Langsung ke konten utama

Guru Bangsa

Malam itu dingin. Sedingin susu buatan bunda yang tak sempat kuminum sejak pagi hingga sore. Gelapnya malam tak mempengaruhi semangat juangku di jalan pulang. Rintik gerimis masih sangat bersahabat bagi para pekerja-pulang-malam Jakarta. Jalanan Ciputat-Pondok Indah cukup licin digesek roda-roda kendaraan bekas guyuran hujan tadi.

Aku dengan sabar menanti Kapten angkutan kota D02 yang mengundang para penumpang lain untuk menumpang di tiap sisi-sisi jalan dan di pinggir-pinggir gang. Sepanjang jalan aku dengan cantik duduk menikmati malam pinggiran kota Jakarta itu. Menghayati angin malam semriwing pasca hujan. Menikmati lampu-lampu oranye jalanan. Meresapi wangi-wangi tanah guyuran hujan bercampur asap knalpot kendaraan-kendaraan. Maklum, beberapa minggu lalu aku sedang asyik-asyiknya menjadi Valentina Rosiwati.

Sang Kapten menepikan kendaraannya di satu sisi jalan yang tepat didirikan sebuah warung kelontongan mungil. Aku tak terlalu memperhatikan jalan arah depan. Yang kurasakan saat itu, rasanya hidupku berhenti sejenak disaat Kapten menepi. Mataku tertuju pada sebuah toko lusuh yang mirip dengan gubuk dari seberang.

Toko yang kukatakan mirip gubuk itu dipadati jejeran buku-buku bekas yang sangat rapih berbaris di dalam rak-raknya. Dengan dilindungi pohon-pohon di depannya, toko tersebut makin terlihat lusuh namun rindang. Ada seorang lelaki yang sedang memindahkan kursi dan beberapa pajangan majalah di depan lalu dipindahkan ke dalam. Bersiap untuk tutup sepertinya, sebab matahari sudah sangat jauh pergi memutari bumi bagian Pondok Pinang. Di depan toko itu terdapat spanduk kecil bertuliskan Guru Bangsa-- yang juga lusuh.

***

Dengan waktu sekian menit, mataku dapat menggambarkan sepasang sejoli bercanda, berbagi tawa. Si Jantan mendongakkan kepalanya ke deretan atas rak, menjelajah judul-judul buku incaran. Sedangkan Sang Betina terbungkuk-bungkuk mencari buku-buku bekas yang menarik untuk bahan ajar calon muridnya. 

Dari kejauhan, aku dapat melihat Si Betina menepuk bahu Sang Jantan dengan semangat dan menunjukkan hasil pencariannya, novel "Forrest Gump" yang teramat tipis jika mengingat filmnya yang lumayan panjang. Mereka lalu saling melempar senyum, bahkan cengiran lebar dan saling berpandangan tajam.

Kembali mata mereka sibuk menjajahi tiap judul buku-buku rapih, jari-jemari memilah-milih, sesekali bertukar tempat, terkadang saling menghampiri jika sesuatu menarik mereka temui. Lebih sering Si Jantan membawa beberapa buku dan memperlihatkan kepada betinanya. Mengulas cerita singkat tentang buku yang ia genggam dan menimbang-nimbang untuk membeli atau menunda tambahan koleksinya. 

Ujungnya, mereka hanya membeli satu DVD film (mungkin) bekas yang masuk nominasi diajang penghargaan Golden Globe bahkan pemain-pemainnya memenangkan piala bergengsi itu. Sang Jantan sangat merekomendasikan judul film tersebut sambil membangga-banggakan diri, "ini yang meranin abangku. Ganteng. Brad Pitt namanya." Tanpa ragu, dihadiahilah The Curious Case of Benjamin Button kepada Sang Betina. Syukur, dengan riang ia mau menerima walau menganggap angin lalu pengakuan tentang Pitt nan rupawan yaitu saudaranya.

Aku dapat melihat betapa mesra dan hangatnya pasangan itu. Betapa intimnya ketika mereka berpamitan untuk berpisah; Sang Jantan mencium punggung tangan Betina dengan lembut, begitu pun Sang Betina membalas. Sepertinya sudah menjadi suatu tradisi bagi pasangan yang sedang dikepung cinta itu.

