Langsung ke konten utama

Singapure dan Segenap Gejolak Jiwa (Bag. II)

Di gank kami, ada seorang kawan bernama Kosuke. Dia kawan favorit saya. Dialah satu-satunya orang yang mengajak saya bicara banyak (dengan bahasa Inggris tentu!). Dia lah yang rela curi-curi pandang saat saya ngobrol dengan Japanis lain, khawatir saya kurang 'mudeng' sama English-nya lalu ia mencoba menransletkan. Kosuke yang ikhlas duduk di lantai berlipat kaki sedangkan saya malah duduk di kursi sebab katanya "Japanis udah biasa keleeuuss duduk kek giniiiiii~" dan kami berbincang-bincang panjang. Dia pula lah yang menghampiri saya ketika Bu Uki ke toilet saat dinner dan duduk di sebelah saya sambil menerjemahkan sedikit-sedikit apa yang kawan Japanis lain diskusikan. Ketika saya mengedarkan rendang, bekal dari rumah, kepada seluruh Japanis di meja makan, Kosuke lah yang siap mendengar celotehan kawan-kawannya dan ia terangkan lagi kepada saya. Pokoknya, Kosuke lah kawan (yang baru kenal) termanis dan terbaik saya di sana. Sudah sebegitu manisnya, dia wangiiiii sekali! Parfum bajunya mirip Trika semprotan baju di rumah. Haduh... Feels like home. Hahahaha. Kosuke memang Japanis yang manis sekali. Saya langsung terbayang-bayang alur kisah Watanabe dengan gadis-gadisnya di Norwegian Wood karya Murakami.

Tapi... Sayangnya, di hari kedua pameran setelah saya dan Ibu Uki selesai makan siang, saya melihatnya keluar dari hall tempat pameran kami sambil mengeret-ngeret koper besarnya. Saya berkata kepadanya, "You’re leaving??? Why is it so fast?”

“Yup. I gotta go because tomorrow I have to work. Keep in touch ya!”

“Oh… Have a safe flight, okay…” Saya berpesan kepada Kosuke. Ditambah dengan hal terbodoh yang saya tanyakan selanjutnya. “But, ummm… I'm so sorry, I forgot your name..........."

Hahahahaha. Padahal sudah bersama-sama selama dua hari! Ngobrol ini itu tapi saya gak tau nama diaaaaaa!!! Bodoh bat sih. Memalukan. Dan kau tahu, balasannya apa???
"Gak apa Biya... Nama gue Kosuke. Lo punya fesbuk? Add gue ya. Kita jaga komunikasi, gue siap nyambut lo di Jepang!"

Aaaaaaakkkk!!! Kosukeeeeeeeee~~~
Kusuka Kosuke pokoknya!!! Suka banget nget nget!!! Setelah itu, saya langsung memintanya mengetik nama di kolom pencari di fesbuk. Ketika saya klik add as friend, tak lama, ia menerima permintaan dan saya langsung menyapanya di messenger. "Kosuke chaaann... Where are you up to?" Sapa saya. Keesokan harinya kemudian ia balas, "baru aja sampe di Narita." Dan selanjutnya, dan selanjutnya.
Haduh... Super nice friend banget lah dia.
If you read this, Kosuke, I just want to say, May Google Translate be with you! Lol.

Saya sangat menyayangkan Kosuke yang harus pulang sore hari di hari terakhir pameran. Jadi, kami tidak sempat makan malam bersama di hari terakhir. Gak ada lagi deh yang dengan lembut dan manisnya menyapa serta mengajak ngorbol saya selama di meja dinner. Untuk sekedar berfoto berdua pun tidak! Padahal ia datang ke Maker Faire hanya untuk memotret! Sedih sekali. Nah malam kedua pameran, untuk penutupan, Mr. Tatsu mengajak kami makan di daerah Marina Bay. Lagi-lagi ia menanyakan apakah saya cocok makan makanan Thai? Sebab mereka sangat ingin ke resto Thai di sana. Saya lagi-lagi jawab, "tenang... Kupunya rendang. Hehehe."

