Langsung ke konten utama

Gili Sudak hingga Kuta, Lombok

Aku menulis ini di bandara Praya Lombok sambil menunggu boarding. Dan melanjutkan tulisan ini hingga rampung saat di kamar menunggu sarapan dan siap ngantor, serta di sekolah ketika bocah-bocahku sudah pulang semua.

Akhirnya ngelombok juga aing! Hihihi. Senang. Bersyukur. Haru. Sentimentil banget emang si aing ini kalo jalan-jalan jauh pasti ada rasa haru. Iyalah. Gimana enggak. Ketika yang lain pada bangga ke Singapore, Thailand, Jepang, aing hepi banget bisa ke Lombok dengan modal nabung selama 2 bulan cuma abis tiket 1.4jt PP dan uang saku 1.5jt kurang 350rb udah makan enak, gak irit-irit!!! Terharu gak kamu??? Apalagi keberangkatanku ke Lombok dengan membawa segenap rindu di dada pada nasi padang. Sungguh mati, aku udah lama banget gak makan nasi padang dengan menu andalan gulai ayam/cumi. Wadaw!!!

Kali ini aku pergi bareng Kak Nano my love, Ines my girl dan Citeng my baby. Empat hari di Lombok adalah perbuatan yang kentang. Nanggung coy. Belum kenyang. Belum puas. Sebab ada Kak Nano my love, aku gak pake paket-paketan doooong~ bekpeking till I die lah. Tujuan kami sejak Kamis, 6 April 2017 hanya ke Gili Sudak dan kawasan yahud Kuta, Lombok. See, gak kenyang kan?

Kenapa ke Sudak? Sebab ia sangat tenang lagi menenangkan. Awalnya itinku adalah Kuta; Seger, Merese, Tanjung Aan, Mawun lalu ke Pink Beach, Tiu Kelep dan berakhir di tiga gili menstrim; Trawangan, Air, dan Meno. Beruntunglah kami anak-anak berkah titipan Tuhan, berdiskusilah dengan Kak Nano my love lalu ia menyarankan banyak hal. Ia bukan asli Lombok tapi telah banyak menelan asam-garam traveling ke Lombok. Ia bagai Bapak Lombok bagi kami. Mungkin lebih tepatnya Bapak Trepeling-Tanpa-Paket-Tour-Alias-Bekpeking. Hehehe.

Dan tibalah hari itu. Kami terbang pagi sekali dari CGK. Sesampainya di Praya, kami sudah dijemput Mas Pendi, penyewa motor yang sudah kami kontak beberapa hari sebelumnya. (Nah, ini cukup haru. Beberapa minggu sebelumnya, Kak Nano my love bilang, penyewaan motor itu jarang banget, bahkan gak ada yang mau antar motor ke Praya, kami harus ke Mataram dulu yang mana itu makin menjauhkan kami dari tempat-tempat yang kami tuju. Saking berkahnya aing, aing carilah di instagram. Eh ada!!! Kau ketik saja #sewamotorlombok. Ketemu deh pasti.) Lalu kami menuju Sekotong untuk menyebrang ke Sudak. Kami tidak mengambil jalur Pelabuhan Lembar sebab itu cukup jauh dan lebih ramai. Di Sekotong ini, kami lebih privat pertemuannya dengan Pak Gede (beliau lah yang mengurus penginapan kami di Gili Sudak). Nah, perjalanan dari Praya-Sekotong tidaklah pendek. Kalian harus pintar-pintar bersabar dan jaga emosi. Soalnya lelaaaaaahhhh sekali. Perjalanan nan panjang kian tak berujung itu dapat membuatmu kesemutan di daerah pantat, pegal linu di pundak, bulu-bulu jari tangan berdiri dan kantuk di mata. Hadeh. Kurang lebih memakan waktu 1 jam dengan perjalanan yang bisa ditempuh dengan kecepatan 80km/hr tanpa henti. Kewren gak tuh. Mana ada macet di sana mah!

