Sabtu, 05 September 2015

Kapan Nikah?


Akhirnya sampai juga pada fase hidup dimana pertanyaan "kapan nikah?" dilontarkan bertubi-tubi kepadaku. Rasanya Baru kemarin aku meniup lilin di atas kue yang berukir 17. Rasanya belum lama ketika terakhir ayah membuatkanku gelang berukir nama serta tanggal lahirku layaknya bocah-bocah ingusan. Rasanya aku masih bocah. Dan rasanya pertanyaan itu sangat tidak logis jika diberikan kepadaku.

Ah... Ternyata aku sudah cukup dewasa. Ternyata pertanyaan itu sudah cukup mapan jika ditembakkan ke diriku. Ternyata aku sudah kepala dua. Di rumah orang betawi, seorang anak gadis yang sudah menstruasi, lulus kuliah dan punya pekerjaan, sudah saatnya dinikahkan. Masalahnya, adakah sang pria yang sungguh-sungguh berkehendak menikahi si gadis?

Kembali ke pertanyaan paling horor sedunia bagi para lajang. Rata-rata makhluk bumi ciptaan Tuhan ingin menikah. Sebagian juga tidak. Aku ingin menikah. Tapi entah kapan. Dengan siapa pun, itu masih rahasia Illahi. Hal yang pasti, aku ingin menikahi lelaki yang kupilih, yang aku cinta. Setelah itu, aku ingin dia yang tak pernah lalai solat wajib 5 waktu dan pintar mengaji. Serta kemapanan ekonomi lah satu-satunya bentuk tanggung jawab yang ia harus empu kelak. Ya, sulit sekali memang mencari lelaki yang bertaqwa dan bertanggung jawab di masa kini. Sangat sulit.

Petuah yang sering bunda sampaikan padaku ialah; jodoh kita nanti itu, cerminan dari kita. Jadi kalau mau dapat jodoh baik, kamu harus jadi lebih baik dahulu; pertama-tama cari yang Islam taat, yang paham dan mengamalkan Islam; lalu serba jelas. Keluarganya jelas, pekerjaannya jelas, hidupnya jelas, segalanya harus jelas.

Mengingat petuah-petuah itu, aku bertekad untuk menikah muda. Maka dari itu, fokus dan tujuanku saat ini hanya satu; menata diri sedini mungkin. Hampir setahun belakang ini aku sibuk menata diriku. Aku sibuk memantaskan diri untuk jodohku kelak. Kebaikan apapun yang bisa kulakukan, pasti kulakukan. Demi mendapat jodoh yang baik hanyalah alasan sampingan. Lebih dari itu, aku hanya ingin hidup berkah dan dipayungi ridho Allah. Setitik kebaikan yang kau tanam, mungkin sejuta kebaikan balasan yang kau dapat.

Tak sedikit, beberapa kisah rumah tangga orang kujadikan inspirasi. Namun tak jarang kisah mereka justru menakutiku, membuatku paranoid. Aku nanti gak mau jadi istri kayak gitu ah, batinku setiap melihat contoh yang buruk. "Ya Allah, jangan biarkan aku hidup susah. Nanti susah sedekah, susah beramal. Malah jadi nyusahin orang..." Begitulah salah satu doaku. Yang jelas, selalu ada desah "insya Allah aku bisa punya rumah tangga yang lebih baik dari itu nanti" setelah berkaca-kaca menyaksikan betapa bahagianya rumah tangga tetangga sebelah.

Sekarang, cukup Allah lah harapanku. Kau kan tak tahu untaian-untaian doa apa yang kupanjatkan? Tentang hati, hanya aku dan Dialah yang tahu soal kepada siapa yang sudah benar-benar kujatuhkan cinta. Semoga rezeki dan jodohku, kamu dan mereka segera dimudahkan dan dilancarkan yaa. Aamiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar