Senin, 17 Oktober 2016

Nusa Penida, I'm in Love

Indonesia memiliki banyak sekali hari libur perayaan. Perayaan ini, perayaan itu, perayaan ini-itu. Waktu masih pakai putih abu-abu, aku belum terlalu mengerti konsep 'perayaan'. Paling banter, perayaan ulang tahun, perayaan kelulusan. Setelah jadi mahasiswa, makin mengikislah urgensi perayaan dalam hidupku ini. "Halaaakh, ngapain sih majang tanggal lahir di fesbuk? Biar semua dunia ngucapin dan ikut merayakan apa?" Begitu gumamku.

Namun, nyatanya semakin menua, merayakan kesuksesan (sekalipun itu suksesnya mikro), bagiku sangatlah penting. Bahkan seperti sekarang ini, aku rasanya wajib merayakan pengunduran diriku dari kerjaan lama ke tempat baru sekaligus merayakan "Biya Reborn in a Sacred Heart (hati tak bertuan alias jomvlo, boooo~)" hehehe itu yang terakhir lebay.

Nanti, di tempat ngajarku yang baru ini, aku takkan lagi mendapatkan libur 2 minggu tiap caturwulan. Maka, dengan begitu, rasanya aku wajib merayakannya dengan berlibur ke Bali selama sembilan hari! Waw wiw waw! (Tanpa travel agent!!!) Wehehehe~

It was my first time visiting Bali (to be honest). Becauuuussseeeee... Maaf, jujur loh ya, aku sebenarnya anti-Bali. Sudah terlalu mainstream Bali tu. Ngapain sih, di Bali? Sunset Kuta? Tanah Lot? Seminyak? Duh, mainstream!!! Nah, setelah separuh minggu kudapat keliling Bali, dugaanku salah. Biar nanti kuceritakan ya!

Sebagai Aquarian, sudah panggilan jiwa untukku menjadi makhluk well-organized. Mohon untuk percaya. Sudah teruji klinis! Satu bulan sebelum keberangkatan, aku sudah sibuk berselancar di google demi mendapatkan tiket murah. Maka dapatlah aku Air Asia 800rb tektok JKT-DPS-JKT untuk tiga orang.

Yes, aku pergi bersama Tika dan Miss Sophia. Rekan kerjaku di sekolah yang kutinggalkan itu. Entah mereka kurang berpengalaman, atau bukan Aquarian, semua itinerary dan segala macam tetek-bengeknya, aku lah yang merancang. See? I am a very-pretty well-organized woman! Mereka dengan selownya hanya menjawab "aku mah ikut ajaaaaa..." setiap kali kutawarkan proposal tempat wisata yang ingin kukunjungi. Asyik namun menggemaskan!

Day 1
Kami terbang hari Senin, 19 September 2016 jam 21 : 55 WIB. Sesampainya di Bali sudah larut malam tanggal 20. Puji Tuhan aku punya sepupu yang tampan pula baik hati serta soleh yang indekos di Denpasar. Dengan ketulusan hatinya, ia dan kawan tampannya menjemput kami di bandara dan langsung menuju ke indekos Leo, my handsome cousin. Di sana kami cuma numpang selonjoran. Sebab jam 6 pagi, kami sudah harus berangkat lagi menuju Sanur. Nah, di sinilah perjalanan dimulai!

Day 2
(20/9) Pagi-pagi sekali aku sudah bangun. Kubangunkan Leo paling dulu (dia makhluk paling penting, karena dia yang akan mengantar kami hehe). Kami ke Sanur pagi itu. Tidak sempat nonton sunrise, but that's okay. Yang penting gak ketinggalan boat!

Yes. Boat. Fast boat. Kita akan nyebraaaaaaaanggg!!! Ke Nusa Penidaaaaaa~~~ Wohooo! Nah, untuk ke Penida, you can sail by boat or ferry or kapal nelayan, yes. Pilihan tempat nyebrangnya juga various. Aku start dari Sanur. Berdasarkan info dari Mbah Huhel, aku berasumsi pada saat itu untuk naik kapal Dwi Manunggal. Kenapa? Begini...