Ketika sampai di suatu warung, atau sebut saja parkiran khusus motor atau mobil atau transportasi apa saja lah yang kau bawa itu, kami menyebrang ke Sudak. Sebentar kok. Hanya 15 menit. Aku gak tahu berapa ongkosnya karena harga antar jemput perahu sudah termasuk ke dalam harga penginapanku di Sudak.


Sudak adalah tempat bermalam yang sungguh dapat membawa pikiranmu melanglang buana kemana pun. Kau bisa memikirkan masa depan di sana. Mencari inspirasi, mengenang mantan, bersedu-sedan meratapi nasib, bermuhasabah atas dosa-dosamu selama ini (hahay!). Tapi sungguh, tempat ini begitu sunyi. Dan hanya satu pengelola penginapan saja. Nirvana Gili Sudak. Sila kau google stau selancar di Traveloka, Agoda dan situs booking lain lah itu penginapan ya. Aku rekomendeath sekali. Tapi sayang, makanannya lumayan mahal. Bayangkan, nasi goreng aja 40rebu!!! Ayam fretciken-fretcikenan 60rebuuuuuuu!!! Gilak kali. Namun, sodara. Mohon dimaklumi ya, itu kan di tengah laut. Susah bahan makanan. Mana gak ada nasi padang~ nasi padang~~~ Tapi tak apa. Kami berempat habis kurang lebih 3jt untuk menginap 2 kamar selama 2 malam dan makan kenyang tanpa kelaparan di sana sekaligus hopping island ke Gili Nanggu.

Di Sudak, kalian bisa kayaking (gratis) nyebrang ke Pulau Kedis. Atau mau sewa boat seperti kami, 350rb sepuasnya tapi karena cuacanya kurang ketje, jadi kurang 'da bomb' lah snorkeling kami tuh. Jadilah hari pertama kami habiskan untuk leha-leha, main kartu, curhat, meratapi nasib sebagai karyawan dengan Kak Nano my love sang pengusaha sepatu beromzet ratusan jeti. Masya Allah sekali. Lalu hari kedua kami lanjut snorkeling menggunakan jasa perahu tadi dan kayaking. Lalu esoknya kembali lah kami ke Sekotong. Selama 3 hari 2 malam itu, aku berkenalan dengan bocah cantik bule lagi blonde asal Amrik, Brooky dan kakaknya Audrey. Kami bernyanyi-nyanyi, bermain hitung-hitungan, membaca buku cerita, sampai kuajari ia main kartu remi "tepok nyamuk" dalam bahasa Indonesia hahaha.

"You have to use Bahasa to play with us ya. So starting with 'as' then 'dua', 'tiga' until King and back to 'as'. What is 'as' in English yaaa." Kujelaskan kepada Audrey.
Lalu Ines menyahut, "English for 'as' is 'ass'!"
Buahahahahahaha kami semua ngakak gak karuan. Pantat, maksut ente?! Selalu lahir jutaan tawa kalau pergi bareng kawan-kawanmu. Apalagi bersama Ines dan Citeng. Aih, bukannya lelah jalan, tapi lelah ketawanya! Ada aja istilah baru untuk kami. Yang paling masyhur adalah 'epleng'. Arti dari 'epleng' adalah... Gak tau aku juga!

Pada Sabtu, 8 April 2017, kami berbondong-bondong check-out. Bersama keluarga Amriki pun kami turut menyebrang ke Sekotong. Kami bayar 20rb untuk jasa titipan motor dengan si abang lalu kami lanjutkan perjalanan ke Praya untuk mengantar Kak Nano my love yang mau minggat ke Jakarta lebih awal. Mau kondangan dia. Gak asyique beud kan. Itu perjalanan pulang, subhanallah lamanyaaaa... Rasanya gak sampe-sampe loh. Padahal udah lihat plang Bandara Internasional Lombok belok kiri, tapi itu keknya puwanjang biyanget!!! Waktu tempuh ya sama aja sih dari atau ke Praya-Sekotong sama dengan 1,5 jam.

