Langsung ke konten utama

Dare or Not Dare


Seorang kawan mengajarku di sekolah berkisah tempo hari. Obrolan kami siang itu lumayan serius. Tentang masa depan. Tentang tujuan hidup yang teramat mainstream untuk wanita-wanita masa kini: PERNIKAHAN.

Sebelumnya ia bertanya, "Biya sayang, lo mau nikah karena apa sih?"
"Karena Allah lah miss~ karena kalo gak nikah, bukan kaumnya Nabi Muhammad." Kujawab dengan solehahnya.

"Oh, jadi hidup lo harus ada di jalan Allah lah ya... Setuju, setuju." Katanya.

"Terus yang paling penting dari calon laki lo apa?" Ia melanjutkan.

"Hmm... Apa ya. Simple sih, aku butuh laki-laki yang gak terlalu keduniawi-duniawian dan juga gak naif terlalu keakhirat-akhiratan hehehe. Yang jelas miss, aku butuh laki-laki yang secara mental sudah sangat matang untuk menjadi imamku dunia-akhirat. Naif gak?"

"Pokoknya yang soleh. Iya? Nih gue ceritain ya, kisah temen gue. Intinya dia nikah sama laki yang tergolong soleh. Ibadahnya rajin. Datang dari keluarga yang soleh juga. Pokoknya mantep deh ibadahnya. Setelah nikah, ya hidup biasa aja, tapi karir suaminya bagus nih, pokoknya mereka hidup berdua, berkembang, rezekinya oke. Tapi suatu ketika, setelah hidup nyaman gitu, suaminya jadi gak pernah solat. Blas! Dia kayak lupa bahwa nikmat yang dia punya itu dari Allah. Sampe anaknya nanya, pak, bapak gak solat? Terus bapaknya jawab, nanti nak kalau bapak udah punya banyak waktu untuk solat. Sableng gak tuh, Biy? Akhirnya, lo tau? Keluarga itu bangkrut! Jatoh miskin semiskin-miskinnya! Si suami kemakan omongannya, ((kalo udah punya banyak waktu)), karena udah nganggur, banyak waktu kan, nah solat lagi tuh dia rajin, tapi gak ngerubah apa-apa. Kasian kan."

Lalu kawanku melanjutkan ceritanya lagi. Dengan kisah yang berbeda, seorang temannya yang lain menggunakan situs online dating pada masa itu MiRC. Singkat cerita, mereka kopdar di Pasaraya Blok-M. Dan tahukah kalian, di pertemuan pertama itu, sang kawannya kawanku langsung menembak si lelaki, "lo mau gak sama gue? Kalo mau, ayok seriusin ini. Gue mau nikah!" Wow! Dengan nekatnya ia menodong lelaki yang baru ia kenal itu untuk menjadi calon suaminya. Akhirnya mereka menikah dan hidupnya baik-baik aja sampai sekarang. Luar biasa.

Kemudian ada lagi cerita tentang si kawannya yang lain yang menikahi seorang bule yang alhamdulillah nya bule tajir dan "benar". Benar dalam kata ia mualaf, benar ia menikahi dan bertanggung jawab, benar ia mencintai istrinya, pokoknya benar-benar manusia yang memanusiakan orang lain deh. Beruntungnya yaaa~

Lalu kisah tentang kakak kandungnya sendiri (perempuan) yang sudah memiliki pacar (saat itu) orang Batak, anak satu-satunya pula, lalu kristen taat. Ya kau taulah Batak itu mostly taat banget kan. Sedangkan kakaknya kawanku itu muslim. Karena berpikir bahwa akan menjadi jalan yang sulit kalau mereka harus memaksa untuk menikah, si kakak mendua, punya pilihan lain. Muslim. Padahal sama si cowok Batak ini sudah pacaran 5 tahun. Sudah sangat mendarah daging lah cintanya. Perjuangan-perjuangan, air mata, dan tawa sudah sering mereka bagi. Namun karena ketidakyakinan sang kakak untuk menikahi si Batak, maka kandaslah mereka. Si kakak akhirnya kawin dengan pacar keduanya. Ia akhirnya berani memilih untuk meninggalkan cintanya. Tak dinyana. Setelah beberapa tahun pernikahannya dengan selingkuhannya yang dulu itu, ia mendapati kabar bahwa si mantan Batak ini sudah menikah. Yang mengejutkan adalah ternyata si Batak menikahi wanita muslim dan ia convert menjadi muslim pula!!! Wah, betapa mengejutkan ya. Kawanku bilang ke kakaknya, "lo nyesel gak? Coba aja lo mau sabar kak, mungkin dia sama lo. Apalagi dia udah hebat banget kerjaannya tuh." Tapi mau dikata apa, inilah takdir. Mau tak mau harus diterima.

Nah, di akhir obrolan kami, kawanku bertanya, "jadi, Biya, apa yang lo tangkap dari cerita-cerita gue?" Tanyanya.

"Bahwa jodoh itu rahasia Allah, miss." Kutanggapi.

"Lebih dari itu Biy... Apa?" Kawanku kurang puas.