Berminggu-minggu sebelumnya, aku sudah book penginapan di Penida. Krisna Guest House namanya. Ini lokasinya di Toyapakeh. Di Penida itu, ada dua dermaga; Toyapakeh dan Buyuk (Kalo nda salah). After you booked hotel, make sure dermaga mana yang closer to your hotel. Pokoknya, ini cermat-cermat kalian ya... Mulai dari lihat di map, sampai nanya ke si empunya hotel, baca-baca blog orang, intinya survey deh. (Tips pertama dari the most well-organized woman on earth).

Pak Nyoman yang baik hati dan tidak sombong itu menganjurkan kami untuk naik Maruti Express, sebab jaraknya gak terlalu jauh dari Krisna Guest House. Namun, setelah aku gugling tiketnya, kok mahaaaalll!!! Tiga ratus rebuuuuu! Wah tidak bisa~ Sebagai anak hemat pangkal kaya, harga segitu over budget dong. Maka jatuhlah pilihanku pada Dwi Manunggal yang harganya 100k. (Sebenarnya itu masih mahal loh hehe). Begitu ceritanya. Nah lanjut yaaa...

Setelah 45-50 menit di atas boat, sampailah kami di Nusa Penida. (Kamu silahkan gugling, ada apa aja di Penida.) Oh ya, Nusa Penida ini layaknya Kep. Seribu di Jakarta. Tapi lebih asri dan indah dan lebih desa dan lebih segalanya! Kalian juga bisa ke Lembongan dari Sanur. Tapi aku gak tertarik ke sana soalnya udah mainstream. Lagi-lagi soal mainstream dan gak mainstream. Hehehe. Aquarius itu selalu ingin beda. Begitu!😝

Di sini aku sedikit keliru. Aku gak bilang sebelumnya ke Pak Nyoman kalau aku sudah on board. Di dermaga kami turun, barulah aku telfon si Bapak. NOTE!!! Di Penida gak ada angkot ya. Adanya motor. You have to rent it! Kalau langsung sewa pas turun dari boat, rata-rata harganya 40-60k. Sebab aku melalui si Pak Nyoman, harganya lebih mahal 😭
75k untuk satu hari! Ergh. (Tips kedua dari the most well-organized woman on earth).

Kami dijemput utusan Pak Nyoman dengan dua motor matic. Setelah itu kami langsung menuju Krisna. For your info ya, Penida itu subhanallah indahnya. Aduh, aku nulis ini setelah berminggu-minggu pulang dari sana dan aku masih bisa dengan jelas nge-picture atmosphere di sana. Anginnya, bau tanahnya, jalanannya yang berliku-liku, panasnya... Sampai wangi handuk penginapanku, aku masih bisa membaunya!!! Duuuhhhh, love banget!😍

Sampai di Krisna, kami disambut Pak Nyoman dan isteri. Mereka baik-baik sekali. You know what, itu penginapan cam rumah dheweq dengan tiga kamar, ada dapur, ruang tamu, teras, dan pemiliknya gak tinggal di sana! Jadi kami bener-bener bertiga di rumah!!! Aduh, mak, enak deh... Di dapur segala perabotan ada. Kalau kamu mau bawa beras, bisa masak di rice cooker nya. Ada kulkas pun. Kamar ada yang AC dan fan. Disiapin teh dan kopi. Ada toaster. Beuh! Selain well-organized, Aquarian itu emang jarang salah pilih. (Kecuali jodoh. Belom).

Tanpa ba-bi-bu, setelah rehat barang 10 menit, kami langsung jalan-jalan. Pagi itu masih sekitar jam 9an. Masih panjang waktu untuk menanti esok. Tujuan pertama kita adalah bagian Barat Penida sebab tempat kami singgah lebih dekat ke sana. Maka list nya adalah Pasih Uug, Pasih Andus, Kelingking, Angle's Billabong, dan Crystal Bay. Banyak ya. Dengan pengetahuan yang minim, aku langsung sok akrab dengan Bapake. Bapake kasih tau arah, aku anaknya cepat lupa. Yauda cara menanganinya yaitu dengan mengingat sekedarnya, patokan-patokan aja yang dihapal, kalo nyasar ya tanya orang! Hehehe.