"Lo keluar bandara belok kiri, terus luruuuuuuuuuussss aja sampe ada pertigaan, Kuta belok kanan. Nanti lurus terus aja udah, kanan lagi sampe ada bunderan. Pokoknya lo lewatin pasar, Desa Sade, baru Kuta." Berikut pesan-pesan Kak Nano my love pada 3 dara ini.

Dan yeay! Kami telah berada di Jl. Raya Kuta. Sudah kami book satu penginapan, Fass Inn namanya. Lokasinya agak masuk ke gang sebelah kiri setelah Masjid Kuta. Kami sempat menepi karena lapar. Ada tukang gorengan murah meriah di sini. Rata-rata 1000 rupiah saja dengan rasa yang aduhai maknyos. Yang paling kusuka adalah tahu isi dan nanas gorengnya. Subhanallove sekali. Nah, di Kuta banyak sekali pilihan penginapan. Rate 350++ sudah bagus loh. Ada kolam renangnya. Keren deh. Kalau yang punyaku ini hanya 150 ribu kurang goceng. Hahaha. Tapi asoy. Kamarnya luas. Bahkan kamar mandinya pun keknya sih bisa muat 10 orang sekaligus! Extra bed cuma tambah 50 ribu aja.

Ketika sampai Fass Inn, adzan zhuhur baru berkumandang. Yes, NTB 95%-nya adalah muslim, fanatik pula. Kata Mas Imam bermata tajam, mantan anak Bintaro, selagi kami cakap-cakap menunggu kamar dibuka. Ia orang Praya, tapi kampung almarhum bapaknya di Kuta. Dalam rangka menjenguk kakek, katanya, ia berlibur menghabiskan wiken ini. Ia pernah tinggal 3 bulan di Rawamangun, ikut les dan tes di STAN tapi gak lolos. Kucelotehkan, "wah, Ahok gak bisa dong ya ke Lombok, fanatiknya melebihi orang Jakarta keknya." Dan Mas Imam pun senyum sungging. Wadaw, beneran fanatik nih. Hihihi.

Sejenak rehat dan solat. Kami sebenarnya masih terlalu lelah untuk melanjutkan perjalanan. Mau dikatakan apalagi, kita tak akan pernah satu. Eh, salah. Mau dikatakan apalagi, waktunya meped. Sebelum cus ke beberapa tempat tujuan, cacing-cacing di perut kami mulai meronta, terlebih rinduku pada nasi padang makin tinggi. Ines ngidam ayam taliwang. Ketika kami berbelok ke arah Pantai Kuta, Citeng berseru, "Eh, warung padang tuh!" Aku langsung mengerem medadak. Parkir. Turun dari motor. Hahaha. "Nasi padang dulu ya, Nes? Gak apa ya?" Ines pun megangguk. Tak sabar menahan rindu, aku lebih dahulu masuk ke warung padang. Lalu Citeng, selanjutnya Ines. Sebelum menempati tempat, kuarahkan pandanganku ke meja sebelah dan aku sepertinya mengenal sosok abang-abang yang sedang bahagia haha-hihi bersama kawannya. Aku berbisik ke Ines, "itu keknya si Edot deh, Nes."
"Mana?"
"Itu yang duduk situuuuuuuu~" Aku menunjuk-nunjuk dengan bibir monyong.
"Lah iya." Ines menyetujui.
Tak lama aku duduk, Ines merengek, "Edoooooott... Lo ngapaiiiiinnnn?????" Seolah ingin berkata "yaelah elu lagiiiiii... Ngapain sih luuuuuuuuuu ada di marih!!!"