"Hmm... Apa ya? Gatau ah."

"Bahwa Biy, marriage is all about dare or not dare. Udah. Lo berani gak? Berani ambil resiko hidup berdua gak? Everything can happen Biy. Itu yang tadinya taat, jadi gak taat. Yang tadinya stranger jadi soulmate. Yang jadi mualaf, yang jadi nyesel karena mantan pindah agama, see? Jadi nikah itu bukan karena siap dan gak siap, Biy, tapi karena berani apa gak untuk menerima kemungkinan-kemungkinannya." Kawanku menjelaskan.

"Wah, iya juga ya miss. Kalo alesannya gak siap terus mah gak nikah-nikah ya. Ya harus berani lah, siap gak siap, ya beraniin dong." Responku mantap.

"Dats why Biy, usia gue yang udah banyak ini, gue belum juga pingin nikah, karena gue masih takut. Gapapa lah orang bilang gue perawan tua. Toh gue cukup fair lah sama diri gue, gak kayak kakak gue yang ngorbanin perasannya itu. Hih."

Lalu ia berpesan, "jadi Biy, lo boleh lah berangan-angan punya suami idaman, yang terbaik, yang perfect, tapi lo juga harus beranikan diri untuk terima segala sesuatu yang mungkin terjadi nanti. Baik buruk, lo harus terima. Inget Biy, everything can change. Nah, masih mau nikah cepet-cepet? Udah berani emang?"

"Enggak, gak mau buru-buru miss... Tapi soal berani apa gak mah, aku anaknya gak pernah takut. Cumaaaaa, sebelum aku berani ngajak orang nikah, aku harus kosongin hati dulu nih buat space orang baru itu. Wqwqwqwqwq"

Begitulah obrolan lumayan serius kami. Lalu aku lanjutkan dengan kisah pribadiku. Kuceritakan tentang alasanku untuk "kosong" dulu sebelum berani menikah. Tentang aku dan masa laluku. Tentang perasaan yang harus kupaksa untuk berhenti. Tentang patah hati dan kekecewaan. Tentang hal-hal lainnya. Dan kawanku hanya memberi saran singkat sekali, yaitu "Biya, nikahilah laki-laki yang benar-benar pingin menghabiskan hidupnya sama lo. Yang gak ada rasa ragu, yang gak punya rasa takut untuk hidup berdua. Yang gak punya pilihan selain lo. Yang yakin! Semangat Biya~ Belom 30 kan? Hehehe"

Komentar

Postingan populer dari blog ini

UNIVERSALISME VS PARTIKULARISME

Menurut survei yang dilakukan oleh Political & Economic Risk Consultancy yang berbasis di Hongkong, Indonesia adalah negara paling korup dari 16 negara di kawasan Asia Pasifik. (Kompas, 2012) Fakta yang mengkhawatirkan. Dengan indeks persepsi korupsi sebesar 1.9 dari angka terbesar 10, Indonesia dianggap sejajar dengan negara-negara baru yang sampai hari ini masih dililit masalah peperangan di mata internasional. kerugian akibat korupsi sama dengan dampak perang, bahkan bisa jadi lebih. Tentu Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN)  bukan istilah yang asing lagi di negeri ini. Menjelang jatuhnya Soeharto, KKN ramai disinggung dan dibicarakan. Pada masa reformasi, KKN semakin sering dibicarakan untuk diperangi demi pemerintahan yang bersih (good governance).

Operasi Geraham Bungsu (Impaksi)

Tulisan ini kubuat atas dasar pemikiran kawanku, Pandu Ashari, yang mengusulkan untuk dikenang dalam blog. Sungguh, ia sangat mencerahkan. Lumayan, menambah warna tulisan di blog ini, tak selalu kelabu (read: galau).
*********
Aku terlahir sebagai anak yang malas menggosok gigi. Biya kecil, dulu, kalau makan selalu diemut dan lama. Konon, nasi-nasi atau makanan yang ada di dalam mulutku bisa sampai kubawa tidur saking lamanya mengunyah. Belum lagi ketergantunganku dengan minum susu di botol sambil tidur belum hilang sampai kelas 2 SD. Parah. Jangan tiru adegan itu ya. (Kalau punya sepupu, keponakan atau anak, cegahlah mereka.)

Ngurus STNK di SAMS(SUCK)AT

Jadi gini, pada hari Selasa, 5 Februari 2013, gue pergi bersama abang sepupu ke kantor SAMSAT di deket SCBD, Semanggi, buat ngurus STNK abang kandung yang hilang beserta dompet dan isinya. Dari latar belakang itulah lahir pengetahuan dan pengalaman gue ngurus keribetan birokrasi negeri ini dan sogok-menyogok depan mata.

Pertama-tama, pastikan dulu motor lo itu wilayah mana. Bisa dilihat dari tiga huruf di belakang plat nomer. Kalau huruf depannya T, berarti segala administrasi, berkas, data dan lain-lainnya ada di SAMSAT Jakarta Timur (T). Kalau B ya barat, S ya Selatan dan seterusnya. Contohnya motor gue B XXXX TPS, nah, udah pasti di timur lah ya.