Langsung ke konten utama

el-em

"...this is the most interesting book which makes me falling in love with one of the characters, Alam. You can keep it for free! Since you are the most interesting person I found on ***de* "

Kutipan di atas adalah surat pendek yang saya tulis di halaman pertama buku Pulang-Leila S. Chudori sebagai hadiah satu bulan berkenalan. Cheesy? Hm, bisa jadi. Tapi kapan lagi saya dapat berkampung-kampung kalimat untuk dia. Hehehehehe.

***

Yak, selamat. Anda telah saya bohongi. Tidak. Kenyataannya bukan begitu yang terjadi. Dua paragraf di atas akan benar-benar terjadi jika ia tidak dengan mengejutkan mengirim pesan "di perpus kantorku ada ini..." sambil mengirim pula gambar sampul depan novel yang hampir saya cari-cari keliling dunia. Yaelah. Malah nemu secara kebetulan. Gak jadi so sweet-so sweet-an deh.

(Gitu ceritanya~ Aku mau bikin tulisan ini dengan pembuka itu. For your info; keberadaan Pulang di Gramedia Jakarta sudah cukup langka. Aku sampai harus ngebut ke Gancy untuk cari dan hasilnya nihil. Sampai dibantu oleh mas-masnya untuk memeriksa stok novel tersebut di seluruh Gramedia Jakarta Selatan, Pusat dan Barat melalui telepon. Hampir pula ke daerah Bintaro hanya untuk dapat itu novel supaya nanti bisa kau bawa pulang ketika kita selesai jumpa.)

Hadeh...

Baiklah. Kita mulai yang sesungguhnya saja.

Saya mengenal ia melalui... ah, sudahlah. Silahkan kalian menerka. Kami awalnya adalah dua insan yang sangat asing satu sama lain. Ia tak mengenal saya, pun saya kepadanya. We were strangers. Kami memulai semua dari nol. "Dari nol ya, kaka~~~"

Sapaan demi sapaan. Cerita demi cerita dan kekonyolan-kekonyolan yang tak pernah absen di setiap percakapan kami. Begitulah saya dan ia memulai segalanya. Bagi saya, untuk mengetahui latar belakang dan seluk-beluk kesehariannya sungguh tidaklah sulit. Saya tak perlu bersusah-susah memberondong pertanyaan seperti; kerja di mana? Berapa bersaudara? Hobi apa? (bahkan pertanyaan sentimentil) Mantan terakhir putusnya gimana?--dengan cara konvensional. Semua pertanyaan di atas dapat saya ketahui dengan begitu saja. Mengalir saja. Secara cuma-cuma.

Selera humornya pun selalu membuat saya menepuk jidat. Lalu tertawa ngakak. Dan saya balas lagi dengan guyon-guyon yang mungkin juga lucu baginya. Ia lucu sekali. Bukan. Kami. Kami lucu sekali. Ia konyol dan tengil sekali. Saya pun. Seperti ketika kami bermain tebak-tebakan di aplikasi Line. Sebuah pertanyaan mengharuskan kami menjawab macam-macam tiang. Lalu sedetik kemudan saya menjawab "tiang agama" dan salah! Saya coba lagi dengan "tiangtiang maling seng" pun salah. Secepat kilat ia menulis "tiang jemuran" dan tiang-tiang lain yang kemudian benar! Asem.

"Aku anaknya tiangers bat ya?" Ia jumawa.

Ketika orang-orang menganggap pertemuan pertama adalah first date, tidak untuk saya. Sebutlah kopdar, atau, ya, sekedar ketemu aja lah. Demi menghilangkan penasaran. Belum ada istilah 'first date' (bagi saya). Ketika first date yang salah kaprah itu diharapkan banyak wanita bahwa sang laki-laki yang mengajak pertama, justru dengannya, saya yang mengundang ia lebih dulu. Ketika pertemuan pertama yang disuudzonkan sebagai first date itu selalu dihelat di bioskop dan restoran fancy, saya justru mengajaknya menonton pertunjukan musik Keroncong! Dan ketika para wanita ke-ge-er-an akan dibayari makan oleh si laki-laki, woh, saya lah yang menraktirnya! Hahahaha. Ini bukan gengsi, kawan.. sebab saya yang mengajak, maka saya menanggung. Begitulah prinsip hidup. Jadi, bisa dikatakan, pertemuan pertama kami beyooooond mainstream thingy!!! Yiaaaay~