Di jalan menuju Marina Bay, kami menumpak Uber. Matahari senja yang teduh tapi tetap terasa gerah. Oh, ya. Singapure itu sumuk sekali loh. Setiap pagi, padahal saya sudah mandi, eh tapi kenapa ketiak selalu basah ya setiap keluar hotel? Bahkan malam hari pun sering sekali membuat saya kuyup! Apalagi kalau sudah jam pulang, turun MRT di stasiun Ronchor atau Bugis menuju hotel, sungguh ya, itu jam 23.00 malam pun saya masih bisa keringetan! Kzl.

Kami masuk jalan tol. Ketika itu gejolak jiwa saya mulai beraksi lagi, perasaan haru timbul secara tiba-tiba. Hati saya mendadak lirih. Senang campur air mata. Di kepala saya, saya merasa cukup bangga dan bahagia tiada tara sebab telah menginjakkan kaki di tempat asing yang sama sekali tak pernah terpikirkan sebelumnya. Air mata itu pun hendak mengalir karena kerja otak saya justru mem-flashback keberuntungan-keberuntungan yg saya dapat hingga akhirnya bisa merasakan kerennya Singapure. Dari hampir ketinggalan pesawat sampai menyadari bahwa perjalanan ini sesungguhnya tanggungan Bu Uki sepenuhnya. Subhanallah. Terima kasih Bu Uki.

Dengan latar musik "Home"- Michael Bubble, saya makin mengharu-biru. Mencoba menahan air mata sekuat tenaga, tapi bobol juga. Karena lagu itu, kontras sekali perasaan ini; apakah mau pulang tapi saya butuh tempat asing lain untuk menetap agar tahu betapa dalam sebenarnya cinta saya kepada negeri sendiri atau bahkan rumah sendiri? Saya ingin sekali bisa tinggal jauh dari rumah. Dengan rentang waktu yang lama hanya untuk merasakan rindunya pulang ke rumah. Hanya itu.

Di tengah perasaan yang melankoli itu, tiba-tiba saya melihat dua buah motor melaju. Dan perasaan yang tadinya mendayu-dayu tetiba buyar seketika. Saya mengelap air mata dengan jari telunjuk.

"It's highway, rite?" Saya bertanya kepada pak sopir.

"Yes. It is."

"But how can motorcycles go through on highway?" Saya heran.

"Can, can... Motorcycle can go." Bapak sopir menunjukkan wajah sumringah namun kaget. Makhluk dari antah berantah mana yang menanyakan hal itu di Sigapure, mungkin kiranya.

"Oh, really?" Aku noraaaak sekali. Ya Tuhan.

Ternyata boleh ya, di Spore, motor masuk jalan tol hehehe. Jarak dari Jurong ke Marina Bay cukup panjang. Dua puluhan kilo meter. Jalannya lucu sekali. Suasananya berubah-ubah. Sebentar sekali saya merasa perjalanan ini layaknya Bogor kawasan Kebun Raya. Banyak pohon rindang di pinggir jalan, tapi tiba-tiba saya dapat merasakan bahwa jalanan sudah pindah ke jalan flyover Antasari - Blok M. Terus ada rasa jalan Sudirman dimana gedung-gedung tinggi menjulang. Kemudian suasana rasa Kuningan depan Bakrie Tower, taman dan pedestrian luas nan indah. Saya bergumam, kok bisa rapih ya Singapure ini? Dan ketika menengok ke Pak Sopir Uber di sebelah saya, loh, kok ia mirip sekali dengan Jackie Chan? Gondrongnya. Raut wajahnya. Senyumnya. Ealah, random banget sih Biyak!!! Oh ya. Saya juga melihat gedung NUS (National University of Singapore) yang waktu di pameran Maker Faire karyanya sungguh luar biasa dan kewwrreeeeen bingits!