Kami akhirnya melaju. Mengikuti arah yang Pak Nyoman sarankan. Di tengah jalan, aku meragu. Kutanya bapak-bapak yang sedang berkebun. Tiba-tiba ada suara klakson dari belakang.
"Tiiiinnn.. tiiiinn! Mba, mau ke mana mba?" Logatnya Bali banget. (Kamu harus bacanya ke-Bali-balian loh.)

"Mau ke Pasih Uug, bli. Dija ya?" Kataku dengan sok gadis Bali. (Dija:di mana?)

"Oh, ikut saya saja. Ikuti sepeda saya. Saya juga mau ke arah sana." Namanya Wayan bermotor trail sangat macho. FYI: Mereka (orang Bali) bilang motor dengan sebutan 'sepeda' tanpa 'motor'. Aku awalnya rolling eyes, like, what? Can't you see I ride a motor bike? Bli Wayan asli Kelingking dan sedang mengarah pulang. Maka kami membuntutinya.

Rejeki anak solehah dasar. Ketemu aja orang baik. Bli Wayan itu yang nganterin kami ke tempat-tempat yang tadi kusebut. Baik niaaaann~ Ada rasa cinta sedikit demi sedikit untuk tanah dewata ini. (Bukan in love ke Bli Wayan nya!)

Must be noticed ya, jalanan di daerah Barat ini uweleeek tenaaan! Berbatu, berliku, dan sempit. Kalian musti hati-hati deh. Panasnya pun menyengat. Aku dapat oleh-oleh sunburn di pundak, tangan, kaki. Duh, Gusti Pangeran. Jangan lupa pakai sun block terus ya. (Tips ketiga dari the most well-organized woman on earth).

Tempat pertama yang Bli Wayan antar yaitu Pantai Kelingking. Perlu kalian ingat, kebanyakan di Penida itu pantai, laut, samudera, apalah itu, yang pemandangannya selalu dari atas tebing. Siap-siap nanjak, lelah, sweaty, yes. Make sure that you don't wear slippers. (Tips keempat dari the most well-organized woman on earth).

The first impression I had when I saw the view was like "oooohh ma gaaaaaahh!!! Subhanallah, Allahu akbar!!!" Indah banget deh. Meski agak ngeri-ngeri asoy kalau liat ke bawah. Kalian harus rajin-rajin jalan dan kembangkan curiosity ya. Karena ternyata satu spot itu gak cukup. Ada beberapa spot lain dengan point of view yang beda. Jadi, jalan aja terus kalau kalian lihat jalan setapak. But still, you need to be careful. Setuju ya! (Tips kelima dari the most well-organized woman on earth).

Setelah puas narsis, kami diantar ke Pasih Uug yang maha dahsyat terkenalnya itu. Oh, ya, kami gak ke Pasih Andus. Harusnya ke sana, sebab ombaknya yang menggelegarlah yang jadi daya pikat tempat tersebut. Tapi kenapa aku gak ke sana yaaa...

Nah menuju Pasih Uug ini, your riding skill was tested!!! Medannnya boook, curam. Berbatu. Licin. Belokannya tajam. Kayakanya Gojek atau Grabike musti ngadain seleksi di sini deh buat para calon drivernya. Sampai-sampai, Bli Wayan bantuin kami untuk melewati itu becek dan batu. Ntap! Long live Bli Wayan!

Di Pasih Uug, kalian bisa lihat tebing yang ada bolongan di tengahnya. Sedangkan kita tetap bisa jalan keliling di atas tebing itu. Lokasinya pun sangat dekat dengan Angel's Billabong. Cuma 5 menit jalan kaki ke arah kanan, tadaaaa!!!

Alhamdulillah ketika kami datang, laut sedang surut, jadi kami bisa main air deh di sana. Kalau ombak sedang tinggi, untuk bisa mengapung di sana sangatlah mustahil. Bisa-bisa kebawa arus pergaulan bebas, eh, arus ombak maksutku. Hehe.

Aku yang memang niat basah-basahan sudah siap. Pakai pakaian siap nyemplung hanya dengan melucuti kaos luaran. I kept my sandals on while I was swimming loh. Sebab, untuk ke bawah Billabong sana, karangnya tajam. (Tips keenam dari the most well-organized woman on earth).

Nah, setelah puas numpang mandi, di tempat inilah we said bye bye to Bli Wayan. Awalnya kami sepakat mau kasih tips seharga satu bungkus rokok (soalnya dia sempat minta rokok Ms. Sophia meski sebatang). Namun, karena kebaikan hati para wanita-wanita solehah ini, kami beri ia uang seharga satu bungkus rokok juga sebatang rokok. Hehehehe enggak!

Dari Pasih Uug dan Angle's Billabong, kamu menuruni jalan menuju Crystal Bay. Pantai ini sebenarnya dekat sekali loh dengan Krisna. Makanya sekalian arah pulang deh.

Tak lama setelah kami memarkir motor, ada seorang Bli-bli yang langsung menawarkan jasa.
"Snorkeling, Mbak, Snorkeling!"
"Wah bisa, Pak? Berapa?" Aku sangat antusias.
"Hm.. Mbak, berapa orang?"
"Tiga aja, Pak."
"Oh, kalau begitu..." Si Bapak jeda sejenak, hendak menghitung bajet, batinku.
"Bertiga ya? Ya sudah, satu orangnya 400k aja deh." Akhirnya ia membuka harga.
"Haduh, udah sore gini, Pak. Masa jalan juga? Emang berapa spot? Berapa jam?"
"Hmm, kalau Mbaknya mau, besok pagi saja. Dua spot Mbak. Pokoknya sampe Mbaknya lemes deh."
"Wahahahaha iya gitu? All in sudah?"
"Sudah Mbak. Nanti kita ke Manta Point. Mau?"

Aku tutup percakapan itu dengan geleng-geleng dan langsung kabur. Nah itu sebenarnya tawaran yang sangat menggiurkan. Aku sih, mikirnya kami hanya bertiga. Itu snorkeling doang mahal banget. Mendingan buat belanja oleh-oleh kan? Hehehe. Lain lagi kalaaaauuuuu aku beramai-ramai. Pasti lebih murah. Oh! Lebih asyik kalau kalian bertemu dengan tourist lain yang juga independent kayak aku, terus ngajak barengan deh! Ntap ya. (Tips ketujuh dari the most well-organized woman on earth).

Di Crystal Bay, kalian bisa berenang-berenang main air. Pasirnya putih. Lembut. Ombaknya kencang tapi gak tinggi. Aku sudah enggan berenang. Takut masuk angin. Dan mager juga. Duh. Di sana kami hanya menonton anjing-anjing liar Bali dari atas batang pohon rusak. Mengapa? Karena kami takut anjing!!! Di sini juga kalian bisa menikmati pemandangan bule berbikini untuk perkembangan imaji liarmu, mungkin~ wqwq.

Day 3
(21/9) "Zelamat page, semwanyah!" Itu morning greetings ku yang aku rekam di story Instagram hehe. Pagi di Nusa Penida adalah kenikmatan yang tak ada dua. Ini tuh desa. Tenang sekali desanya. Selalu ada gamelan khas Bali yang berbisik masuk ke dalam rumah penginapan kami. Belum lagi orang-orang di pinggir jalan dengan cerianya saling sapa dengan hangat. Sunguh nikmat, bukan?

Di hari ketiga ini, perjalananku berlanjut ke arah Timur dimana Pantai Atuh bernaung. Dari Krisna ke Pantai Atuh, aku tak bisa jelaskan berapa kilometer jaraknya. Yang jelas, setiap orang tanya hendak ke mana kami dan kami jawab ke Atuh, pasti rang-orang tadi bilang, "Wah, jauh sekali ituuuuu!!!! Hati-hati lho, Mbak..."
Ddyyyaaaaarrrr!!!!! Sejauh itu kah?
"Bodoamat!" Gumamku. Hehehe.