When you meet strangers and you might try to tell your biggest secret, it will bring you to a relieve level 100!!! (If you are lucky). Saya percaya itu. Let's say, telling a big secret to a stranger might have two things happen. Pertama, kalian akan merasakan lega yang tak terhingga bahwa orang asing ini memang benar-benar asing di kehidupanmu. Ia bukanlah orang yang mengenalmu dengan baik sebelumnya. Ia bisa saja hilang dan lupa akan ceritamu setelahnya. Aman kan? Atau, yang terbaik, tipe kedua, ia akan menyimak dan di benakknya ada asumsi yang menyatakan bahwa kamu sudah menaruh percaya padanya untuk menceritakan semua rahasiamu itu lalu ia akan menjadi pendengar yang baik di setiap cerita-ceritamu yang akan datang.

Sebagai makhluk yang mengidap trust issue (terhadap lelaki pada khususnya), saya tentu sedang bermain judi. Bagaimana bisa saya berani menceritakan hal-hal yang saya anggap rahasia kepada orang yang belum satu bulan saya kenal? Apakah lawan bicara rahasia saya ini tipe pertama atau kedua?

Saya mulai memberanikan diri. Oke. Saatnya cerita. Pertanda saya telah menginvestasikan kepercayaan saya kepadanya. Investasi yang cukup besar loh. Dan sekali-kalinya saya mencoba menceritakan rahasia terbesar yang saya punya kepada stranger, ya hanya padanya lah saya mengadu hehe. Ternyata dia adalah tipe yang kedua. Terbaik. Ia tidak hilang dan tidak lupa. Lebih jauh, ia sangat sabar dalam mendengar racauan-racauan saya dan bahkan meminta lebih, "cerita doooong!"

Di pertemuan kedua, ia sudah mulai kelihatan tengilnya. Ia mulai genit.
"Jangan bete, besok kita jalan-jalan yuk! Jalan-jalannya ke rumahmu. Aku pingin ketemu bunda."
Halakh, tengil biyanget nih bocah. Bundaku gak di rumah! Wlek~
Tapi ia tetap berkeras ingin ke rumah.

Saya jarang sekali memberi kontak henpon untuk WhatsApp-an dengan strangers. Apalagi alamat. Selama berminggu-minggu kami chat intens melalui aplikasi bukan WhatsApp. Lalu entah bagaimana, terbongkarlah nomor masing-masing. Namun untuk alamat, saya sungguh belum pernah memberinya sampai detik-detik ia memberi aba-aba "aku jalan ya".
Tengil keduanya muncul.
Lah. Kamu tau alamatku emang?
"Enggak sih. Tapi yauda, nanti juga ketemu." Dengan tengilnya ia membalas.

Karena iba, maka saya share location rumah saya. Walhasil ia sampai juga di rumah dan tentu tersasar. Sesampainya di rumah, sebelum memulai cerita yang lain-lain, ia mengingatkan saya, "bentar. Aku masih shock sama perjalanan ke rumahmu. Maceeeeettt!!! Puwanaaaaasss!!!" Ia berkata sambil mengembang-kempiskan kaos The Beatles hitamnya. Sejam kemudian, kami tak henti-hentinya saling bertukar cerita.

Ketika akhirnya Tuhan menakdirkan kami untuk bertatap muka lagi, dengan rencana awal untuk membahas tulisan-tulisan rendahan saya di blog, memintanya untuk mengata-ngatai, pun ia yang berencana menginterogasi saya soal penemuan tentang masa lalunya, seketika semua buyar. Seperti biasa, obrolan kami liar kemana-mana. Asyik membahas ini dan itu.

Untuk menuju pertemuan keempat memang susah-susah gampang. Mengingat kesibukan kami yang sebetulnya gak sibuk-sibuk juga untuk dapat jumpa di hari kerja. Memang sih, saya lebih suka menemuinya di akhir pekan. Sebab, waktu yang akan dihabiskan pasti akan lebih lama. Tapi akhirnya kami dapat berkompromi soal itu.

Di pertemuan keempat, kami memutuskan untuk ke bioskop. Menonton film Negeri Dongeng. Film dokumenter perjalanan ke enam gunung tertinggi di Indonesia itu mampu membangun hasrat saya untuk juga mampu mendaki gunung lewati lembah, sungai mengalir indah ke samudera bersama ia bertualang~

"Tuh, aku kurang suka ke pantai ya karena view nya gitu-gitu aja. Kalo gunung kan bagus..." Katanya sambil menonton.
"Udah naik gunung mana aja emang, kamu?" Saya menantang.
"Gunung Gede, Papandayan sama Prau tapi ga sampe atas banget hahahaha." Ia memelas.
"Yailaaaahh~ Ngemeng!!!" Saya galak.
"Prau doang yang ga sampe atas, yang lain sampe..." Ia meluruskan.

Setelah menonton, kemudian lapar dan saya mengusulkannya untuk pergi ke waralaba Papaya dengan berjalan kaki sambil haha hihi keliling komplek Blok M Square sebab harus menunggu jam 8 malam demi dapat jajan sushi diskonan. Lucunya, ketika saya meminta si mas-mas penjaga toko untuk menghangatkan yakitori yang saya pesan, ia malah memohon sushi yang ia beli juga dimasukkan ke microwave terlebih dahulu.

"Mana ada orang Jepang makan sushi diangetin dulu sih?!" Saya geram.
"Oh gitu ya? Di Kalimalang gak ada ginian sih. Hahahaha."

Kemudian kami keluar toko. Bingung mau duduk dan santap makan malam diskonan di mana, puji Tuhan, ia dengan mata minus tujuhnya masih jeli melihat ada bangku panjang nan kosong bertengger. Lalu kami duduk. Makan. Sambil mengobrol. Sesekali saya menatap langit. Mana bulan? Ia tak terlihat dari sini. Akan lebih manis jika saya bisa melihat bulan sambil mendengarkannya bercerita, bukan?

Posisi duduk kami bersebelahan. Ia duduk membelakangi cahaya lampu toko yang membuat saya sulit sekali melihat jelas wajahnya. Cahaya lampu itu begitu benderang dan ia hanya siluet hitam di pandangan saya. Selama ia ceriwis cerita ini-itu, saya tatap lekat-lekat bentuk wajahnya. Mulai dari keningnya. Rambut kaku yang membentuk jambul berkat gel Gatsby yang wanginya masih saja lawas. Kacamata yang sangat pas disangkutkan di hidungnya yang tinggi. Mulut dan senyum bibirnya. Aduh, lelaki ini. Gumam saya sambil merebahkan kepala ke dinding belakang saya. Ia sungguh menyita perhatian. Malam itu, meski dingin sebab angin bertiup, saya merasa nyaman sekali. Walau tak nampak bulan bahkan bintang, malam itu tetap terang pula benderang.

Kepada makhluk yang kau kagumi, tentu akan ada rasa selalu ingin bertemu. Saya selalu merindukan tatapan matanya yang redup, harum wangi aroma bajunya juga senyum sungging yang terkesan memaksa ia tarik. Pertemuan-pertemuan pun kami hadirkan. Dari yang direncanakan sampai dadakan. Semakin hari, kami semakin hangat. Sudah mulai jelas terlihat sinar harapan darinya. Saya bersemangat.

Suatu hari, saya mendapat undangan pernikahan dari seorang kawan baik. Tidak mungkin tidak datang untuknya. Tapi jika datang, saya akan berangkat tanpa teman seperti biasanya. Hhh~ (Ya meskipun akan ramai di sana ketika sampai). Dan akal bulus itu muncul.

"Aku mau ke Museum Gajah nonton teater tapi ada kondagan jam 11." Kiriman pesan saya untuknya hari itu.
"Kamu bisa tuh, nonton yang jam 10, terus ngebut ke Ragunan, deh." Ia menyarankan.
"Kamu yang ngebutin dooooooong~~~ Sama kamu, yuk!"
Akhirnya ia terperangkap rayuan saya lalu kami berangkat. Ngeeeng!

Mengajaknya ke pesta pernikahan kawan baik yang ramai akan kawan-kawan lama pula baik, saya anggap sebagai tantangan untuk diri sendiri. Akan banyak pertanyaan dan keheranan, mesti, dari kawan-kawan saya. Sengaja. Bagaimana responsnya nanti. Hehehehe.

"Wih, baru nih, Biy?" Satu kawan bertanya sambil menunjuk dia.
"Capa neeeh??? Pacar baru???" Kawan kedua menyusul.
"Lo dateng sama siapaaaaaaaa??? Iiiihhh~ siapa iniiiiiih???"
"Suami lo, Biy?" Dan kawan selanjutnya, kawan selanjutnya.
Dengan setengah menantang, saya selow menanggapi mereka dengan, "kalo aku sama dia, kalian setuju gaaaaakkk???" Hehehehe.

Sepulang dari kondangan, kami yang sudah merepotkan diri dengan sendal jepit dan baju ganti untuk ke Ragunan justru batal karena hujan. Maka, rencana cadangannya adalah ke bioskop untuk menonton Coco. Tak ada film Disney yang tak ciyamik. Namun, bagi kami, Coco adalah film paling nanggung sepanjang sejarah dunia per-Disney-an! Mengapa? Karena di ujung klimaks film tersebut, si Bunda sudah menghajar dering telepon saya berkali-kali. Waduh, Sinderlela harus pulang. Dengan berat hati dan rasa bersalah, saya meminta izin padanya untuk menyudahi tayangan sebelum waktunya.

"Bunda udah miskol 4 kali, kamu gapapa kan ya, kalo kita pulang sekarang?" Sambil memasang muka melas, saya menghadapnya. Puji Tuhan, ia sangat pengertian. Kemudian di luar studio kami seketika tertawa terbahak-bahak sambil mempercepat langkah.
"Duuuuuhh, kentang bangeeeett!! Demi bunda nih." Saya mengeluh.
"Family comes first." Ia menambahkan. Tak kalah pengertiannya lalu tersenyum menawan.
"Jadi habis ini kita ke toko... Apa deh, Biy?" Ia megingatkan saya.
"Toko selingkuh..." Saya masih terburu-buru.
"Hahaha iya! Kucari nama toko itu di Google, gak ada dong!"

Jadi, toko selingkuh itu bukanlah nama yang semestinya. Banyak mamak-mamak melabeli toko itu konon katanya pengalaman para sang suami yang ribut dinas ke luar kota, namun faktanya mereka malah pergi vekesyen dengan para selir. Lalu, si suami dengan tanpa rasa bersalah membeli oleh-oleh di toko yang disebut-sebut tadi untuk keluarga demi menutupi kedoknya. Tahu dari mana info detil ini? Ya dari mamak-mamak lah~

"Aku nyesel ah, anter kamu ke sini. Jadi kamu nanti tau, kalo nyari oleh-oleh setelah selingkuh di mana." Saya cemberut.
"Ya kan, jaman sekarang gampang cari jadwal tiket kereta kek, pesawat kek." Ia berusaha menenangkan.
Ya tep ajaaaa. Namanya juga lakik yekaaaann. Patut sering-sering dicurigai. Gumam saya dalam hati.

Rayuan dan gombalan saling kami lontarkan. Sayang, saat itu kami hanya masih berani saling merayu dan menggoda secara tertulis di pesan-pesan singkat. Belum pada tahap verbal secara langsung. Namun, suatu hari, setelah belasan minggu, akhirnya ia berkata, "jadi begini Robiyatul..." Lalu tertuliskan 'is typing...' dengan jeda yang agak lama dan muncullah pesan itu...