Akhirnya kami sampai di tempat tujuan. Saya bergumul lagi dengan Japanis, namun kali ini kami hanya ber-sembilan. Beberapa anggota grup sudah ada yang langsung pulang ke negrinya. Dari sembilan orang, tiga di antaranya adalah orang yang berbeda pada malam pertama. Orang baru lagi. Orang yang belum menyicipi rendang tentunya.
Seorang Japanis yang baru tumben ikut gank kami bertanya kepada saya soal pendidikan di Jakarta. Soal ketertarikan pada mata pelajaran apa umumnya anak SD Jakarta. Saya jawab polos sekali, "gak tau mas..."
Lalu saya sambung dengan jawaban diplomatis "kecenderungan anak SD di Jakarta untuk menyukai satu mata pelajaran itu belum terlalu kelihatan mas... Biasanya mereka udah mulai bisa pilih jalan hidupnya di SMA. Tapi sih kalau lihat kondisi sekarang, saya gak yakin mereka sekolah itu untuk ilmu. Sekolah menurut mereka ya karena kewajiban aja. Karena 'nanti jadi apa kamu, kalau gak sekolah?' kata mamak-mamak mereka. Hehehehehe..."

Mas Japanis yang tadi bertanya memasang muka heran tapi tak bisa tak setuju dengan jawaban saya.
"Hmmm... Di Jepang juga masih ada yang begitu sih..." Dia menimpali.

"Jadi gini, saya tuh tertarik banget sama dunia pendidikan meskipun saya bukan guru kayak kamu. Saya mau buat program, program media belajar gitu lah biar gak bosenin anak saat mengajar, begitu..." Lanjutnya.

"Pingin tau banyak soal pendidikan di Jakarta, saya nih..."

"Oh, ya you come lah to my town!" Saya sontak mengundang dengan riang dengan Singlish ala-ala.

"Oh, boleh? Ya ya, nanti ya!!! Saya minta fesbuk kamu."

Nah terjadilah keajaiban Tuhan dengan segala kehendak-Nya, jaringanku meluas. Makasih ya Allah. Segala puji bagi-Mu
Siapa tahu bisa ke Jepun heratiz. Sudah dua orang Japanis berkawan kaaaan, plus Bu Uki! Hehehe... Untuk yang satu ini namanya Junya.

Junya adalah Japanis lain yang sangat ramah. Hmm, I can say that Japanese people who can speak English very well is very friendly. Ngajak ngobrol teruuusss!!! Nah, Mas Junya ini karyanya banyak sekali loh. Pintar pula, humoris dan murah senyum. haduh, Japanis-Japanis ini sungguh nice sekali.

"Kalau saya ke Jakarta, makanan apa yang kamu rekomendaskan?" Ia mulai ramah lagi.

"Rujak!" Saya jawab. "Itu cuma potongan buah tapi dimakan pake saus gula jawa, cabe dan kacang dihaluskan gitu. Enak lah." Saya terangi ia.

"Oh, atau sate ayam. Yakitori!!! Semacamnya yakitori lah. Tapi yakitori kami juga pake bumbu kacang gitu. Tapi gak pake gula." Saya lebih bersemangat kali ini.

"Wow. It sounds oishi!!!" Eh dia ngiler bos~

"Gimana kalo bakso???" Makanan favorit saya, saya bilang.

"Bakso????" Junya heran.

"Like a meatball. Like this." Sambil saya sodorkan ia gambar bakso dan saya jelaskan terbuat dari apa si bakso serta saya bahas juga bakso favorit saya selama ini yaitu si SAMRAT BAKSO SOLO. "Kuah baksonya tuh, daging banget!!! So meatyyyyy~"

"Woooowww!!! Saya juga suka daging! Suka sekali! Bisa tiap hari deh makan daging!" Ia menimpali.

"Eh, ngomong2 daging apa sih yang populer di Jakarta?" Tuhkan, dia ramah banget kan.

"Sapi doooong... Sama ayam."

"Oke oke. Kami di Jepang susah banget loh, makan daging. Mahal soalnya. Kalo di Jakarta, berapaan?"

"Yaaa... Kira2 satu kilo daging sapi itu seharga $12 lah."

"Haaaaa????????" Ia kok kaget yaaaaa...