Sebelum meluncur ke sana, kami terlebih dahulu mem-booking tiket pulang ke Sanur dengan jasa Maruti Express. Ini adalah boat yang Pak Nyoman sarankan sebelum kami tiba. Ketika kutanya mengenai harga, ternyata harganya hanya 75 ribu!!!!!! Lah, yang 300 ribu itu harga apa dong????? Jangan cemas. Jawabannya adalah harga turis asing. Wakwaaaawww!!!

Tau gitu sejak berangkat ya pakai Maruti saja lah. Namun, konon, di blog seseorang, kubaca memang harganya beda-beda. Jadi penggolongan harga tiket itu ada tiga; lokal (penduduk ber-KTP Bali), semi lokal (orang Indonesia ber-KTP selain Bali) dan asing. Gitu. Yaudahlah yaaaa~~ (Tuh! Sudah kuberi tips kedelepan dari the most well-organized woman on earth, neeehh~).

Setelah bayar parkir di dermaga dan melengos ke Bli-bli yang sejak tadi sial-siul, kami berdoa sambil lalu dengan motor yang kami sewa menuju Timur.

Hokay. Jalannya lebih halus. Aspal. Mantap. Tapi lika-likunya itu yang gak ada beda dengan si Barat. Ya Tuhan, sungguh, jangan kalian mengaku Valentina Rossiwati deh kalo belum pernah nyetir di Penida! Namun, sepanjang jalan Timur itu, kau akan disuguhkan dengan pemandangan yang tiba-tiba bisa memperlambat laju motor dan matamu basah, berkaca-kaca. Subhanallah. Allah tuh emang tiada dua deh!

Kalian akan menemukan rindangnya pepohonan di sisi kanan jalan dan cerahnya langit berlantai laut beserta pasir putih di sebelah kirinya. Belum lagi pemandangan belahan sisi Pulau Penida yang lain. Ya Allah. Aku cinta Penida, Ya Allah. Sepanjang jalan itu, kami gak berhenti berseru kegirangan.

Sejenak kami sempat mengambil gambar di pinggir jalan. Saking we don't wanna miss a moment. Lalu di belakang ada suara pemuda-pemudi dengan motornya beramai-ramai bersorak, "Atuh, yang Atuh!!!" Itu maksudnya mengajak atau menawarkan diri untuk konvoi bersama. Mendengar itu, aku langsung melesat, "Kuy lah. Barengan sama anak kampung sini!"

Jalan semakin lama semakin tinggi. Kelokan semakin tajam. Pemandangan dari atas makin mengagumkan. Aku hanya sendiri di kuda besiku. Lain si Tika. Ia dibonceng Ms. Sophia yang kecepatan motornya seperti siput lendir. Suweper luwamak, rek! Capek aku nungguin mereka terus. Akhirnya Tika turun tangan. Ia yang menyetir. Tetap, aku harus menunuggunya tiap lewat kelokan. Asu. Aku gak bisa diginiin, kaaakk... Aku gak suka nungguuuuu~

Pemandangan tepi pantai kini berubah dengan gundukan-gundukan bukit pegunungan. Wah, kami sudah di Tanglad, kataku dalam hati. Sekarang, coba kau gugling apa itu Tanglad ya. Apa yang terkenal di sana hehe. Gitu dong biar ada effort nya kalo mau backpacking! Wq~

Di sini kami sempat berhenti. Biasolah, narsis ria dulu kitooooo~~~
Sekaligus memindahkan Ms. Sophia yang sejak tadi bersama Tika ke kursi belakangku. Ini biar kami cepat sampai di Atuh. Perjalanan dari Krisna ke Pantai Atuh mungkin kurang lebih dua jam. Dua jam tanpa macet dan lampu merah adalah jarak yang lumayan bikin masuk angin. Apalagi sejak aku menyewa motor dari hari pertama, tak ada helm bahkan jaket pun kukenakan. Pecah pala rasanya~