"Aku jarang sekali memulai hubungan dengan tembak-tembakan macam abege. Terakhir kali ya SMA, jadian sama cewek dengan cara menge-set tanggal dan menyiapkan pidato cuma untuk bilang suka! Setelah itu ya mengalir gitu aja. Sampe aku hampir gatau lah itu istilah enipersari-enipersarian!
Hahahahaha..."

Cukup sedikit mengagetkan bagi saya untuk membaca pesannya yang begitu lugas dan straight to the point! Ternyata ia bisa bicara ini! Waw!!! Sederhana, saya hanya membalas, "we'd better meet and talk about this."

Hingga akhirnya malam itu saya utarakan segala rasa yang saya punya. Kecemasan-kecemasan, tawaran-tawaran kesanggupan untuknya, serta kejujuran saya tentang segala harap yang pernah saya gantung rendah padanya. Ia menyambut hangat tetapi gugup sambil berkata, "siap itu, menurutku kalau kita memilih untuk tetap bersama walaupun keadaannya emang sulit. Kita gak tau kalau kita siap apa gak, kalau gak kita coba jalanin..." Dan saya lega.

Dari serentetan pertanyaan yang saya lempar, ia cukup adil dalam menjawab. Sungguh realistis. Saya suka. Meski ia tak henti-hentinya menggoyangkan kaki sebab gugup, ia cukup dapat mengutarakan segala sesuatu yang saya butuh dengan khasnya yang memang perlu saya cerna baik-baik. Lalu saya balas...

"Kamu tau, sejak pertama ketemu kamu, aku udah mulai istikhoroh. Doaku simple banget; kalau memang kamu ini baik, semoga dibukakan jalan dan permudahkan, tapi jika bukan ini, semoga gak ada hati yang terluka yang keterlaluan serta dijauhkan. Aku memang gak dapet jawaban melalui mimpi. Tapi kurasa, sampai detik ini kita bisa diskusi tentang topik yang bagimu ini termenegangkan, sedekat dan senyaman ini, kukira ini jawabannya." Saya mengepalkan jari-jari dan menaruhnya di bawah dagu.

Ia menutupi mulutnya dengan selebaran kecil dari XXI yang tadi ia ambil sebelum film diputar selama saya menceritakan itu. Matanya basah meski berbinar.

"Kamu nangis?" Sambil saya raih tagannya dan mengelusnya.
"Atau AC-nya perih?" Saya goda ia dan sejurus kemudian ia meledak tawa.

Sebagai anak bunda yang memiliki alarm jam pulang hidup yang tak lain adalah bundanya sendiri, saya membaca pesan bahwa sudah saatnya saya pulang. Setelah membayar tagihan makan, kami menuju parkiran dan membahas hal-hal lain di luar tema meja makan tadi. Di atas tangga jalan ia mengingatkan, "eh, kita belum ada kesimpulan apa-apa dari obrolan tadi nih..."

"Hmm, jadi? Kamu mau sama akuuuuuuu????" Tak tahan geli, saya mengikik sendiri mendengar pertanyaan murahan yang saya lontarkan. Ia hanya senyum.
"Beneeeeerrrr?????" Saya dekatkan muka saya dan lekatkan tatapan saya ke arahnya. Ia mengangguk.
"Deal????" Dengan mengulurkan tangan, saya menantang.
"Deal!!!" Ia menyambutnya tak kalah galak. Kami berjabat tangan dan mulai kesepakatan.
"Ih, kok lucu banget sih! Di atas eskalator gini." Ia tersadar. Kami baru saja saling berjanji di atas eskalator di lantai basement menuju parkiran! Menggemaskan.

Di atas motor masing-masing kami saling berpamitan. Saya mengangkat lima jari dan lengan saya ke atas untuk tos. Ia membalas dan samar-samar saya mendengar, "bagus tanggalnya."