"Di kami tuh ya, daging harganya (-#(#+2-£-£+(#-;@;+£(£+hsgwysjveql)......"
Tiba-tiba roaming. Dia lagi tanya ke kawannya yang lain soal harga daging. Dan sempat tanya ke Bu Uki soal convert kurs yen ke rupiah. Hadeh.

"Biya san, di Jepang katanya, harga daging seratus gram sekarang 35000." Akhirnya Bu Uki menjawab.
Dasar bodoh. Saya bingung. Seratus gram 35rb? Kan beli daging tuh per kilo kan ya. Berarti kalo satu kilo jadi berapa dong?

"Ya 350rb rupiah lah." Si Ibu menerangkan.
"WADAAAAAAWWWWWW!!!!!" Giliran saya yang kaget sekarang. Mas Japanisnya ketawa-ketiwi aja. Sial.

Obrolan soal daging mengingatkan saya pada bekal yang belum habis. Lalu saya bak dapat ide cemerlang, dengan semangat saya bilang ke Junya, "ahaaaa!!! Saya punya sesuatu buat kamu!!!" Dengan semangat 45 saya keluarkan rendang andalan saya.

"Ini rendang mas. Khasnya daerah Padang. Ada lah itu daerah di Indonesia. Terbuat dari daging, terus santan terus gatau lagi apa" hahahaha
Saya edarkan rendang ini di atas meja yang penuh dengan masakan Thai. Lalu ia bersama dua kawan lainnya memakan dengan mata berbinar-binar.

"Waaaaww... Umaiiiii!!!!" Sambil mengacungkan dua jempolnya. Umai itu enak bingiiiiitttsss artinya. Kalau perempuan ngomong "umai", wagu katanya sih. Berarti itu enak yang kebangetan.

"Eh tapi, semalem, masa temenmu itu, bilang ini rendang cocok jadi dessert siiihhh??? Menurutmu? Pedes gak sih?" Saya bertanya.

"Dessert? Makanan penutup ya? Ah, gak kok. Enak kok ini. Gak pedes juga. Saya gak cocok makan pedes. Enak ini enak... Bagi lagi ya."

Wahahaha dia makan dua potong. Satu kawannya yang lain juga masih pingin tapi sayang ini tinggal bumbunya aja. Ketika saya sedang membersihkan tempat makan saya dengan mengeluarkan semua isi bumbu rendang dari tempat makan, dia tanya "itu masih ada sepotong lagi gak, mbak???"

"Yah, maaf... Habis... Ini bumbunya aja. Maaf ya~"

Dia hanya tersenyum tapi saya bisa melihat kekecewaan dari raut wajahnya. Haduh, maaf. Tapi saya senang sekali rendang saya laku. Hihihi.
Oh ya, saya perlu ceritakan di sini. Selama dua kali makan malam bareng Japanis, dua kali-dua kalinya pula Bu Uki bergosip tentang saya terhadap kawan sebangsanya soal “Biya itu guru les Bahasa Inggris saya. Dia sampai rela loh buat paspor cuma untuk acara ini, ikutan kita…” Hihihihi. Ada malu sekaligus bangga. Iya, Bu, aku buat paspor cuma karena Ibu yang ajak. Coba kalau enggak, ya gak akan lah. Hihihihi. Tapi makasih loh, Buuuuuuuu…

Setelah makan, saya dan Bu Uki berpisah dengan rombongan Jepang. Kami menuju Marina Gardens by the Bay yang menstrim itu. Sesampainya di sana, Ibu yang sudah sangat berpengalaman mengajak saya untuk melihat pertunjukan musik yang katanya tinggal dua menit lagi melalui lantai atas. Lebih indah katanya. Ya. Benar saja. Pohon-pohon tinggi yang gemerlapan dengan lampu-lampu indah itu bergantian nyala dan mati mengikuti irama musik "Can't Take My Eyes Off You". Wooooww! It was so magical!!!
Setelah pertunjukkan selesai, Ibu mengajak saya turun ke lantai bawah. Di sana, saya dapat melihat kerennya taman tersebut. Kami duduk-duduk dan mengobrol sebentar soal keluarganya dan keluargaku. Bu Uki adalah kawan bicara yang sangat asyik. Saya dapat membicarakan banyak hal dengannya. Bahkan, dari yang saya tidak tahu sampai yang menurut saya pemikiran Bu Uki sangat unik. Bu Uki bagai ensiklopedia berjalan bagi saya. Pengetahuannya luas sekali. Pengalaman hidupnya apalagi. Terima kasih Ibu.

Setelah puas bernaung di bawah tiang-tiang pohon buatan yang kerlap-kerlip itu, kami berencana untuk menonton Wonder Full Light & Water Show. Saat itu waktu telah menunjukkan hampir jam 23.00. Selama perjalanan ke sana, saya tak henti-hentinya mengucap terima kasih kepada Bu Uki yang sudah rela mengajak dan direpoti oleh saya selama di Singapure.

“Nanti saja, Biya san, belum sampai rumah kok ini…” Katanya singkat.

“Aku bersyukur banget loh, bisa ke sini berkat Ibu. Apalagi temen-temen Ibu yang lain baik-baik ya. Asyik pula. Seneng deh aku. Makasih ya Bu…”

“Syukur, kalo Biya san juga senang. Saya juga senang, apalagi bawa Biya san yang seolah-olah bisa saya representasikan Indonesia lewat Biya san yang gak punya keberpihakan politik mana pun di negaranya. Hehehe.” Nah, jadi intinya, Bu Uki mau mengenalkan Indonesia melalui saya. Memang, beberapa kali para Japanis itu menyinggung soal politik dan ekonomi di Indonesia. Mungkin karena saya hanya rakyat sipil, bukan utusan diplomat yang harus menjaga citra Indonesia, ya saya akui saja kalau negara kami memang rakus-rakus pejabatnya. Korupsi mele. Yasudah lah~

“Kira-kira, nanti ibunya Biya san tanya apa aja ya?” Bu Uki melanjutkan

“Hmm, ya paling ngapain aja di sana. Makannya gimana. Ya standar lah palingan pertanyaannya hehe. Aku juga udah sedikit apdet di fesbuk sih soal rendang! Hahaha…”

“Hahaha. Syukur ya, teman-teman semua suka rendang Biya san. Eh ini kayaknya kita kelewatan jadwal show-nya deh. Maaf ya, maaf.” Sesampainya di sana, kami baru tersadar bahwa show terakhir jam 23.00 dan kami baru saja melewatkan itu sesampainya di sana.

“Ini gak apa-apa, Biya san pulang malam terus selama di sini? Besok, saya mau ajak Biya san ke Art Science Museum. Terus kita lihat Merlion dan ke National Museum-nya Singapura ya.” Bu Uki menjelaskan sambil kami duduk-duduk di pinggir bay dan mengunyah Irvin’s, snack yang sedang naik daun di Spore itu.

“Wah, asyiiik! Iya Bu, kemana aja aku ikut deh. Gak apa-apa lah. Malah mumpung gak ada Bundaku, aku boleh pulang kapan aja dong. Hehehe.” Aku selalu easy going kalau urusan jalan-jalan lah terlebih soal jam malam yang sungguh tak berlaku lagi saat jauh dari rumah wqwq.

Hari ini Senin, hari terakhir kami di Singapure. Agendanya ya cuma jalan-jalan aja sih. Saya akan lebih khusyuk menikmati bersih dan rapihnya Singapure. Pertama-tama saya harus bangun pagi, mandi dan packing. Setelah itu check out dan titip ransel serta koper Bu Uki. Kami langsung menuju Sim Lim Tower. Itu adalah tempat kesayangannya Bu Uki. Ia dapat berbelanja sepuasnya di sana. See, Bu Uki itu wanita anti-mainstream!!! Kalau saya belanjanya ke Bugis Street, cari oleh-oleh, blio mah peralatan listrik buat kostum berikutnya di Habibie Fest. WOW!!!
Seorang kawan mengetahui kepergian saya ke Spore kala itu. Lalu ia menintip sesuatu, Irvin’s snack. Itu loh yang malamnya saya kudap selagi di Marina Bay. Kalau yang saya makan sih, geratisan hasil buah tangan sepupu saya yang sempat menjenguk kami di Science Center. Namun kali ini, saya harus mencoba mencari di mana Irvin’s diperebutkan banyak makhluk dunia ini. Maka, pergi lah kami ke Vivo Center arah Sentosa. Jauh-jauh kami berjalan, menggunakan MRT juga bus, yang kami dapati justru antrean panjang di booth Irvin’s!!! Beginilah rupanya antrean itu. Masya Allah!
“Gimana Biya san? Masih mau Irvin’s? Saya mah melu~” Bu Uki berkata.

“Gak, gak mungkin Bu. Udah, kita makan es grim aja yuk. Cari es grim yuk!” Ajak saya untuk mengalihkan kelelahan yang tanpa hasil ini. Akhirnya Bu Uki ikutan. Dan blio menjatuhkan pilihan pada kue sus! Hahaha.

Destinasi berikutnya yaitu ArtScience Museum. Naas, kami nyasar. Hadeh. Salah saya sih, yang sotoy aja, main naik MRT padahal arahnya berlawanan. Kalau mau ngotot naik MRT untuk ke ArtScience, perjalanan terlalu jauh berputar. Memakan waktu. Akhirnya kami cari bus. Sudah naik, eh malah makin ribet dan makin lama cari ruteya. Ketika sudah tahu rute, eh malah ketinggalan bus! Yasudah daripada lama, mari naik taxi! Wakwaaawww~ Di perjalanan, Bu Uki iseng bertanya, “Biya san kalau ditawarin kerja di sini, mau gak?”

“Hmmmmm...” Saya lama menjawab. Mikir dulu.

“Hmmmmm… mau sih, tapi palingan dua tahun aja lah.” Jawab saya.

“Kenapa? Living cost nya mahal? Tapi kan nanti terima gajinya juga besar. Ya, sekitar 30 jutaan lah kalo untuk foreigner.” Bu Uki menjelaskan.

“Oh, bukan Bu. Living cost mah gak terlalu masalah. Tapi lebih ke dinamika hidupnya orang sini aja. Takut aku gak cocok. Soalnya kan di sini enak ya, rapih, sistem sudah bagus, apa-apa gampang. Enak lah. Kalau Jakarta kan semrawut banget kan, tapi tuh kita jadi diajak kreatif buat nyelesaikan masalah gitu hehehe.”

"Oh, iya ya. Walaupun Jakarta semrawut banget kita jadi kreatif ya? Hehehe. Kita mungkin bisa ya hidup berdampingan sama orang yang beda suku, agama, cuma kan butuh bergaul juga..."

"Nah iya itu juga Bu. Nanti takutnya gak cocok dapat kawan. Kan?"

Selama perjalanan saya selalu memandang penuh takjub ke luar jendela. Singapure rapih banget siiiiihhhh... Lagi-lagi saya bergumam hal yang sama. Terang aja, lah wong negrinya cuma seucrit. Gampang lah pemerentahnya untuk urus. Coba Indonesia? Udah berpulau-pulau. Jauh. Rakyatnya bandel, keras kepala, susah diatur, gampang emosi, bayar pajak ogah-ogahan, eh ditambah pemerentah yang juga sableng. Korupsi lah. Rakus lah. Pemberi harapan palsu lah. Hadeh. Sepaket deh. Tapi saya yakin banget, kapan nanti, Indonesia bisa lebih hebat dari Spore. Yakin sekali, saya! Asalkaaaaannnnn... Pejabat matre itu dibinasakan. Pokoknya lihat Singapure tuh, kek lihat masa depan aja sih. Indah~ Penuh harapan~