Okay. Simak penjelasanku ya. Edot alias Hendy alias Haikal adalah kakak tergantengnya Ines. Dia pula lah yang mengantarkan kami, 3 dara ini, ke bandara subuh-subuh gelap gulita. Edot pun yang menraktir kami di warung nasi padang tersebut. Sial, aku cuma pesan nasi+ayam gulai. Kurang udang, kerupuk dan jus! Heheheh. Betewe, makasih ya Edot. Kau bagaikan penyejuk dahaga penawar rindu. Buahahaha. Setelah kenyang, langsung lah kami cuz ke Seger, Merese dan Tanjung Aan. Aku sih cuma bisa bilang "braaaaaahhhhh!!!!!!!!!". Gile. Aguuusssh aneeeetttt... Sayangnya langit bermuram durja. Gelap. Mendung. Kami sempat terguyur hujan. Jadi gak sempet deh kecipak-kecipung di Tanjung Aan. Padahal itu pantai, ya ampun deh, amazingly amazing!!! Kalau Merese itu bebukitan. Di Bali, khususnya Ubud, ya kayak Campuhan, tapi pemandangannya lebih indah Merese. Lebih luaaaaas~ keren deh. Niat hati mau lihat sunset, apa daya, the sun is hiding behind the cloud. Turunlah kami untuk pulang. Nah di Merese ini, kami bertemu lagi dengan Edot. Minta bantuannya pula untuk ambil gambar ala-ala anak jaman, boomerang. Ia tak paham apa itu boomerang. Tiba-tiba saja Citeng menyeletuk, "kok dia bawel ya. Rame ya. Waktu nganter ke bandara, dia diem aja deh Nes. Kok beda?"
"Emang gitu! Lagi ngantuk kemaren pas nganter kita tuh. Makanya diem aja dia... Mana kalo pagi dibangunin susah, mau kerja padahal dia kan...blablablabla..." Ines curhat.


Lapar perut. Kami mampir di Cafe In. Katanya sih sedia masakan khas Thai. Aku berasumsi akan ada mango sticky rice. Eh ternyata gak ada. Tapi gapapa. Suka sekali aku sama konsep cafe ini. Letaknya di pinggir jalan Kuta. Kecil, tapi asri. Bangunan cafe nya pakai bambu kuning gitu. Sajiannya variatif. Dari Western, Asian, sampe Indonesian ada. Harganya? Wadaw! Affordable abizs! Aku pesan semacam Tom Yam, Ayam Taliwang dua potong, pizza buah dan tiga macam minuman hanya perlu bayar 260 ribuan. Mana abang-abangnya ganteeeeenggg... Duuuhh! Kenapa sih laki-laki Lombok tuh matanya indah, tajam, alisnya rapih, bagus, hitam, lebat, hidung mancung, kulit sawo matang. Masha Allah. Tapi sayang, tingginya gak tinggi gitu. Kurang suka cowok pendek aku ni. Hehe. Seteah bayar pesanan, Citeng my baby yang kek bab* itu bilang ke pelayan ganteng lainnya, "Mas ini temen saya mau kenalan sama mas yang satu lagi. Gateng katanya." Ia menunjuk-nunjuk aing yang dimaksud dengan 'temen saya'.
"Jangan didengerin mas!" Aing sontak ngotot. Grogi. Brengsek benar si Citeng. Tapi gantengnya beneran sih hahaha!

Dan Minggu adalah hari terakhir kami. Kami memutuskan untuk ke Pantai Mawun ketika bule-bule masih lelap karena mabuk semalaman. Sesampainya di Mawun, waktu masih menunjukkan pukul 9 pagi. Di Mawun ini kalian bisa berfoto ala-ala selebgram. Mawun adalah pantai yang diapit dua bukit tebing. Jadi kalau kau punya kamera semacam gopro, b-pro atau kamera action lain, bahkan hp biasa pun, itu pasti jelas sekali sang bukit setengah melingkari pantai. Pasirnya putih. Ombaknya lumayan besar. Mirip-mirip pantai di Gunung Kidul lah. Aku mandi di sana. Hampir terseret ombak lalu lebih baik kami berfoto-foto saja wqwq. Hanya sebentar kami di Mawun sebab pesawat kami akan terbang pukul 14.00. Sebelum kembali ke Praya, kami makan siang di Sushi K. Resto sushi yang paling terkenal gitu di Kuta. Harganya ya sama aja kalau kamu makan di Jakarta. Tapi rasanya sih enakan yang di Jakarta. At least, bisa menawarkan kerinduan pada kota lah.