Kami semakin dekat dengan Atuh. Sebab plang arah jalan sudah sering menandakan. Pula jalanan yang semakin sempit dan sepi. Semak di kanan-kiri. Tak ada ngeri sama sekali, karena masih pagi. Di sana sini agak berbatu namun tak separah jalanan di Barat. Sampai akhirnya kami melihat tanda Pantai atuh ke kiri dan Tree House ke Kanan, maka di sanalah ia.

Motor harus di parkir di sebelah warung nenek-nenek. Bayarnya 5k saja. Kata sang nenek, motor tak bisa melalui jalan ke Atuh. Katanya pula, ikuti jalan tebing sekitar 200 meter, maka kau temui Atuh. Setelah membayar ongkos parkir, kami segera menuruni jalan setapak.

Sekali lagi aku tekankan, WEARING SLIPPERS ARE NOT ALLOWED!!! Ini tuh benar-benar melelahkan. Percaya deh. Jalur pertama adalah menurun. Lumayan bahagia meski harus sering mengontrol diri agar tak terpeleset. Benar apa kata Si Nenek. 200 meter kami jalan kaki dengan medan yang, hmm... Ya gitu deh. Jangan lupa bawa minum ya!

Nah, suara ombak sudah mulai terdengar. Di depanku ada lapangan rerumputan, bak jembatan, lalu aku berlari mendekat ke arah jalan yang memecah dua pantai.
"Man, kita di atas karang tebing, man! Buru jalannya! Lihat ini!!!" Aku berteriak ke arah Tika dan Ms. Sophia yang sejak tadi di belakangku.

Ya Allah, Ya Rabb. Sungguh indah. Luar biasa indah. Jadi tuh aku ada di atas tanah yang tinggi sekali, lalu ada sedikit jalan bagai tembok yang membelah dua pantai berpasir putih dengan warna air laut yang membuat dahaga hilang!!!

Aduh, lemes deh. Antara lelah dan puas bahagia. Kami adalah turis seorang pagi itu. Tak ada yang lain. Beberapa menit kemudian ada bule asal Chile datang bersama tour guide lokal. Aku bertanya, "Ini pantai Atuh, Pak?"
"Iya, Mbak..."
"Yang mana? Kanan atau kiri?"
"Keduanya."
"What?! Kita bisa turun gak pak ke bawah?"
"Yang sebelah sana bisa. Kalo ini gak. Kita harus pake boat kalau mau main ke pantai yang ini. Belum ada yang bisa bikin jalur dari atas sini, Mbak, untuk ke bawah sini."
"Oh, gitu... Iya ya, terlalu curam. Tapi bagus sekali, Paaaakkk!!!" Aku histeris.
"Hehe, iya, Mbak. Naik lagi coba, Mbak ke atas. Nanti kelihatan Tree House, tuh. Baru nanti bareng saya aja kalau mau turun ke pantai sana." Si Bapak sedari tadi sibuk tunjuk sana-sini. Tuh kan. Dasar anak sholehah. Ada aja kenalan yang bisa nge-guide hehe. Makanya kamu banyak-banyak makan menyan!

Bule yang dari Chile itu bahkan sudah 25 hari di Bali ketika kutanya. Amazing! Mereka adalah ibu dan anak yang sudah tak lagi muda. Tapi semangat berjuang mengarungi cliff ini sungguh patut diacungi jempol.

Yang dimaksud Si Bapak tadi, "pantai sana", pantai yang bisa kami singgahi adalah Heels Beach. Kalo di Instagram sih begitu katanya. Soalnya nanti kita bisa lihat karang yang berbentuk bagai sepatu hak tinggi atau 'heels'. Tapi jangan berbangga dulu. Untuk mencapai pantai itu, kami harus menuruni tebing yang beratus meter tingginya dan kemiringan yang cukup membuat hatiku ciut. Meski sudah disemen anak-anak tangganya, tetap, rasa ngeri selalu ada.