Nah sesampainya di ArtScience Museum, tempat favoritnya Bu Uki, saya bahagia biyanget!!! Sejak kenal Bu Uki, orientasi liburan saya jadi berubah. Di Jakarta, kalau kau tau Akhir Pekan di Museum, itu adalah gerakan perkenalan museum dan sejarah kepada warga Jakarta yang disuguhkan melalui pentas teater oleh Teater Koma GRATIS di wiken-wiken tertentu yang bertempat di Museum Gajah, Monas. Kami pernah ke sana. Meskipun tak janjian, tapi pengaruh Bu Uki yang anti-mainstream itu sungguh sudah melekat pada saya. Saya jadi ikut-ikutan myuzium tourist. Nah, terakhir kali ke Yogya pun, saya menikmati sekali penjelasan dari objek-objek di bekas rumah Mbah Marijan. Dan selalu saja sisi melankoli saya tersentuh tiap berkunjung ke myuzium. Sedih. Haru. Takjub. Wah, apa yang kita jalani di hidup ini adalah proses pencetakkan sejarah juga loh.

ArtScience Museum juga ternyata menjadi tempat favorit saya. Saya suka disain bangunannya. Materi pamerannya juga cukup menarik. Kami membeli tiket all exhibition pass untuk tiga macam pameran; Human +, The Universe and Art dan Future World dari TeamLab. Nah, soal TeamLab ini perlu benar-benar diacungi jempol!!! "Where art meets science" begitulah bunyi jargonnya. Memasukki TeamLab, kalian akan benar-benar dibawa ke dunia masa depan. Cool abis!!! Nah di Jakarta ada kok, di Plaza Indonesia. Saya gak mau ceritakan ada apa aja di sini hehehe. Kalian coba deh. Itu keren banget sih. Produk Jepang gitu loh. Sebab kami memiliki keterbatasan waktu, maka setelah menikmati ArtScience Museum, kami berpindah menuju Museum Nasional nya Spore.Sayang, Merlion statue-nya terlewat. Tipis sekali waktunyaaa... Lagi-lagi karena meped, gak lama-lama juga di National Museum. TeamLab juga punya jatah area loh di Museum Nasional Spore. Saya dan Bu Uki sampai terlelap menikmati karya Teamlab! Hihi.
Sebagai makhluk yang tukang jalan, saya sungguh sudah sadar betul bahwa traveling itu soal toleransi. Apalagi kalau jalan bareng kawan tanpa agen. Kita harus bertolerir akan segala hal yang mungkin terjadi. Kemungkinan nyasar, telat kereta, bus, salah pilih restoran. Pokoknya hal-hal yang mungkin dapat membuat mood-mu anjlok! Perjalanan ke Spore, sudah saya katakan di awal, adalah perjalanan ke luar negeri pertama saya bersama orang yang juga kali pertamanya berkelana jauh dan berhari-hari. Saya tentu memasrahkan segalanya kepada Bu Uki. Nah ternyata Bu Uki pun juga bisa keliru. Tak jarang blio salah baca map dengan konsekuensi, kami harus berjalan memutar atau melewati tempat yang itu-itu saja untuk beberapa kali. Urusan begini, emosimu harus sudah dipersiapkan untuk tidak betek. Sebab jika hal sepele seperti ini saja bisa merusakmu, maka habislah sudah kesenangan jalan-jalannya! So, sebelum jalan, sudah saya wanti-wanti diri sendiri bahwa "inget Biy, ini ente jalan sama orang yang baru tumben ente jadiin partner traveling. Siapin hati biar tetep fun ya!" Soooooo... itu yang namanya nyasar, waktu kesita buat cari jalan, mutar-mutar di daerah yang sama, sudah saya anggap sebagai seninya perjalanan! Bahkan di tengah perjalanan saya kehausan, harus melipir dulu beli semangka dan si Ibu makan siang, meski waktu tidak banyak, saya tetap menikmatinya. Jadi selama jalan ya bebas stres deh~

Yang paling lucu adalah ketika saya mengeluarkan pernyataan serta pertanyaan yang kentara sekali ‘anak baru tumben ke Singpaure’-nya. Seperti:
“Bu, kok aku dari tadi gak lihat ada tukang parkir ya? Itu bayar parkirnya gimana?”

“Gerbang tol tuh, di sini gak pake gerbang ya?”

“Ini kalau mau berhentiin bus-nya tinggal pencet tombol ‘stop’ ya? Ih canggih!”

“Waduuuhh… di pinggir jalan aja ada lapangaaaann… Bisa main bolaaa~~~”

(Yang lebih tolol sih ini. Setelah sekian-kian naik MRT, sempat salah naik juga, saya baru sadar bahwa…)
“Loh, MRT tuh gak ada sopirnya Buuuuuu????!?!?!?!?! Whaaaatt?!?! Kok aku baru tahu yaaaaa!!!”
(Anjir, norak banget lo, Biy!!!!!)
Begitulah tiga hari saya di Singapure. Banyak hal yang membuat otak saya meletup-letup. Apalagi hati. Pandangan saya terhadap Singapure untuk saat ini ya role model yang baik sebagai negara yang sudah maju. Indonesia bisa ya insya Allah. Pingin ih, Jakarta rapih, teratur macam itu. Saya benar-benar memandang Spore sebagai masa depan. Masa depan yang lebih baik, yang bersinar terang. Terima kasiiiiih sekali kepada Bu Uki yang sudah lelah-lelah dan dengan sukarela direpotkan sama abege Jakarta nan norak ini hehe. Terima kasih Singapure, saya makin matap untuk masa depan! Terima kasih ya Allah.

Singapure dan Segenap Gejolak Jiwa (Bag.I)



Komentar

Postingan populer dari blog ini

UNIVERSALISME VS PARTIKULARISME

Menurut survei yang dilakukan oleh Political & Economic Risk Consultancy yang berbasis di Hongkong, Indonesia adalah negara paling korup dari 16 negara di kawasan Asia Pasifik. (Kompas, 2012) Fakta yang mengkhawatirkan. Dengan indeks persepsi korupsi sebesar 1.9 dari angka terbesar 10, Indonesia dianggap sejajar dengan negara-negara baru yang sampai hari ini masih dililit masalah peperangan di mata internasional. kerugian akibat korupsi sama dengan dampak perang, bahkan bisa jadi lebih. Tentu Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN)  bukan istilah yang asing lagi di negeri ini. Menjelang jatuhnya Soeharto, KKN ramai disinggung dan dibicarakan. Pada masa reformasi, KKN semakin sering dibicarakan untuk diperangi demi pemerintahan yang bersih (good governance).

Operasi Geraham Bungsu (Impaksi)

Tulisan ini kubuat atas dasar pemikiran kawanku, Pandu Ashari, yang mengusulkan untuk dikenang dalam blog. Sungguh, ia sangat mencerahkan. Lumayan, menambah warna tulisan di blog ini, tak selalu kelabu (read: galau).
*********
Aku terlahir sebagai anak yang malas menggosok gigi. Biya kecil, dulu, kalau makan selalu diemut dan lama. Konon, nasi-nasi atau makanan yang ada di dalam mulutku bisa sampai kubawa tidur saking lamanya mengunyah. Belum lagi ketergantunganku dengan minum susu di botol sambil tidur belum hilang sampai kelas 2 SD. Parah. Jangan tiru adegan itu ya. (Kalau punya sepupu, keponakan atau anak, cegahlah mereka.)

Ngurus STNK di SAMS(SUCK)AT

Jadi gini, pada hari Selasa, 5 Februari 2013, gue pergi bersama abang sepupu ke kantor SAMSAT di deket SCBD, Semanggi, buat ngurus STNK abang kandung yang hilang beserta dompet dan isinya. Dari latar belakang itulah lahir pengetahuan dan pengalaman gue ngurus keribetan birokrasi negeri ini dan sogok-menyogok depan mata.

Pertama-tama, pastikan dulu motor lo itu wilayah mana. Bisa dilihat dari tiga huruf di belakang plat nomer. Kalau huruf depannya T, berarti segala administrasi, berkas, data dan lain-lainnya ada di SAMSAT Jakarta Timur (T). Kalau B ya barat, S ya Selatan dan seterusnya. Contohnya motor gue B XXXX TPS, nah, udah pasti di timur lah ya.