"Apa?" Saya membuka sedikit masker dan mendekatkan kepala yang tertutup helm demi mendengar lebih jelas suara samar-samar tadi.
"Tanggalnya. Bagus. Dua belas." Sambil memelorotkan buff dan membuka kaca helmnya ia mengulang.
"Oh... Yailaaaaa!!!" Dengan sayang, saya dorong pipinya hingga 45 derajat. Padahal, baru malam sebelumnya ia bercerita tentang kelangkaannya mengingat simbol-simbol jadian atau amnesianya soal anniversary. Malah sekarang ia yang mengingat pertama. Dasar!
"Hehehehehehe..." Ia tersenyum. Memamerkan deretan gigi yang cukup rapih yang selalu timbul gemas pula menawan. Sekali. Sangat.



Dan hari itu, segala gundah-gulana tentang siapa kelak pendamping hidup saya terjawab sudah. Ia bersama rombongan keluarganya datang berbondong-bondong dan rela merepoti dirinya menggendong beberapa bawaan seperti buah, roti dan sirup khas orang yang hendak melamar keluarga Betawi, serta kueh-kuehan lain sebagai oleh-oleh untuk saya. Pertemuan ini sungguh hanya skenario belaka. Ayah saya berbasa-basi menanyakan apakah saya menerimanya atau tidak. Dengan wajah murung yang saya buat, saya bilang "hmmm, kayaknya enggak..." menggantung. Nampak wajah-wajah penuh kebingungan. Kemudian, beberapa detik kemudian saya lanjutkan, "gak bakal nolak lah! Gila kaliiiikk!" Dan seisi ruangan terbahak-bahak.

Selamat ea, Wak~ Selamat dirusuhin hidupnya sama akuwuwuwuw :D

Komentar

  1. Wah... padahal waktu kuliah dulu Nis ga terlalu dekat sama kamu Bi... tapi selama baca blog kamu, Nis bisa bayangin tawa kamu, raut wajah kamu, kekehan kamu, dan segala tingkah laku kamu Bi... Menarik. 😄😄😄

    Semoga kebahagiaan dan Ridho-Nya selalu bersamamu Bi.. 😘😘😘

    BalasHapus
    Balasan
    1. Khaeeerrrr hahahaha
      Makasih doanya ya cantik~ makasih sudah mau luangin waktu buat baca dan ulasan. Baik2 juga ya khaer. Wherever you are, may Allah bless you always 😊

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

UNIVERSALISME VS PARTIKULARISME

Menurut survei yang dilakukan oleh Political & Economic Risk Consultancy yang berbasis di Hongkong, Indonesia adalah negara paling korup dari 16 negara di kawasan Asia Pasifik. (Kompas, 2012) Fakta yang mengkhawatirkan. Dengan indeks persepsi korupsi sebesar 1.9 dari angka terbesar 10, Indonesia dianggap sejajar dengan negara-negara baru yang sampai hari ini masih dililit masalah peperangan di mata internasional. kerugian akibat korupsi sama dengan dampak perang, bahkan bisa jadi lebih. Tentu Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN)  bukan istilah yang asing lagi di negeri ini. Menjelang jatuhnya Soeharto, KKN ramai disinggung dan dibicarakan. Pada masa reformasi, KKN semakin sering dibicarakan untuk diperangi demi pemerintahan yang bersih (good governance).

Ngurus STNK di SAMS(SUCK)AT

Jadi gini, pada hari Selasa, 5 Februari 2013, gue pergi bersama abang sepupu ke kantor SAMSAT di deket SCBD, Semanggi, buat ngurus STNK abang kandung yang hilang beserta dompet dan isinya. Dari latar belakang itulah lahir pengetahuan dan pengalaman gue ngurus keribetan birokrasi negeri ini dan sogok-menyogok depan mata.

Pertama-tama, pastikan dulu motor lo itu wilayah mana. Bisa dilihat dari tiga huruf di belakang plat nomer. Kalau huruf depannya T, berarti segala administrasi, berkas, data dan lain-lainnya ada di SAMSAT Jakarta Timur (T). Kalau B ya barat, S ya Selatan dan seterusnya. Contohnya motor gue B XXXX TPS, nah, udah pasti di timur lah ya.