Di awal, Tika kehilangan semangat. Katanya takut. Memang, tangga untuk menuruni tebing itu benar-benar mengerikan. Jarak satu anak tangga ke tangga lain sangat tinggi dan lebar. Itu demi keselamatan pengunjung bukan? Menuruni saja Tika sudah enggan, lah gimana nanti pulangnya?!

Aku dan Ms. Sophia terus meng-encourage Tika untuk tetap turun.
"Liat tuh, pantainya! Omagah banget kan!" Kataku.
"Ayok, Tika pasti bisa! Masa di atas? Sayang loh udah jauh-jauh ke sini. Hayok, Kaaa!!!" Giliran Ms. Sophia.
"Ayok, Ca pelan-pelan, Ca. Don't look down. Kalo capek, turunnya kayak crawling aja, nungging." Seruku kepada Tica (baca:Tika).

Sungguh, pada saat turun itu, aku sama sekali gak memikirkan akan jadi apa nanti pulangnya. Matahari menceret terang. Selain lelah, terik pun jadi musuh kami. Tapi kami harus turun! Harus! (Hahahah 'menceret' tau gak? Itu bahasa Betawi).

Sesampainya di bawah, kami mengaso di sebuah pos jaga. Asli, gersang! Serasa kulitku langsung belang! Keringat bercucuran, dahaga tak bisa ditahan, maka sebelum kami berpindah ke kursi yang dipayungi dedaunan di depan warung, tak lama bapak-bapak penjual tiket karcis datang meminta kami dengan sopan untuk memberi kontribusi seharga 5k rupiah.

Jam menunjukkan waktu makan siang bersama bagi wilayah Bali dan sekitarnya. Kami memesan makanan. Setelah itu aku menggelar handuk dari penginapan yang maha wangi untuk selonjoran di atas pasir. Hasrat untuk bermain air luntur sudah. Selain terik, kepalaku juga pusing sekali. Duh, aku panik. Gak boleh sakit! Ditambah kulit kepalaku perih sekali. Mengelupas!!! Makjang! Aku gak memakai penutup kepala sejak di Penida. Matahari sedang kejam-kejamnya pula. Ya Rabb. Sepertinya aku ketulah karena tak mematuhi pesan Bunda, "awas ya, pake lepas jilbab! Dipake jilbabnya!!!"
Dyaaaaarrrrr!!!!!!!! Iya aku lepas jilbab sepanjang malam di Penida. Ketika kembali ke Denpasar, aku pakai lagi hehehe.

Ada dua gadis bule kecibak-kecibung main air. Gile. Gak bakal item lah mereka. Paling cuma merah-merah. Satu jam berlalu, ibu-anak berdarah Chile akhirnya pulang. Aku yang sejak tadi leha-leha di atas handuk menonton mereka nanjak tebing. Ya ampun, kasian itu ibunya ketinggalan. Paling akhir. Duh, gak mau pulaaaaaang... Males nanjaaaaaaakkkk😭

Oh ya, di Heels Beach ini sungguh private. Selama dua jam aku di sini hanya segelintiran manusia berkunjung. Pantai ini benar-benar tertutup. Aksesnya hanya dua; melalui laut dengan boat atau mendaki. Keindahannya? Wah gak perlu ditanya. Damai sekali. Kalian masih bisa berenang di sini meski ombaknya cukup tinggi. Waktu paling tepat untuk mengunjungi Pantai Atuh, kurasa ketika sejuknya pagi masih terasa. Jangan siang, atau sore sebab khawatir pulang terlalu gelap. Siang aja jalanannya mengerikan, gimana malam?! (Tips kesembilan dari the most well-organized woman on earth.)

Benar saja. Ketika kami naik tebing untuk kembali ke parkiran, rasanya sudah mau pingsan. Lelahnya tiada banding! Belum lagi ketinggian dan kemiringan tebing itu. Ya Allah... Mengeluh pun juga percuma! Satu-satunya jalan ya dihadapi lah anak-anak tangga itu. Kasihan Tika, kakinya lecet, mukanya pucat. Anak itu mesti diambang sekarat. AKU PUN!!!