Pada akhirnya aku harus menutup ceritaku ini. Gimana rasa bahasaku? Jujur, aku masih merasa digantungin liburannya. Jadi tulisan ini kuanggap tulisan tentang liburan yang gantung lagi nanggung. Hhhh... Pokoknya, tips bagi kalian yang mau ikutin bekpeking ala aku ini ya siapin uang aja sama waktu sih. Kalo udah ada uang dan waktu mah semua gampang. Bisa diatur. Jangan lupa ajak kawan. Selain bisa sharing kebahagiaan, kau juga bisa sharing pengeluaran. Wqwq. Kecuali kamu kayak Kak Nano my love. Nano has no friends, begitu jargonnya.
Oh ya, kalo mau ke Sudak, siapin uang cash banyak-banyak. Di sana gak ada ATM. Sekotong pun jarang ada mesin ATM. Dan kalo mau ke Sudak, hari setelahnya nginep deh di tempat lain yang ada air tawarnya, biar kalian bisa bersih-bersih lebih segar. Secara kan Sudak air mandinya air asin. Aku aja sampai terasa di mulut asinnya ketika membasuh rambut dengan air tawar!!!
So, sampai jumpa!

Komentar

  1. Kapan rencana ke Raja Ampat? Ditunggu ya cerita selanjutnya ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜

    BalasHapus
  2. Gimana kalo kita umroh aja dulu yuk hehehe
    Miss you pitiiiii๐Ÿ˜˜

    BalasHapus

Posting Komentar

Pos populer dari blog ini

UNIVERSALISME VS PARTIKULARISME

Menurut survei yang dilakukan oleh Political & Economic Risk Consultancy yang berbasis di Hongkong, Indonesia adalah negara paling korup dari 16 negara di kawasan Asia Pasifik. (Kompas, 2012) Fakta yang mengkhawatirkan. Dengan indeks persepsi korupsi sebesar 1.9 dari angka terbesar 10, Indonesia dianggap sejajar dengan negara-negara baru yang sampai hari ini masih dililit masalah peperangan di mata internasional. kerugian akibat korupsi sama dengan dampak perang, bahkan bisa jadi lebih. Tentu Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN)  bukan istilah yang asing lagi di negeri ini. Menjelang jatuhnya Soeharto, KKN ramai disinggung dan dibicarakan. Pada masa reformasi, KKN semakin sering dibicarakan untuk diperangi demi pemerintahan yang bersih (good governance).

Operasi Geraham Bungsu (Impaksi)

Tulisan ini kubuat atas dasar pemikiran kawanku, Pandu Ashari, yang mengusulkan untuk dikenang dalam blog. Sungguh, ia sangat mencerahkan. Lumayan, menambah warna tulisan di blog ini, tak selalu kelabu (read: galau).
*********
Aku terlahir sebagai anak yang malas menggosok gigi. Biya kecil, dulu, kalau makan selalu diemut dan lama. Konon, nasi-nasi atau makanan yang ada di dalam mulutku bisa sampai kubawa tidur saking lamanya mengunyah. Belum lagi ketergantunganku dengan minum susu di botol sambil tidur belum hilang sampai kelas 2 SD. Parah. Jangan tiru adegan itu ya. (Kalau punya sepupu, keponakan atau anak, cegahlah mereka.)

Ngurus STNK di SAMS(SUCK)AT

Jadi gini, pada hari Selasa, 5 Februari 2013, gue pergi bersama abang sepupu ke kantor SAMSAT di deket SCBD, Semanggi, buat ngurus STNK abang kandung yang hilang beserta dompet dan isinya. Dari latar belakang itulah lahir pengetahuan dan pengalaman gue ngurus keribetan birokrasi negeri ini dan sogok-menyogok depan mata.

Pertama-tama, pastikan dulu motor lo itu wilayah mana. Bisa dilihat dari tiga huruf di belakang plat nomer. Kalau huruf depannya T, berarti segala administrasi, berkas, data dan lain-lainnya ada di SAMSAT Jakarta Timur (T). Kalau B ya barat, S ya Selatan dan seterusnya. Contohnya motor gue B XXXX TPS, nah, udah pasti di timur lah ya.