dan pengalaman gue ngurus keribetan birokrasi negeri ini dan sogok-menyogok depan mata.

Pertama-tama, pastikan dulu motor lo itu wilayah mana. Bisa dilihat dari tiga huruf di belakang plat nomer. Kalau huruf depannya T, berarti segala administrasi, berkas, data dan lain-lainnya ada di SAMSAT Jakarta Timur (T). Kalau B ya barat, S ya Selatan dan seterusnya. Contohnya motor gue B XXXX TPS, nah, udah pasti di timur lah ya.