Sungguh aku iri. Betapa mengagumkan. Mengisi waktu berdua di sebuah toko buku bekas. Bertukar ilmu, cerita dan pengalaman tentang apa yang pernah mereka baca dan mengulas isi buku yang ingin dibaca, serta merekomendasikan satu sama lain. Sungguh berkelas. Kubayangkan betapa serunya mereka seperti Dimas Suryo dan Vivienne Devereaux dalam novel Pulang berkelana sepanjang kota Paris dan ditutup dengan ajakan Vivienne di satu warung sebelah kiri sungai Seine yang selalu menarik pengunjung dengan membacakan penggalan novel-novel dan puisi-puisi-- warung buku bekas.

***

Kukedipkan mataku, mereka tiba-tiba hilang. Yang ada hanya lelaki tadi yang merapihkan kursi dan kini ia mulai menutup kerai besi toko. Ternyata itu semua bayangan. Mungkin bayangan kenanganku dulu yang masih bersamanya.

Rasanya otot-otot mata ini sudah sangat terlatih untuk mengerem tetesan air yang hendak keluar. Hati pun ternyata makin sanggup menahan emosi berlebihan. Meminjam kata-katanya, aku sudah 'oke' dalam terma 'tegar'.

Bayangan itu memang kenangan. Dan aku masih mengenangnya. Ya, kenangan sering mengejutkan ketika datang dan aku selalu menutupi lewat senyuman. Biarlah ia melayang. Melayang bersama angan-angan dan impian yang telah terlupakan. Hatiku cukup lapang untuk merelakan.

Jangan pernah kembali sayang, sebab aku telah terbiasa acuh terhadap tempat-tempat yang kuanggap bersejarah dan aku terlanjur menikmati waktu-waktu sendiriku tanpamu lagi. Namun, untuk kali ini saja, izinkan aku merindumu yang dulu pernah mencintaiku...



Ciputat 2013

Komentar

Postingan populer dari blog ini

UNIVERSALISME VS PARTIKULARISME

Menurut survei yang dilakukan oleh Political & Economic Risk Consultancy yang berbasis di Hongkong, Indonesia adalah negara paling korup dari 16 negara di kawasan Asia Pasifik. (Kompas, 2012) Fakta yang mengkhawatirkan. Dengan indeks persepsi korupsi sebesar 1.9 dari angka terbesar 10, Indonesia dianggap sejajar dengan negara-negara baru yang sampai hari ini masih dililit masalah peperangan di mata internasional. kerugian akibat korupsi sama dengan dampak perang, bahkan bisa jadi lebih. Tentu Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN)  bukan istilah yang asing lagi di negeri ini. Menjelang jatuhnya Soeharto, KKN ramai disinggung dan dibicarakan. Pada masa reformasi, KKN semakin sering dibicarakan untuk diperangi demi pemerintahan yang bersih (good governance).

Operasi Geraham Bungsu (Impaksi)

Tulisan ini kubuat atas dasar pemikiran kawanku, Pandu Ashari, yang mengusulkan untuk dikenang dalam blog. Sungguh, ia sangat mencerahkan. Lumayan, menambah warna tulisan di blog ini, tak selalu kelabu (read: galau).
*********
Aku terlahir sebagai anak yang malas menggosok gigi. Biya kecil, dulu, kalau makan selalu diemut dan lama. Konon, nasi-nasi atau makanan yang ada di dalam mulutku bisa sampai kubawa tidur saking lamanya mengunyah. Belum lagi ketergantunganku dengan minum susu di botol sambil tidur belum hilang sampai kelas 2 SD. Parah. Jangan tiru adegan itu ya. (Kalau punya sepupu, keponakan atau anak, cegahlah mereka.)

Ngurus STNK di SAMS(SUCK)AT

Jadi gini, pada hari Selasa, 5 Februari 2013, gue pergi bersama abang sepupu ke kantor SAMSAT di deket SCBD, Semanggi, buat ngurus STNK abang kandung yang hilang beserta dompet dan isinya. Dari latar belakang itulah lahir pengetahuan dan pengalaman gue ngurus keribetan birokrasi negeri ini dan sogok-menyogok depan mata.

Pertama-tama, pastikan dulu motor lo itu wilayah mana. Bisa dilihat dari tiga huruf di belakang plat nomer. Kalau huruf depannya T, berarti segala administrasi, berkas, data dan lain-lainnya ada di SAMSAT Jakarta Timur (T). Kalau B ya barat, S ya Selatan dan seterusnya. Contohnya motor gue B XXXX TPS, nah, udah pasti di timur lah ya.