Hurray!!! Finally. Sampai juga di parkiran motor sang nenek. Tika langsung mengendurkan ikatan jilbabnya. Kami terhuyung untuk duduk. Di ujung kanan ada bapak bule Ostrali yang berpapasan dengan kami waktu masih nanjak tebing. Sial, kenapa ia baik-baik saja ya? Sedang merokok pula! Asu. Aku yang lemah apa beliau yang terlalu setrong?!

Setelah cukup rehat, kami melanjutkan perjalanan. Sekarang ada Tree House. Rumah pohon yang tadi kami lihat di tebing Atuh, dan Thousand Island sekarang hendak kami sambangi. Tidak jauh dari Atuh, kalian bisa trekking atau seperti kami, memboyong sepeda motor sekalian.

Ingat, selalu ada uang kontribusi untuk main ke sana-sini. Dan selalu lima ribuan. Siapkanlah receh yang banyak ya! Well, ternyata, untuk menuju Tree House tidaklah semulus yang aku kira. TURUN TEBING LAGI!!! ALLAHU AKBAR!!! Tika dari awal sudah nyerah. Tidak, katanya. Ia gak shanggup. Maka, aku dan Micopi lah yang turun. Ditemani oleh bapak-bapak pemilik rumah tersebut.

Di sini pemandangannya sama, cuma beda point of ciew aja. Aku malah lebih ngerasa mencekam. Soalnya ini diapit dua tebing tinggi sekali. Sesekali aku menengok ke atas, Ada elang!!!! Woaaaaaaahhhh... Sebgai pecinta gajah dan big fans od eagle, aku heboh sendiri. Eh, pas lihat ke bawah, lututku lemas. Astagah. Ngeriiiiiii~

Nah rumah pohon ini ternyata penginapan loh. Harganya 300ribu/malam. Kamar mandinya di luar. Mojok. Pinggir tebing. Ih aku sih ogaaaahh! Udah aksesnya susah. Kalau mau makan nanjak lagi. Yah, turun-turun udah laper lagi itu mah. Tapi kalau kamu mau honeymoon, mungkin leh ugha yhaaa~

Sebenarnya ingin sekali aku ceritakan sembilan hariku di Bali. Tapi kayaknya aku gak sanggup tulis panjang-panjang dan kalian mesti sudah lelah membaca ini ya? hehehe. Aku kasih shortlist ya. Atau kamu mau ketemuan sama aku aja? Kita kopdar? Siapa tahu bisa bahas masa depan. hehehe.

Oke, jadi aku di Penida cuma 3 hari 2 malam. Sepulang dari Penida, aku kembali ke Denpasar, lalu bermalam di daerah Unud (Universitas Udhayana). Ini aku list ya:
Day 4: Bedugul, Danau Baratan
Day 5: Pantai Pandawa, Pantai Padang-Padang, Pura Uluwatu
Day 6: Istirahat full di kosan Leo dan nyuci baju (wqwqwq)
Day 7: Danau Batur, Toya Devasya Hot Spring, Pura Besakih
Day 9: UBUD!!! Campuhan Hills, Ubud Market, Goa Gajah (Oh, ya, aku stay di Ubud selama dua malam. Pertamanya ke Campuhan Hills dan makan di Warung 9 yang masyhur itu, kamu perlu coba! Dan hari terakhirnya ke Goa Gajah lalu makan nasi ayam Kedewatan yang fenomenal nan lezat itu.)

Soal biaya, aku kira-kira menghabiskan 3juta rupiah all in. Mahal gak sih? Soalnya aku kebanyakan jajan dan belanja oleh-oleh. Meski sudah habis sembilan hari jadi turis di Bali, aku belum puas di Penida dan masih ingin kembali ke Ubud. Dan Penida adalah cinta pertamaku untuk Bali. I'll come back soon, baby!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar